BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Proses Penyembuhan Luka
2.2.4 Faktor Penyembuhan Luka
Ada beberapa faktor yang sangat berperan dalam mendukung penyembuhan luka yaitu :
1. Faktor umum
Faktor umum yang dapat menghambat penyembuhan luka adalah :
a. Faktor usia : terjadi penurunan fungsi tubuh, jumlah fibroblas menurun, begitu juga kemampuan proliferasi sehingga terjadi penurunan respon terhadap growth factor, jumlah dan ukuran sel juga menurun. Kondisi
kulit yang cenderung keriput dan tipis sangat mudah mengalami luka karena gesekan dan tekanan. Hal ini menyebabkan luka pada usia lanjut akan lebih lama sembuhnya.
b. Penyakit penyerta : penyakit diabetes, jantung, ginjal dan gangguan pembuluh darah (penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh darah arteri dan vena). Kondisi penyakit ini dapat memperberat kerja sel dalam memperbaiki luka sehingga penting sekali melakukan tindakan kolaborasi untuk mengatasi penyebab lambatnya aliran darah ke sel.
c. Vaskularisasi : vaskularisasi yang baik dapat menghantar oksigen dan nutrisi ke bagian sel terujung. Pembuluh darah arteri terhambat dapat menurunkan asupan nutrisi dan oksigen ke sel untuk mendukung penyembuhan luka sehingga luka cenderung nekrotik. Gangguan pembuluh darah vena dapat menghambat pengembalian darah ke jantung sehingga terjadi pembengkakan atau penumpukan cairan yang berlebihan sehingga mengganggu proses penyembuhan luka.
d. Nutrisi : asupan makanan sangat mempengaruhi penyembuhan luka, nutrisi yang buruk akan menghambat proses penyembuhan luka, nutrisi yng penting dan dibutuhkan adalah asam amino yang berfungsi sebagai revaskularisasi, proliferasi fibroblas, sintesis kolagen dapat ditemukan pada daging, ikan dan putih telur. Lemak juga dibutuhkan sebagai energi sel, karbohidrat berperan sebagai energi sel dari leukosit serta sintesis DNA – RNA dapat ditemukan pada minyak, kacang-
kacangan, ikan dan daging. Vitamin C sangat berperan dalam produksi fibroblas, angiogenesis dan respon imum dapat ditemukan pada kiwi, stroberi, jeruk. Vitamin B kompleks berperan dalam metabolisme sel yang mendukung epitelisasi, penyimpanan kolagen dan kontraksi sel dapat ditemukan pada sereal, hati. Asam folat membantu metabolisme protein dan pertumbuhan sel biasanya dapat ditemukan pada susu, ikan salmon Viamin A mendukung epitelisasi dan sintesis kolagen yang berfungsi sebagai antioksidan dan dapat ditemukan pada sayuran hijau, cold liver oil. Vitamin D membnatu metabolisme kalsium didapat dari ikan salmon, ikan sarden. Vitamin K membantu sintesis protrombin dan faktor pembekuan darah didapat dari bayam, kacang kedelai. Vitamin E sebagai antioksidan didapat pada minyak sayur, minyak kacang, dan minyak zaitun.
e. Kegemukan : obesitas dapat menghambat penyembuhan luka terutama luka dengan penyembuhan primer karena lemak tidak banyak pembuluh darah, lemak yang berlebihan dapat mempengaruhi aliran darah ke sel.
f. Gangguan sensasi dan pergerakan : gangguan sensasi dapat memperburuk kondisi luka karena tidak mengalami rasa sakit, begitu juga gangguan pergerakan dapat menghambat aliran darah dari dan ke perifer.
g. Psikologis : stres, cemas dan depresi menurunkan efisiensi kerja sistem imun tubuh sehingga penyembuhan luka dapat terhambat.
h. Terapi radiasi : tidak hanya merusak sel kanker tetapi juga merusak sel-sel disekitarnya, kulit rentan, kemerahan dan panas pada area luka. i. Obat-obatan : yang menghambat penyembuhan luka adalah nonsteroid
anti-inflamatory drug (NSAID) yang akan menghambat sintesis prostaglandin, obat sitotoksik (merusak sel sehat), kortikosteroid (menekan produksi makrofag, kolagen,mneghambat angiogenesis dan epitelisasi) (Arisanty, 2013).
j. Merokok : meningkatkan vasokonstriksi pembuluh darahdan meningkatkan agregasi platelet, juga menurunkan oksigen dan perfusi jaringan, menurunkan sintesa kolagen, menurunkan fungsi makrofag (Carville, 2012).
2. Faktor lokal yang dapat mendukung penyembuhan luka :
a. Hidrasi luka : kondisi kelembaban luka yang seimbang yang sangat mendukung penymebuhan luka , luka terlalu kering atau terlalu basah kurang mendukung penyembuhan luka. Luka yang terlalu kering menyebabkan luka membentuk fibrin yang mengeras terbentu keropeng atau nekrosis kering, luka terlalu basah menyebabkan luka cenderung rusak dan merusak sekitar luka (maserasi)
b. Penatalaksanaan luka : bila penatalaksanaan luka yang tidak tepat akan menghambat penyembuhan luka, kebersihan luka dan sekitar luka harus diperhatikan, kumpulan lemak dan kotoran pada sekitar luka harus selalu dibersihkan. Saat pencucian luka dapat memilih cairan pencuci luka yang tidak korosif terhadap jaringan granulasi yang sehat.
Pemilihan balutan luka dan topikal terapi harus disesuaikan dengan fungsi dan manfaat balutan terhadap luka.
c. Temperatur : efek temperatur pada penyembuhan luka menunjukkan bahwa temperatur stabil 370
d. Tekanan dan gesekan : hal ini penting diperhatikan untuk mencegah terjadinya hipoksia jaringan yang akan menyebabkan kematian jaringan, pembuluh darah sangat mudah rusak karena sangat tipis. Tekanan dan gesekan dapat ditimbilkan akibat penggunaan balutan elastis yang kurang tepat atau luka yang tisak ditutup dengan baik.
C dapat meningkatkan proses mitosis 100% pada luka, oleh sebab itu dianjurkan untuk menggunakan balutan luka untuk mempertahankan temperatur luka.
e. Benda asing : dapat menghalangi proses granulasi dan epitelisasi bahkan dapat menyebabkan infeksi, benda asing harus dibersihkan dari luka seperti sisa jahitan luka, sisa kasa, kapas yang tertinggal, rambut harus dibersihkan dari luka supaya luka dapat menutup (Carville, 2012)
3. Faktor degenerasi dan regenerasi jaringan luka
Faktor degerasi dan regenerasi jaringan luka terdiri dari :
a. Ukuran luka : luasnya luka yang dapat diukur dengan menggunakan ukuran panjang luka dikali lebar luka dan dikali kedalam luka. Hasil ukurnya dengan satuan sentimeter.
b. Kedalaman luka : kedalaman luka dapat diukur berdasarkan anatomi jaringan yang rusak terdiri dari : derajat superficial thickness,
superficial partial thickness, deep parcial thickness dan full thicness
dan sampai ketulang jaringan yang rusak.
c. Tepi luka : dapat diamati dengan melihat kondisi luka seperti samar, tidak jelas terlihat, batas tepi terlihat, menyatu dengan dasar luka, jelas, tidak menyatu dgn dasar luka, jelas, tidak menyatu dgn dasar luka, tebal jelas, fibrotic, parut tebal/ hyperkeratonic.
d. Goa, goa atau undermining dapat diukur dengan menggunakan probe undermining/cotton swab untuk menilai kedalaman goa nya antara lain tidak ada goa, goa < 2 cm di area manapun, goa 2-4 cm < 50 % pinggir luka, goa 2-4 cm > 50% pinggir luka, goa > 4 cm di area manapun.
e. Tipe nekrotik, dapat dilihat dengan :tidak ada nekrotik, putih kekuning-kuningan, kuning, kuning kehitaman dan nekrotik disertai keras area nekrotik.
f. Jumlah jaringan yang nekrotik, dapat diukur dengan : tidak ada jaringan yang nekrotik, nekrotik < 25%, nekrotik 25% - 50%, nekrotik >50% - < 75%, nekrotik 75% - 100%.
g. Tipe eksudat/cairan luka, ini terdiri dari : tidak ada eksudat, bloody
(berdarah), serosanguineous(berdarah dengan plasma darah), serous
(bening), purulent (pus/nanah).
h. Jumlah eksudat terdiri dari : kering, moist (lembab), sedikit, sedang, banyak.
i. Warna kulit sekitar luka terdiri dari : pink atau normal, merah terang jika di tekan, putih atau pucat atau hipopigmentasi, merah gelap / abu- abu, hitam atau hyperpigmentasi
j. Jaringan tepi yang edema : no swelling atau tidak ada edema, non pitting edema kurang dari < 4 cm disekitar luka, non pitting edema > 4 cm disekitar luka, pitting edema kurang dari < 4 cm disekitar luka krepitasi atau pitting edema > 4 cm
k. Indurasi jaringan tepi luka, indurasi 2 cm sekitar luka, indurasi 2-4 cn dengan luas < 50 cm sekitar luka, indurasi 2-4 cn dengan luas > 50 cm sekitar luka, indurasi 4 cm dengan luas pada area sekitar luka, jaringan granulasi, kulit utuh atau stage 1, terang 100 % jaringan granulasi, terang 50 % jaringan granulasi, granulasi 25 %, tidak ada jaringan granulasi
l. Epitelisasi, 1= 100 % epitelisasi, 75 % - 100 % epitelisasi, 50 % - 75% epitelisasi, 25 % - 50 % epitelisasi, < 25 % epitelisasi
(Jensen, 2001).