• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

Bagan 2.1 Faktor Penyesuaian Diri

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri terdiri dari:

1) Peer Relation

Faktor ini mengacu pada upaya individu untuk bekerja sama dengan orang lain.

2) Dependency

Faktor ini mengacu pada faktor kurangnya individu untuk dapat berfikir dan mengerjakan sendiri tanpa meminta pertolongan orang lain.

9

3) Hostility

Faktor ini mengacu pada ketidakmampuan individu untuk mengendalikan keinginanya jika tidak terpenuhi

4) Productivity

Faktor ini mengacu pada kemampuan individu untuk sungguh-sungguh mengerjakan tugas dan kewajiban yang diberikan.

5) Withdrawal

Faktor ini mengacu pada ketidakmampuan individu untuk

melakukan sesuatu dengan sigap dan tidak duduk termenung tanpa melakukan sesuatu.3

c) Macam- macam penyesuaian diri

Menurut Schneiders menyebutkan bahwa macam-macam penyesuaian diri yaitu:4

1. Penyesuaian diri personal

Penyesuaian diri personal merupakan penyesuaian diri yang diarahkan kepada diri sendiri yang meliputi:

Bagan 2. 1 Penyesuaian diri personal

3Windaniati ,“Meningkatkan Kemampuan Penyesuaian Diri Siswa melalui Teknik Cognitive Restructuring pada Kelas X TKR 1 SMK Negeri 7 Semarang Tahun 2012/2013” Jurnal Penelitian Pendidikan, Vol. 32, No. 1, 2015, hlm.7.

4Florianus Garin Dira K, Skripsi: “Penyesuaian Diri nahasiswa Perantau dati Nusa Tenggara Timur Terhdap Budaya Jawa di Yogyakarta”, (Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, 2019), hlm 24

Pen y es u ai an d iri p ers o n al

Fisik dan Emosi

Seksual

Moral dan Religius

10

a. Penyesuaian diri fisik dan emosi

Penyesuaian diri yang melibatkan respons fisik dan emosional sehingga dalam penyesuaian kesehatan fisik menjadi pokok pencapaian yang sehat. Berkaitan dengan ini, seperti halnya berupa edukasi emosi, kematangan emosi dan control emosi

b. Penyesuaian diri seksual

Penyesuaian diri ini merupakan kapasitas breaksi terhadap realitas seksual seperti nafsu, pikiran, konflik-konflik, frustasi dan perasaan salah.

c. Penyesuaian diri moral dan religius

Moralitas merupakan kapasitas untuk memenuhi moral kehidupan dengan efektif dan bermanfaat yang dapat memberikan kontribusi dalam kehidupan yang baik.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa macam-macam penyesuaian diri memiliki beberapa jenis, seperti penyesuaian fisik dan emosi yang mencakup kesehatan fisik dan emosi, lalu penyesuaian diri seksual, dan kemudian penyesuian diri moral dan religius yang berkaitan dengan moral kehidupan yang baik.

2. Penyesuaian diri sosial

Menurut Schneiders, sekolah, rumah dan masyarakat merupakan aspek khusus dari kelompok sosial dan melibatkan pola hubungan.5

5Florianus Garin Dira K, Ibid, hlm 25-26

11

Bagan 2. 2 Penyesuaian diri sosial (a) Penyesuaian diri terhadap rumah dan keluarga

Penyesuaian diri ini melibatkan hubungan yang sehat antar anggota keluarga berupa Batasan dan larangan

(b) Penyesuaian diri terhadap sekolah

Penyesuaian ini berupa perhatian dan penerimaan murid beserta partisipasinya terhadap fungsi dan aktivitas sekolah.

(c) Penyesuaian diri terhadap masyarakat

Penyesuaian diri ini berupa kehidupan di masyarakat yang menandakan kapasitas untuk breaksi secara efektif terhadap realitas.

Dari penjelasan diatas dismpulkan bahwa penyesuaian diri sosial mempunyai beberapa macam jenis, yaitu penyesuaian diri yang berkaitan dengan rumah dan keluarga, lalu sekolah yang pada kehidupan diri dengan aktivitas di sekolah, dan yang terakhir terhdapa lingkungan masyarakat yang berkaitan dengan reaksi efektif dalam lingkungan masyarakat.

2) Mahasiswa

a) Pengertian mahasiswa

Pengertian Mahasiswa Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005) mahasiswa merupakan individu yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Mahasiswa ialah orang yang telah lulus dari SLTA/ SMA yang tengah menempuh proses belajar di perguruan tinggi serta melakukan proses sosialisasi

Peny es u ai an d iri s o si al

Rumah dan Keluarga

Sekolah

Masyarakat

12

(Daldiyono, 2009).6 Proses menimba ilmu ataupun belajar dan terdaftar sedang menjalani pendidikan pada salah satu perguruan tinggi yang terdiri dari akademik, politeknik, sekolah tinggi, institut dan universitas merupakan salah satu pengertian mahasiswa7.

Menurut Siswoyo (20017:121) mahasiswa merupakan individu yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi baik negeri maupun swasta maupun lembaga lain yang sama dengan perguruan tinggi. Mahasiswa dinilai memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi seperti kecerdasan dalam berpikir dan kerencanaan dalam bertindak. Mahasiswa juga mampu berpikir kritis dan bertindak dengan cepat dan tepat.8

Berdasarkan uraian diatas bahwa mahasiswa merupakan individu yang sedang menjalankan pendidikan di perguruan tinggi dan menimba ilmu di tempat seperti politeknik, sekolah tinggi, insitut dan yang terakhir universitas. Selain itu, mahasiswa juga memiliki kemampuan berpikir kritis dan tanggap dalam bertindak.

b) Karakteristik mahasiswa

Mahasiswa yang ingin meningkatkan prestasi di kampus, serta memiliki tanggung jawab dan kemandirian dalam menyelesaikan tugas kuliah, serta mulai memikirkan nilai dan norma-norma di lingkungan kampus maupun di lingkungan masyarakat dimana mereka tinggal. Selain itu mahasiswa mulai memiliki intelektualitas yang tinggi dan kecerdasan berpikir yang matang untuk masa depannya, memiliki kebebasan untuk memilih pergaulan dan menentukan kepribadianya9.

6 Untung Subroto, Linda Wati, dan Monty P. Satiadarma, “Hubungan Tipe Kepribadian Dengan Penyesuaian Diri Mahasiswa Peranntau di Universitas Tarumanegara Jakarta” Jurnal Psikologi pendidikan, Vol. 11 No.2, 2018, hlm. 89-90.

7Intan Tenisia Prawita Sari and Evi Sylvia, “Analisis Karakteristik Mahasiswa Dan Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa Entrepreneur Kabupaten Garut,” Business Innovation and Entrepreneurship Journal 2, no. 1 (February 29, 2020): 30

8Saiful Anwar, Skripsi: “Perilaku Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan Dalam Menyelesaikan Tugas-Tugas Mata Kuliah”, (Makassar: Universitas Islam Negeri Syarif Alauddin Makassar, 2017), hlm 25.

9Intan Tenisia Prawita Sari and Evi Sylvia, Ibid.

13

Soetanto (2012) menyebutkan bahwa penerapan pendidikan karakter di dasarkan pada lima pilar utama, yaitu:10

bagan 2. 3 Pendidikan karakter

Uraian diatas memberikan gambaran bahwa pendidikan karakter bisa dengan mudah diterapkan pada mahasiswa, karena setiap unit yang ada di perguruan tinggi mampu menampung pemberdayaan pendidikan karakter. Maka dari itu semua pihak yang terlibat, tidak hanya dosen sebagai pengampuh mata kuliah, namun juga semua civitas akademika, maupun orang tua, masyarakat dan mahasiswa harus bida bekerjasama dalam rangka penerapan pendidikan.

10Evi Nopita, Skripsi: “Deskripsi Karakter Mahasiswa Jurusan Pendidikan Fisika Angkatan 2017 Berdasarkan Indikator KEMENDIKNAS 2010 Fakultas Tarbiyah dan Keguruan”, (Makassar:

Universitas Islam Negeri Syarif Alauddin Makassar, 2018), hlm 32-33

Tri Darma Perguruan Tinggi Pendidikan:

Karakter bisa diintegrasikan dalam kegiatan pendidikan, lalu penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang berkarakter

Budaya Perguruan Tinggi (Kampus)/ Budaya Organisasi:

Mahasiswa dituntut dapat membiasakan diri dalam kegiatan keseharian dilingkungan perguruan tinggi

Kegiatan Kemahasiswaan:

Pendidikan karakter dapat diciptakan dengan integrasi kedalam kegiatan kemahasiswaan, seperti olahraga, karya tulis, seni, workshop dan acara kepanitian yang melibatkan mahasiswa.

Kegiatan Keseharian:

Pendidikan karakter dapat ditimbulkan dengan penerapan pembiasaan kehidupan sehari-hari dilingkungan keluarga, asrama, dan masyarakat

Budaya Akademik:

Nilai pendidikan karakter secara perspektif terbentuk dengan adanya totalitas budaya akademik kampus.

14

3) Perantau

a) Pengertian Perantau

Merantau adalah pergi ke daerah atau tempat lain (KBBI, 2005).11 Menurut Naim (1984), terdapat 6 (enam) unsur pokok merantau, yaitu, meninggalkan kampung halaman karena keinginan sendiri, untuk jangka waktu yang lama, dengan tujuan mencari penghidupan, menuntut ilmu atau mencari pengalaman. Kemudian biasanya akan kembali pulang ke kampung halamanya masing-masing.12

Berdasarkan uraian diatas, yang dimaksud mahasiswa perantau adalah orang yang pergi meninggalkan kampung halamanya kedaerah lain khususnya Kota Jakarta untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi agar mempersiapkan diri dalam pencapaian suatu keahlian tingkat diploma atau sarjana serta melaksanakan proses sosialisasi.

b) Dampak merantau bagi Mahasiswa

Merantau merupakan sebuah upaya mahasiswa untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang lebih baik. Merantau mempunyai dampak positif dan negatif. Dampak positif pertama, dimana mahasiswa akan mendapatkan pendidikan yang lebih maju dibandingkan yang mereka dapatkan di kampung halamannya. Mahasiswa memutuskan untuk merantau dengan tujuan untuk mendapatakan ilmu pengetahuan yang lebih baik dan lebih lengkap fasilitasnya.

Kualitas yang kompeten dari banyaknya jumlah universitas yang terakreditasi menjadi daya tarik untuk melanjutkan pendidikan keluar kota.

Kedua, mudahnya dalam mengakses informasi dengan teknologi dan kelengkapan yang mendukung untuk sarana dalam perkuliahan. Ketiga, mudahnya mendapatkan teman baru dari berbagai daerah. Mahasiswa perantauan akan beradaptasi dengan lingkungan baru dan menjali pertemanan baru. Selain itu dalam proses adaptasi tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana, masih banyak

11https://kbbi.web.id/ diakses pada tanggal 2 Februari 2022, pukul 15.09 WIB.

12Zulfikarni dan Siti Ainim L, “Meraawat Ingatan : Filosofi Marantau Di Dalam Pantun

Minangkabau”, Jurnal SASDAYA: Gadjah Mada Journal Of Humanities, Vol. 4 No. 1, 2020, hlm.

16.

15

hal yang mereka belum ketahui mengenai lingkungan baru atau budaya baru mereka jalani.13

Dampak negatif dari merantau yaitu berubahnya kebiasaan. Terlihat adanya perubahan budaya atau kebiasaan, dimana mahasiswa sekarang sering menghabiskan waktunya untuk berkumpul dengan teman sebayanya. Mahasiswa perantauan ini yang sebelumnya tidak pernah kumpul dan pergi keluar hingga larut malam.

Dari pemaparan diatas dapat disumpulkan bahwa dampak merantau bagi mahasiswa memiliki dampak positif dan negatif, dimana dampak positif mahasiswa merantau di kota lain adalah akan mendapatkan pendidikan yang lebih maju di kota perantauan, selain itu mudahnya akses dan lengkapnya teknologi di kota perantaun mempermudah mahasiswa dalam melaksanakan pendidikan, terakhir dimana mahasiswa akan lebih mudah mengenal teman baru di lingkungan yang baru. Selain dampak positif, ada juga dampak negatif yaitu, dimana budaya atau kebiasaan yang dirasakan mahasiswa perantau yaitu seperti memiliki banyak waktu luang untuk bergaul dengan teman sebaya, selain itu nongkronghingga larut malam.

4) Budaya Akademik Kampus

a) Pengertian budaya akademik kampus

Budaya akademik (Akademik Culture) dapat dipahami sebagai suatu totalitas dari kehidupan dan kegiatan akademik yang dihayati, dimaknai dan diamalkan oleh mahasiswa. Budaya akademik lebih cenderung diarahkan pada budaya kampus yang tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan intelektual, tetapi juga kejujuran, kebenaran dan pengabdian kepada sesama manusia, sehingga

13 Sheva Putra Handi Aksan dan FX. Sri Sadewo, “Pembentukan Habitus Baru Mahasiswa Perantauan Sumbawa Di Surabaya (studi tentang bentuk adapatasi dan bentuk habitus baru mahasiswa sumbawa di surabaya)”, Jurnal Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Vol.4 No. 1, Surabaya 2016, hlm.2.

16

secara keseluruhan budaya kampus adalah budaya dengan nilai-nilai karakter positif14

Budaya dan akademik memiliki hubungan erat karena budaya terbentuk dari proses belajar mengajar, sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Selain itu, proses pembelajaran juga memperlihatkan dan menyerap unsur positif dari budaya yang berlaku dalam komponen masyarakat dimana proses belajar itu berlangsung. 15

Dari pengertian diatas dapat diartikan juga bahwa budaya kampus merupakan cara hidup yang berkembang yang dimiliki mahasiswa di lingkungan kampus yang mencakup hal akademik dan non akademik, serta sudah ada dari generasi ke generasi. Budaya atau kebiasaan sama dengan kampus lainnya, tapi ada beberapa kebiasaan yang berbeda yaitu sesuai dengan visi dan misi kampus itu sendiri. Selain itu juga budaya akademik sangat erat dengan proses belajar mengajar dan begitu juga sebaliknya.

b) Ciri-ciri budaya akademik

Pimpinan sebuah lembaga pendidikan termasuk di dalamnya harus mampu membangun suasana akademis yang meciptakan pendidikan yang nyaman dan teratur untuk tercapainya tujuan pendidikan secara komprehensif. Demi mencapainya pendidikan yang baik maka diperlukan penerapan budaya akademik secara sistematis, karena budaya akademik sangat terikat dengan aspek pendidikan dan aspek lainnya. Berikut merupakan ciri-ciri dari budaya akademik adalah sebagai berikut: 16

1.) Menghargai pendapat orang lain

2.) Pemikiran rasional dan kritis dengan tanggung jawab 3.) Kebiasaan membaca

14Abrorinnisail Masruroh dan Moh Mudzakkir, op.cit,hlm 2-3

15Mahariah, “Implementasi Budaya Akademik Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam FITK UIN Sumatera Utara dalam Membentuk Pendidik Profesional”. Disertasi (Medan : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan, 2020) hlm.30.

16Silahuddin, Aktualisasi sistem budaya akademik pendidikan dayah di Aceh, Cetakan pertama (Lamgugob, Syiah Kuala, Banda Aceh: Bandar Publishing, 2016), 41.

17

4.) Penambahan ilmu dan wawasan

5.) Kebiasaan untuk meneliti dan mengabdi dengan masyarakat 6.) Penulisan artikel, makala,buku

7.) Diskusi ilmiah

8.) Proses belajar mengajar 9.) Manajemen yang baik

10.) Tersedianya sumber daya manusia17

Tabel 2.1 Indikator budaya akademik kampus

No. Indikator Budaya Akademik

1 Menghargai pendapat orang lain

2 Pemikiran rasional dan kritis dengan tanggung jawab 3 Kebiasaan membaca

4 Penambahan ilmu dan wawasan

5 Kebiasaan untuk meneliti dan mengabdi dengan masyarakat 6 Penulisan artikel, makalah,buku

7 Diskusi ilmiah

8 Proses belajar mengajar 9 Manajemen yang baik

10 Tersedianya sumber daya manusia

c) Unsur- unsur budaya akademik

Undang-undang No.12 Tahun 2012 tentang pendidikan tinggi, menyebutkan bahwa budaya akademik memiliki unsur-unsur yang meliputi sistem nilai, norma, gagasan dan karya yang bersumber dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan asas pendidikan tinggi.18

17Silahuddin, Ibid, hlm 42–43.

18Mahariah, op.cit,hlm 45.

18

B. Landasan Teori

Dua teori yang menjadi landasan penalitian ini adalah teori Adaptasi Sosial (Lucius Moody Bristol) danTeoriStrukturalis Genetis Pierre Bourdie berikut adalah penjelasan dari kedua teori tersebut:

a) Teori Lucius Moody Bristol(Adaptasi Sosial)

Lucius Moody Bristol (191:8) dalam bukunya yang membahas tentang Social Adaptation mengatakan bahwa proses adaptasi merupakan suatu kesatuan yang berganti serta membangun ikatan dimana hal ini bisa sama-sama menguntungkan dengan lingkunganya. Lingkungan yang dimaksud bisa berupa lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Adaptasi ini pula mempengaruhi pola pikir masyarakat dan keahlian menyesuaikan diri pada lingkungan fisik, sosial, ekonomi ataupun budaya.19

Teori tersebut menjadi landasan penelitian ini karena berkaitan dengan apa yang diteliti yaitu tentang adaptasi sosial dimana dalam penelitian ini membahas tentang mahasiswa perantauan yang harus beradaptasi dengan lingkungan barunya. Selain itu teori ini sangat bermanfaat bagi penelitian ini dikarenakan pada teori adapatsi sosial dapat menjelaskan bagaimana seorang perantau bisa beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru.

b) Teori Strukturalis Genetis Pierre Bourdie

Pierre Bourdie adalah seorang sosiolog Prancis, yang mencetuskan teori habitus yang bukan disebabkan oleh perubahan sosial besar melainkan berdasarkan pada studi yang mendalam dan penelitian-penelitian yang dilakukan Bourdie di daerah Kabylie dan Collo, Aljazair.Teori habitus sendiri merupakan hasil keterampilan yang menjadi tindakan praktis, baik secara sadar maupun tidak, yang dipandang sebagai suatu kemampuan yang kelihatannya alamiah dan berkembang dalam lingkungan sosial tertentu. Habitus sendiri dapat

19 Nurjihan Habiba dll, “Adaptasi Sosial Masyarakat Kawasan Banjir di Desa Bojongloa Kecamatan Rancaekek” Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol.2, No 1, Desember 2017, hlm 44.

19

dikembangkan melalui pengalaman, dan habitus dapat menjadi dasar kepribadian individu.20

Modal menurut Bourdie dibagi menjadi empat macam modal yaitu:

pertama, modal ekonomi mengukur semua sumber daya ekonomi individu dan termasuk pendapatan serta warisan; kedua, modal budaya terdiri dari 3 bentuk yaitu dalam kondisi ‘menubuh’ (meliputi pengetahuan umum, keterampilan, nilai budaya, agama, dll.), selanjutnya dalam kondisi terobjektifikasi (meliputi kepemilikan benda-benda budaya), terakhirdalam kondisi terlambangkan (meliputi gelar dan tingkat pendidikan); ketiga, modal sosial mengukur semua sumber daya yang berkaitan dengan kepemilikan jaringan sosial berkelanjutan dari semua relasi maupun semua orang yang dikenal; keempat, modal simbolik merupakan segala bentuk kapital (budaya, sosial atau ekonomi) yang mendapatkan pengakuan khusus dalam masyarakat.21Analisis Bourdie selanjutnya adalah tentang arena yang dimaknai sebagai ruang khusus yang ada dalam masyarakat, seperti arena pendidikan, bisnis, seni hingga politik.22

Teori tersebut menjadi landasan penelitian ini karena berkaitan dengan apa yang diteliti. Dari konsep habitus, modal dan analisis ini merupakan saling berkaitan satu sama lain. Budaya akademik akan sangat tergantung pada habitus yang tepat, memiliki kapital sebagai modal dan bagaimana memperaktikkanya di atas arena. Hal ini juga penting bahwa budaya akademik menjadi salah satu penjamin tinggi atau rendahnya kualitas suatu pendidikan di perguruan tinggi.

20Harpindo Syah Putra H.G, “Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata: Analisis Habitus dan Modal dalam Arena Pendidikan Menurut Perspektif Pierre Bourdie” Jurnal Ilmiah Kebudayaan SINTESIS Vol. 13, No.1, Maret 2019, hlm. 48-49.

21Harpindo Syah Putra H.G, Ibid, hlm. 49

22I Nyoman Yoga S, “Budaya Akademik Sebagai Salah Satu Penjamin Mutu Pendidikan”Jurnal Purwadita Vol. 2, No. 1, Maret 2018, hlm. 16.

20

C. Penelitian Relevan

Terdapat beberapa penelitian yang berhubungan dengan permasalahan yang akan diangkat dalam pembahasan penelitian ini. Penulis memaparkan beberapa penelitian terkait dengan pembahasan penulis, antara lain:

1. Dwi Nur Hikmah melakukan penelitian pada tahun 2015. Dengan judul penelitianya yaitu implementasi budaya akademik dan sikap ilmiah mahasiswa. Penelitian didasarkan pada konsep bahwa pendidikan merupakan hal yang penting bagi setiap manusia, dan saat ini telah menjadi kebutuhan pokok. Tumbuhnya kesadaran akan pentingnya pendidikan ditandai dengan semakin banyaknya masyarakat yang melanjutkan pendidikan hingga tingkat universitas.

Universitas sebagai lembaga pendidikan tinggi harus diisi dengan sumber daya berupa mahasiswa yang unggul, terampil, cakap, kritis dan bersikap ilmiah terhadap peristiwa yang terjadi di sekitarnya.

Sikap ilmiah merupakan sikap yang harus ada pada diri mahasiswa ketika menghadapi persoalan-persoalan ilmiah, yang perlu dibiasakan dalam berbagai forum ilmiah. Metode yang digunakan yaitu metode kuantitatif, dengan model Korelasi Dwivariat yaitu model penelitian yang mengungkapkan hubungan asimetris variabel bebas (budaya akademik) dan variabel terikat (sikap ilmiah). Populasi dalam penelitian ini yaitu mahasiswa Fakultas Ilmu Politik, Fakultas Sastra, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ekonom, Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Kependidikan, Fakultas Ilmu Sosial, dan Fakultas Psikologi yang sedang menempuh studi Program S1 di Universitas Negeri Malang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Proportional Sampling dan Simple Random Sampling Dengan hasil bahwa tingkat hubungan yang diperoleh antara implementasi budaya akademik dan sikap ilmiah yaitu pada kategori ‘kuat’, sehingga disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan positif antara variabel

21

implementasi budaya akademik Universitas Negeri Malang dapat ditempuh dengan mengoptimalkan implementasi budaya akademik, guna meningkatkan kualitas serta citra perguruan tinggi dengan universitas unggul yang lain. Penelitian ini memiliki persamaan dengan penelitian yang peneliti lakukan dari segi objek penelitian yaitu tentang budaya akademik. Perbedaan terdapat pada tujuan penelitian, penelitian ini hanya ingin mengetahui tentang implementasi budaya akademik dan sikap ilmiah mahasiswa.

Sedangkan penelitian yang peneliti lakukan memiliki tujuan untuk mengetahui bagaimana mahasiswa perantau menyesuaikan diri dengan budaya akademik di kampus UIN Jakarta.

2. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Nuridin pada tahun 2016 yang berjudul pengembangan model manajemen pembinaan mahasiswa berbasis budaya akademik di Unissula. Penelitian ini didasarakan pada kenyataan bahwa pendidikan di Indonesia belum berada pada kondisi yang ideal. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya penyimpangan yang dilakukan oleh mahasiswa mulai dari tawuran, seks bebas, kenakalan remaja dan penyalahgunaan narkoba.

Oleh karena itu perlu terobosan baru dalam bentuk strategi pendidikan yang lebih komprehensif dalam dunia pendidikan di Indonesia. MenurutNuridin, salah satu yang patut dan menarik untuk diupayakan yaitu strategi pendidikan budaya akademik Islami yang diimplementasikan di kampus dalam pembinaan mahasiswa guna melahirkan generasi terbaik. Pada penelitian ini Nuridin menggunakan metode kualitatif fenomenologis.Penelitian ini memiliki persamaan dengan penelitian yang peneliti lakukan dari segi objek penelitian yaitu tentang budaya akademik dan sama-sama melakukan penelitian dengan menggunakan metode kualitatif.Perbedaan terdapat pada tujuan penelitian, penelitian ini hanyamengetahui bagaimana pengembangan model manajemen pembinaan mahasiswa berbasis budaya akademik. Sedangkan

22

penelitian yang peneliti lakukan memiliki tujuan mengetahui cara mahasiswa perantau dalam menyesuiakan diri dengan budaya akademik kampus.

3. Penelitian penyesuaian akademik oleh UmmiSakinah (2017) yang berjudul identifikasi faktor-faktor penyesuaian akademik pada Mahasiswa Tahun Pertama Pendidikan Tata Boga Universitas Negeri Medantujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui faktor-faktor penyesuaian akademik pada mahasiswa tahun pertamapendidikan tata boga Universitas Negeri Medan. Penelitian ini didasarakan pada kenyataan bahwa beberapa mahasiswa mengalami kesulitan karena kebanyakan tugas yang diberikan dan merasa kesulitan karena mencari materi sendiri berbeda dengan SMA. Ada juga mahasiswa yang merasa kurang dukungan karena ketika menghadapi masalah perkuliahan tidak mungkin memberitahukan orang tua agar tidak terbebani. Subjek penelitiannya berjumlah 44 mahasiswa.

Selanjutnya, hasil penelitian didapat faktor penyesuaian akademik yang memiliki presentase paling besar terdapat pada mahasiswa tahun pertama Pendidikan Tata Boga Universitas Medan yaituharga diri 17,5%,dukungan sosial 17,4%, stress 16,9%, konsep diri 16,6%, keyakinan diri 14,1%,self regulation12.9%, dan interaksi dengan staff fakultas 4,2%. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dan teknik pengambilan data menggunakan teknik total sampling.Penelitian ini memiliki persamaan dengan penelitian yang peneliti lakukan dari segi objek penelitian yaitu tentangakademik kampus dan sama-sama mengambil data pada perguruan tinggi. Perbedaan terdapat pada tujuan penelitian, penelitian ini hanya ingin mengetahuitujuan yaitu untuk mengetahui faktor-faktor penyesuaian akademik pada mahasiswa tahun pertama. Sedangkan penelitian yang peneliti lakukan memiliki tujuan mengetahui bagaimanacara mahasiswa perantau dalam menyesuaikan diri dengan budaya akademik kampus

23

dan perbedaanya terdapat pada lokasi penelitian yang dimana peneliti melakukan penelitian di UIN Syarif Hidyatullah Jakarta.

4. Selanjutnya, pada penelitian Ridlo Zarkaysi (2017) yang berjudul membangun budaya akademik pada perguruan tinggi pesantren.

Tujuan dari penelitian ini untuk mengeksplorasi model budaya organisasi di lingkungan pesantren, pengembangan budaya akademik, dan bagaimana mengatisipasi hambatan, serta siapa yang bertanggung jawab dan akan terlibat dalam perubahan dan perkembangan lingkungan budaya akademis.Penelitian ini didasarkan pada kenyataan bahwaperguruan tinggi pesantren merupakan

Tujuan dari penelitian ini untuk mengeksplorasi model budaya organisasi di lingkungan pesantren, pengembangan budaya akademik, dan bagaimana mengatisipasi hambatan, serta siapa yang bertanggung jawab dan akan terlibat dalam perubahan dan perkembangan lingkungan budaya akademis.Penelitian ini didasarkan pada kenyataan bahwaperguruan tinggi pesantren merupakan

Dokumen terkait