• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Penyebab Terjadinya Perang Salib

Dalam dokumen Sejarah Peradaban Islam (Halaman 170-174)

Adapun yang menjadi faktor utama yang menyebabkan terjadinya Perang Salib adalah faktor agama, politik, dan sosial ekonomi.2 Untuk mendapatkan pemahaman yang jelas dari faktor-faktor tersebut, penulis berusaha menjelaskan satu persatu dari setiap faktor, yaitu:

1. Faktor Agama

Sejak Dinasti Seljuk merebut Baitul Maqdis dari tangan Dinasti Fatimiyah pada tahun 1070 M bertepatan pada tahun 471 H, pihak Kristen merasa

1 Dewan Redaksi, Ensikplopedi Islam, Op.cit., h. 240.

tidak bebas lagi menunaikan ibadah ke sana. Hal ini disebabkan karena para penguasa Seljuk menetapkan sejumlah peraturan yang dianggap mempersulit mereka yang hendak melaksanakan ibadah ke Baitul Maqdis. Bahkan mereka yang pulang berziarah sering mengeluh karena mendapat perlakuan buruk dari orang-orang Seljuk yang fanatik. Umat Kristen merasa perlakuan para penguasa Dinasti Seljuk sangat berbeda dengan para penguasa Islam lainnya yang pernah menguasai kawasan itu sebelumnya.3

Perlu diketahui, bahwa Dinasti Seljuk ialah dinasti yang pernah memerintah Kekhilafahan Abbasiyah setelah Dinasti Buwaihi pada tahun 1055 M-1194 M.4 Dinasti Seljuk berasal dari beberapa kabilah kecil rumpun suku Ghuz di wilayah Turkistan. Pada abad kedua, ketiga, dan keempat hijrah mereka pergi ke arah Barat menuju Transoxiana dan Khurasan. Ketika itu mereka belum bersatu, dan dipersatukan oleh Seljuk ibn Tuqaq, karenanya mereka disebut orang-orang Seljuk.5

Termasuk juga faktor agama yaitu, adanya perasaan keagamaan yang kuat di kalangan umat Kristen. Mereka meyakini kekuatan gereja dan kemampuannya untuk menghapus dosa walaupun dosa itu setinggi langit.6

2. Faktor Politik

Kekalahan Bizantium -sejak 330 disebut Konstantinopel (Istambul)-di Manzikart (Malazkird atau Malasyird, Armenia) pada tahun 1071 M dan jatuhnya Asia Kecil ke bawah kekuasaan Seljuk, telah mendorong Kaisar Alexius I Commenus (Kaisar Konstantinopel) untuk meminta bantuan kepada Paus Urbanus II (1035-1099; menjadi Paus dari 1088 sampai 1099) dalam usahanya untuk mengembalikan kekuasaannya di daerah-daerah pendudukan Dinasti Seljuk. Paus Urbanus II bersedia membantu Bizantium karena janji Kaisar Alexius untuk tunduk di bawah kekuasaan Paus di Roma dan harapan untuk dapat mempersatukan gereja

3 Dewan Redaksi, Ensikplopedi Islam, Loc.cit.

4 Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Op.cit., h. 50.

5 Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Ibid, h. 73.

Yunani dan Roma.7 Oleh karena itu Paus Urbanus II berpidato kepada seluruh umat Kristen Eropa di Clermont pada tahun 1095 M untuk melakukan perang suci. Dia juga mengetahui berbagai kesuksesan Kristen di Spanyol, yang mencapai puncaknya dengan direbutnya Toledo, dan penaklukan di Sisilia.8

Di lain pihak, kondisi kekuasaan Islam pada waktu itu sedang melemah, sehingga orang-orang Kristen di Eropa berani untuk ikut mengambil bagian dalam Perang Salib. Ketika itu Dinasti Seljuk di Asia Kecil sedang mengalami perpecahan, Dinasti Fatimiyah di Mesir dalam keadaan lumpuh, sementara kekuasaan Islam di Spanyol semakin goyah. Situasi semakin bertambah parah karena adanya pertentangan segitiga antara Khalifah Fatimiyah di Mesir, Khalifah Abbasiyah di Baghdad, dan Amir Umayyah di Cordoba yang memproklamasikan dirinya sebagai Khalifah. Situasi yang demikian mendorong penguasa-penguasa Kristen di Eropa untuk merebut satu-persatu daerah-daerah kekuasaan Islam, seperti dinasti-dinasti kecil di Edessa (ar-Ruha’) dan Baitul Maqdis.9

3. Faktor Sosial Ekonomi

Pedagang-pedagang besar yang berada di pantai Timur Laut Tengah, terutama yang berada di kota Venezia, Genoa, dan Pisa, berambisi untuk menguasai sejumlah kota-kota dagang di sepanjang pantai Timur dan Selatan Laut Tengah untuk memperluas jaringan dagang mereka. Untuk itu mereka rela menanggung sebagian dana Perang Salib dengan maksud menjadikan kawasan itu sebagai pusat perdagangan mereka apabila pihak Kristen Eropa memperoleh kemenangan. Hal itu dimungkinkan karena jalur Eropa akan bersambung dengan rute-rute perdagangan di Timur melalui jalur strategis tersebut.

Di samping itu, stratifikasi sosial masyarakat Eropa itu terdiri dari tiga kelompok, yaitu kaum gereja, kaum bangsawan serat kesatria, dan rakyat jelata. Meskipun kelompok yang terakhir ini merupakan mayoritas di dalam masyarakat, tetapi mereka menempati kelas yang paling

7 Dewan Redaksi, Ensikplopedi Islam, Op.cit., h. 240.

8 W. Montgomery Watt, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis (Yogyakarta: PT.Tiara Wacana, 1990), h. 255.

rendah. Kehidupan mereka sangat tertindas dan terhina, mereka harus tunduk kepada para tuan tanah yang sering bertindak semena-mena dan mereka dibebani berbagai pajak serta sejumlah kewajiban lainnya. Oleh karena itu, ketika mereka dimobilisasi oleh pihak gereja untuk turut mengambil bagian dalam Perang Salib dengan janji akan diberikan kebebasan dan kesejahteraan yang lebih baik bila perang dapat dimenangkan, mereka menyambut seruan itu secara spontan dengan berduyun-duyun melibatkan diri dalam perang tersebut.

Paus Urbanus II bersemangat terhadap gagasan memerangi kaum Muslimin, apalagi kondisinya ketika itu sangat tepat bagi Sri Paus untuk memompa semangat dan menuruti bisikan hatinya yang penuh dengan kedengkian dan kebencian itu. Kondisi ketika itu teringkas dalam poin-poin berikut:

1. Kelemahan Dinasti Seljuk pasca wafatnya Malik Syah, akibatnya negara Seljuk terpecah-pecah.

2. Tidak adanya pemimpin yang kuat yang menyatukan perpecahan umat Islam dan membentuk pasukan yang tangguh guna mengusir setiap lawan yang bermaksud jahat kepadanya.

3. Beberapa kabilah pesisir telah masuk agama Kristen, ini berarti membuka jalan antara Eropa dan negara-negara Timur. 4. Penaklukan Qarsinah di Laut Tengah dan berdirinya

republik-republik kuat dan kaya raya di Italia seperti Januh dan Bunduqiyah. Republik-republik tersebut memiliki angkatan laut yang kuat untuk melindungi keselamatan bisnisnya.

5. Kemenangan Sri Paus dalam mengendalikan para raja dan para gubernur di Eropa.

Karena kondisi-kondisi di atas, Sri Paus berani mengumumkan terang-terangan permusuhannya dan kebenciannya kepada kaum Muslimin. Ia menyerukan diselenggarakannya kongres tahunan yang dihadiri oleh seluruh sekte agama Kristen di Eropa Barat. Seruan Sri Paus disambut sebagian besar umat Kristiani yang dihadiri 225 uskup gereja-gereja Eropa. Sri Paus berpidato di hadapan mereka dan membakar sentimentil para hadirin. Ia jelaskan kondisi terakhir Baitul Maqdis dan mengusulkan pembebasannya dari tangan kaum Muslimin. Para

dikehendaki Allah!”. Sri Paus puas dengan jawaban para peserta kongres kemudian ia pasang salib di atas lengan para sukarelawan sebagai tanda bahwa perang ini adalah suci.10

Maka mulai saat itulah genderang perang ditabuh, dan perjalanan perang ini memakan waktu yang cukup lama dengan tiga periodesasi.

Dalam dokumen Sejarah Peradaban Islam (Halaman 170-174)