TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORETIS 2.1 Tinjauan pustaka
2.2 Landasan Teoretis .1 Estetika
2.2.4 Faktor Pendukung/ Unsur-Unsur Pertunjukan Tari
2.2.4 Faktor Pendukung/ Unsur-Unsur Pertunjukan Tari
Pertunjukan tari merupakan suatu pertunjukan yang kopleks, yaitu tidak hanya koreografi yang ditampilkan, tetapi ada hal lain yang ikut mendukung pertunjukan tari (Rianawati 2014 : 33). Unsur pendukung pertunjukan tari itu meliputi gerak, rias tari, kostum tari, properti tari, iringan tari, tempat pentas tari, tata lampu.
1. Gerak
Gerak merupakan unsur penunjang yang paling besar peranannya dalam seni tari. Adanya gerak menyebabkan perubahan tempat, perubahan posisi dari benda, tubuh penari atau sebagian dari tubuh (Djelantik 1999 : 27). Rianawati (2014 : 6) mengatakan gerak tari adalah gerak tubuh yang ritmis yang mempunyai unsur keindahan. Banyak ahli tari yang juga berpendapat bahwa gerak tubuh yang ritmis merupakan aspek yang penting dalam menghadirkan keindahan tari (Murgiyanto 2002 : 10). Gerak tari berbeda dengan gerak yang dilakukan manusia dalam kehidupan sehari-hari karena gerakan tari mengandung unsur seni atau keindahan (Rinawati 2014 : 6). Setiap perubahan gerak akan memberikan sentuhan nilai-nilai yang tidak sekedar figuratif yang dapat ditangkap oleh mata, tetapi juga memberikan pengalaman rasa gerak bagi penari, dan pengalaman imajinatif bagi penontonnya ( Hidajat 2005 : 13).
Semua gerak melibatkan ruang waktu dan tenaga (Rianawati 2014:6). Pada ruang suatu yang bergerak menempuh jarak tertentu, dan dalam waktu tertentu ditentukan oleh kecepatan gerak. Semua gerak juga
22
memerlukan tenaga (Djelantik 1999 : 27) . Menurut (Rochana 2014:35-36) gerak merupakan perpindahan dari satu titik ke titik yang lainnya. Terdapat unsur-unsur gerak yaitu ruang, tenaga dan waktu dalam perpindahan. Ketiganya merupakan elemen-elemen dasar dari gerak, yang pada gilirannya dijadikan objek garap oleh seorang koreografer. Desmon Morris dalam Rochana (2014 : 38 ) secara umum mengatakan bahwa berdasarkan penyampaian wujud dan maksud, gerak dapat dibedakan menjadi empat kategori yaitu gerak maknawi yaitu gerak yang dilakukan secara imitattif dan interpretatif melalui simbol-simbol maknawi disebut gesture, gerak murni yaitu gerak yang lebih mengutamakan keindahan dan tidak menyampaikan pesan maknawi, gerak yang merupakan penguat ekspresi yang dinamakan baton signal , dan gerak perpindahan tempat. Rochana (2014 : 45) menyatakan bahwa ruang, tenaga dan waktu adalah elemen-elemen dasar dari gerak. Kepekaan terhadap elemen-elemen tersebut, pemilihan yang khas, serta pemikiran dan penyusunan yang didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang mendalam merupakan alasan utama mengapa tari menjadi ekspresi seni.
1.1 Ruang
Ruang adalah sesuatu yang tidak bergerak dan diam sampai gerakan yang terjadi didalamnya mengintrodusi waktu dan dengan cara demikian mewujudkan ruang sebagai suatu bentuk, suatu ekspresi khusus yang berhubungan dengan waktu yang dinamis dari gerakan. Ruang tari adalah lantai tiga dimensi yang didalamnya seorang penari dapat mencipta suatu
23
imaji dinamis (Hadi 2003 : 23). Ruang yang dimaksud adalah pertama, sebuah tempat yang diperlukan penari untuk melakukan gerak tari. Kedua, tempat atau arena menari dalam suatu pementasan (Rinawati 2014 : 6). Menurut (Murgiyanto 1983 : 23) terdapat beberapa aspek dalam ruang yaitu :
1.1.1 Garis
Pada saat bergerak tubuh kita dapat diatur sedemikian rupa sehingga memberikan kesan berbagai macam garis. Garis mendatar memberikan kesan istirahat, garis tegak lurus memberikan kesan tenang, dan seimbang, garis lengkung memberikan kesan manis, sedangkan garis diagonal memberikan dinamis.
1.1.2 Volume
Gerak tubuh kita mempunyai ukuran besar kecil atau volume. Gerakan melangkah ke depan misalnya, bisa dilakukan dengan langkah yang pendek, langkah biasa, atau langkah lebar. Ketiga gerakan itu sama, tetapi ukurannya berbeda-beda Murgiyanto (1983 : 23). Volume gerak berhubungan dengan jangkauan gerak seorang penari baik di lantai maupun di atasnya (di udara). Besar kecilnya penambahan volume ini mempunyai implikasi dramatik dari keluasan dan scope, dan sangat tergantung dari gerak yang dilakukan sebelumnya, juga tergantung dari besar kecilnya ruang dimana melakukan gerak (Ellfeldt 1977 : 6). Sebuah tarian jika mempertimbangkan volume sebagai salah satu aspek ruang, akan menghasilkan gerakan yang lebih estetis atau indah. Pada gerakan
24
dengan volume besar akan menimbulkan kesan yang gagah, sedangkan pada gerak dengan volume kecil akan menimbulkan kesan yang lebih feminim.
1.1.3 Arah
Gerak juga memiliki arah. Sebuah gerakan dapat dilakukan ke arah depan, belakang, kiri, kanan serong kiri depan, serong kanan depan, serong kiri belakang, serog kanan belakang (Murgiyanto 1983 : 23). Arah gerak yang dipertimbangkan dengan tepat menghasilkan tatanan tarian yang lebih indah. Misal dalam tari berpasangan arah gerak yang dilakukan oleh pasangan penari bisa menimbulkan interaksi antar penari.
1.1.4 Level atau tinggi rendah
Unsur keruangan yang lain adalah level atau tinggi-rendahnya gerak. Garis mendatar yang dibuat oleh seorang penari dengan kedua belah lengannya dapat memiliki ketiggian yang berbeda-beda. ketinggian maksimal yang dapat dilakukan oleh penari adalah ketika dia meloncat ke udara, sedangkan ketinggian minimal dicapainya adalah ketika rebah ke lantai (Murgiyanto 1983 : 23). Penggunaan level yang bervariatif pada sebuah tarian menimbulkan kesan yang tidak monoton dan indah. Pada tarian kelompok sesekali penari melakukan tarian dengan level yang berbeda-beda yaitu rendah, sedang, dan level tinggi.
1.1.5 Fokus pandangan
Pada saat diatas pentas terdapat delapan orang penari dan semuanya memusatkan perhatian kesalah satu sudut pentas, maka perhatian kita pun
25
akan terarah kesana, sehingga penari yang sesaat kemudian keluar dari sudut ini akan fokus pandangan kita. Akan tetapi, jika arah pandang tiap-tiap penari berbeda-beda, perhatian kita pun akan terpecah.
1.2 Waktu
Tari menggunakan tenaga untuk mengisi ruang, tetapi ini dilakukan hanya kalau ada waktu (Ellfeldt 1977 : 10). Waktu merupakan elemen yang sangat penting karena tanpa waktu bagi penari untuk menyajikan suatu tarian, suatu bentuk tarian tidak akan terwujud. Waktu bagi penari juga merupakan kesempatan untuk berlatih menari, termasuk mengadakan gladi bersih. Tentu saja berlatih bagi penari ini dapat meningkatkan kualitas tarian sehingga dalam penyajiannya akan terlihat matang dan memuaskan. (Rinawati 2014 :6). Pada sebuah gerakan, waktu sebagai alat untuk mempererat hubungan-hubungan kekuatan dari rangkaian gerak, dan juga sebagai alat untuk mengembangkan secara kontinyu, serta mengalirkan secara dinamis, sehingga menambah keteraturan tari (Hadi 2003 : 50). Elemen-elemen waktu meliputi faktor-faktor tempo dan ritme, yang harus dipahami benar-benar oleh seorang penari (Rochana 2014 :52). 1.2.1 Tempo
Tempo adalah kecepatan dari gerak tubuh kita. Jika kecepatan suatu gerak diubah kesannyapun akan berubah (Murgiyanto 1983 : 25). Tempo atau kecepatan sebuah tarian ditentukan oleh jangka waktu dalam mana dapat diselesaikan serentetan gerakan-gerakan tertentu, jangka waktu dalam mana tubuh seorang penari menyelesaikan sebuah rangkaian gerak
26
(Ellefendt 1997 : 10). Aspek tempo merupakan kecepatan atau kelambatan sebuah gerak (Hadi 2003 : 50). Gerak yang cepat biasanya lebih aktif dan menggairahkan, sedangkan gerak yang lambat menguasai rangsangan tersebut (Ellefendt 1997 : 10).
1.2.2 Ritme
Ritme adalah istilah yang menunjukan sebuah pola hubungan timbal balik yang kadang-kadang berupa sebuah pengulangan sederhana tetapi ada kalanya juga merupakan perkembangan yang rumit (Ellefendt 1997 : 10). Aspek ritme dipahami dalam gerak sebagai pola hubungan timbal balik atau perbedaan dari jarak waktu cepat dan lambat (Hadi 2003 : 50). Didalam musik, ritme terjadi dari serangkaian bunyi yang sama atau tidak sama panjangnya yang sambung menyambung (Murgiyanto 1983 : 26). Pola ritme yang hendak ditonjolkan harus ditekankan dan dipisahkan dari, dalam wujud yang jelas, serta rangkaian-rangkaian yang terencana. Setiap transisi dari awal kebagian tangan, dari tengah kebagian akhir, harus direncanakan sebelumnya. Pengulangan sederhana akan tekanan-tekanan atau laku-laku tertentu mengundang rasa keteraturan dan keseimbangan. Pengulangan-pengulangan yang rumit dan kabur terasa merangsang dan kadang-kadang bahkan membingungkan (Ellefendt 1997 : 10).
1.3 Tenaga
Tenaga dibutuhkan penari dalam menyajikan gerak tari. Tanpa tenaga, penari tidak akan dapat melakukan gerakan sebuah tarian
27
(Rinawati 2014 ; 6). Semua gerak memerlukan tenaga, untuk gerak tubuh penari diambil tenaga dari penari sendiri. sang penari harus selalu siap mengeluarkan tenaga atau energi yang sesuai (Djelantik 1999 : 27). Tenaga didalam tari menggambarkan suatu usaha yang mengawali, mengendalikan dan menghentikan gerak. Beberapa faktor yang berhubungan dengan penggunaan tenaga dalam melakukan gerak adalah intensitas, aksen/tekanan, dan kualitas (Rochana 2014 : 52).
1.3.1 Intensitas
Intensitas ialah banyak sedikitnya tenaga yang digunakan didalam sebuah gerak (Murgiyanto 1983 : 27). Penampilan tenaga yang besar menghasilkan gerak/lakuan yang penuh semangat dan kuat, sebaliknya pengguaan tenaga yang sedikit megurangi rasa kegairahan dan keyakinan, sering berakibat sebagai eksprtesi yang contained (Ellfeldt 1977 : 5). 1.3.2 Tekanan
Tekanan atau aksen terjadi jika penggunaan tenaga yang tidak rata, artinya ada yang sedikit ada pula yang banyak. Penggunaan tenaga yang lebih besar sering dilakukan untuk mencapai kontras dengan gerakan sebelumnya dan tekanan gerak semacam ini berguna untuk membedakan pola gerak yang satu dengan pola gerak yang lain. (Murgiyanto 1983 : 28). Tekanan yang teratur menciptakan rasa ritme-ritme gerak yang khas, menciptakan rasa keseimbangan dan perasaan aman, sedangkan Tekanan yang tidak teratur menciptakan suasana yang mengganggu dan kadang-kadang membingungkan. (Ellfeldt 1977 : 5).
28
1.3.3 Kualitas
Kualitas dari sebuah gerak tari ditentukan oleh cara penggunaan dan penyaluran tenaga (Ellfeldt 1977 : 5). Berdasarkan cara bagaimana tenaga disalurkan atau dikeluarkan, kita mengenal berbagai macam kualitas gerak. Tenaga dapat dikeluarkan dengan cara bergetar, menusuk dengan cepat, melawan gaya tarik bumi agar tidak jatuh, atau terus-menerus bergerak dengan tenaga yang tetap. (Murgiyanto 1983 : 28).
Menurut (Ellfeldt 1977 : 4-5) perubahan tenaga mengakibatkan rasa baik pada penari maupun bagi penonton. Seorang penonton misalnya, merasakan pengaruh yang berbeda antara gerakan yang intens dan terkontrol dan gerakan yang menggunakan tenaga secara teratur dan sekenanya.
2. Rias dan Busana Tari 2.1 Tata Rias Tari
Bagi seorang penari, rias merupakan hal yang sangat penting. Rias juga merupakan hal yang paling peka di hadapan penonton karena penonton biasanya sebelum menikmati tarian selalu memperhatikan wajah penarinya baik yang mengetahui tokoh/peran yang sedang dibawakan maupun untuk mengetahui siapa penarinya ( Jazuli 1994 : 18). Rias tari berfungsi untuk membantu mempertegas perwatakan yang dibawakan penari (Rinawati 2014 : 33). Menurut (Jazuli 1994 : 18) fungsi rias antara lain adalah untuk mengubah karakter pribadi menjadi karakter tokoh yang
29
sedang dibawakan, untuk memperkuat ekspresi, dan untuk menambah daya tarik penampilan.
Menurut (Hidajat 2011 : 79) tata rias yang terdapat dalam karakter tari klasik terbagi dalam beberapa jenis yaitu, tata rias jenis karakter putri halus, tata rias jenis karakter putri gagah, tata rias jenis karakter putra halus, tata rias jenis karakter putra gagah.
Tata rias merupakan bagian yang berkaitan dengan pengungkapan tema atau isi cerita, maka tata rias merupakan salah satu aspek visual yang mampu menentukan intepretasi penonton pada objek estetik yang disajikan atau suatu yang ditarikan (Hidajat 2011 : 78). Tata rias panggung (untuk pertunjukan) adalah berbeda dengan rias-rias sehari-hari, selain harus lebih tebal karena adanya jarak antara pemain dengan penonton juga harus menyesuaikan karakter tokoh/peran yang dibawakan. Tata rias panggung dibedakan menjadi dua, yaitu tata rias biasa (tertutup) dan tata rias panggung arena (terbuka). Tata rias panggung tertutup dianjurkan lebih tegas dan jelas garis-garisnya dibandingkan untuk tata rias panggung terbuka.
Jenis tata rias yang digunakan pada Tari Kuda Kepang Desa Peniron yaitu tata rias korektif gagah yang menggambarkan prajurit perang. penonjolan riasan pada bagian alis yang dipertebal dan penggunaan eye shadow pada mata dan pewarnaan hitam pada garis bibir untuk mempertegas kesan gagah.
30
Kostum tari berfungsi untuk mendukung karakter tari yang dibawakan (Rinawati 2014 : 34). Menurut Jazuli (2008 : 20-21 ) Fungsi busana tari adalah untuk mendukung tema atau isi tari dan untuk memperjelas peranan-peranan dalam suatu sajiain tari. Didalam penataan dan penggunaan busana tari hendaknya senantiasa mempertimbangkan hal-hal diantaranya yaitu, busana tari hendaknya enak dipakai dan sedap dilihat oleh penonton, Penggunaan busana selalu mempertimbangkan isi/tema tari sehingga bisa menghadirkan suatu kesatuan/keutuhan antara tari dan tata busananya, penataan busana hedaknya bisa merangsang imajinasi penonton, desain busana harus memperhatikan bentuk-bentuk gerak tarinya agar tidak mengganggu gerakan penari., busana hendaknya dapat memberi proyeksi kepada penarinya sehingga busana itu dapat merupakan bagian diri dari penari, keharmonisan dalam pemilihan atau memperpadukan warna-warna sangat penting, terutama harus diperhatikan efeknya terhadap tata cahaya.
Kita dapat meilhat keidahan tata rias dan busana tari berdasarkan warna, bentuk pakaian, ketepatan busana dan riasan yang diguanakan untuk menari di dalam sebuah tarian. Tarian yang gagah maka tata rias dan busana yang digunakan harusnya menggambarkan tokoh yang gagah pula. Busana tari Kuda kepang yang ada di desa peniron Kabupeten Kebumen masih sederhana namun terlihat berani dan gagah. Menurut (jazuli 2011 : 212) penggunaan dan penataan busana atau kostum yang dikenakan dalam pertunjukan tari tidak menuntut dari bahan yang baik apalagi mahal.
31
Namun demikian yang lebih penting adalah bagaimana seharusnya mereka dapat menata busana yang sesuai dengan tariannya serta keharmonisan dalam memilih atau memadukan warna.
3 Properti Tari
Kehadiran properti memiliki arti yang cukup penting dalam menunjang eksistensinya dalam penokohan atau pemeranan. Hal ini disebabkan oleh adanya keterkaitan antara properti (sosok), pola gerak, serta gaya (Hidajat 2011 : 60). Jenis perlengkapan (property) yang sering secara langsung berhubungan dengan penampilan tari secara spesifik adalah dance property dan stage property. Dance property adalah segala perlengkapan atau peralatan yang berkaitan langsung dengan penari, seperti berbagai bentuk senjata atau asesoris (Jazuli 1994 : 107-108). Menurut (Rinawati 2014 : 34) Properti merupakan alat yang dibawa dan diperlukan penari ketika berada di atas arena pentas seperti sampur atau kain panjang. Stage property adalah segala perlengkapan atau peralatan yang berkaitan langsung dengan pentas guna mendukung suatu pertunjukan tari, seperti kayu dengan berbagai bentuk (persegi, bulat) back drop,pohon-pohonan, bingkai-bingkai dan sebagainya (Jazuli 1994 : 108).
Menurut (Hidajat 2011 : 61-62) ada beberapa fungsi propeti terhadap tokoh yang menggunakan yaitu : fungsi sebagai identitas diri, fungsi sebagai penggambaran, fungsi sebagai pembentuk garis tertunda, fungsi sebagai imitasi, properti murni, fungsi sebagai musik internal.
32
Properti yang digunakan pada sebuah pertunjukan tari juga mengandung nilai keindahan yang tercipta dari bentuk properti, makna dan fungsi dari properti pada tarian. Keindahan properti pada Tari Kuda Kepang Desa Peniron terlihat dari bentuk kuda dan hiasan-hiasan yang digunakan.
4 Iringan Tari/ Musik Tari
Musik dan tari merupakan pasangan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu dorongan atau naluri ritmis (Jazuli 1994 : 9). Iringan tari berfungsi untuk memperjelas ketukan gerak tari (Rinawati 2014 : 35). Musik sebagai pengiring tari dapat dipahami, pertama, sebagai iringan ritmis gerak tarinya, kedua, sebagai ilustrasi pendukung suasana tarinya, ketiga, dapat terjadi kombinasi keduanya secara harmonis (Hadi 2003 : 51). Begitu pula menurut (Jazuli 1994 : 10-12) dalam tari, fungsi musik dapat dikelompokan menjadi 3 yaitu, sebagai pengiring tari, sebagai pemberi suasana, sebagai ilustrasi tari. Sebagai pengiring tari berarti peranan musik hanya untuk mengiringi atau menunjang penampilan tari, sehingga tak banyak menentukan isi tarinya. Fungsi musik sebagai pemberi suasana tari biasanya sangat cocok dipergunakan untuk drama tari. Musik sebagai ilustrasi atau pengantar tari. Pengertiannya adalah tari yang menggunakan musik baik sebagai pengiring atau pemberi suasana pada saat-saat tertentu saja, tergantung kebutuhan garapan tari.
33
Menurut (Hadi 2003 : 54-55) musik sebagai ilustrasi dibutuhkan untuk membangun suasana tari. Musik pengiring sebagai ilustrasi banyak digunakan untuk koreografi kelompok dalam bentuk sajian yang bersifat literal, baik dengan tipe dramatik maupun dramatari. Laku atau desain dramatik gerak tari dari awal, perkembangan menuju klimak sampai penyelesaiannya sangat membutuhkan suasana musik pengirignya, misalnya suasana sedih, gembira, ramai, sepi atau sunyi, suasana peperangan, suasana kemegahan, dan sebagainya.
Pada dasarnya bentuk iringan tari dapat dibedakan menjadi dua, yaitu bentuk internal dan bentuk eksternal. Iringan internal adalah iringan tari yang berasal atau bersumber dari diri penarinya, seperti tarikan napas, suara-suara penari, efek dari gerakan-gerakan penari. Iringan eksternal adalah iringan tari yang bersumber dari luar diri penari, misalnya berupa nyanyian, puisi, suara-suara, instrumen gamelan, orkestra musik, perkusi, dan sebagainya (Jazuli 1994 : 13). Iringan tari bukan hanya terpaku pada musik, melainkan juga pada sumber suara yang dihasilkan oleh penari itu sendiri seperti tepukan tangan, siulan atau suara lain (Rinawati 2014 : 35).
Musik dalam sebuah tarian akan membantu penyampaian isi dan maksud dari tarian tersebut, memperindah tari yang disajikan atau ditampilkan, serta membuat suasana lebih terasa saat menikmati sajian atau pertunjukan tari, misal pada adegan sedih musik yang digunakan berupa musik yang berirama lembut dan menggambarkan kesedihan yang sedang dirasakan oleh penari.
34
5 Tempat pentas tari
Panggung merupakan tempat atau lokasi yang digunakan untuk menyajikan suatu tarian. Keberadaan panggung mutlak diperlukan, karena tanpa panggung penari tidak bisa menari yang berarti tidak akan dapat diselenggarakan pertunjukan tari ( Maryono 2012 : 67). Suatu pertunjukan apa pun bentuknya selalu memerlukan tempat atau ruangan guna untuk menyelenggarakan tempat pertunjukan itu sendiri (Jazuli 1994 : 18). Secara fisik bentuk pentas dapat dibagi menjadi 3 macam, yaitu pentas tertutup, pentas terbuka dan pentas kereta. Pentas tertutup dapat terdiri dari pentas/panggung proscenium atau panggung portable dan juga dapat berupa arena, sedangkan pentas terbuka atau lebih dikenal dengan sebutan open air stage, bentuknya juga bermacam ragam. (Lathief 1986 : 5). Biasanya penempatan tempat pementasan sebuah tarian juga diperhitungkan berdasarkan bentuk sajian tarian tersebut, misal tarian kuda kepang atau Ebeg biasanya memerlukan tempat yang luas karena merupakan jenis tarian tradisional kerakyatan maka tempat pementasan tariannya di lapangan terbuka.
6 Tata Lampu
Tata lampu atau tata cahaya dalam tarian digunakan untuk membantu pencahayaan apabila tarian itu disajikan dalam suatu ruangan atau gedung pertunjukan. Tata lampu juga digunakan untuk memberikan suasana yang terdapat dalam adegan tarian. Menurut Padmodarmaya (1988 : 162-163) yang dimaksud dengan menciptakan suasana hati/jiwa
35
adalah termasuk juga adanya perasaan atau efek kejiwaan yang diciptakan oleh karena peranan cahaya lampu terhadap penonton. Menurut (Hidajat 2005 : 73) jenis tata sinar menurut fungsinya ada dua yaitu tata sinar sebagai penerang panggung agar panggung tidak gelap dan tata sinar sebagai pembentuk suasana. Menurut (Jazuli 1994: 25) penataan lampu/sinar bukanlah sekedar sebagai penerangan semata, melainkan juga berfungsi untuk menciptakan suasana atau efek dramatik dan memberi daya hidup pada sebuah pertunjukan tari, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebuah penataan lampu dapat dikatakan berhasil bila dapat memberikan kontribusi terhadap objek-objek yang ada didalam pentas.
Bentuk dari pertunjukan tari kuda kepang desa peniron perlu dikaji untuk mengetahui nilai keindahan yang terdapat dalam tari kuda kepang tersebut melalui melalui gerak yang terdiri dari ruang waktu dan tenaga, tata rias dan busana yang digunakan dalam pertunjukan, Iringan untuk mengiring tarian, tempat pentas dan properti yang digunakan dalam pertunjukan, sehingga peneliti memerlukan teori yang berkaitan tentang unsur-unsur pertunjukan tari.