• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Corona Virus Disease-2019

2.1.5 Faktor Resiko dan Kormobiditas COVID-19

Orang dewasa yang lebih tua dengan usia 65 tahun ke atas, memiliki risiko lebih besar mengalami kondisi yang lebih parah dan bahkan kematian akibat COVID-19. Di Amerika Serikat, 8 dari 10 orang yang menderita COVID-19 dilaporkan berumur 65 tahun keatas.Risiko kematian tertinggi pada penderita

COVID-19 adalah pasien yang berusia 85 tahun atau lebih. Seiring bertambahnya usia pada orang dewasa terutama apabila sudah berusia 65 tahun ke atas, maka sistem kekebalan tubuh mereka mulai merespon dengan buruk dan semakin sulit untuk menghadapi infeksi. Selain itu, orang dengan usia tua cenderung memiliki penyakit kronis yang dapat meningkatkan risiko keparahan dari COVID-19 (CDC, 2020).

Pada MERS dan SARS, juga dilaporkan bahwa usia sebagai perdiktor independen penting dari mortalitas. Studi saat ini mengkonfirmasi bahwa peningkatan usia dikaitkan dengan kematian pada pasien COVID-19.Penurunanfungsi sel-T dan sel-B akibat usia dan produksi berlebih sitokin proinflamasi dapat menyebabkan kesulitan kontrol replikasi virus dan respon proinflamasi yang lebih lama, yang mengarah pada hasil yang lebih buruk. (Fei Zhou et all, 2020) Menurut Choumin Wu, usia yang lebih tua dikaitkan dengan risiko pengembangan ARDS yang lebih besar dan kematian karena respon imun yang buruk(Choumin Wu et al.,2020).

2.1.5.2 JENIS KELAMIN, RIWAYAT MEROKOK, DAN OBESITAS

Jenis kelamin laki-laki, dan perokok aktif merupakan faktor risiko yang cukup berkaitan dengan infeksi SARS-CoV-2. Distribusi jenis kelamin yang lebih banyak pada laki-laki yang terkena COVID-19 diduga terkait dengan prevalensi perokok aktif yang lebih tinggi pada laki-laki. Merokok terkait dengan ekspresi ACE2 (reseptor untuk SARS-CoV-2) yang lebih tinggi. Di Tiongkok, didapati 288 juta perokok pria dan 12,6 juta perokok wanita. Pada suatu studi juga ditemukan peningkatan ekspresi reseptor ACE2 pada orang Asia yang merokok dibandingkan dengan orang Asia yang bukan perokok (Hua Chai,2020).

Beberapa studi telah menunjukkan prevalensi COVID-19 pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Dari 99 pasien COVID-19, ditemukan prevalensi laki laki (67 orang) lebih tinggi daripada perempuan (32 orang). Pada suatu penelitian didapati bahwa infeksi SARS-CoV-2 cenderung didapati pada orang tua dengan jenis kelamin laki-laki dan umumnya memiliki penyakit komorbid yang dapat mengakibatkan kondisi penyakit pernapasan fatal seperti ARDS (Nansan Chen et

al.,2020). Namun pada penelitian lainnya ternyata diperoleh perbandingan 1:1 antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan dari 140 pasien COVID-19 dengan usia rata-rata 57 tahun (Jin-jin Zhang et al.,2020).

Obesitas berat, yang didefinisikan sebagai nilai indeks massa tubuh (IMT) sebesar 40 atau lebih, menempatkan orang pada risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya kejadian parah dan komplikasi dari COVID-19. Obesitas berat meningkatkan risiko masalah pernapasan serius yang disebut Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), yang merupakan komplikasi utama COVID-19.

Orang yang hidup dengan obesitas parah dapat memiliki beberapa penyakit kronis serius dan kondisi kesehatan mendasar yang dapat meningkatkan risiko penyakit parah dari COVID-19 (CDC, 2020).

2.1.5.3 RIWAYAT KONTAK DAN PERJALANAN KE AREA TERJANGKIT

Riwayat kontak erat dengan pasien COVID-19, seperti tinggal serumah dengan pasien COVID-19 dan riwayat adanya perjalanan ke area terjangkit COVID-19 adalah beberapa faktor risiko terinfeksi SARS-CoV-2 yang telah ditetapkan oleh Centers for Disease Control and Prevention(CDC).Berada dalam satu lingkungan namun tidak kontak dekat (dalam radius 2 meter) dianggap sebagai risiko rendah(Adityo Susilo et al., 2020).Di Italia, sekitar 9% kasus COVID-19 adalah tenaga medis (ICN,2020). Sementara itu, lebih dari 3.000 tenaga medis terinfeksi virus ini, dengan angka mortalitas didapati sebesar 0,6%

di Tiongkok (Jiancong Wang et al.,2020).

2.1.5.4 PENGGUNAAN ACE INHIBITOR/ARB

Orang yang menggunakan ACEinhibitor (ACE-I) atau angiotensin receptor blocker (ARB) memiliki risiko kejadian COVID-19 yang lebih berat seperti masuk ke ICU akibat perlunya ventilasi mekanik, dan bahkan kematian(James H.

Diaz,2020).Kesimpulan ini didukung oleh sebuah hasil studi di Tiongkok baru-baru ini dimana lebih dari 1.000 pasien dengan COVID-19 yang dilaporkan

dengan kejadian penyakit yang lebih parah adalah pada pasien dengan hipertensi, penyakit arteri koroner, diabetes, dan penyakit ginjal kronis (Gwan Wei et al.,2020). Namun,European Society of Cardiology (ESC) menyatakan belum ada bukti meyakinkan untuk menyimpulkan dampak positif atau negatif akibat obat golongan ACE-i atau ARB, sehingga penggunaan kedua jenis obat ini sebaiknya tetap dilanjutkan oleh para pengguna obat tersebut(Adityo Susilo et al, 2020).

2.1.5.5 RIWAYAT PENYAKIT PARU KRONIS DAN ASMA

Asma sedang hingga berat dan penyakit paru kronis dapat menempatkan orang pada risiko lebih tinggi untuk keparahan akibat COVID-19. COVID-19 dapat mempengaruhi saluran pernapasan Anda (hidung, tenggorokan, paru-paru), menyebabkan serangan asma, dan mungkin menyebabkan pneumonia dan penyakit serius. Penyakit paru-paru kronis, seperti Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) (termasuk emfisema dan bronkitis kronis), fibrosis paru idiopatik, dan fibrosis kistik, dapat menempatkan orang pada risiko lebih tinggi untuk penyakit parah dari COVID-19. Berdasarkan data dari infeksi pernafasan virus lainnya, COVID-19 dapat menyebabkan peningkatan keparahan penyakit paru-paru kronis yang berujung pada prognosis yang buruk (CDC, 2020).

2.1.5.6 PENYAKIT HATI KRONIK

Pasien dengan penyakit hati kronik dianggap memiliki risiko yang tinggi serta rentan terhadap infeksi SARS-CoV-2. Pasien dengan sirosis atau penyakit hati kronik juga mengalami penurunan respons imun, sehingga lebih mudah terkena COVID-19, dan dapat mengalami kondisi yang lebih buruk(Mansoor N. Bangash, 2020).Pada pasien dengan infeksi coronavirus kerusakan hati mungkin dapat langsung disebabkan oleh infeksi virus pada sel hati dan obat yang bersifat hepatotoksisitas. Sementara itu, peradangan yang dimediasi imun, seperti badai sitokin dan hipoksia terkait pneumonia, mungkin juga memiliki andil terhadap cedera hati atau bahkan berkembang menjadi gagal hati pada pasien COVID-19

yang sakit kritis(Chao Zhang et al., 2020).Disfungsi hati pada COVID-19 yang parah umumnya disertai dengan aktivasi jalur koagulatif dan fibrinolitik berlebih, jumlah trombosit yang relatif tertekan, jumlah neutrofil yang naik dan rasio neutrofil terhadap limfosit, dan kadar feritin yang tinggi(Mansoor N. Bangash, 2020).

Menurut suatu studi, dari 261 pasien COVID-19 yang memiliki komorbid, 10 pasien di antaranya penderita kanker dan 23 pasien adalah penderita hepatitis B.

Peningkatan kadar AST terjadi pada 122 (18,2%) pasien dari 615 pasien dengan penyakit yang tidak parah dan 56 (39,4%) dari 142 pasien dengan penyakit yang parah pada penderita COVID-19. Sementara itu, peningkatan ALT diamati pada 120 (19,8%) pasien dari 606 pasien dengan penyakit yang tidak parah dan 38 (28,1%) dari 135 pasien dengan penyakit yang parah pada penderita COVID-19 (Guan, W. 2020). Ditemukan juga peningkatan AST pada 8 (62%) dari 13 pasien yang berada di ICU dibandingkan dengan 7 (25%) dari 25 pasien yang tidak membutuhkan perawatan ICU (Choulin Huang et al.,2020). Pasien COVID-19 yang memiliki riwayat sirosis hati atau kanker hati mungkin dapat lebih rentan terkena infeksi SARS-CoV-2 karena keadaan gangguan imun sistemik (Chao Zhang et al., 2020).

2.1.5.7 RIWAYAT PENYAKIT KARDIOVASKULAR DAN DIABETES Kondisi-kondisi kardiovaskular yang serius, termasuk gagal jantung, penyakit arteri koroner, penyakit jantung kongenital, kardiomiopati, dan hipertensi paru, dapat menempatkan orang pada risiko lebih tinggi untuk penyakit parah dari COVID-19. Seperti penyakit virus lainnya seperti flu, SARS-CoV-2 dapat merusak sistem pernapasan dan mempersulit jantung penderita penyakit kardiovaskular. Untuk orang-orang dengan gagal jantung dan kondisi jantung serius lainnya ini dapat menyebabkan memburuknya gejala COVID-19 (CDC.

2020).

Suatu Penelitian dengan 1099 pasien COVID-19 yang dikonfirmasi, di antaranya 173 orang memiliki penyakit parah dengan komorbiditas hipertensi (23,7%), diabetes mellitus (16,2%), penyakit jantung koroner (5,8%), dan

penyakit serebrovaskular (2,3%) (Gwan Wei et al.,2020). Dalam studi lainnya didapati, dari 140 pasien yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19, 30%

memiliki hipertensi dan 12% memiliki diabetes(Jin-jin Zhang et al., 2020).

Diabetes, termasuk tipe 1, tipe 2, atau gestasional, dapat menempatkan orang pada risiko penyakit parah akibat COVID-19. Penderita diabetes yang kadar gula darahnya sering lebih tinggi dari target, cenderung memiliki masalah kesehatan terkait diabetes yangmempersulit keadaan untuk mengatasi COVID-19 (CDC, 2020).Ekspresi ACE2 diperkirakan secara substansial meningkat pada pasien dengan diabetes tipe 1 atau tipe 2, terutama pada pasien yang dirawat dengan ACE inhibitor dan angiotensin II receptor blocker (ARB). Hal ini tentu membuat penderita diabetes memiliki risiko lebih rentan terhadap COVID-19(Lei Fang et al., 2020).

Dokumen terkait