• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor penyebab Anomali iklim yang ekstrim(gagal bunga)

dan Gap yang tidak intensif.

(gagal bunga)

PROSES RECOVERY

Analisa transek alur penyebaran

PBK & HELOPELTIS di kab.Jembrana.

Faktor penyebab

Anomali iklim yang ekstrim(gagal bunga)

dan Gap yang tidak intensif.

39 Pembagian Kelompok berdasarkan tantangan yang dihadapi (hasil diskusi pada saat pemetaan awal) :

Kelompok GAP, GMP dan GHP

No Tahapan Proses Tantangan

1 GAP Jumlah petani dampingan yang cukup banyak, memberikan

tantangan tersendiri untuk proses GAP di lapangan terutama sanitasi tanaman dan lingkungan (pemangkasan, pemanenan buah kakao yang hitam).

Umur tanaman yang sudah kurang produktif (rata-rata di atas 20 tahun)

Belum semua petani mau dan mampu melakukan sambung samping atau proses peremajaan tanaman yang sudah tua, sehingga berpengaruh terhadap hasil.

Belum maksimal nya input pupuk sehingga berpengaruh pada bean count

2 Pasca Panen (khusus

proses fermentasi biji kakao basah), GMP dan GHP.

Rendahnya input pupuk sehingga berdampak pada kurang maksimalnya kualitas bean count terutama pada saat panen tahap akhir, sehingga hal ini berdampak pada terputusnya proses olah fermentasi di panen ke dua (akhir tahun)

Belum semua produksi kakao basah dari petani dapat diolah di tingkat UPH/subak

Beberapa petani masih memiliki keterikatan hutang dengan tengkulak, sehingga kakao basah belum bisa diserahkan sepenuhnya ke subak/UPH

Masih belum maksimalnya pemahaman petani tentang proses sortasi biji kering tahap akhir sesuai dengan standart SNI/spesifikasi pabrik. Hal ini mewajibkan koperasi harus melakukan proses control kualitas tahap akhir untuk meminimalisasi pengurangan margin.

Pendanaan untuk pelaksanaan pelatihan GMP secara kontinyu setiap tahunnya untuk memastikan semua subak peserta program sertifikasi dapat memahami spesifikasi kualitas dengan baik

Proses kemamputelusuran tata niaga/tata alir produk biji kakao basah maupun kering belu dapat dilakukan secara maksimal sehingga perlu proses pendampingan dan pelatihan yang intensif

Hasil diskusi dengan kelompok GAP di capai beberapa input/masukan menarik untuk dijalankan secara bersama-sama dalam rencana aksi.

No Tantangan Rencana Aksi

1  Jumlah petani dampingan yang cukup banyak, memberikan tantangan tersendiri untuk proses GAP di lapangan terutama sanitasi tanaman dan lingkungan (pemangkasan, pemanenan buah kakao yang hitam).

 Optimalisasi peran ICS dan Kelihan (Ketua) Subak dalam proses pendampingan di tingkat petani

 Surat penegasan/penunjukkan tentang peran PPL dalam memfasilitasi program Kakao Lestari

 Evaluasi rutin team ICS, Dinas Perkebunan, koperasi dan pedamping, minimal aktivitas ini dilaksanakan 1 bulan sekali

 Mempertegas evaluasi pelaksanaan demplot agar mampu memberikan dampak riil terhadap

40

minat petani untuk mengimplementasikan GAP dengan baik.

 Dampak demplot, secara visual dapat dilihat oleh petani lain sehingga mampu memberikan motivasi. Cara ini cukup efektif untuk menyadarkan pentingnya sanitasi untuk meningkatkan hasil (jika dikaitkan dengan COC, beberapa pasal krusial tentang sanitasi pasal 7, 12 dapat diadopsi oleh petani dengan baik).

2  Umur tanaman yang sudah kurang produktif (rata-rata di atas 20 tahun)

 Membangun gerakan penyadaran pentingnya peremajaan tanaman melalui sambung pucuk dan sambung samping.

3  Belum semua petani mau dan mampu melakukan sambung samping atau proses peremajaan tanaman yang sudah tua, sehingga berpengaruh terhadap hasil.

 Pentingnya pelatihan dan pendampingan yang intensif

4  Belum maksimal nya input pupuk sehingga berpengaruh pada bean count

 Pelatihan GAP, optimalisasi SL dan pendampingan intensif oleh semua pihak

 Input pupuk kandang sangat optimal dilakukan, melihat kultur petani kakao di Jembrana hampir sebagian besar memelihara ternak di areal kebun masing-masing.

 Pelatihan input pupuk yang benar sesuai dengan dosis yang disarankan menjadi kebutuhan penting dalam pelatihan GAP, demikian pula halnya dengan pelatihan GMP dan GHP terkait dengan upaya subak/UPH dan koperasi akan melakukan kerjasama pemasaran secara berkelanjutan.

41

No Tahapan Proses Tantangan

1 Kelembagaan (subak dan

koperasi)

Ketersediaan modal di tingkat subak dan koperasi belum maksimal untuk membeli biji kakao basah maupun kering dari petani atau subak/UPH

Penguatan kelembagaan Subak dan koperasi harus dilakukan secara berkelanjutan

Proses kemamputelusuran tata niaga/tata alir produk biji kakao basah maupun kering belum dapat dilakukan secara maksimal sehingga perlu proses pendampingan dan pelatihan yang intensif

Penguatan Subak/UPH dari sisi pengembangan ekonomi produktif (palemahan dan pawongan, jika dilihat dari Konsep Tri Hita Karana).

2 Keterlibatan perempuan Peranan perempuan dalam proses budidaya/ on farm

sampai dengan pasca panen, sangat tinggi. Tetapi peranan perempuan dalam pengambilan keputusan di tingkat subak, masih sangat rendah. Dalam struktur kepengurusan subak/UPH, posisi perempuan belum menunjukkan posisi yang strategis.

Eksistensi perempuan petani kakao selama ini terfasilitasi dari lembaga KWT (Kelompok Wanita Tani) yang arahnya lebih pada proses diversifikasi produk olahan, peran inilah yang harus diperkuat sehingga mampu memberikan posisi tawar keterlibatan perempuan dalam posisi yang strategis. Upaya-upaya membangun akses keterlibatan perempuan

dalam team ICS dan team strategis lainnya dalam program kakao lestari wajib untuk diperkuat

Hasil diskusi dengan kelompok kelembagaan, beberapa input/masukan menarik untuk dijalankan secara bersama-sama dalam rencana aksi.

No Tantangan Rencana Aksi

1  Ketersediaan modal di tingkat subak dan koperasi belum maksimal untuk membeli biji kakao basah maupun kering dari petani atau subak/UPH

 Penguatan kelembagaan Subak dan koperasi harus dilakukan secara berkelanjutan

 Proses kemamputelusuran tata niaga/tata alir produk biji kakao basah maupun kering belum dapat dilakukan secara maksimal sehingga perlu

 Riil…sangat diperlukan pelatihan manajemen kemampu telusuran khusus untuk administrasi tingkat subak/UPH dan koperasi

 Tahun 2014 penguatan modal dari Bank BPD untuk dukungan koperasi harus terealisasi

 Merger/proses penggabungan beberapa UPH yang selama ini belum efektif dan optimal dengan UPH yang stabil sehingga terjadi proses pembelajaran.

42

proses pendampingan dan pelatihan yang intensif

 Penguatan Subak/UPH dari sisi pengembangan ekonomi produktif (palemahan dan pawongan, jika dilihat dari Konsep Tri Hita Karana).

2  Peranan perempuan dalam proses budidaya/on farm sampai dengan pasca panen, sangat tinggi. Tetapi peranan perempuan dalam pengambilan keputusan di tingkat subak, masih sangat rendah. Dalam struktur kepengurusan subak/UPH, posisi perempuan belum menunjukkan posisi yang strategis.

 Eksistensi perempuan petani kakao selama ini terfasilitasi dari lembaga KWT (Kelompok Wanita Tani) yang arahnya lebih pada proses diversifikasi produk olahan, peran inilah yang harus diperkuat sehingga mampu memberikan posisi tawar keterlibatan perempuan dalam posisi yang strategis.

 Upaya-upaya membangun akses keterlibatan perempuan dalam team ICS dan team strategis lainnya dalam program kakao lestari wajib untuk diperkuat

 Penambahan team ICS khusus perempuan, terbukti selama 3 tahun proses ditemukan beberapa local champion perempuan yang cukup tangguh dalam menyuarakan perubahan di tingkat GAP dan GMP (Bu Luh Sri Kareni, Ni Komang Nandri)

 Pendampingan dan pelatihan untuk peningkatan kapasitas KWT dalam pengembangan ekonomi produktif

 Mengembangkan kebun demplot yang dikelola sepenuhnya oleh perempuan, sebagai sebuah pembelajaran tentang keseimbangan peran

 Membentuk team kelompok perempuan (gabungan dari beberapa subak) untuk membentuk team “perempuan penggerak perubahan – strong women, strong nation”. Perempuan ini akan mendapatkan akses yang sama terhadap semua pelatihan. Diskusi menarik di Subak Moding Sari telah memberikan spirit baru bahwa perempuan memerlukan pelatihan teknis seperti sambung samping dan sambung pucuk untuk dapat memberikan kontribusi riil minimal di kebun sendiri maupun berpartisipasi dalam program-program yang lebih luas.

43

No Tahapan Proses Tantangan

1 Alih fungsi vegetasi Alih fungsi vegetasi/tanaman kakao dengan tanaman keras (sengon, jati, kajimas dll) menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan program

Meskipun alih fungsi vegetasi saat ini mencapai 10% dari sebaran lahan secara keseluruhan, tetapi kondisi ini patut untuk diantisipasi agar tidak meluas

Terkait dengan trend alih fungsi vegetasi ini, tantangan paling besar saat ini bagaimana upaya membangun “kegairahan” petani kakao untuk merawat kembali kebun sebagai “tabungan abadi/lestari”.

2 Membangun komunikasi yang intensif

Membangun komunikasi yang intensif antar dinas/instansi terkait perlu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Membangun korelasi program yang sinergis merupakan salah satu harapan dari program ini, sehingga terbangun kekuatan besar untuk memberikan dukungan yang kuat dalam mendorong tumbuh dan berkembangnya komoditi kakao di Kabupaten Jembrana.

Secara riil harus diakui bahwa, alih vegetasi di beberapa lahan produktif petani kakao merupakan salah satu indikasi bahwa komunikasi antar dinas teknis belum terbangun dengan baik.

Hasil diskusi dengan kelompok sinergitas program, beberapa input/masukan menarik untuk dijalankan secara bersama-sama dalam rencana aksi.

No Tantangan Rencana Aksi

1  Alih fungsi vegetasi/tanaman kakao dengan tanaman keras (sengon, jati, kajimas dll) menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan program

 Meskipun alih fungsi vegetasi saat ini mencapai 10% dari sebaran lahan secara keseluruhan, tetapi kondisi ini patut untuk diantisipasi agar tidak meluas

 Terkait dengan trend alih fungsi

 Satu-satu nya cara untuk menekan alih fungsi lahan dan alih vegetasi adalah membuat komoditi ini menjadi bergengsi dan menarik dari sisi harga. Cara yang paling tepat adalah membangun akses pasar langsung (direct market) dengan pabrik sehingga dapat diperoleh harga tinggi. Kerjasama pasar yang sudah dibangun saat ini, wajib untuk dipertahankan dan dilanjutkan.

44

vegetasi ini, tantangan paling besar saat ini bagaimana upaya membangun “kegairahan” petani kakao untuk merawat kembali kebun sebagai “tabungan abadi/lestari”.

sangat dibutuhkan

2  Membangun komunikasi yang intensif antar dinas/instansi terkait perlu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Membangun korelasi program yang sinergis merupakan salah satu harapan dari program ini, sehingga terbangun kekuatan besar untuk memberikan dukungan yang kuat dalam mendorong tumbuh dan berkembangnya komoditi kakao di Kabupaten Jembrana.

 Secara riil harus diakui bahwa, alih vegetasi di beberapa lahan produktif petani kakao merupakan salah satu indikasi bahwa komunikasi antar dinas teknis belum terbangun dengan baik.

 Sinkronisasi program dan kordinasi antar dinas terkait untuk membangun program yang sinergis. Komunikasi ini dapat dibangun dengan diskusi, evaluasi, kordinasi sinergitas program.

45 1. Pentingnya proses pembelajaran secara terus menerus (continous learning) antara

petani, antara lembaga dan antar pelaku program.

2. Pentingnya dokumentasi/publikasi sebagai bukti rekam jejak proses perjuangan petani kakao, subak, koperasi, pendamping, pemerintah dan pihak lain yang telah membantu pelaksanaan proses selama ini. Publikasi diperlukan bukan dalam rangka “pamer” program tetapi lebih pada semangat berbagi proses pembelajaran penting yang telah digali, dijalani dan dirasakan manfaatnya oleh petani dan koperasi selama ini (lesson learn). Ide yang tercetus dari proses tersebut adalah rencana pelaksanaan

Jembrana Kakao Festival

, sebuah ajang festival dari petani, oleh petani dan untuk sesama petani. Sebuah wadah dimana spirit kakao akan dibangun dan setiap insan petani kakao masih memiliki sisa kebanggaan bahkan membangun kembali kebanggaan akan komoditi kakao agar lestari di bumi Jembrana dan bumi nusantara pada umumnya. Proses perjuangan petani kakao Jembrana selama 3 (tiga) tahun perlu diapresiasi dalam momemt special namun sarat akan nuansa berbagi.

3. Terkait dengan rencana Jembrana Kakao Festival dan proses evaluasi serta pembelajaran yang terus menerus (continous learning), diperlukan metoda khusus untuk merekam dan menganalisa perubahan yang terjadi terutama pada petani kakao sebagai sasaran utama pelaksanaan program. Perubahan tersebut nyata adanya dan dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran untuk petani itu sendiri dan petani kakao lainnya. Foto atau visual secara riil menggambarkan perubahan yang dapat terekam. A Picture tells a thousand word…..sebuah gambar dapat menceritakan ribuan kata. Harapan besar dengan ribuan kata dan perpaduan warna dapat memberikan inspirasi untuk petani lain dalam melakukan perubahan. Foto perubahan ini diharapkan dapat menjadi bagian dari pelaksanaan festival sehingga petani kakao dapat menjadi actor dalam kerya mereka sendiri.

Tambahan input penting lainnya yang dapat dirangkum dalam diskusi rencana aksi ini adalah :

46 Beberapa penegasan informasi dan membangun kesepakatan dan kesepahaman program terutama berkaitan dengan tata niaga/pemasaran bersama juga dibangun dalam diskusi ini. Pemahaman kemamputelusuran erat kaitannya dengan pemahaman tata alur pemasaran. Beberapa diagram dibawah ini merupakan bagian dai rencana aksi yang harus dibangun secara terus menerus dengan petani, subak maupun UPH sehingga terbangun pola pemahaman yang sama dalam memandang pelaksanaan program,.

47

SKEMA ALUR PROSES PRODUK KAKAO SERTIFIKASI UTZ

Dokumen terkait