• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Predisposisi ( Predisposing Factor ) a.Karakteristik Sosio Demografi

TINJAUAN PUSTAKA

1. Faktor Predisposisi ( Predisposing Factor ) a.Karakteristik Sosio Demografi

Karakteristik sosio demografi merupakan karakteristik yang melekat atau ada pada diri individu yang meliputi umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan karakteristik lainnya. Karakteristik ini baik secara langsung maupun tidak langsung akan memengaruhi pengetahuan, sikap, dan perilaku individu dalam memberikan respon atau mengambil suatu keputusan. Beberapa

21

penelitian di bidang kesehatan menunjukkan bahwa karakteristik sosio demografi berhubungan erat dengan kejadian penyakit atau memengaruhi pola pemanfaatan pelayanan kesehatan pada individu (Martini, 2013).

Penelitian kesehatan yang menggambarkan kejadian penyakit atau pengambilan keputusan dalam pencarian pengobatan berdasarkan karakteristik sosio demografi sudah cukup banyak. Namun, khusus yang menggambarkan hubungan karakteristik sosio demografi dengan keputusan melakukan skrining TB pada pasien DM masih belum ada. Beberapa penelitian yang dapat dijadikan bahan rujukan yaitu penelitian yang menghubungkan karakteristik sosio demografi dengan kepatuhan berobat pada penderita TB Paru. Penelitian yang dilakukan oleh Erawatyningsih et al. (2009) dengan rancangan case control di Wilayah Kerja Puskesmas Dompu Barat, Provinsi NTB mendapatkan bahwa proporsi pendidikan tinggi yang patuh sebesar 46,7% dan pada yang tidak patuh hanya sebesar 10%, serta terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dengan kepatuhan berobat (p=0,007).

Selain penelitian kepatuhan berobat pasien yang hampir mirip dengan keputusan melakukan skrining TB Paru karena sama-sama merupakan wujud perilaku, penelitian yang juga dapat dijadikan rujukan yaitu penelitian yang dilakukan oleh Thomas et al. (2007) mengenai kesediaan test HIV pada pasien TB di India. Hasil tersebut mengungkapkan bahwa jenis kelamin laki-laki meningkatkan odd untuk bersedia menjalani tes HIV 1,9 kali dibandingkan jenis kelamin perempuan dan bermakna secara statistik (p<0,001). Selain itu, pada pasien TB yang bekerja juga meningkatkan odd untuk bersedia menjalani tes HIV 1,2 kali dibandingkan pada mereka yang belum bekerja dan hubungan tersebut bermakna secara statistik (p=0,023).

22

b. Pengalaman Mengenai TB

Pengalaman dapat diartikan sebagai sekumpulan hal yang pernah dialami atau dirasakan pada diri seseorang. Pengalaman mengenai TB dapat diperoleh seseorang dari dirinya sendiri maupun hasil interaksi dengan lingkungan sekitar. Pengalaman mengenai TB yang berasal dari diri sendiri yaitu dapat berupa riwayat pernah menderita TB, sedangkan pengalaman yang merupakan hasil interaksi dengan lingkungan sekitar dapat berupa pengalaman kontak dengan anggota keluarga yang pernah menderita TB. Pengalaman mengenai TB yang didapat seseorang dari dirinya sendiri maupun lingkungan akan memengaruhi proses pembentukan pengetahuan pada diri seseorang.

Beberapa penelitian di bidang pencegahan dan pengendalian TB yang ada hanya terbatas mempelajari tentang pengalaman atau riwayat kontak dengan anggota keluarga terhadap kejadian TB Paru. Penelitian yang dilakukan oleh Anugrah (2012) mendapatkan bahwa riwayat kontak dengan anggota keluarga meningkatkan peluang untuk terkena TB 1,7 kali dan hubungan tersebut bermakna secara statistik (p=0,01).

Penelitian yang khusus mempelajari hubungan antara pengalaman mengenai TB, baik berupa pengalaman pernah menderita TB atau pengalaman anggota keluarga pernah menderita TB dengan keputusan melakukan skrining TB masih belum ada. Namun diduga pengalaman mengenai TB yang dimiliki seseorang merupakan bentuk keterpaparan informasi sehingga akan memengaruhi sikap dan pengetahuan mengenai TB. Hal tersebut tentu merupakan faktor predisposisi yang akan memengaruhi pengambilan perilaku kesehatan, salah satunya yaitu keputusan untuk bersedia melakukan skrining TB Paru.

23

c. Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya. Pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan objek. Pengetahuan merupakan faktor penting yang memengaruhi prilaku seseorang karena perilaku terbentuk didahului oleh pengetahuan dan sikap yang positif (Notoatmodjo, 2010b). Pengetahuan mengenai TB dan TB-DM dapat diperoleh melalui penglihatan seperti melihat dan membaca informasi dari media massa atau media elektronik. Selain itu, bisa juga didapat melalui mendengarkan informasi dari penyuluhan atau konseling yang dilakukan oleh petugas kesehatan.

Pengetahuan mengenai TB dan TB-DM dibentuk dari terpaparnya informasi mengenai TB dan TB-DM. Berbeda dengan keterpaparan informasi yang hanya dinilai apakah pasien DM mendapat informasi yang cukup, pengetahuan dinilai dengan menggunakan pertanyaan untuk mengukur tingkat pengetahuan pasien DM yang meliputi penyebab, gejala, cara penularan, pengobatan, pencegahan TB, serta mengenai TB-DM. Pasien DM yang memiliki pengetahuan yang cukup diharapkan bersedia untuk melakukan prosedur skrining TB Paru.

Penelitian tentang pengetahuan TB sudah cukup banyak dilakukan, tetapi yang khusus mempelajari pengetahuan TB dan TB-DM pada pasien DM masih belum ada. Penelitian yang dapat digunakan sebagai bahan rujukan yaitu penelitian yang dilakukan oleh Erawatyningsih et al. (2009) mengenai faktor yang memengaruhi kepatuhan berobat pada penderita TB Paru. Berdasarkan hasil penelitian tersebut didapatkan bahwa proporsi pengetahuan tinggi pada

24

yang patuh yaitu sebesar 71%, sedangkan proporsi pengetahuan tinggi pada yang tidak patuh hanya sebesar 19%. Selain itu, terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kepatuhan berobat (p=0,0002).

Penelitian yang serupa terkait hubungan pengetahuan dengan tindakan melakukan skrining dilakukan oleh Kedebe et al. (2014) yaitu mengenai penerimaan tes HIV pada pasien TB di wilayah Ethiopia Barat. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa mereka yang berpengetahuan baik mengenai penyakit dan prosedur test meningkatkan odd untuk mengikuti tes HIV sebesar 8,09 kali dibandingkan pada mereka yang berpengetahuan buruk dan hubungan tersebut bermakna secara statistik (p=0,017).

d. Sikap

Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (Notoatmodjo, 2010b). Dalam konteks kesehatan, sikap dapat berupa pendapat seseorang terhadap program atau upaya yang sedang diterapkan. Ungkapan pendapat dapat berupa pernyataan setuju atau tidak setuju, senang atau tidak senang. Sikap juga merupakan kesiapan seseorang untuk berperilaku.

Sikap tentang TB-DM merupakan sikap yang mengacu pada Teori Health Belief Model, yaitu bahwa tindakan dapat muncul karena adanya persepsi individu meliputi kerentanan untuk menderita TB (perceived of susceptibility), keseriusan penyakit (percieved of severity), persepsi penghalang untuk mengikuti skrining dan terapi TB-DM (percieved of barrier), dan keuntungan mengikuti skrining dan terapi TB-DM (percieved of benefit) (Rawlett, 2011). Pasien DM yang memiliki sikap positif terhadap TB-DM, skrining, dan terapi TB-DM diharapkan bersedia mengikuti prosedur skrining TB Paru.

25

Berdasarkan penelusuran penelitian kesehatan yang mempelajari sikap terhadap perilaku, belum ada penelitian yang khusus mempelajari tentang sikap terhadap keputusan melakukan skrining TB Paru. Penelitian kesehatan di bidang pencegahan dan penanggulangan TB yang dapat digunakan sebagai rujukan diantaranya yang dilakukan oleh Kurniawan (2015) mengenai hubungan sikap atau persepsi terkait TB dengan tindakan skrining pada anggota keluarga penderita TB. Hasil penelitian tersebut mendapatkan bahwa persepsi pribadi terkait kerentanan terinfeksi TB memengaruhi tindakan skrining TB (p=0,01).

Penelitian lainnya yang dapat dijadikan bahan rujukan yaitu penelitian Dhewi et al. (2012) mengenai hubungan sikap terkait TB dengan kepatuhan minum obat pada pasien TB. Sebagian besar yaitu 77% pasien dengan sikap yang baik cenderung patuh minum obat, sedangkan pada sikap yang kurang hanya 10% yang patuh minum obat. Sikap yang baik meningkatkan peluang untuk patuh minum obat sebesar 3,4 kali dan hubungan tersebut bermakna secara statistik (p=0,001).

2. Faktor Pemungkin (Enabling Factor)

Dokumen terkait