• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEAN DAN STANDARD DEVIATION BDI PADA PENDERITA KANKER PAYUDARA

BAB VII HASIL PENELITIAN

VIII.1. MEAN DAN STANDARD DEVIATION BDI PADA PENDERITA KANKER PAYUDARA

Dari tabel 2 dapat diamati bahwa mean BDI pada 66 penderita kanker payudara adalah 22,8 (SD 12,3). Sementara Miranda et al yang melakukan penelitian terhadap 20 penderita kanker payudara sebelum mendapat kemoterapi neoadjuvan mendapati bahwa nilai rerata skor BDI adalah 9,9.1 Sharma et al yang melakukan penelitian terhadap 30 orang penderita kanker payudara dan serviks yang belum diterapi dengan radioterapi dan kemoterapi mendapati rerata skor Montgomery Asberg Depression Rating Scale (MADRS) adalah 13,5 (SD 6,5).2 Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa berdasarkan skor BDI maka sindrom depresif sedang yang paling banyak dialami oleh penderita kanker payudara, hal ini berlawanan dengan hasil yang dilaporkan oleh Miranda et al yang mendapati bahwa tidak ada/minimal sindrom depresif yang terdapat pada penderita kanker payudara, namun hal yang sama diperlihatkan oleh Sharma et al yang mendapati bahwa penderita kanker payudara paling banyak mengalami depresi sedang. Hal ini bisa dikarenakan oleh karena bias dari penggunaan BDI pada penelitian ini yaitu wanita, pendidikan yang rendah, dan orang tua cenderung memiliki nilai BDI yang lebih tinggi.23

VIII.2.SINDROM DEPRESIF PADA PENDERITA KANKER PAYUDARA

Dari tabel 3 dapat diamati bahwa sindrom depresif sedang paling banyak terjadi pada penderita kanker payudara (42,4%), diikuti oleh sindrom depresif berat (25,8%), sindrom depresif ringan (19,7%), dan minimal (12,1%). Secara keseluruhan juga dapat diamati bahwa dari 66 penderita kanker payudara yang mengalami sindrom depresif berjumlah 58 orang (87,9%), sementara Ell et al

yang meneliti depresi pada penderita kanker payudara mendapati hasil dari 250 penderita kanker payudara, 76 orang (67%) menderita gangguan depresi berat7 dan Burgess et al melaporkan bahwa pada 107 penderita kanker payudara 48% menderita depresi setelah 1 tahun di diagnosis kanker payudara, 25% setelah 2 tahun di diagnosis kanker payudara, 23% setelah 3 tahun di diagnosis kanker payudara, 22% setelah 4 tahun di diagnosis kanker payudara, dan 15% setelah 5 tahun di diagnosis kanker payudara.10 Perbedaan yang dijumpai dari hasil penelitian ini dengan yang dilaporkan oleh Ell et al dikarenakan oleh penggunaan instrumen yang berbeda dimana pada penelitian ini menggunakan BDI sedangkan Ell et al menggunakan Patient’s Health Questionnaire-9. Sedangkan perbedaan hasil yang terjadi pada penelitian ini dibandingkan dengan yang dilaporkan oleh Burgess et al oleh karena pada penelitian ini selain menggunakan BDI yang dinilai hanya sekali waktu saja, dimana Burgess et al

menggunakan Structured Clinical Interview for DSM dan menilainya hingga jangka waktu 5 tahun ke depan. Harus dipertimbangkan juga bias dari penggunaan BDI pada penelitian ini yaitu wanita, pendidikan yang rendah, dan orang tua cenderung memiliki nilai BDI yang lebih tinggi.23

VIII.3. SEBARAN UMUR PENDERITA DENGAN SINDROM DEPRESIF

Dari tabel 4 dapat diamati bahwa sindrom depresif paling banyak terjadi pada penderita kanker payudara kelompok umur 40-49 tahun (58,8%) yang berupa sindrom depresif berat. Terdapat perbedaan bermakna di sindrom depresif pada penderita kanker payudara berdasarkan kelompok umur.

Hasil yang sama juga dilaporkan oleh Ell et al yang menyatakan bahwa dari 472 penderita kanker payudara atau ginekologik dengan umur <50 tahun secara signifikan berhubungan dengan terjadinya depresi.7 Hal ini juga diperkuat dengan pernyataan bahwa faktor risiko nuntuk terjadinya depresi pada populasi wanita adalah usia yang lebih muda.10

VIII.4. SEBARAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN SINDROM DEPRESIF

Dari tabel 5 dapat diamati bahwa sindrom depresif yang paling banyak terjadi pada penderita kanker payudara dengan tingkat pendidikan SD (71,4%) yang berupa sindrom depresif sedang. Tidak terdapat perbedaan bermakna di sindrom depresif pada penderita kanker payudara berdasarkan tingkat pendidkan.

Ell et al juga melaporkan hasil yang sama dengan melakukan penelitian terhadap 472 penderita kanker payudara atau ginekologik yang memiliki tingkat pendidikan setara kelas I SD hingga SMA, mereka menjumpai 134 penderita kanker payudara yang menderita gangguan depresi berat dimana 63 orang (56%) diantaranya memiliki tingkat pendidikan setara SD dan menjumpai hasil bahwa tingkat pendidikan tidak berhubungan dengan depresi. 7

VIII.5. SEBARAN STATUS PERKAWINAN DENGAN SINDROM DEPRESIF

Dari tabel 6 dapat diamati bahwa sindrom depresif yang paling banyak terjadi pada penderita kanker payudara yang kawin (84,6%) yang berupa sindrom depresif ringan. Tidak terdapat perbedaan bermakna di sindrom depresif pada penderita kanker payudara berdasarkan status perkawinan.

Hasil ini berlawanan dengan studi Ell et al yang melakukan penelitian terhadap 472 penderita kanker payudara atau ginekologik juga menjumpai 48 penderita (42%) yang sudah menikah mengalami gangguan depresi berat.7 Perbedaan ini kemungkinan oleh adanya perbedaan jumlah subjek penelitian dan bias dari BDI yaitu wanita, pendidikan yang rendah, dan orang tua cenderung memiliki nilai BDI yang lebih tinggi.23

VIII.6. SEBARAN SUKU DENGAN SINDROM DEPRESIF

Dari tabel 7 dapat diamati bahwa sindrom depresif yang paling banyak terjadi pada penderita kanker payudara suku Batak (50%) yang berupa sindrom depresif minimal. Tidak terdapat perbedaan bermakna di sindrom depresif pada penderita kanker payudara berdasarkan suku.

Hasil yang sama juga dijumpai oleh Ell et al yang meneliti gangguan depresi berat pada 472 penderita kanker payudara atau ginekologik, mendapati bahwa dari 250 penderita sebanyak 89 orang (78%) adalah Hispanik dan etnisitas tidak berhubungan dengan depresi.7

VIII.7. SEBARAN PEKERJAAN DENGAN SINDROM DEPRESIF

Dari tabel 8 dapat diamati bahwa sindrom depresif yang paling banyak terjadi pada penderita kanker payudara yang bekerja (62,5%) yang berupa sindrom depresif minimal. Tidak terdapat perbedaan bermakna di sindrom depresif pada penderita kanker payudara berdasarkan pekerjaan.

Ell et al juga melaporkan hasil yang sama setelah melakukan studi tentang gangguan depresi berat terhadap 472 penderita kanker payudara atau ginekologik dimana hanya 21 penderita (18%) kanker payudara atau ginekologik yang mengalami depresi yang memiliki pekerjaan, mereka melaporkan bahwa status pekerjaan tidak berhubungan dengan depresi.7

VIII.8. SEBARAN PENDAPATAN PER BULAN DENGAN SINDROM DEPRESIF

Dari tabel 9 dapat diamati bahwa sindrom depresif yang paling banyak terjadi pada penderita kanker payudara dengan pendapatan per bulan <Rp 500.000,00 (84,6%) yang berupa sindrom depresif ringan. Tidak terdapat perbedaan bermakna pada sindrom depresif pada penderita kanker payudara berdasarkan pendapatan per bulan.

Sedangkan Ell et al yang meneliti gangguan depresi berat pada 472 penderita kanker payudara atau ginekologik yang berpendapatan rendah mendapati hasil bahwa 24% mengalami depresi dengan level sedang hingga berat. Secara keseluruhan mereka mendapati bahwa penderita yang depresi lebih memiliki halangan untuk perawatan kankernya secara signifikan, dimana salah satu halangannya adalah karena khawatir kehabisan gaji untuk biaya perobatan.7

Perbedaan dari hasil penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Ell et al adalah pada penelitian ini subjek tidak hanya berpenghasilan rendah, sementara Ell et al meneliti hanya pada subjek yang berpenghasilan rendah. Hasil penelitian ini juga dipengaruhi oleh adanya bias dari BDI yaitu wanita, pendidikan yang rendah, dan orang tua cenderung memiliki nilai BDI yang lebih tinggi.23

VIII.9. SEBARAN STADIUM KLINIS KANKER PAYUDARA DENGAN SINDROM DEPRESIF

Dari tabel 10 dapat diamati bahwa sindrom depresif pada penderita kanker payudara yang paling banyak terjadi pada stadium IIIB (76,5%) yang berupa sindrom depresif berat. Tidak terdapat perbedaan bermakna pada sindrom depresif pada penderita kanker payudara berdasarkan stadium klinis kanker payudaranya.

Hasil yang sama diperoleh Burgess et al yang melakukan penelitian terhadap 170 penderita kanker payudara melaporkan bahwa jumlah nodul aksila yang ada dan ukuran serta histologi tumor tidak berhubungan dengan depresi dan ansietas.10

VIII.10. FAKTOR RISIKO UMUR UNTUK TERJADINYA SINDROM DEPRESIF PADA PENDERITA KANKER PAYUDARA

Dari tabel 11 dapat diamati bahwa faktor risiko umur untuk terjadinya sindrom depresif pada penderita kanker payudara adalah umur 30-39 tahun (PR=6,180; IK 95% 1,518 sampai 34,139).

Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Ell et al yang mendapati bahwa umur <50 tahun cenderung mengalami depresi7, dan teori yang mengatakan bahwa salah satu faktor risiko untuk terjadinya depresi pada populasi wanita adalah usia yang lebih muda.10

BAB IX

Dokumen terkait