Riwayat Bedah Sesar
5.2.2 Faktor Risiko Perdarahan Antepartum
1 0 31,7 2 13,3 27,1 3 40 21,2 4 20 9,4 5 26,7 7,1 6 0 3,5 Jumlah 100 100
Tabel 5.5 menunjukkan responden yang menmiliki riwayat kuretase terbanyak pada ibu yang memiliki paritas 3.
5.2.2 Faktor Risiko Perdarahan Antepartum
Tabel 5.6 Distribusi dan Frekuensi Responden Dalam Persen Perdarahan Antepartum dengan Sebab Plasenta Previa Berdasarkan Usia di RSUD Sungailiat Bangka Tahun 2014-2015
Usia
Perdarahan antepartum dengan sebab plasenta previa Ya Tidak % % 15-19 8,3 6,6 20-24 0 17,1 25-29 16,7 30,3 30-34 33,3 25 35-39 25 19,7 40-44 16,7 0 45-50 0 1,3 Jumlah 100 100
Berdasarkan tabel 5.6 dapat disimpulkan bahwa angka kejadian perdarahan paling banyak 33,3%terjadi pada usia lebih dari 30 tahun. Berdasarkan
hasil analisis chi- square, didapatkan nilai p = 0,037 artinya ada hubungan yang bermakna antara usia ibu dengan kejadian perdarahan antepartum.
Tabel 5.7 Distribusi dan Frekuensi Responden Dalam Persen Perdarahan Antepartum dengan Sebab Plasenta Previa Berdasarkan Paritas di RSUD Sungailiat Bangka Tahun 2014-2015
Paritas
Perdarahan antepartum dengan sebab plasenta previa Ya Tidak % % 1 8,33 32,9 2 25 25 3 29,2 22,4 4 20,9 7,9 5 8,33 10,5 6 8,33 1,3 Jumlah 100 100
Berdasarkan tabel 5.7 dapat disimpulkan bahwa angka kejadian perdarahan paling banyak 29,2% terjadi pada ibu dengan paritas 3. Berdasarkan hasil analisis chi- square, didapatkan nilai p = 0,018 artinya terdapat hubungan yang bermakna antara paritas dengan kejadian perdarahan antepartum.
Tabel 5.8 Distribusi dan Frekuensi Responden Dalam Persen Perdarahan Antepartum dengan Sebab Plasenta Previa Berdasarkan Riwayat Bedah Sesar di RSUD Sungailiat Bangka Tahun 2014-2015
Riwayat bedah cesar
Perdarahan antepartum dengan sebab plasenta previa Ya Tidak % % Ya 50 20,5 Tidak 50 79,5 Jumlah 100 100
Hasil analisis tabel 5.8 menunjukkan bahwa ibu yang mengalami perdarahan anteparum dengan sebab plasenta previa sebanyak 50% memiliki riwayat bedah cesar. Berdasarkan hasil analisis chi- square, didapatkan nilai p =
0,035 artinya terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat bedah sesar dengan kejadian perdarahan antepartum.
Tabel 5.9 Distribusi dan Frekuensi Responden Dalam Persen Perdarahan Antepartum dengan Sebab Plasenta Previa Berdasarkan Riwayat Kuretase di RSUD Sungailiat Bangka tahun 2014-2015
Riwayat kuretase
Perdarahan antepartum dengan sebab plasenta previa Ya Tidak % % Ya 53,3 18,8 Tidak 46,7 81,2 Jumlah 100 100
Hasil analisis tabel 5.9 menunjukkan bahwa ibu yang mengalami perdarahan antepartum dengan sebab plasenta previa sebanyak 53,3% memiliki riwayat kuretase. Berdasarkan hasil analisis chi- square, didapatkan nilai p = 0,008 artinya terdapat hubungan yang bermakna antara kuretase dengan kejadian perdarahan antepartum.
29
BAB 6 PEMBAHASAN
6.1 Hubungan Usia dan Kejadian Perdarahan Antepartum dengan Sebab
Plasenta Previa
Hasil penelitian ini menunjukkan kejadian perdarahan paling banyak 33,3%terjadi pada usia lebih dari 30 tahun. Hasil uji statistik antar usia dan kejadian perdarahan dengan sebab plasenta previa didapatkan nilai p sebesar 0,037, hal ini menunjukkan ada hubungan antara usia dan kejadian perdarahan antepartum dengan sebab plasenta previa.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Rambei (2008) di RSUP Dr. M. Djamil Padang yang menyebutkan bahwa risiko untuk mengalami plasenta previa meningkat seiring meningkatnya umur ibu, dimana ibu dengan usia lebih dari 30 tahun berisiko mengalami plasenta previa 2,6 kali lipat dan berkembang 3 kali lebih besar dibandingkan pada ibu yang berusia dibawah 20 tahun. Hal ini disebabkan kondisi endometrium yang kurang subur sehingga aliran darah ke endometrium terganggu. Kionodo (2008) menyebutkan bahwa meningkatnya usia ibu akan menyebabkan perfurasi dan infrak pada plasenta karena adanya perubahan pada dinding uterus uterus sehingga terjadilah perubahan ukuran plasenta yang menyebabkan pertumbuhan plasenta melebar ke bagian segmen bawah rahim serta menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum.
Hal ini sesuai dengan teori Manuaba (2012) yang menyebutkan bahwa ibu yang berisiko mengalami plasenta previa adaah ibu dengan umur diatas 35 tahun karena terjadinya penurunan kualitas pertumbuhan dinding endometrium
disebabkan karena kondisi endometrium kurang subur, sedangkan pada ibu dengan usia lebih muda pertumbuhan dinding endometrium belum sempurna.
Hasil penjelasan diatas menunjukkan bahwa semakin meningkat usia ibu maka kejadian perdarahan antepartum dengan sebab plaenta previa juga meningkat, hal ini dipengaruhi oleh penurunan kulaitas dan kematanga dinding pertumbuhan endometrium sehingga usia merupakan faktor risiko perdarahan antepartum.
Penelitian yang tidak sejalan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Choden (2011) yang menyebutkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara usia dan kejadian perdarahan antepartum yang disebakan oleh plasenta previa. Perbedaan dengan penelitian ini adalah klasifikasi umur yang digunakan sehingga terjadi perbedaan hasil.
6.2 Hubungan Paritas dan Kejadian Perdarahan Antepartum dengan
Sebab Plasenta Previa
Hasil penelitian ini menunjukan kejadian perdarahan paling banyak 29,2% terjadi pada ibu dengan paritas 3. Hasil uji antara usia dan kejadian perdarahan dengan sebab plasenta previa didaptakan nilai p sebesar 0,018, hal ini menunjukkan ada hubungan antara paritas dan kejadian perdarahan antepartum dengan sebab plasenta previa.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Abdat (2010) di Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta yang menemukan bahwa dari 80 orang responden yang mengalami plasenta previa sebagian besar adalah ibu multipara. Risiko plasenta previa meningkat seiring dengan meningkatnya paritas ibu. Penelitian Kurniawan
(2015) di Rumah Sakit Umum Cut Mutia juga menemukan bahwa ibu dengan paritas ≥ 3 memiliki risiko 7 kali lebih besar untuk mengalami plasenta previa.
Pengaruh paritas dengan kejadian plasenta previa cukup besar, hal ini disebabkan kondisi endometrium masih belum sempat tumbuh. Pada ibu dengan multipara terjadilah jaringan parut yang menyebabkan peredaran darah ke dinding endometrium tidak adekuat sehingga plasenta menjadi lebih tipis dan tumbuh lebih luas untuk mencari suplai bagi janin. Perubahan pembuluh darah pada daerah implantasi menyebabkan penuruna suplai darah ke endometrium sehingga untuk kehamilan berrikutnya dibutuhkan daerah yang luas untuk pertumbuhan plasenta sehingga hal ini meningkatkan risiko plasenta previa pada kehamilan berikutnya (Cunningham, 2013; Manuaba 2012; Kurniawan, 2015)
Semakin sering ibu hamil dan melahirkan akan menyebabkan perubahan pada dinding endometrium berupa parut yang dapat menyebabkan pertumbuhan abnormal plasenta karena plasenta tumbuh meluas untuk memenuhi kebutuhan janin, hal ini dapat meningkatkan risiko kejadian perdarahan antepartum
Penelitian yang tidak mendukung penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Choden (2011) yang menyebutkan bahwa tidak terdapat hubungan antara paritas dan kejadian plasenta previa. Perbedaan dengan penelitian ini adalah klasifikasi paritas yang digunakan.
6.3 Hubungan Riwayat Bedah Cesar dan Kejadian Perdarahan
Antepartum dengan Sebab Plasenta Previa
Hasil penelitian ini menunjukan ibu yang mengalami perdarahan anteparum dengan sebab plasenta previa sebanyak 50% memiliki riwayat bedah
cesar. Hasil uji antara riwayat bedah cesar dan kejadian perdarahan dengan sebab plasenta previa didaptakan nilai p sebesar 0,035, hal ini menunjukkan ada hubungan antara riwayat bedah sesar dan kejadian perdarahan antepartum dengan sebab plasenta previa.
Penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Getahun (2006) menunjukkaan bahwa riwayat bedah sesar pada persalinan sebelumnya meningkatkan resiko terjadinya plasenta previa. Persalinan secara bedah pada persalinan pertama dan kedua meningkatkan kemungkinan plasenta previa dua kali lipat pada kehamilan ketiga dibandingkan ibu yang melahirkan pervaginam pada dua kehamilan sebelumnya. Peningkatan kejadian plasenta diperkirakan diakibatkan oleh perubahan patologis yang terjadi pada miometrium dan endometrium selama kehamilan karena adanya jaringan parut bekas bedah pada dinding rahim meliputi pembentukan polip, infiltrasi limfosit, dilatasi kapiler, dan infiltrasi sel darah merah bebas ke dalam jaringan disekitar jaringan parut. Selain itu adanya jaringan parut bekas bedah sesar juga menyebabkan implantasi plasenta yang tidak optimal, peningkatan kejadian malformasi vaskuler, dan penigkatan kerentanan pembuluh darah. Kehamilan kedua yang hanya berjarak satu tahun setelah bedah pada persalinan sebelumnya juga meningkatkan kecenderungan kejadian plasenta previa. Hal ini didukung oleh teori Prawirohardjo (2010) yang menyebutkan bahwa pada ibu yang memiliki cacat bekas bedah sesar insiden plasenta previa 2-3 kali lipat.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ibu yang memiliki riwayat bedah sesar memiliki risiko terjadi perdarahan antepartum, hal tersebut dipengaruhi perubahan endometrium akibat bekas bedah sesar yang memungkinkan plasenta
mencari dan memperluas daerah implantasi untuk memenuhi kebutuhan janin, sehingga ibu yang memiliki riwayat bedah sesar berisiko mengalami plasenta previa.
Penelitian ini tidak didukung penelitian yang dilakukan oleh Choen (2011) yang menyebutkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara riwayat bedah sesar dan kejadian plasenta previa. Perbedaan dengan penelitian ini adalah jumlah sampel dan teknik pengambilan sampel.
6.4 Hubungan Riwayat Kuretase Dan Kejadian Perdarahan Antepartum
dengan Sebab Plasenta Previa
Hasil penelitian ini menunjukan ibu yang mengalami perdarahan antepartum dengan sebab plasenta previa sebanyak 53,3% memiliki riwayat kuretase. Hasil uji antara riwayat bedah cesar dan kejadian perdarahan dengan sebab plasenta previa didaptakan nilai p sebesar 0,008, hal ini menunjukkan ada hubungan antara riwayat kuretase dan kejadian perdarahan antepartum dengan
Penelitian yang sejalan adalah penelitian yang dilakukan oleh Kaur (2015) yang menyebutkan bahwa riwayat kuretase merupkan salah satu faktor risiko terjadinya plasenta previa yang menyebabkan perdarahan antepartum. Menurut Tuzovic (2003) dan Bajwa (2013) dalam Kaur (2015) dilatasi dan kuretase merupakan salah satu faktor risiko terjadinya plasenta previa hal tersebut disebabkan meningkatnya angka kejadian abortus, dimana sebagian besar ibu yang mengalami aborus mendapatkan tindakan lanjutan berupa kuretase.
Penelitian lain yang mendukung penelitian ini adalah penelitian Choen (2011) yang menyebutkan terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat
kuretase dan kejadian plasenta previa. Faktor risiko plasenta previa adalah endometrium yang cacat bekas operasi seperti bekas kuretase/ plasenta manual. Keadaan endometrium yang kurang baik menyebabkan plasenta harus tumbuh meluas untuk memenuhi kebutuhan janin, sehingga plasenta tumbuh meluas dan mendekati atau menutupi ostium uteri internum. (Manuaba, 2012; Martaadisoebroto, 2013).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ibu yang memiliki riwayat kuretase meningkatkan risiko terjadinnya perdarahan antepartum. Pertumbuhan endometrium yang tidak optimal menyebabkan plasenta mencari tempat untuk berimplantasi untuk memenuhi kebutuhan janin, hal ini disebabkan keadaan endometrium tidak subur akibat dari tindakan kuretase yang meningkat seiring meningkatnya angka kejadian abortus sehingga riwayat kuretase merupakan faktor risiko kejadian perdarahan antepartum.
35
BAB 7