• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4. GAMBARAN DAERAH PENELITIAN

4.2 Gambaran Demografis

Aceh Singkil merupakan salah satu daerah yang memiliki banyak ragam budaya, yang terlihat dari ragam kelompok etnis yang mendiami daerah Aceh Singkil itu sendiri. Kata Singkil juga memiliki makna tersendiri yang diberikan oleh masyarakat setempat bila dimintai keterangan tentang kelompok etnis yang mendiami

daerah tersebut. Penjelasan salah seorang masyarakat yang sudah tinggal menetap di Aceh Singkil menyebutkan bahwa :

. . . “Singkil itu asal katanya adalah sek‟l (bahasa Pakpak), yang artinya mau atau berminat. Orang Singkil mau atau mudah untuk menyesuaikan diri dengan suku yang lain, makanya di Singkil banyak terdapat suku masyarakatnya. Selain itu orangnya sangat netral terhadap suku yang lain” . . .

Beberapa kelompok etnis awal atau asal dari penduduk yang menetap di wilayah Singkil, yang menurut tokoh masyarakat setempat terdapat berbagai kelompok etnis di dalamnya yaitu : kelompok etnis Batak, Aceh, Minang, Nias, dan kelompok etnis lain dalam jumlah kecil. Kelompok etnis Batak merupakan kelompok mayoritas yang ada di Aceh Singkil. Namun menurut salah seorang Kepala Desa yang ada di Aceh Singkil yaitu Kepala Desa Lipat Kajang menyebutkan bahwa sebenarnya yang menjadi mayoritas di Aceh Singkil adalah orang Pakpak, bukan dari kelompok etnis Batak. Memang pada dasarnya banyak orang mengakui bahwa Pakpak adalah merupakan salah satu bagian dari Batak. Namun keduanya sangatlah berbeda, di Aceh Singkil sendiri yang dimaksud dengan kelompok etnis Batak yaitu merupakan masyarakat dari kelompok etnis Batak Toba.

Secara kasat mata, memang sulit membedakan antara suku Pakpak dengan suku Batak lainnya, sehingga para ilmuwan menggolongkan suku Pakpak ke dalam sub suku Batak. Padahal bila dilihat dari sejarah asal usul Pakpak, yang mana melalui pendalaman sejarah tentang masyarakat (orang Pakpak), maka sesungguhnya ada 3 (tiga) sejarah sebagai awal mulanya yaitu :

1. Datang dari India Selatan (Indika Tondal) ke muara Tapus dekat Barus, kemudian berkembang di tanah Pakpak dan menetap serta menjadi suku Pakpak.

2. Sama-sama datang dari India Selatan ke daerah lainnya, kemudian datang ke tanah Pakpak dan menetap, berkembang di tanah Pakpak dan menjadi suku Pakpak. Mereka ini sudah banyak punya marga (clau) dari tempat asalnya, kemudian membentuk marga baru yang tidak jauh beda dengan marga asalnya.

3. Berasal dari suku lain, akan tetapi ketika tiba di tanah Pakpak ia menjadi bahagian dari marga yang didapatinya. Kemudian ia berkembang, menetap di tanah Pakpak dan menjadi suku Pakpak.

Orang Pakpak menganut prinsip patrilineal dalam memperhitungkan garis keturunan dan pembentukan clau (kelompok kekerabatan) yang disebut marga. Dengan demikian berimplikasi terhadap sistem pewarisan dominan diperuntukkan untuk anak laki-laki saja. Bentuk perkawinannya adalah eksogami marga, artinya seseorang harus kawin diluar marganya dan kalau kawin dengan orang semarga dianggap melanggar adat karena dikategorikan sebagai sumbang atau incest (Berutu, 2002 dan Manik, 2010).

Kelompok etnis Pakpak mendiami bagian Utara, Barat Laut Danau Toba sampai perbatasan Sumatra Utara dengan Provinsi Aceh (selatan), dan terpusat di dataran tinggi Sumatra Utara, tepatnya di Kabupaten Dairi Ibukota Sidikalang dan Kabupaten Pakpak Bharat Ibukota Salak. Selain itu juga tersebar di beberapa kabupaten lain. Pakpak terdiri atas 5 subsuku, dalam istilah setempat sering disebut dengan istilah Pakpak Silima Suak yang terdiri dari (Manik, 2010) :

1. Pakpak Klasen (Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara).

2. Pakpak Simsim (Kabupaten Pakpak Barat Sumatera Utara, Ibukota Salak). 3. Pakpak Boang (Kabupaten Aceh-Singkil dan Kota Subulusalam-Aceh). 4. Pakpak Pegagan (Kabupaten Dairi Sumatera Utara, Ibukota Sidikalang). 5. Pakpak Keppas (Kabupaten Dairi Sumatera Utara, Ibukota Sidikalang)

Kelompok etnis Pakpak mendiami daerah Aceh Singkil pada awalnya bermula dari sejarah perpindahan nenek moyang suku Pakpak yang bernama Mpung Kada dan Lona, yang memilih menetap di suatu lokasi yang kemudian menjadi huta atau kota/ kampung. Lokasi tersebut berada di pinggiran sungai besar yang ada di Aceh Singkil bernama Lae Cinendang di Kecamatan Simpang Kanan (sungai yang saat ini berada di belakang pemukiman desa Lipat Kajang).

Tradisi pada kelompok etnis Pakpak yaitu bahwa marga pertama yang membuka huta adalah yang menjadi penguasa daerah itu. Pendatang baru yang datang kemudian akan menempati daerah yang bertetangga dengan penduduk yang datang sebelumnya, sehingga tersusun suatu tatanan kemasyarakatan (Manik, 2010).

Kelompok etnis Pakpak ini sendiri meskipun secara umum di Aceh Singkil lebih dikenal dengan Pakpak Boang, menurut salah seorang Kepala Desa di Aceh Singkil yaitu Kepala Desa Lipat Kajang menyebutkan bahwa terdapat dua bagian kelompok etnis Pakpak yaitu : orang Pakpak dan orang Boang.

Orang Boang adalah mereka yang pada awalnya yang tinggal di daerah pinggiran sungai. Walaupun saat ini mereka sudah menyebar ke daerah perkotaan. Ada juga yang mengatakan inilah penduduk asli Aceh Singkil. Ini bisa kita baca dan ditelusuri dari segi bahasa ada persamaannya dengan penduduk Aceh Tenggara. Menurut sejarahnya, memang dahulunya orang menuju arah Medan harus melalui sungai alas Aceh Tenggara atau Kuta Cane setelah itu baru kemudian menggunakan jalur darat menuju Karo terus ke Medan.

Orang Pakpak adalah mereka yang tinggal lebih dekat ke daerah perbatasan Sumatera Utara. Walaupun begitu ada juga Suku Papkpak yang tinggal di daerah kota. Adapun perbedaan yang jelas terlihat adalah dari segi bahasa yang di gunakan oleh mereka. Misalnya orang Pakpak mengucapkan “roh ke weh”, sedangkan orang Boang mengucapkan “kho kene kaum” yang artinya dalam bahasa Indonesia sehari- hari adalah “datang juganya kamu?”.

Selain kelompok etnis diatas, terdapat juga kelompok etnis Jawa yang juga mayoritas banyak di Aceh Singkil. Akan tetapi tidak menjadi kelompok etnis asli atau awal daerah Aceh Singkil. Kelompok etnis Jawa lebih sering disebut masyarakat setempat sebagai “pendatang”, terutama bekerja di perkebunan kelapa sawit dan karet di wilayah Simpang Kanan yang disebut Perkebunan Lae Butar bergabung dalam PT Socfindo. Perpindahan kelompok etnis Jawa ini berlangsung sejak zaman kolonial Belanda.

Jalur transportasi yang dahulu ada hanya melalui jalur laut, itupun harus ditempuh berhari-hari lamanya dari kota Sibolga (Sumatera Utara) untuk dapat mencapai kota Singkil. Sedangkan dari daerah pedalaman untuk sampai ke kota Singkil harus melalui jalur sungai yang juga memakan waktu yang lama pula. Sebahagian besar mata pencaharian penduduk masih sangat tergantung dari potensi yang ada pada alam, terutama dibidang hasil kehutanan seperti kayu, kapur barus, kemenyan, dibidang pertanian, perikanan, serta pelayaran. Selain itu didaerah pesisir pantai Singkil banyak dihuni oleh pembuat garam dapur dari air laut.

Wilayah Singkil merupakan salah satu daerah yang diperbolehkan oleh pemerintah kolonial Belanda untuk membuat garam, dimana garam yang dihasilkan kemudian diperdagangkan dengan pedagang-pedagang yang datang ke Singkil terutama sekali dari Alas, Blangkejeren yang diangkut melalui jalur sungai di Singkil. Pemerintah penjajahan kolonial Belanda pada saat itu juga telah membuka perkebunan kelapa sawit dan karet di daerah Lae Butar Rimo.

Keadaan ini berubah setelah Kabupaten Aceh Singkil terbentuk, kabupaten ini mulai menjadi berkembang. Tahap demi tahap pembangunan di wilayah Singkil mulai berjalan seperti dibangunnya sarana transportasi jalan, perkantoran dan pelabuhan. Banyaknya ragam suku masyarakat di Aceh Singkil ini, berpengaruh juga kepada bahasa yang digunakan dalam keseharian masyarakat. Kemudian Desa Lipat Kajang yang berada di salah satu kecamatan yang ada di Aceh Singkil yaitu Kecamatan Simpang Kanan, bila dilihat dari etnis yang banyak mendiaminya adalah Etns PakPak. Berdasarkan data yang peneliti peroleh dari Kepala Desa Lipat Kajang,

jumlah penduduk secara keseluruhan yaitu berjumlah 1420 orang dan terdiri atas 227 KK dengan perincian sebagai berikut :

Tabel 4.1. Jumlah Penduduk Desa Lipat Kajang Berdasarkan Etnis

No. Kelompok Etnis Jumlah (orang)

1 Pakpak 1210

2 Aceh 105

3 Jawa 45

4 Batak 40

5 Karo dan Nias 20

Total 1420

Sumber : Kepala Desa Lipat Kajang, 2012

Dari tabel diatas, diketahui bahwa sebagian besar penduduk yang tinggal di Desa Lipat Kajang mempunyai suku/ etnis Pakpak. Dilihat dari tingkat pendidikannya, secara umum penduduk Desa Lipat Kajang pendidikannya dikategorikan masih tingkat menengah yang terlihat dari sebagian besar penduduk tingkat pendidikannya tamat SMA. Perinciannya jumlah penduduk Desa Lipat Kajang berdasarkan tingkat pendidikan, dijabarkan dalam tabel di bawah ini :

Tabel 4.2. Jumlah Penduduk Desa Lipat Kajang Berdasarkan Pendidikan

No. Tingkat Pendidikan Jumlah (orang)

1 Tamat SD 310

2 Tamat SMP/ sederajat 376

3 Tamat SMA/ sederajat 650

4 Perguruan Tinggi 84

Total 1420

Sumber : Kepala Desa Lipat Kajang, 2012

Berdasarkan tabel tersebut, diketahui bahwa sebagian besar tingkat pendidikan penduduk Desa Lipat Kajang yaitu tamat SMA/ sederajat, selanjutnya tingkat pendidikan SMA/ sederajat dan tamat SD hanya sedikit penduduk yang

berpendidikan sampai ke tingkat Perguruan Tinggi. Dari tingkat pendidikan dan melihat kondisi daerahnya, maka terdapat 2 (dua) mata pencaharian yang banyak dilakukan dalam keseharian masyarakat Desa Lipat Kajang yaitu menjadi petani sawit dan buruh pabrik. Selain data jumlah penduduk berdasarkan etnis, tingkat pendidikan dan mata pencaharian penduduk Desa Lipat Kajang Kecamatan Simpang Kanan, berikut adalah data penyakit yang diperoleh dari Puskesmas Simpang Kanan. Tabel 4.3. Sepuluh Penyakit Terbesar di Puskesmas Simpang Kanan Kabupaten

Aceh Singkil

No. Nama Penyakit Jumlah Penderita

(orang) Persentase (%) 1 ISPA 347 26,35 2 Dispesia 169 12,83 3 Reumatik 157 11,92

4 Kecelakaan lalu lintas 120 9,11

5 Pelayanan KB 114 8,66 6 Cumoncool 95 7,21 7 Hypotensi 90 6,83 8 Diare 87 6,61 9 Hypertensi 80 6,07 10 Infeksi kulit 58 4,40 Total 1317 100,0

Sumber : Puskesmas Simpang Kanan, Juli 2012

Disamping adanya sepuluh penyakit terbesar yang tercatat selama bulan Juli tahun 2012 ini, terdapat juga penyakit yang masih harus menjadi pusat perhatian bagi setiap tenaga kesehatan yaitu penyakit TB paru. Meskipun dalam selama bulan Juli tidak terdapat penderita TB paru yang baru terinfeksi dan datang memeriksakan diri ke puskesmas, namun berdasarkan data dari bulan Januari sampai dengan Juni jumlah penderita TB paru yaitu sebanyak 25 orang. Sementara jumlah penderita suspect

keseluruhan yaitu berjumlah 250 orang. Berikut rincian penderita TB paru berdasarkan desa tempat tinggalnya.

Tabel 4.4. Jumlah Penderita TB Paru di Puskesmas Simpang Kanan Kabupaten Aceh Singkil.

No. Tempat Tinggal

(Desa) Jenis Kelamin

Umur (tahun)

Jumlah

(orang) Total % 1 Lipat Kajang a. Laki-laki

b. Perempuan

a. 22-39 b. 20-31

3

2 5 20,0

2 Lipat Kajang Atas a. Laki-laki b. Perempuan a. 35-37 b. 30-38 3 1 4 16,0 3 Cibubukan a. Laki-laki b. Perempuan a. 26-40 b. 18-21 5 1 6 24,0 4 Silatong a. Laki-laki b. Perempuan a. 20-24 b. - 3 - 3 12,0

5 Lae Nipe a. Laki-laki b. Perempuan

a. 18-33 b. 21

3

1 4 16,0

6 Pandan Sari a. Laki-laki b. Perempuan

a. 29 b. -

1

- 1 4,0

7 Lae Gecih a. Laki-laki b. Perempuan a. 25 b. 21 1 1 2 8,0 Total 25 100,0

Sumber : Puskesmas Simpang Kanan, Januari - Juni 2012

Dari tabel tersebut diketahui bahwa dari bulan Januari sampai dengan Juni tahun 2012, penderita TB paru banyak terdapat di Kampong/ Desa Cibubukan yaitu sebanyak 6 orang. Semua penderita TB paru yang tercatat di Puskesmas Simpang Kanan ini yaitu adalah hasil rekapan dari penderita yang berobat ke Puskesmas maupun ke bidan desa setempat.

Dokumen terkait