• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5. PENGELOMPOKAN ”AJI” (RACUN)

5.2 Faktor Penyebab Munculnya Penyakit

Menurut informan, masyarakat setempat tidak mengetahui dengan pasti munculnya penyakit ini. Proses pewarisan aji menurut masyarakat yaitu diawali dari orang-orang tua dulunya yang sengaja membuat ramuan “aji” (racun), seterusnya untuk mempertahankan keberadaan “aji” (racun) tersebut maka diwariskan kepada anak cucunya yang mau menerima. Selain itu “aji” (racun) juga bisa diwariskan kepada orang lain yang memang ingin memilikinya, terkadang “aji” (racun) juga diwariskan kepada orang yang menjadi pilihan (orang yang dianggap cocok untuk menerima “aji” atau racun) bagi yang mempunyai “aji” (racun) meskipun orang tersebut tidak mengetahuinya terlebih dahulu.

Selanjutnya informan dan masyarakat juga menjelaskan mengenai daerah- daerah yang mereka anggap banyak mengandung “aji” (racun) sehingga banyak diantara mereka yang menyarankan peneliti untuk berhati-hati apabila mendatanginya. Akhirnya di daerah yang sering dianggap sebagai daerah yang banyak mengandung “aji” (racun) nya, peneliti berniat untuk tinggal dan menetap disana. Kebetulan teman dari bapak Wiwit (Bapak H.Imam Sarimo) ada yang menjadi warga daerah tersebut. Sehingga peneliti langsung dikenalkan dan dititipkan disana untuk tinggal beberapa lama bersama mereka. Hanya selama 2 hari peneliti tinggal bersama keluarga Mbah Anto (sebutan untuk teman bapak Wiwit tersebut), peneliti dikenalkan kepada Tua Sambo yang menurut Mbah Anto adalah orang yang mungkin bisa memberikan banyak informasi kepada peneliti mengenai penyakit “kena aji” (racun) ini. Ternyata memang benar, Tua Sambo adalah salah seorang pengobat penyakit ini. Dari hasil wawancara peneliti bersama beliau, peneliti mendapatkan banyak informasi yang sebelumnya peneliti belum dapatkan mengenai faktor penyebab munculnya penyakit “kena aji” (racun). Berikut penjelasan Tua Sambo mengenai hal ini :

“Mengapa orang mau memberikan aji/ racun kepada orang lain Tua? (pertanyaan peneliti).”

“O.. kalo itu dulu Tua pernah berdebat dengan orang-orang kampung sana, dia punya kaji dalam hidup. Pada zaman-zaman dahulu nenek moyangnya, ini kaji dia ya “kalo kita bisa membunuh seseorang, kita akan masuk syurga” itu kata mereka. Memang kalo di dalam al-Qur‟an kita yang terbunuh ini masuk syurga, itu betul. Kita dibunuh tanpa ada salah apapun, kita masuk syurga. Kenapa? karena yang membunuh kita itu sudah bertanggung jawab menerima dosa apa yang ada pada kita. Itu janji Allah “Allah tidak akan mengingkari janjinya”.

Jadi katanya “kalo aku nanti meninggal, syurga mereka yang ku bunuh tak minta. Karena dia masuk syurga karena aku.” Datang saya, saya debat, kalo di dunia bisa kita berkonsultasi, berkomunikasi. Tapi kalo sudah diakhirat yang dapat berbicara adalah amal, bukan tangan dan bukan mulut. Kalo tangan yang berbuat maka tangan yang rusak, mulut yang berbuat mulut yang rusak, otak yang berbuat maka otak akan meleleh-leleh keluar dari rambut ini. Itu kalo kamu mau tau, tau kamu dalil nya? tau kamu firmannya? Saya bantah terus, sampai dia tidak berkata apa-apa. Sebenarnya dia memang jago, trus dia bilang “saya bisa menjadikan tali pinggang saya ini jadi ular”. Saya pun jadi bingung, saya bacakan lah doa yang ada sama saya trus saya bilang “jadikanlah ular”. Saya tau, dihantamkannya tali pinggang itu sampai 4 kali, hingga patah kepala tali pinggangnya itu tapi gak jadi ular. Berkeringat dia dan trus pulang, saya pun takut kalo ntar dia bawa parang. Pulang dia ke pinggiran sungai, dulu kan pinggiran sungai itu jalur perahu. Karena sungai itu dulu jalur lalu lintas, gak ada jalan darat. Kalo singkil dan rimo ini jalan sungai ndak ada jalan darat. Orang ini dulukan hutan belantara.

Nah itulah kajinya, yang sampai sekarang selalu diturunkan ke anak cucu, anak cucu. Biar bisa bunuh orang, karena 10 yang dibunuh, 10 syurga untukmu. Islam sebenarnya tidak begitu, setelah dilahirkan dan diangkat menjadi rasul maka turunlah ayat bismillahirahmanirrahim yang artinya “tidak aku turunkan engkau ya rasulullah wahai Muhammad terkecuali untuk memberi rahmad kepada sekalian alam” lil‟alamin, kan gitu kan? Jadi apalagi manusia, katak yang tidak ada salah tidak boleh kita bunuh, kayu yang gak ada artinya jangan kita tebang, orang semua mendapat rahmatan lil‟alamin. Toh ini kita sesama manusia kok bunuh-bunuhan? kan udah gak mungkin. Dari situ aja dari yang paling kecil firman Allah sudah dijelaskan, berarti kita menyalahi kan? Nah ini, ya kalo dia langsung mati kalo dia sampai menderita sakit apalagi anaknya banyak kan dosa kali tu.”

Dari penjelasan Tua Sambo ini, terlihat jelas bahwa terdapat paham ajaran agama yang berbeda. Memang menurut Tua Sambo ajaran yang ini juga terdapat dalam ajaran Islam akan tetapi ini tidak dikaji dan diartikan dengan benar, sehingga menjadi tidak benar secara ajaran Islam yang sesungguhnya. Dengan berlandaskan paham yang seperti ini menjadikan mereka tetap menjaga budaya mereka secara turun temurun. Seharusnya paham yang telah menjadi budaya ini harus diluruskan kembali atau dengan kata laim dicari kebenarannya. Karena pada dasarnya tidak semua

budaya yang diwariskan dari zaman dahulu sampai sekarang itu mutlak kebenarannya. Seperti budaya larangan makan ikan yang banyak bagi anak-anak karena akan menyebabkan anak cacingan, padahal menurut ilmu gizi konsumsi ikan justru sangat baik bagi perkembangan otak anak karena ikan banyak mengandung protein yang sangat baik untuk kesehatan tubuh dan kecerdasan. Selain adanya perbedaan paham ajaran agama, juga terdapat penyebab lainnya mengenai munculnya “aji” (racun) ini yaitu adanya konflik pribadi seperti perasaan iri, sakit hati kepada orang lain, serta adanya suatu keharusan bagi yang menyimpan “aji” (racun) ini untuk membuangnya kepada orang lain.

Dokumen terkait