• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TUJUAN PENERAPAN PIDANA BERSYARAT DALAM

B. Faktor Penyebab Terjadinya Kecelakaan Lalu Lintas

Lalu lintas ditimbulkan oleh adanya pergerakan dari alat-alat angkutan, karena adanya kebutuhan perpindahan manusia dan atau barang. Karena itu, dampak yang tidak mungkin ditolak karena adanya pergerakan tersebut adalah terjadinya kecelakaan. Kecelakaan dapat disebabkan oleh faktor pemakai jalan (pengemudi dan pejalan kaki), faktor kendaraan dan faktor lingkungan.

Kecelakaan diakibatkan oleh kombinasi dari beberapa faktor perilaku buruk dari pengemudi ataupun pejalan kaki, jalan, kendaraan, pengemudi ataupun pejalan kaki, cuaca buruk ataupun pandangan yang buruk.

Kecelakaan di jalan raya yang menyebabkan korban luka dan meninggal dari waktu jumlahnya tak surut. Berdasarkan data yang disodorkan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2009, tak kurang dari 1,2 juta jiwa melayang di jalan raya akibat kecelakaan kendaraan bermotor. 24

Lembaga perkumpulan bangsa sejagat itu juga menyebut, sekitar 87,2 persen kecelakaan itu terjadi di negara berkembang. Data yang tak jauh berbeda juga disodorkan Lembaga Keselamatan jalan raya Amerika Serikat (NHTSA).

23

Ibid.

24

Arief Ariyanto, "Enam Penyebab Utama Kecelakaan di Jalan Raya", Melalui http://otomotif.tempo.co/read/news/2011/01/06/122304141/Enam-Penyebab-Utama-Kecelakaan-di-Jalan-Raya, Diakses tanggal 23 Mei 2015.

Sepanjang 2009, 21.798 orang tewas akibat kecelakaan lalu lintas di jalan raya di Amerika Serikat. Penyebab terbesar dari kecelakaan bermacam-macam, mulai dari menenggak minuman beralkohol, cuaca, masalah komponen mobil, hingga menelepon saat mengemudi.25

Namun, seperti yang dilansir situs resmi NHTSA, setidaknya ada enam penyebab yang paling sering memicu terjadinya kecelakaan. Keenamnya adalah : 1. Pengemudi kehilangan konsentrasi

Faktor ini menempati urutan pertama, karena hasil penelitian menyebut faktor ini memiliki persentase menyebabkan kecelakaan hingga 55 persen.

Pengemudi tidak fokus ke kondisi jalan saat mereka menelepon atau menerima telepon di saat mengemudi. Penyebab lainnya, karena pengemudi membaca dokumen, membaca pesan pendek, melihat kejadian di sekeliling jalan dalam waktu lama, mengatur peranti audio.

Selain itu, stres karena masalah pribadi, panik karena ulah pengendara lain, hingga terburu-buru karena ada persoalan penting yang harus segera diselesaikan juga menjadi penyebab buyarnya konsentrasi di jalan.

2. Lelah dan mengantuk

Penyebab kedua yang menjadi pemicu terjadinya kecelakaan adalah kelelahan dan mengantuk. Keduanya memiliki persentase menyebabkan kecelakaan hingga 45 persen.

Disebutkan, saraf sensorik dan motorik orang yang sangat lelah dan mengantuk menurun kepekaannya. Sehingga, selain menyebabkan tidak

25

konsentrasi lelah dan mengantuk juga menyebabkan tingkat refleks seseorang berkurang.

Kondisi badan yang kelelahan dan mengantuk memiliki kemiripan dengan orang yang menenggak minuman beralkohol atau obat-obatan. Perbedaannya, orang yang kelelahan masih memiliki kesadaran yang sewaktu-waktu masih dikontrol dan distimulasi hingga kembali ke kesadaran penuh.

3. Pengaruh alkohol dan obat

Kondisi mabuk yang diakibatkan oleh minuman beralkohol atau obat-obatan memiliki tingkat persentase menyebabkan kecelakaan hingga 30 persen. Menenggak alkohol atau mengkonsumsi obat-obatan (atau bahkan obat yang direkomendasi dokter) berpotensi menghilangkan kemampuan kontrol otak. Sehingga selain kesadaran hilang atau berkurang, kemampuan refleks juga merosot drastis.

Pengemudi yang mabuk cenderung kehilangan kemampuan memperhitungkan manuver, kepekaan dalam merasakan kecepatan mobil, hingga ketidakakuratan pandangan.

4. Kecepatan melebihi batas

Faktor lain yang juga kerap menjadi penyebab kecelakaan adalah pengemudi menggeber mobil dengan kecepatan yang melebihi standar yang diizinkan di jalan. Pengemudi akan kesulitan melakukan manuver dengan aman saat kondisi jalan tak memungkinkan.

Terlebih bila mobil bermasalah, seperti ban pecah atau satu di antara komponen mengalami kerusakan. Kendati produsen mobil mengatakan telah

melengkapi mobil produksinya dengan seabrek peranti penunjang keselamatan, jangan pernah berspekulasi.

Pasalnya, kondisi tersebut berasumsi pada saat jalanan dalam kondisi ideal. Selain itu kondisi yang tak terduga dan dialami oleh pengemudi juga berbeda saat mobil pertama kali diuji coba oleh pabrikan.

Faktor kecepatan ini memiliki persentase menyebabkan kecelakaan hingga 30 persen. Faktor kecepatan ini juga termasuk perilaku pengemudi yang agresif dalam mengemudikan kendaraannya.

5. Cuaca

Meski terlihat sepele, namun cuaca hujan deras, angin ribut, berkabut, hingga udara kering yang menyebabkan jalanan berdebu juga tercatat sebagai penyebab kecelakaan. Persentasenya mencapai 13 persen.

Guyuran air hujan selain menyebabkan keterbatasan pandangan juga menjadikan kemampuan ban untuk mencengkeram lintasan juga berkurang. Terlebih bila kendaraan yang berada di depan atau belakang tidak memiliki kewaspadaan yang tinggi atau bermasalah.

Di negara-negara tropis seperti Indonesia, faktor cuaca seperti hujan memiliki tingkat potensi tinggi memicu terjadinya kecelakaan.

6. Komponen tak beres

Faktor ini kerap tidak disadari oleh pemilik atau pengguna mobil. T erlebih bila pemilik atau pengguna mobil tidak memiliki kepekaan untuk mendeteksi ada tidaknya permasalahan di satu komponen mobil.

14 persen. Beberapa kerusakan komponen yang paling sering terjadi adalah kanvas rem yang sudah tidak berfungsi maksimal, power steering yang terganjal sehingga kontrol kemudi tak terkendali dengan baik.

Selain itu ban pecah, sistem kontrol elektronik untuk menjaga kestabilan mobil yang rusak, hingga kabel sistem kelistrikan yang berpotensi korsleting.26

Hasil penelitian NHTSA juga menunjukkan, selama ini para pemilik atau pengguna mobil jarang yang memperhatikan kondisi komponen mobil mereka. Sebagian besar di antara mereka akan membawa kendaraannya saat ada gejala yang benar-benar dirasakan atau setelah terjadi peristiwa kecelakaan.

Sumber lain mengatakan ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan kecelakaan di jalan raya itu terjadi, yaitu: faktor human error (kesalahan manusia), faktor mechanical failure (kesalahan teknis kendaraan), faktor kondisi jalanan dan faktor cuaca. Berikut ini akan dibahas satu-persatu faktor-faktor tersebut.

1. Faktor human error

Faktor ini seringkali menjadi penyebab utama kecelakaan. Penyebabnya bisa karena ngantuk, tidak tertib, pengemudi kehilangan konsentrasi (melakukan aktifitas lain sambil berkendara), mabuk alkohol/obat-obatan, kondisi psikis (stress, depresi dan lain-lain). Di Amerika, sebanyak 45% kecelakaan jalan raya yang terjadi adalah karena pengemudi ngantuk. Mengantuk disebabkan karena manusia kurang tidur yang cukup sebelum berkendara sehingga syaraf

26

sensorik dan motorik jadi menurun kepekaannya. 2. Faktor mechanical failure

Faktor ini juga menjadi pemicu terjadinya kecelakaan lalu lintas. Persentasenya skitar 15%. Kurangnya pengetahuan si pengendara terhadap kondisi kesiapan kendaraannya bisa fatal akibatnya. Kerusakan mesin, spare parts, komponen pada kendaraan. Pemilik kendaraan sering melupakan atau lalai mendeteksi adanya permasalahan di kendaraannya.

Supaya tetap berkendara dengan kendaraan yang prima, sangat disarankan untuk melakukan pengecekan rutin mingguan/bulanan terhadap kondisi kendaraan di bengkel resmi.

3. Faktor kondisi jalanan

Faktor kondisi jalanan yang bergelombang, lubang, rusak sangat membahayakan bagi pengguna jalan raya. Untuk itu, pemakai jalan harus sangat waspada terhadap kondisi jalanan. Berhati-hati pada setiap jalan yang dilalui. Walaupun pemakai jalan sudah sering lewat jalan itu, tapi tetap harus waspada. Memang, tanggung jawab dari pemeliharaan infrastruktur jalan raya adalah tanggung jawab pemerintah, tapi ada baiknya pemakai jalan dalam hal ini mengalah demi keselamatan sendiri.

4. Faktor kondisi cuaca/alam

Faktor ini juga termasuk sebagai pemicu terjadinya kecelakaan lalu lintas. Kondisi cuaca yang buruk bisa membuat jarak pandang berkurang, jarak pengereman jadi jauh, kondisi jalanan jadi licin. Jika sudah itu yang terjadi, tidak ada kata lain selain meningkatkan kewaspadaan dan berhati-hati.

Nyalakan lampu kendaraan dan jangan memacu kendaraan terlalu kencang.27

C. Tujuan Penerapan Pidana Bersyarat Dalam Tindak Pidana Kecelakaan

Dokumen terkait