TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nelayan
2.3.5 Faktor risiko katarak
Faktor risiko katarak antara lain:
1. Umur
Usia dikatakan merupakan faktor risiko utama terjadinya katarak. Katarak senilis dikatakan sebagai suatu penyakit idiopatik yang umum terjadi pada usia di atas 50 tahun, prevalensinya cenderung meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. Risiko terjadinya katarak pada seseorang yang berusia 55 tahun ke atas 30,6 kali lebih tinggi dibandingkan seseorang yang berusia 30-54 tahun (Tana dkk, 2007).
2. Jenis kelamin
Perempuan lebih berisiko untuk menderita katarak lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Hal tersebut dikarenakan usia harapan hidup perempuan lebih lama dibandingkan laki-laki. Penelitian yang dilakukan Arimbi (2012) menemukan perempuan lebih berisiko katarak sebesar 1,31 kali dibanding laki-laki, namun secara statistik hal tersebut tidak bermakna karena nilai p>0,05.
3. Riwayat penyakit keturunan
Katarak yang disebabkan oleh riwayat penyakit keturunan biasanya terjadi pada anak-anak. Katarak anak-anak dibagi menjadi 2 kelompok yaitu katarak kongenital (infantilis) yang terdapat sejak lahir dan katarak didapat
17
yang timbul yang timbul belakangan dan biasanya berkaitan dengan sebab-sebab spesifik (Eva dan Whitcher, 2010). Ulandari (2014) menemukan riwayat penyakit katarak tidak terbukti secara statistik menjadi faktor risiko katarak.
4. Pekerjaan
Pekerjaan dalam hal ini berhubungan dengan paparan sinar ultraviolet, dimana sinar ultraviolet merupakan faktor risiko katarak. Penelitian yang dilakukan oleh Wahyudi, dkk., (2013) menemukan pada kelompok pekerja lapangan dengan tingkat kematangan katarak matur persentasenya lebih tinggi (62%) dibanding dengan kelompok pekerja ruangan (41,9%) demikian juga untuk tingkat kematangan katarak imatur. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Arimbi (2012) yang menemukan responden pada kategori pekerjaan di luar ruangan mempunyai risiko untuk menderita katarak sebanyak 2,9 kali dibandingkan dengan responden kategori pekerjaan di dalam ruangan.
5. Pendidikan
Ulandari (2014) menyebutkan prevalensi katarak lebih tinggi pada kelompok yang berpendidikan rendah. Pendidikan rendah mempunyai risiko 25 kali untuk terjadi katarak dibandingkan dengan responden yang berpendidikan tinggi. Penelitian yang dilakukan Hutasoit (2009) menemukan penderita katarak dua mata ataupun satu mata dengan pendidikan terakhir sekolah dasar. Arimbi (2012) menemukan kategori pendidikan rendah berisiko untuk menderita katarak sebanyak 2,9 kali dibandingkan dengan kategori pendidikan tinggi.
18
6. Pendapatan
Katarak berhubungan dengan sosial ekonomi yang rendah. Seseorang yang mempunyai penghasilan yang rendah tidak mampu dalam memenuhi kebutuhan nutrisinya. Pendapatan yang rendah juga berhubungan dengan rendahnya tingkat pengetahuan seseorang yang ada kaitannya dengan kemauan untuk mencari informasi mengenai katarak. Penelitian yang dilakukan Ulandari (2014) mendapatkan 53,8% responden yang menderita katarak memiliki penghasilan yang rendah. Penghasilan rendah mempunyai risiko 18 kali untuk terjadinya katarak dibandingkan dengan responden berpenghasilan tinggi. Hal tersebut juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan Arimbi (2012) yang menemukan penghasilan rendah mempunyai risiko untuk menderita katarak sebanyak 0,4 kali dibandingkan dengan responden penghasilan tinggi.
7. Nutrisi
Nutrisi merupakan salah satu faktor risiko katarak. Kejadian diare berat yang terjadi sekali atau berulang kali sudah cukup menimbulkan perubahan pada lensa. Diare berat berperan sebagai penyebab timbulnya asidosis, dehidrasi, dan peningkatan konsentrasi urea plasma. Adanya ketidakseimbangan osmotik dan faktor lainnya akan meningkatkan urea plasma pada protein lensa (Tana, 2006). Selain itu, menurut Hutasoit (2009) multivitamin, vitamin A, vitamin C, vitamin E, niasin, tiamin, riboflavin, beta karoten, dan peningkatan protein mempunya efek protektif terhadap perkembangan katarak.
19
8. Diabetes mellitus
Seseorang yang menderita diabetes mellitus mempunyai risiko untuk menderita katarak sebanyak 4,9 kali dibandingkan yang tidak menderita diabetes mellitus (Arimbi, 2012). Diabetes mellitus dapat mempengaruhi kejernihan lensa, indeks refraksi, dan amplitude akomodatif. Dengan meningkatnya kadar gula darah, maka meningkat pula kadar glukosa dalam akous humor. Pada mata terlihat meningkatnya insidens maturasi katarak yang lebih pada pasien diabetes. Pada lensa akan terlihat tebaran salju subkapsular yang sebagian jernih dengan pengobatan. Beberapa pendapat menyatakan bahwa pada keadaan hiperglikemia terdapat penimbunan sorbitol dan fruktosa di dalam lensa (Ilyas dan Yulianti, 2014).
9. Trauma mata
Trauma mata seperti pukulan keras, tembusan luka sayatan, panas tinggi atau bahan kimia dapat mengakibatkan kerusakan pada lensa mata yang dapat mengakibatkan katarak pada semua umur (Arimbi, 2012).
10. Obat-obatan
Arimbi (2012) menyebutkan obat-obatan yang meningkatkan risiko katarak adalah kortikostteroid, fenotiazin, miotikum, kemoterapi, diuretic, obat penenang, dan obat rematik.
11. Konsumsi alkohol
Peminum alkohol kronis mempunyai risiko terkena berbagai penyakit mata termasuk katarak. Alkohol akan secara langsung bekerja pada protein lensa dan secara tidak langsung dengan cara mempengaruhi penyerapan nutrisi penting pada lensa (Hutasoit, 2009). Seseorang yang pernah
20
mengonsumsi alkohol berisiko menderita menyakit katarak 0,8 kali dibandingkan dengan yang todak pernah mengonsumi alkohol (Arimbi, 2012)
12. Merokok
Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya katarak adalah faktor merokok. Rokok berperan dalam pembentukan katarak dengan dua cara yaitu paparan asap rokok yang bersal dari tembakau dapat merusak membran sel dan serat-serat yang ada pada mata, serta merokok menyebabkan antioksidan dan enzim-enzim di dalam tubuh mengalami gangguan sehingga dapat merusak mata. Penelitian Arimbi (2012) menemukan responden kategori merokok berisiko menderita katarak sebesar 1,47 kali kali dibandingkan dengan responden kategori tidak merokok. Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan Tana, dkk., (2007) yang mendapatkan seseorang yang merokok berisiko mengalami katarak 2,17 kali lebih tinggi dibandingkan seseorang yang bukan perokok. Makin berat derajat merokok maka katarak yang terjadi makin tinggi. Makin banyak jumlah rokok yang dihisap, maka risiko terjadi katarak makin tinggi.
13. Paparan asap
Penggunaan bahan bakar padat pada dapur yang tidak mempunyai saluran asap berhubungan dengan peningkatan risiko katarak. Penggunaan bahan bakar gas dan listrik menghasilkan asap yang relatif rendah dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar kayu api, arang, dan minyak tanah. Jumlah asap yang lebih rendah akan meminimalkan risiko katarak. Katarak pada seseorang yang menggunakan bahan bakar minyak tanah