TINJAUAN UMUM TENTANG JIDOUHANBAIKI DI JEPANG
2. Sejarah Jidouhanbaiki di Jepang
3.1 Faktor penyebab fenomena Jidouhanbaiki di Jepang
Faktor penyebab terjadinya fenomena Jidouhanbaiki di Jepang tidak terlepas dari faktor kebudayaan. Faktor menurut Kbbi (http://kbbi.web.id/faktor) adalah hal (keadaan, peristiwa) yang ikut menyebabkan (mempengaruhi) terjadinya sesuatu. Dan kebudayaan menurut Koentjaraningrat (2002 : 180) adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan millik diri manusia dengan belajar. Dan membagi kebudayaan atas 7 unsur:
sistem religi, sistem organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian hidup, sistem teknologi, peralatan bahasa dan kesenian.
Semua unsur budaya tersebut terwujud dalam bentuk sistem budaya/adat-istiadat (kompleks budaya, tema budaya, gagasan), sistem sosial (aktivitas sosial, kompleks sosial, pola sosial, tindakan), dan unsur-unsur kebudayaan fisik (benda kebudayaan). Pada penulisan skripsi ini penulis akan mendeskripsikan beberapa faktor kebudayaan yang mempengaruhi perkembangan Jidouhanbaiki di Jepang berdasarkan beberapa sistem kebudayaan di atas, yaitu sebagai berikut :
1. Faktor budaya malu
Orang Jepang akan merasa sangat malu ketika mereka mencuri.
Kejujuran yang ditanamkan sejak kecil membuat bangsa Jepang dapat mengendalikan diri , mengendalikan diri untuk kebaikan diri sendiri bukan
karena orang lain. Dalam diri bangsa Jepang tidak terpikir untuk mencuri barang dan merusak fasilitas yang ada seperti Jidouhanbaiki. Bangsa Jepang merasa sudah diberikan keuntungan dari fasilitas tersebut dan mereka akan merasa tidak memiliki harga diri jika tidak mengindahkan Jidouhanbaiki. Bahkan bangsa Jepang cenderung merasa memiliki dan bersama-sama menjaga fasilitas yang ada agar tetap bisa merasakan manfaatnya. Itu dikarenakan bangsa Jepang tidak mau mengambil sesuatu yang bukan haknya.
(https://sitichumairoq.wordpress.com/2013/02/12/memulai-kehidupan-di-jepang)
Hal ini terjadi karena setiap anak yang dilahirkan di Jepang, akan
dibekali pelajaran mental spiritual oleh orang tuanya. Mental spiritual tersebut merupakan warisan leluhur bangsa Jepang yang disebut dengan bushidou. Bushidou adalah nilai-nilai para samurai yang merupakan perpaduan antara Shintoisme dan Zen Budishm. Bushidou merupakan ajaran-ajaran moral keberanian, ketabahan hati, kemurnian, cinta nama baik, kesetiaan, tanggung jawab, rasa malu dan kehormatan. Aspek spiritual yang menjadi aspek penting dalam Bushidou dengan penguasaan diri melalui pengendalian diri, kekuatan akan timbul sehingga manusia dapat menaklukan diri sendiri. Sejak dahulu hingga saat ini Bushidou tetap menjadi kepribadian bangsa Jepang. Konsep pemikiran Bushidou merupakan konsep moralitas yang ditanamkan bangsa Jepang dan semakin berkembang sebagai landasan spiritual.
(http://en.wikipedia.org/wiki/Bushidou)
Dalam Bushidou tidak mengajarkan dosa tetapi lebih menekankan pada kehormatan dan harga diri. Bushidou mengandung suatu keharusan bahwa seseorang harus senantiasa memperhatikan : 1.
Kejujuran, 2. Keberanian, 3. Kemurahan Hati, 4. Kesopanan, 5.
Kesungguhan, 6. Kehormatan dan Harga Diri dan 7. Kesetiaan. Dimana untuk mencapainya perlu ada pengendalian diri. Suryo dalam Azlina (2013 : 46) . Bushido menjadi ajaran kepercayaan terutama konfusianisme di Jepang. Bushido merupakan konsep moralitas yang dapat dikatakan sebagai konsep budaya terhutang yang lahir dari peringatan atas rasa malu, dengan pemikiran bahwa rasa malu dapat dihilangkan dengan cara melunasi hutang (Benedict, 1982 : 234-235) dan untuk membayar hutang pada budaya Jepang bukan dengan materi atau benda semata, bahkan untuk membayar hutang orang Jepang rela menggantinya dengan nyawa mereka. Karena rasa malu adalah sesuatu yang sangat sensitif di Jepang.
Rasa malu adalah hal yang menentukan harga diri seseorang.
Contoh kasus di Jepang yang terjadi pada bulan Maret 2014 .
Seorang polisi setelah pulang kerja mampir ke sebuah supermarket. Di dalam supermarket, ia mengambil tomat, jeruk dan beberapa bahan pangan lainnya senilai 2.200 yen ( sekitar Rp 200.000,-) dan memasukannya ke dalam tas. Kemudian, tanpa membayar polisi itu keluar meninggalkan supermarket dan akhirnya ditangkap oleh satpam.
Kepolisian menerima laporan dari pihak supermarket dan menangkap rekan kepolisian tersebut. Ketika hal seperti ini terjadi di Jepang, seorang
selaku organisasi harus menyatakan permohonan maaf. Di Jepang staf kepolisian ada di setiap wilayah. Maka dari itu kepala kepolisian wilayah tersebut menyampaikan permohonan maafnya.
Akhirnya polisi yang melakukan kesalahan tersebut setelah dua minggu menerima sanksi pemotongan gaji, dan di waktu bersamaan polisi tersebut mengundurkan diri dari kepolisian. Karena dia merasa telah melakukan tindakan yang memalukan sebagai seorang polisi, maka pengunduran diri merupakan hal yang wajar terjadi di Jepang. Mengingat tingginya rasa malu bangsa Jepang. Mencuri atau mengambil sesuatu yang bukan hak nya adalah sesuatu yang sangat memalukan bukan hanya pada masyarakat Jepang, mencuri adalah hal yang memalukan di seluruh dunia.
Namun, cara menanggapinya yang berbeda. Kalau orang Jepang cenderung akan menghukum dirinya sendiri. Itu karena ajaran Bushidou yang diajarkan dari kecil oleh para orang tua di Jepang. Budaya malu merupakan salah satu faktor berkembangnya Jidouhanbaiki di Jepang.
Malu melakukan sesuatu yang tidak jujur seperti mencuri sesuatu dari Jidouhanbaiki. Maka dari itu Jidouhanbaiki di Jepang aman-aman saja dan berkembang.
2. Faktor angka kelahiran
Karena semakin menurunnya angka kelahiran atau Shoshika di Jepang pada tahun 1970-an sampai 1990-an menyebabkan negara Jepang kekurangan tenaga kerja. Sehingga Jepang banyak menerima pekerja asing untuk bekerja di Jepang. Hal ini dapat dibuktikan dengan penerimaan tenaga asing dari tahun 1990-an hingga sekarang oleh pemerintah Jepang.
Karena untuk Jidouhanbaiki tidak diperlukan tenaga kerja untuk menjaga , maka Jidouhanbaiki merupakan lahan usaha yang baik dan efektif saat ini bagi pengusaha di Jepang. Sebagai salah satu solusi dalam menanggulangi kekurangan tenaga kerja di Jepang. Mengingat kebutuhan primer maupun kebutuhan sekunder masyarakat harus terpenuhi.
Shoshika penurunan angka kelahiran pada masyarakat Jepang dapat dikaitkan dengan bankonka yaitu penundaan usia menikah yang menjadi salah satu penyebab terjadinya Shoshika di Jepang. Ada sekelompok masyarakat yang melakukan praktek bankonka dan telah berdampak pada aspek tertentu, yang saat ini menjadi salah satu faktor perkembangan Jidouhanbaiki di Jepang. Berikut akan dibahas dan diperdalam kaitannya.
Persentase kelahiran di Jepang telah mengalami penurunan secara perlahan sejak sekitar tahun 1920. Namun, penurunan yang penting terjadi setelah terjadinya baby boom (bayi yang dilahirkan meledak dengan jumlah besar) yang terjadi pada tahun 1947 sampai tahun 1949. Baby boom terjadi karena banyak prajurit yang kembali dari medan perang, dan melangsungkan pernikahan yang tertunda karena perang.
Jumlah kelahiran pada tahun itu adalah 2.600.000-2.700.000 orang, dan angka kelahiran dari 1.000 orang adalah 33-34 persen. Jumlah anak yang dilahirkan seorang wanita pada masa itu adalah 4,3 sampai 4,5 orang.
Kira-kira 10 tahun kemudian, yaitu setelah pertengahan tahun 1960-an angka kelahiran menjadi 1.500.000-1.600.000 orang. Dan total angka kelahiran atau total fertility rate (TFR) adalah 2,0 Katsumi dan rin
(1995:90). Semakin banyaknya anak dalam suatu keluarga membutuhkan biaya yang lebih, untuk mengatasi hal tersebut beberapa keluarga melakukan aborsi maupun KB untuk membatasi kelahiran anaknya. Jadi, penyebab rendahnya tingkat kelahiran pada masa ini adalah karena, pertama setelah kalah perang keinginan untuk membatasi kelahiran di antara penduduk karena alasan ekonomi. Kedua, tahun 1948 pemerintah menetapkan yuuseihogoho, di mana aborsi menjadi legal dan sah. Ketiga, tahun 1953 ditetapkannya Keluarga Berencana (KB) oleh Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial. Pada tahun 1970-an tingkat kelahiran semakin menurun. Pada tahun 1975 TFR adalah 1,91 dan pada tahun 1990 menjadi 1,54. Menurut buku Statistik Gerakan Penduduk yang dikeluarkan Kementrian Kesejahteraan Sosial, jumlah kelahiran menurun terjadi pada kelompok masyarakat umur 20-an tahun. Pada tahun 1975 jumlah kelahiran ibu yang berusia 20-an adalah 1.490.000 orang dan pada tahun 1990 berkurang sebanyak 740.000 orang. Penyebab lain menurunnnya jumlah anak yang dilahirkan / shoshika ini dikenal dengan bankonka, dimana terjadi penundaan usia menikah wanita. Kehidupan lajang yang menyenangkan dibandingkan dengan perasaan tanggung jawab yang apabila menikah dan merawat anak juga merupakan faktor lain berubahnya kesadaran kaum muda terhadap pernikahan. Hardiansyah (2012 : 38-39)
3. Faktor pola pikir kaum muda Jepang dewasa ini
menjadi seorang sarariman impian kaum muda di Jepang menjadikan masyarakat Jepang khususnya kaum muda lebih ingin bekerja di kantor daripada sekedar menjaga toko atau barang dagangan. Ini adalah
salah satu penyebab Jidouhanbaiki banyak di Jepang. Jarang ditemukan kaum muda yang bercita-cita tamat sekolah atau kuliah bekerja menjaga toko atau swalayan. Maka dari itu Jidouhanbaiki merupakan alternatif lain sebagai alat pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat tanpa harus di tunggui dan di jaga.
Setiap orangtua di Jepang selalu mengawasi perkembangan pendidikan anaknya dengan harapan ketika anak mereka berhasil lulus melalui universitas unggulan,mereka akan memperoleh pekerjaan yang baik pula. Pola pikir ini menempa kaum muda Jepang menjadi pemuda dinamis, penuh semangat dan bercita-cita tinggi. Pemikiran dan motivasi yang baik diberikan orangtua terhadap anaknya juga mencerminkan keberhasilan orangtua mereka terdahulu. Orangtua mau berusaha keras dan giat bekerja anak mewarisi sifat dan semangat juang yang sama kepada anak-anaknya dikemudian hari.
Sebagian besar kaum muda di Jepang menilai sebuah pekerjaan sebagai penentuan kesuksesan hidup. Mereka memandang kehidupan sarariman atau kaum pekerja Jepang sebagai impian, dengan pola hidup sarariman yang eksklusif dan penuh tantangan sering tergambar dalam serial drama televisi di Jepang. Maka untuk mewujudkan impian tersebut mereka menghabiskan waktu untuk belajar dan giat belajar agar lulus dari sekolah atau universitas dengan hasil yang cukup memuaskan yang nantinya dapat mempermudah mereka dalam mencari pekerjaan. Mioci (2012 : 22-23)
4. Faktor teknologi
Sistem teknologi Jepang yang selalu berkembang , membuat negara Jepang tidak henti-hentinya melakukan inovasi terbaru pada Jidouhanbaiki. Contohnya, yaitu :
a. Coca-Cola ultra energy saving
Mesin penjual otomatis ini lahir hasil kerjasama dari Coca-Cola dengan Fuji Electric Retail Systems. Secara tampilan, mesin ini tidak berbeda dengan mesin penjual otomatis lainnya. Namun yang menjadikan mesin ini unik adalah minuman-minuman di dalam mesin ini akan tetap dingin tanpa harus mengambil energi mesin untuk mendinginkan suhu di dalamnya. Minuman di dalam mesin yang dinamakan A011 ini akan tetap dingin sampai 16 hari lamanya.
Menurut Slashgear.com b. Wi-Fi Jidouhanbaiki
Sebuah perusahaan minuman bernama Asahi menciptakan suatu mesin penjual otomatis yang dilengkapi dengan fasilitas Wi-Fi. Wi-Fi yang dikeluarkan oleh mesin ini dapat ditangkap perangkat eletronik seperti handset dengan batas maksimal 50 meter. Akses Wi-Fi tersebut tidak dipungut biaya, namun setiap orang yang mendapatkan sinyal Wi-Fi tersebut hanya dapat menggunakan fasilitas ini selama 30 menit saja dan mesin tersebut akan memutuskan sinyal yang diterima perangkat lain secara otomatis. Untuk mendapatkan sinyal Wi-Fi kembali, pengguna handset hanya perlu login kembali seperti awalnya. Mesin ini telah disebarkan di Tokyo, Sendai, Chubu, Kinki, dan Fukuoka
sejak awal tahun 2012 lalu. Asahi juga merencanakan untuk menciptakan kurang lebih 10 ribu mesin sejenis lagi untuk disebarkan di seluruh pelosok Jepang.
c. Jidouhanbaiki Touch Screen
Mungkin kebanyakan mesin penjual otomatis di Jepang masih harus menggunakan tombol untuk mengoperasikannya. Namun, ternyata terdapat mesin lain yang menggunakan layanan layar sentuh untuk mengoperasikan atau membeli suatu barang. Mesin penjual otomatis ini dilengkapi dengan layar yang lebar dan LCD touch panel di bagian tengahnya. Mesin ini memiliki tinggi 1 meter dengan lebar layar 57 cm.
LCD touch panelnya berukuran 46 inci.
(http://www.merdeka.com/teknologi/3-mesin-penjual-otomatis-canggih-di-jepang.html)
d. Barcode dan alamat pada Jidouhanbaiki
Jidouhanbaiki di Jepang setiap unitnya memiliki alamat. Ini bertujuan untuk mempermudah masyarakat untuk mengetahui letak atau posisi saat itu. Misalnya saat terjadi gempa, kebakaran, atau keadaan darurat serta bencana lainnya. Ketika menghubungi petugas bisa dengan mudah tahu dimana posisi terjadinya bencana. Mesin penjual dapat ditemukan di jalan-jalan manapun. Listrik selalu dipasok ke mereka, dan mesin penjual baru-baru broadband atau teknologi komunikasi nirkabel telah memungkinkan akan dilengkapi dengan koneksi Internet
yang cepat. Semakin banyak mesin penjual juga memiliki layar LCD, dan mereka sudah mulai memainkan peran baru di berbagai kesempatan. Salah satu peran tersebut dapat dilihat ketika bencana terjadi. Sebagai contoh, beberapa mesin penjual otomatis memiliki fungsi yang disebut "berjualan bebas," yang menawarkan minuman gratis dalam keadaan darurat seperti bencana alam. Ini "bebas berjualan" benar-benar bekerja dengan baik pada bulan Oktober 2004, ketika Gempa bumi mengguncang daerah Niigata Chuetsu. Mesin-mesin memberikan kontribusi untuk menawarkan minuman gratis untuk para korban. Banyak mesin penjual memiliki stiker untuk menunjukkan alamat dari lokasi diinstal. Hal ini sangat penting untuk menyadari alamat ketika membuat panggilan mendesak. Ada juga mesin penjual otomatis yang dilengkapi dengan AED (Automated External Defibrillator). Lain menggabungkan layar LCD yang akan memberi Anda informasi penting, termasuk di mana dan bagaimana untuk sampai ke daerah evakuasi. Layar LCD diharapkan untuk melayani sebagai papan kota buletin, menawarkan informasi orang yang berkaitan dengan hal-hal seperti keterlambatan bus, festival lokal, besar penjualan di mal, dan sebagainya. pada tahun 2004, Osaka memulai proyek percontohan menggunakan robot untuk mengawasi anak-anak dalam perjalanan mereka antara sekolah dan rumah, dan warga di jalan, untuk keselamatan mereka. Selain kamera keamanan dipasang di mesin penjual untuk mengawasi siswa, jidouhanbaiki dapat berkomunikasi dengan radio dengan tag IC anak-anak untuk
mendapatkan informasi lokasi mereka, menemukan angka yang mencurigakan, dan menelepon polisi jika diperlukan. Osaka telah bekerja untuk menempatkan sistem dalam praktek ini. Namun, ada beberapa tantangan, termasuk masalah privasi karena gambar yang diambil oleh kamera keamanan, dan masalah keuangan menyangkut pendanaan dari skema.
http://www.att-japan.net/en/culture/guide/EC000090
e. Bentuk standart Jidouhanbaiki di Jepang saat ini
Bentuk Jidouhanbaiki sengaja dirancang dengan tujuan memudahkan pembeli seperti pembeli dibawah umur dan orang dengan kursi roda, posisi tombol dan tempat keluarnya barang tidak terlalu tinggi.
Kemudian tempat piringan untuk memasukkan koin , dibuat lebih ke dalam. Agar pembeli yang memiliki tangan cacad atau buru-buru , mudah untuk memasukkan koin. Jidouhanbaiki juga dibuat dengan aman, standart umum Jidouhanbaiki tahan gempa. Harus menggunakan bracket dan besi tip di setiap kakinya.
f. Sistem penghemat energi pada Jidouhanbaiki
Dalam pengurangan sejumlah besar konsumsi daya, dilakukan beberapa kebijakan seperti zona pendinginan , otomatis redaman berkedip pencahayaan, penerapan bahan isolasi vakum, pompa panas pengembangan teknologi seperti ini telah diperkenalkan.
1. Zona pendinginan
Daripada mendinginkan seluruh produk seperti kulkas, jadi hanya mendinginkan sebagian yang berada di depan, itu adalah fungsi untuk mengurangi konsumsi daya dengan mendinginkan satu-satunya produk yang akan segera menjual. Ini adalah sudah banyak bagian sistem yang di pasang pada komputer mikro ke dalam mesin penjual otomatis, untuk membedakan dari data sebelumny. Baru-baru ini, fitur ini telah dipasangdi sebagian besar Jidouhanbaiki minuman kaleng dan botol.
2. Otomatis peredupan cahaya
Mesin penjual, otomatis pencahayaan kita menghidupkan atau mematikan (lampu neon). Mereka dipasang di luar ruangan dikendalikan oleh sensor untuk merasakan kecerahan lingkungan.Selain itu, lampu neon sendiri juga redup oleh inverter, konsumsi daya yang akan digunakan telah ditekan.
Dalam beberapa tahun terakhir juga mulai diadopsi LED jumlah konsumsi daya yang lebih kecil.
3. Pompa panas
Menggunakan kembali panas yang berasal dari perangkat pendingin kulkas, dan menghangatkan produk panas. Metode ini mengurangi konsumsi daya ini.
4. Adopsi bahan isolasi vakum
Dalam hemat energi dari mesin penjual otomatis, itu akan menunjukkan untuk meningkatkan efisiensi energi tidak luput sebanyak mungkin dinginnya dan kehangatan di dalam lemari es. Untuk alasan ini, di mesin minuman vending baru-baru ini telah datang untuk menghangatkan hemat vakum isolasi bahan wol kaca dan ditutup dengan film logam vakum-dikemas sebagai bahan isolasi panas digunakan.
Dalam 20 tahun terakhir upaya di atas sudah memotong penggunaan energi sebanyak 70% . Mesin penjual aman dapat digunakan setiap saat 24 jam, oleh karena itu mulai upaya untuk cepat hemat energi langkah-langkah di Jepang Vending Machine Manufacturers Association, jumlah rencana pengurangan konsumsi daya mulai 1991-2012, kita mengurangi konsumsi daya tahunan per satu kaleng dan mesin botol minuman vending lebih dari 70% . Juga telah dikurangi untuk melanjutkan saat ini.
a. Rencana pengurangan orde pertama (1991 - 1996) pengurangan konsumsi daya per satu kaleng dan mesin penjual botol minuman 20%
b. Rencana pengurangan kedua (1996-2001)Semua dari jumlah konsumsi daya per satu minuman mesin penjual otomatis dikurangi dengan 15%
c. (2000-2005) lebih dari 33,9% konsumsi daya nilai target pengurangan per unit kaleng dan mesin penjual botol minuman yang telah ditentukan dalam peralatan tertentu dari Energi Hukum Konservasi 37,3% mencapai pengurangan (rata-rata industri).
d. (2005-2012) kaleng dan minuman botol yang telah ditetapkan untuk instrumen tertentu dari UU Konservasi Energi, minuman wadah kertas, gelas jenis mesin minuman vending, berdasarkan konsumsi daya dari mesin pengiriman tahun 2005, rata-rata industri pada tahun fiskal 2012, seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut itu wajib untuk pengurangan, yang sudah kami capai hingga saat ini.
(http://jvma.or.jp/enviromental/index.html) 5. Faktor Bahasa dan komunikasi masyarakat Jepang
Dengan adanya Jidouhanbaiki semakin berguna bagi masyarakat Jepang dan wisatawan asing, mengingat budaya masyarakat Jepang yang malas berbicara dan budaya komunikasi yang kurang baik serta kesulitan pengucapan Bahasa Inggris masyarakat Jepang.
Shindo (2015:121) orang Jepang adalah pembicara yang kurang baik. Dilihat dari karakternya masyarakat Jepang adalah masyarakat yang tidak terlalu banyak bicara. Sejak dahulu di Jepang, orang yang terlalu banyak berbicara dilihat sebagai orang yang sembrono, tidak ada kesungguhan dan kejujuran. Dalam hal ini , apabila dibandingkan dengan orang Jepang , orang Indonesia adalah masyarakat yang aktif dan senang berbicara. Contohnya, di Jepang ketika sedang berada di dalam kereta atau bis, atau sedang menunggu seorang, orang-orang biasanya akan diam sambil membaca buku, majalah, atau koran. Di Jepang, hal seperti menyapa orang yang tidak dikenal, bukan hanya karena dirasa tidak perlu.
Tetapi , juga karena tidak adanya konsep tentang menikmati perbincangan
dengan orang yang tidak dikenal. Mengajak berbicara orang yang tidak dikenal adalah tidak sopan bagi masyarakat Jepang. Shindo (2015:125) salah satu alasan masyarakat Jepang tidak menyapa orang yang tidak dikenal adalah kemungkinan adanya situasi ketika mereka tidak mengetahui siapa orang yang akan di sapa tersebut, maka akan sulit untuk mengetahui cara berbicara dan penggunaan kata-kata yang tepat. Cara berbicara dalam bahasa Jepang akan berubah-ubah sesuai dengan siapa kita berbicara, orang yang lebih senior, lebih tua, atau orang yang lebih muda. Terhadap orang yang lebih senior, lebih tua dan terhadap atasan, harus menggunakan bahasa hornat (keigo). Bagi orang asing yang mempelajari bahasa Jepang, penggunaan bahasa hormat ini akan terasa sulit. Akan tetapi, untuk menghargai orang yang lebih senior dan keberadaan bahasa hormat dan sopan ini untuk menunjukkan rasa hormat tersebut, maka bagi masyarakat Jepang penggunaan bahasa hormat ini adalah sangat penting.
6. Faktor Kesenian
Seni masyarakat Jepang yang tinggi dan memadukannnya dengan teknologi. Yaitu terlihat dari bentuk mesin di berbagai tempat populer di Jepang. Yang paling terkenal bentuk kaleng yaitu saham oden (rebus Jepang) dan kaleng mie ramen di Akihabara, Tokyo. Mereka telah menjadi terkenal sebagai keunikan Akihabara karena mereka muncul di media pada akhir 1990-an. Hal lain yang menarik terlihat di "mesin penjual minuman dengan sandiwara komedi pendek," yang telah dipasang terutama di daerah-daerah lain di sepanjang tol. Masukkan koin, pilih kopi dan mesin
akan menggiling biji, minuman kopi, dan tuangkan ke dalam gelas kertas.
Selama waktu menunggu, yang bisa berlangsung hingga satu menit, sandiwara komedi singkat bermain di layar LCD untuk hiburan Anda.
http://www.att-japan.net/en/culture/guide/EC000090