BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.6 Faktor Risiko Kejadian BBLR
g) Salep mata antibiotic
h) Perawatan tali pusat : kering, bersih, tidak dibubuhi apapun dan terbuka
i) Bila berat lahir ≥2000gr dan tanpa masalah atau penyulit, dapat diberikan vaksinasi Hepatitis B pertama pada paha kanan
2) BBLR yang tidak bernapas spontan dimasukan ke dalam kategori lahir dengan asfiksia dan harus segera dilakukan lagkah awal resusitasi dan tahapan resusitasi berikutnya diperlukan :
a) Diputuskan berdasarkan penilaian keadaan bayi baru lahir,
yaitu bila air ketuban bercampur mekonium (letak
kepala/gawat janin) dan bayi tidak menangis atau tidak bernapas spontan atau bernapas mengap-mengap.
b) Langkah awal resusitasi yaitu jaga bayi dalam keadaan hangat,
atur posisi kepala bayi sedikit tengadah, isap lendir dimulut kemudian hidung, keringkan sambil dilakukan rangsang taktil, reposisi kepala, nilai keadaan bayi dengan melihat parameter yaitu usaha napas bila setelah dilakukan penilaian, bayi tidak menangis atau tidak bernapas spontan dan teratur.
2.6 Faktor Risiko Kejadian BBLR
Menurut WHO (2004), bayi dengan berat badan rendah saat lahir adalah salah satu hasil dari kelahiran prematur (sebelum 37 minggu kehamilan ) atau pembatasan pertumbuhan janin (intrauterine). Berat lahir rendah sangat erat kaitannya dengan mortalitas dan morbiditas janin dan
21 neonatal, menghambat pertumbuhan dan perkembangan kognitif dan penyakit kronis. Banyak faktor yang mempengaruhi durasi kehamilan dan pertumbuhan janin yang akan berpengaruh pada berat lahir bayi. Faktor-faktor tersebut berhubungan untuk bayi, ibu atau lingkungan fisik dan memainkan peran penting dalam menentukan berat lahir bayi dan perkembangan kesehatanya. Faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Untuk umur kehamilan yang sama, berat badan anak perempuan lebih
kurang dari pada anak laki-laki, bayi sulung lebih ringan dari bayi berikutnya (riwayat BBLR), dan kehamilan ganda.
b. Berat lahir dipengaruhi oleh pertumbuhan janin ibu sendiri dan diet selama masa kelahiran dengan kehamilan
c. Wanita muda memiliki bayi yang lebih kecil, nutrisi ibu hamil, gaya hidup (misalnya, alkohol, merokok atau penyalahgunaan obat) dan eksposur lainnya (misalnya, malaria, HIV atau sifilis), atau komplikasi
seperti hipertensi dapat mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan janin serta durasi kehamilan
d. Ibu dengan kondisi sosial-ekonomi rendah sering memiliki bayi berat lahir rendah. Berat lahir rendah terutama terjadi disebabkan oleh status gizi ibu yang buruk dan status kesehatan selama jangka waktu yang panjang, termasuk selama kehamilan, tingginya prevalensi infeksi spesifik dan non - spesifik, atau dari kehamilan komplikasi didukung oleh kemiskinan. secara jasmani menuntut kerja selama kehamilan juga berkontribusi untuk pertumbuhan janin yang buruk.
22 Penyebab BBLR umumnya tidak hanya satu, sehingga kadang sulit untuk dilakukan tindakan pencegahan. Faktor risiko kejadian BBLR diantaranya ibu hamil yang berumur kurang dari 20 tahun atau lenih dari 35 tahun, jarak kehamilan terlalu pendek, ibu mempunyai riwayat BBLR sebelumnya, mengerjakan pekerjaan fisik, mengerjakan pekerjaan fisik beberapa jam tanpa istirahat, sangat miskin, beratnya kurang dan kurang gizi, perokok, pengguna obat terlarang, alkohol,anemia, pre-eklampsi atau hipertensi, infeksi selama kehamilan, kehamilan ganda, bayi dengan cacat bawaan dan infeksi selama dalam kandungan (Depkes RI, 2009).
Menurut Manuaba (2010), faktor risiko kejadian BBLR yaitu terdiri dari faktor ibu berupa KEK (Kekurangan Energi Kronik), usia ibu <20 dan >35 tahun, jarak hamil dan bersalin terlalu dekat, penyakit menahun : hipertensi, jantung, gangguan pembuluh darah dan pekerjaan yang terlalu berat. Kemudian faktor kehamilan berupa hamil dengan hidramnion, hamil ganda, pendarahan antepartum, komplikasi kehamilan: preeklamsi/eklamsi dan KPD (Ketuban Pecah Dini) dan faktor janin yang terdiri dari cacat bawaan dan infeksi dalam rahim.
Faktor risiko kejadian BBLR menurut WHO (2004), Depkes (2009) dan Manuaba (2010) antara lain:
1. Faktor ibu
a. KEK (Kekurangan Energi Kronik)
Masalah gizi yang sering dihadapi ibu hamil yaitu Kekurangan Energi Kronik (KEK). KEK berdampak negatif terhadap ibu hamil
23 dan janin yang dikandung berupa peningkatan kematian ibu, sedangkan bayi berisiko mengalami BBLR, kematian dan gangguan tumbuh kembang. Kematian bayi merupakan indikator status kesehatan masyarakat yang penting berhubungan dengan anak sebagai investasi bangsa. Ibu hamil yang KEK sebaiknya mendapatkan makanan tambahan dan peyuluhan yang berkualitas (Festy, 2009).
KEK disebabkan oleh kekurangan energi dalam jangka waktu yang cukup lama. KEK pada wanita di negara berkembang merupakan hasil kumulatif dari keadaan kurang gizi sejak masa janin, bayi dan anak-anak serta berlanjut hingga dewasa. Secara spesifik, penyebab KEK pada ibu hamil adalah akibat dari ketidakseimbangan antara asupan untuk pemenuhan kebutuhan dan pengeluaran energi. Yang sering terjadi adalah adanya ketidaktersediaan pangan secara musiman atau secara kronis di tingkat rumah tangga, distribusi didalam rumah tangga yang tidak proporsional dan beratnya beban kerja ibu hamil (Albugis, 2008).
Energi yang tersembunyi dalam protein ditaksir sebanyak 5180Kkal, dan lemak 36.337Kkal. Agar energi ini bisa ditabung masih dibutuhkan tambahan energi sebanyak 26.224Kkal, yang digunakan untuk mengubah energi yang terikat dalam makanan menjadi energi yang bisa dimetabolisir. Dengan demikian jumlah total energi yang harus tersedia selama kehamilan adalah
24 74.537Kkal, dibulatkan menjadi 80.000Kkal. Untuk memperoleh besaran energi per hari, hasil penjumlahan ini kemudian dibagi dengan angka 250 (perkiraan lamanya kehamilan dalam hari) sehingga diperoleh angka 300Kkal (Marie, 2002).
Mekanisme terjadinya BBLR akibat Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil yaitu diawali dengan ibu hamil yang menderita KEK yang menyebabkan volume darah dalam tubuh ibu menurun dan cardiac output ibu hamil tidak cukup, sehingga meyebabkan adanya penurunan aliran darah ke plasenta. Menurunya aliran darah ke plasenta menyebabkan dua hal yaitu berkurangnya transfer zat-zat makanan dari ibu ke plasenta yang dapat menyebabkan retardasi pertumbuhan janin dan pertumbuhan plasenta lebih kecil yang menyebabkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) (Soetjiningsih, 1995 dalam Kemar 2008).
Kondisi kesehatan bayi yang dilahirkan sangat dipengaruhi oleh keadaan gizi ibu selama hamil. KEK pada ibu hamil perlu
diwaspadai kemungkinan ibu melahirkan bayi BBLR,
pertumbuhan dan perkembangan otak janin terhambat sehingga mempengaruhi kecerdasan anak dikemudian hari dan kemungkinan premature (Depkes, 2001 dalam Mulyaningrum, 2009).
LILA merupakan indikator status gisi ibu hamil. LILA diasumsikan ukuran yang tidak terpengaruh dengan berat badan ibu dan bayi dalam kandungan. Di Indonesia batas ambang LILA
25 normal adalah 23,5cm. Ibu hamil dengan ukuran LILA kurang 23,5cm berisiko menderita Kekurangan Energi Kronik (KEK) yang dapat menyebabkan prematuritas dan risiko Berat Badan Bayi Rendah (Festy, 2009).
Pengukuran Lingkar Lengan Bagian Atas (LILA) ibu pada saat hamil sangat penting. Tujuan dilakukan pengukuran LILA untuk mengetahui secara dini status gizi ibu hamil, apabila ukuran LILA <23,5cm maka kemungkinan ibu hamil untuk melahirkan bayi dengan BBLR lebih besar. Sedangkan apabila ukuran LILA >23,5cm maka ibu akan melahirkan bayi yang sehat, cukup bulan dengan berat badan normal. Hal ini disebabkan setiap ibu hamil memerlukan tambahan kalori dan nutrisi sehari-hari karena selama kehamilannya mereka harus memasok energi untuk pertumbuhan dan perkembangan janinnya (Puji, 2009).
b. Umur ibu <20 dan >35 tahun
Menurut Depkes (2001) dalam Mulyaningrum (2009) pada ibu hamil dengan umur >20 tahun, rahim dan panggul sering kali belum tumbuh mencapai ukuran dewasa. Akibatnya, ibu hamil pada umur itu mungkin mengalami persalinan lama/macet, atau gangguan lainya karena ketidaksiapan ibu untuk menerima tugas dan tanggung jawabnya sebagai orang tua. Sedangkan pada umur >35 tahun, kesehatan ibu sudah menurun, akibatnya ibu hamil pada
26 umur itu mempunyai kemungkinan lebih besar untuk mempunyai anak cacat, persalinan lama dan pendarahan.
Kehamilan pada masa remaja (umur >20 tahun) menimbulkan tantangan bagi remaja itu sendiri dan bagi janin yang dikandungnya yang berhubungan dengan meningkatnya risiko terhadap komplikasi kehamilan dan luaran perinatal yang buruk seperti preeklamsi, berat lahir janin rendah dan prematuritas. Kehamilan pada umur remaja berdampak pada pertumbuhan yang kurang optimal karena kebutuhan zat gizi pada masa tumbuh kembang remaja sangat dibutuhkan oleh tubuhnya sendiri, (Simbolon & Aini, 2013).
Masalah gizi yang sering dihadapi ibu hamil, terutama bagi ibu hamil di umur remaja yaitu Kurang Energi Kronik (KEK), anemia tablet Fe, pertambahan berat badan kurang selama hamil, dan tinggi badan berisiko. Status gizi ibu hamil berpengaruh terhadap berat badan lahir bayi yang ternyata sangat erat hubungannya dengan tingkat kesehatan bayi selanjutnya dan angka kematian bayi. Kehamilan di umur remaja memperburuk pemenuhan kebutuhan energi, karena remaja sendiri juga membutuhkan energi untuk pertumbuhannya yang masih terus berjalan dan harus bersaing dengan pertumbuhan janin. (Simbolon & Aini, 2013).
Meski kehamilan dibawah umur sangat berisiko tetapi kehamilan >35 tahun juga tidak dianjurkan dan sangat berbahaya.
27 Mengingat mulai umur ini sering muncul penyakit seperti hipertensi, tumor jinak peranakan, atau penyakit degeneratif pada persendian tulang belakang dan panggul.
Menurut Sitorus (1999) dalam Setianingrum (2005)
menyatakan bahwa Kesulitan lain kehamilan >35 tahun ini yakni bila ibu ternyata mengidap penyakit seperti diatas yang ditakutkan bayi lahir dengan membawa kelainan. Dalam proses persalinan sendiri, kehamilan di umur lebih ini akan menghadapi kesulitan akibat lemahnya kontraksi rahim serta sering timbul kelainan pada tulang panggul tengah. Mengingat bahwa faktor umur memegang peranan penting terhadap derajat kesehatan dan kesejahteraan ibu hamil serta bayi, maka sebaiknya merencanakan kehamilan pada umur antara 20-35 tahun.
Selain itu semakin muda dan semakin tua umur seorang ibu yang sedang hamil, akan berpengaruh terhadap kebutuhan gizi yang diperlukan. Umur yang muda perlu tambahan gizi yang banyak karena selain digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan dirinya sendiri juga harus berbagi dengan janin yang dikandungnya. Sedangkan umur yang tua perlu energi yang besar juga karena fungsi organ yang semakin melemah dan diharuskan untuk bekerja maksimal maka memerlukan tambahan energi yang cukup guna mendukung kehamilan yang sedang berlangsung (Kristyanasari, 2010, dalam Muazizah, 2011).
28 Umur ibu erat kaitannya dengan berat bayi lahir. Kehamilan pada umur >20 tahun merupakan kehamilan berisiko tinggi, 2-4 kali lebih tinggi di bandingkan dengan kehamilan pada wanita yang cukup umur. Pada umur yang masih muda, perkembangan organ-organ reproduksi dan fungsi fisiologinya belum optimal. Selain itu emosi dan kejiwaannya belum cukup matang, sehingga pada saat kehamilan ibu tersebut belum dapat menanggapi kehamilannya secara sempurna dan sering terjadi komplikasi (Nurfilaila, 2012).
Umur reproduksi optimal bagi seorang ibu adalah antara umur 20-35 tahun, dibawah atau diatas umur tersebut akan meningkatkan risiko kehamilan dan persalinannya (Depkes RI, 2003). Menurut Surtiati (2003), ibu yang berumur <20 dan >35 tahun memiliki risiko 3,18 kali lebih besar untuk melahirkan bayi BBLR dibandingkan dengan ibu yang melahirkan pada umur 20-35 tahun. c. Penyakit
Kesehatan dan pertumbuhan janin dipengaruhi oleh kesehatan ibu. Bila ibu mempuyai penyakit yang berlangsung lama atau merugikan kehamilanya, maka kesehatan dan kehidupan janin pun terancam. Beberapa penyakit yang mempengaruhi kehamilan yaitu penyakit Jantung, anemia berat, TBC, Malaria, HIV dan infeksi. Ibu dengan keadaan tersebut harus diperiksa dan mendapat pengobatan secara teratur oleh dokter (KEMENKES RI, 2011).
29 Penyakit dalam kehamilan terdiri dari adanya riwayat penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit jantung, diabetes melitus, penyakit hati, penyakit ginjal dan toksemia, adanya penyakit infeksi seperti malaria kongenital, penyakit kelamin, kandung kemih, malaria kongenital serta infeksi vagina dan rubella. Selain itu, adanya ketidak seimbangan hormonal pada ibu hamil. Disamping dapat menyebabkan keguguran setelah kandungan besar, ketidakseimbangan hormonal juga dapat menyebabkan kelahiran prematur dan BBLR. Dengan melakukan penggantian hormon dapat mencegah kelahiran prematur dan BBLR yang diakibatkan ketidakseimbangan hormonal (Maryunani, 2013).
Asma bronkial adalah suatu keadaan dimana saluran napas mengalami penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu yang menyebabkan peradangan dan penyempitan yang bersifat sementara. Pada penderita asma, penyempitan saluran pernapasan merupakan respons terhadap rangsangan, yang pada paru-paru normal tidak akan mempengaruhi saluran pernapasan. Penyempitan ini dapat dipicu oleh berbagai rangsangan seperti serbuk sari, debu, bulu binatang, asap, udara dingin dan olahraga (Junaidi, 2010).
Wanita yang hamil bernapas untuk dua orang, karena itu penting untuk mengendalikan asmanya. Kesulitan bernapas yang dialami wanita hamil mempengaruhi sang janin karena adanya
30 kompromi terhadap suplai oksigen. Jika asmanya terkendali, wanita penderita asma tidak akan mengalami komplikasi selama kehamilan dan bisa melahirkan sebagaimana wanita yang non-asmatik. Namun, asma yang tak terkendali selama kehamilan bisa mengakibatkan masalah kehamilan dan komplikasi pada sang janin seperti kelahiran prematur, bayi yang lahir kurang berat badan lahir rendah (BBLR), perubahan tekanan darah “maternal” (seperti eklampsia) (Chaitow, 2005).
Serangan yang akut membahayakan janin dalam kandungan ibu hamil, karena berkurangnya pasokan oksigen yang diterima. Cara mencegah terjadinya serangan selama kehamilan dan proses melahirkan dengan strategi tiga jalur pertahanan terhadap asma yaitu aturlah lingkungan hidup penderita asma (kendalikan pemicu asma di lingkungan sekitarnya), aturlah kesejahteraan saluran pernapasanya agar saluran napas tersebut kurang sensitive,
sehingga lebih kecil kemungkinanya bereaksi dengan
menimbulkan gejala asma dan aturlah serangan asma (kenali gejala
datangnya serangan secara dini dan bertindak untuk
menghentikanya sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar) (Chaitow, 2005).
Oleh sebab itu mengontrol asma selama kehamilan sangat penting untuk mencegah keadaan yang tidak dimungkinkan baik pada ibu maupun pada janinya. Pada umumnya semua obat asma
31 dapat diminum selama kehamilan kecuali komponen adrenergik, bromfeniramin dan epinefrin. Kortikosteroid inhalasi sangat bermanfaat untuk mengontrol asma dan mencegah serangan akut terutama saat kehamilan. Bila terjadi serangan harus segera ditanggulangi secara agresif yaitu pemberian inhalasi agonis beta-2, oksigen dan kortikosteroid sistemik (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2004).
Penyakit batu saluran kemih (batu ginjal) adalah terbentuknya batu yang disebabkan oleh pengendapan substansi yang terdapat dalam air kemih yang jumlahnya berlebihan atau karena faktor lain yang mempengaruhi daya larut substansi (Lina, 2008). Pada batu yang masih berukuran kecil dapat tidak memberikan gejala. Namun, pada batu yang berukuran lebih besar, maka dapat memberikan keluhan seperti nyeri kolik (nyeri yang disebabkan karena usaha untuk mengeluarkan batu, namun tersangkut di saluran kemih), hematuria (ada darah di urin), nyeri saat berkemih, terutama saat batu bergerak, buang air kecil sedikit, yang disebabkan tersumbatnya saluran kemih oleh batu, mual dan muntah (Gopar, 2009).
Batu saluran kemih dalam kehamilan tidaklah biasa. Frekuensinya sangat sedikit 0,03-0,07%. Walaupun demikian perlu juga diperhatikan karena urotiasis ini dapat mendorong timbulnya infeksi saluran kemih, atau menimbulkan keluhan pada penderita
32 berupa nyeri mendadak, kadang-kadang berupa kolik, dan hematuria. Diagnosis lebih tepat dengan melakukan pemeriksaan
intravenous pielografi; akan tetapi janin harus dilindungi dari efek penyinaran. Bila diketahui adanya urolitiasis dalam kehamilan, terapi pertama adalah analgetika untuk menghilangkan sakitnya, diberi cairan banyak agar batu dapat ke bawah, karena hampir 80% batu akan dapat turun ke bawah, serta antibiotika (Wiknyosastro, 2007).
Saat hamil, terkadang ibu hamil tidak berselera makan, mual
dan muntah (emesis gravidarium) akibat pengaruh hormone
chorionic gonadotropin. Karena perut sering tidak terisi, maka sakit maag akan muncul. Penyakit maag yang diderita sebelumnya dapat memperburuk masa mengidam ibu hamil, yaitu mual dan muntah berlebih (hiperemesis gravidarum) pada ibu hamil rentan sakit maag. Biasanya, keluhan pada daerah sekitar lambung baik itu mual, muntah (emesis gravidarum), heart burn (rasa panas di ulu hati, bahkan sampai mual dan muntah yang berlebihan (hiperemesis gravidarium) (Bambang, 2011).
Berdasarkan penelitian, obat yang dijual bebas untuk mengatasi keluhan maag relatif aman untuk dikonsumsi oleh ibu hamil, tetapi sesuai dosis. Karena tidak ditemukan efek teratogenik, malformasi (kecacatan) pada bayi. Namun sebelum itu terlebih dahulu berkonsultasi ke dokter agar lebih tepat jenis obat dan dosis sesuai
33 dengan kebutuhan. Berikut ada 2 cara untuk mengatasi gejala saluran pencernaan, antara lain farmakologis yaitu dengan menggunakan obat (vitamin B6, B12, anti histaine, antasida, H2 reseptor antagonist dan proton pump inhibitor) dan non farmakologis yaitu tanpa menggunakan obat seperti jahe (bentuk permen, sirup, atau kapsul), akupuntur atau dengan cara mengoleskan minyak kayu putih pada tubuh juga dapat mengurangi gas berlebih pada tubuh (Bambang, 2011).
d. Jarak kehamilan
Jarak kehamilan ibu hamil sangat mempengaruhi berat bayi yang dilahirkan. Seorang ibu yang jarak kehamilannya dikatakan berisiko apabila hamil dalam jangka kurang dari dua tahun, dan hal ini jelas menimbulkan gangguan pertumbuhan hasil konsepsi, sering terjadi immaturitas, prematuritas, cacat bawaan, atau janin lahir dengan berat badan yang rendah. Keadaan ini disebabkan karena kurangnya suplai darah nutrisi akan oksigen pada placenta yang akan berpengaruh pada fungsi plesenta terhadap janin (Depkes RI, 2003).
Jarak kehamilan yang pendek akan menyebabkan seorang ibu belum cukup waktu untuk memulihkan kondisi tubuhnya setelah melahirkan sebelumnya. Ibu hamil dalam kondisi tubuh kurang sehat inilah yang merupakan salah satu faktor penyebab kematian ibu dan bayi yang dilahirkan serta risiko terganggunya sistem
34 reproduksi. Sistem reproduksi yang terganggu akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan janin yang dikandungnya sehingga berpengaruh terhadap berat badan lahir. Ibu hamil yang jarak kehamilanya kurang dari dua tahun, kesehatan fisik dan kondisi rahimnya masih butuh istirahat yang cukup (Trihardiani, 2011).
Penelitian yang dilakukan oleh Nurfilalila (2011) menemukan bahwa adanya hubungan antara jarak kehamilan dengan kejadian BBLR. Hubungan ini disebabkan karena jarak kehamilan berpengaruh terhadap proses petumbuhan janin dalam rahim, sehingga bila jarak kehamilan seseorang sangat dekat atau dalam jangka kurang dari dua tahun, maka mungkinkan terjadinya BBLR. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Trihardiani (2011) menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara jarak kehamilan dengan berat badan lahir. Hal ini dikarenakan sebagian besar subyek pada penelitian ini, yaitu sebesar 90,8% memiliki jarak kelahiran lebih dari sama dengan dua tahun.
e. Pekerjaan
Pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh semua umur. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan digunakan untuk suatu tugas atau kerja yang menghasilkan uang bagi seseorang. Pekerjaan adalah sesuatu yang dikerjakan untuk mendapatkan nafkah atau pencaharian masyarakat yang sibuk
35 dengan kegiatan atau pekerjaan sehari-hari yang akan memiliki waktu yang lebih untuk memperoleh informasi (Depkes RI, 2001).
Benerjee (2009) dalam Sujoso (2011) mengemukakan bahwa wanita bekerja yang sedang hamil membutuhkan perlindungan khusus. Perlindungan khusus ini diperlukan karena beberapa alasan. Pertama, pada fase perkembangan embrio lebih rentan terhadap agen toksik dibandingkan dengan ibu yang terpapar. Kedua, pada beberapa jenis pekerjaan dirasa kurang sesuai dikerjakan oleh seorang wanita. Ketiga, kehamilan mungkin menurunkan kapasitas kemampuan menangani permasalahan kerja. Keempat, wanita cenderung kurang memperhatikan dirinya dibandingkan dengan pria.
Substansi bahaya di tempat kerja dapat masuk pada pekerja melalui tiga cara yaitu pernafasan, kontak melalui kulit dan melalui pencernaan. Wanita pekerja yang sedang hamil harus lebih berhati-hati mengenai bahaya pada kesehatan reproduksi. Beberapa bahan kimia dapat beredar di dalam darah ibu, melalui plasenta dan menjangkau perkembangan janin. Agen berbahaya lainya yaitu agen biologi seperti bakteri, virus, cacing yang dapat mempengaruhi secara keseluruhan pada kesehatan wanita dan mengurangi transport makanan ke janin sehingga menyebabkan bayi dengan berat lahir rendah (Sujoso, 2011).
36 Hasil penelitian yang dilakukan oleh Hartikainen dalam Sujoso (2011) terhadap kelompok wanita pekerja yang hamil, terpapar dan tidak terpapar kebisingan. Batas paparan yang diterima 78db. Tidak ada perbedaan dalam kelompok. Namun hasil penelitian menyimpulkan bahwa bila wanita yang sedang hamil menerima paparan kebisisngan 90db atau lebih, akan mengakibatkan bayi yang dilahirkan mempunyai berat badan lahir rendah. Selain itu, paparan radiasi bagi ibu hamil di tempat kerja dapat mengakibatkan mutasi genetik dan kelainan kongenital serta radiasi ionisasi, misalnya sinar x dan sinar gamma dapat menyebabkan gangguan kesuburan, kelahiran cacat, bayi berat badan lahir rendah dan gangguang perkembangan mental.
Beban fisiologis pada pekerja juga dapat mengakibatkan gangguan kehamilan. Menurut Benerjee (2009) dalam Sujoso (2011) pekerjaan yang paling berisiko terpajan faktor fisiologis untuk wanita hamil adalah industri tekstil. Sumber bahaya fisiologis yang sering ditemukan adalah jam kerja panjang, shift kerja yang pengaturanya tidak ergonomis, jam kerja seminggu yang melebihi 35 jam, waktu memutuskan cuti kerja sampai dengan menjelang minggu ke 32, posisi kerja berdiri terlalu lama, membawa beban yang berat. Sedangkan yang berkaitan dengan sumber masalah psikis yang dialami pekerja wanita dalam kondisi hamil adalah tuntutan pekerjaan, pengawasan pekerjaan, pengerahan tenaga fisik.
37 Menurut penelitian yang dilakukan oleh Yuliva, dkk (2009) menunjukan bahwa rata-rata berat lahir bayi berdasarkan jenis pekerjaan dengan aktivitas fisik berat pada kelompok ibu bekerja lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata berat lahir bayi ibu tidak bekerja dengan aktivitas berat. Seorang wanita yang bekerja apabila mengalami stres terutama pada saat hamil secara tidak langsung akan mempengaruhi perilaku wanita tersebut terhadap
kehamilannya, misalnya dalam melakukan perawatan
kehamilannya.Wanita hamil yang berada dalam keadaan stres akan
mempengaruhi perilakunya dalam hal pemenuhan intake nutrisi
untuk diri dan janin yang dikandungnya. Nafsu makan yang kurang
menyebabkan intake nutrisi juga berkurang, sehingga terjadi
gangguan pada sirkulasi darah dari ibu ke janin melalui plasenta. Hal ini akan dapat mempengaruhi berat lahir bayi yang akan