BAB II TINJAUAN PUSTAKA
D. Hemoglobin
3. Faktor yang dapat mempengaruhi kadar hemoglobin
Besi di butuhkan untuk produksi hemoglobin, sehingga anemia gizi besi akan menyebabkan terbentuknya sel darah merah yang lebih kecil dan kandungan hemoglobin yang lebih rendah. Besi juga merupakan mikronutrien essensiel dalam memproduksi hemoglobin yang berfungsi mengantar oksigen dari paru –paru ke seluruh tubuh. Besi berperan dalam
sintesis hemoglobin dalam sel darah merah dan mioglobin dalam sel otot (Zarianis,2006)
2. Faktor Usia
Anak –anak, orangtua, wanita hamil akan lebih mudah mengalami penurunan kadar hemoglobin. Pada anak –anak dapat disebabkan karena pertumbuhan anak –anak yang cukup pesat dan tidak di imbangi dengan asupan zat besi sehingga menurunkan kadar hemoglobin (Nasional Anemia Action Council, 2009).
3. Faktor Jenis Kelamin
Perempuan lebih mudah mengalami penurunan kadar hemoglobin dari pada laki –laki, terutama pada perempuan saat menstruasi ( Nugrahani, 2013).
4)Faktor Penyakit sistemik
Beberapa penyakit yang mempengaruhi kadar hemoglobin leukimia, thalasemia dan tuberkulosi. Penyakit tersebut dapat mempengaruhi sel darah merah yang disebabkan terdapat gangguan pada sum –sum tulang ( Nugarahani, 2013).
5. Faktor pola makan
Sumber zat besi terdapat dimakanan bersumber dari hewani dimana hati merupakan sumber yang paling banyak mengandung Fe
(antara 6,0 mg –14,0 mg). Sumber lain juga berasal dari tumbuh-tumbuhan tetapi kecil kandungannya (Gibson, 2005).
6. Faktor Kebiasaan minum teh
Konsumsi teh setiap hari dapat menghambat penyerapan zat besi sehingga akan mempengaruhi kadar hemoglobin (Gibson, 2005).
E. Perkembangan Kognitif Anak sekolah Dasar
Perkembangan kognitif merupakan perkembangan manusia yang berkaitan dengan pengetahuan, yakni semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungan. Sedang tahap perkembangannya sesuai perkembangan usia anak. Berdasarkan teori Piaget dalam Desmita (2009), pemikiran anak –anak usia sekolah dasar yaitu usia 7-11 tahun disebut pemikiran Operasional Konkrit(Concret Operational Thought), artinya aktivitas mental yang difokuskan pada objek – objek peristiwa nyata atau konkrit. Dalam upaya memahami alam sekitarnya, mereka tidak lagi terlalu mengandalkan informasi yang bersumber dari pancaindera, karena ia mulai mempunyai kemampuan untuk membedakan apa yang tampak oleh mata dengan kenyataan sesungguhnya. Dalam masa ini, anak telah mengembangkan 3 macam proses yang disebut dengan operasi – operasi, yaitu :
1. Negasi (Negation), yaitu pada masa pra-operasional anak hanya melihat keadaan permulaan dan akhir dari deretan benda, yaitu pada mulanya keadaannya sama dan pada akhirnya keadaannya menjadi tidak sama.
Anak tidak melihat apa yang terjadi diantaranya. Tetapi, pada masa
konkrit operasional, anak memahami proses apa yang terjadi di antara kegiatan itu dan memahami hubungan –hubungan antara kedanya. Pada deretan benda-benda, anak bisa melalui kegiatan mentalnya, merngembalikan atau membatalkan perubahan yang terjadi sehingga bisa menjawab bahwa jumlah benda- benda adalah tetap sama.
2. Hubungan Timbal Balik (Resiprok), yaitu anak telah mengetahui hubungan sebab-akibat dalam suatu keadaan.
3. Identitas, yaitu anak sudah mampu mengenal satu persatu deretan benda yang ada. Anak bisa menghitung sehingga meskipun benda-benda dipindahkan, anka dapat mengetahui bahwa jumlahnya akan tetap sama (Gunarsa, 1990). Operasi yang terjadi dalam diri anak memungkinkan pula untuk mengetahui suatu perbuatan tanpa melihat bahwa perbuatan tersebut ditunjukkan. Jadi, pada tahap ini anak telah memiliki struktur kognitif yang memungkinkanya dapat berfikir untuk melakukan suatu tindakan, tanpa ia sendiri bertindak secara nyata. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perkembangan kognitif anak usia 7-11 tahun menurut Piaget disebut dengan Operational Konkrit dimana seorang anak itu melakukan aktivitas mental yang difokuskan pada objek – objek peristiwa nyata atau konkrit. Anak juga mulai mengembangkan tiga macam proses yaitu negasi (negation), hubungan timbal balik (resiprok), dan identitas.
F. Perbedaan Working Memory ditinjau dari Kadar Hemoglobin
Working memory adalah kemampuan untuk menyimpan dan memanipulasi informasi untuk waktu yang singkat. Working memory yang optimal membutuhkan kemampuan memperhatikan, mengingat, dan melakukan tindakan terhadap suatu informasi yang sedang berlangsung secara bersamaan.
Ada 6 faktor yang dapat mempengaruhi memory seseorang yaitu,usia, jenis kelamin, aktivitas fisik dan olahraga, stres dan depresi, kondisi lingkungan, dan nutrisi. Menurut faktor usia, seiring berjalannya waktu, sel otak yang pada manusia mulai mati dan tidak akan mengalami regenerasi, sehingga hal ini yang menyebabkan seseorang menjadi mudah lupa (Carole & Tavris, 2008).
Menurut faktor jenis kelamin, wanita diduga lebih cenderung untuk menjadi pelupa. Hal ini disebabkan karena pengaruh hormonal, stres yang menyebabkan ingatan berkurang dan akhirnya mudah lupa (Susanto, 2009).
Begitu juga dengan olahraga, bisa membantu sirkulasi darah ke seluruh tubuh, termasuk otak sehingga suplai nutrisi dan oksigen menuju otak akan terdistribusi dengan baik, hasilnya dapat meningkatkan daya ingat dan meminimalkan penurunan daya ingat.
Otak adalah organ pertama dari tubuh yang menyerap nutrisi dari makanan yang kita konsumsi setiap hari. Untuk itu, sangat penting memberikan asupan nutrisi yang tepat. Upaya ini akan sangat membantu pertumbuhan dan perkembangan fungsi otak agar maksimal. Seluruh sistem saraf juga memerlukan banyak bahan bakar untuk melakukan berbagai kegiatan. Nutrisi yang tepat akan membuat otak bekerja dengan maksimal. Tercukupinya nutrisi untuk otak akan mampu merangsang pertumbuhan sel-sel otak, sekaligus
untuk meningkatkan memori dan kemampuan untuk berkonsentrasi (Melinda, 2012). Selubung mielin yang ada pada neurit memiliki fungsi utama yaitu untuk mempercepat sampainya rangsangan (Cook, 2001). Akson yang tidak dilengkapi dengan selubung mielin pergerakan rangsangannya bisa seperti gelombang. Demielinasi merupakan penyakit yang disebabkan oleh tidak adanya selubung mielin pada akson. Tidak adanya selubung mielin tersebut bisa disebabkan oleh hilangnya selubung mielin pada akson (Chamberlin dan Narins, 2005). Orang yang bisa mengalami penyakit ini adalah orang yang memiliki anemia. Penyakit jenis ini bisa menyebabkan kemampuan lisan terganggu, keseimbangan terganggu dan kesadaran juga terganggu.
Darah merupakan alat penyalur nutrisi agar dapat sampai menuju otak. Di dalam sel darah merah, terdapat metal protein yang sering disebut hemoglobin (protein yang mengandung zat besi) yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Hemoglobin adalah metalprotein pengangkut oksigen yang mengandung besi dan seng dalam sel merah dalam darah mamalia dan hewan lainnya (Evelyn, 2009). Hemoglobin di dalam darah membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh dan membawa kembali karbondioksida dari seluruh sel ke paru-paru untuk dikeluarkan dari tubuh. Sebanyak kurang lebih 80% besi dan seng tubuh berada di dalam hemoglobin (Sunita, 2001). Menurut Agget dalam Nestle (1994) Seng adalah elemen yang mempunyai jumlah atom 30, berat atom 65,4 merupakan elemen dan banyak mengandung metaloenzim. Seng penting untuk pertumbuhan dan perkembangan sel normal, berperan dalam proses biokimiawi, morfogenesis sistem saraf pusat, dan berperan dalam regulasi
pelepasan neurotransmitter seperti GABA, asetilkolin dan glutamat (Kusumoputro, 1990). Konsentrasi seng paling tinggi di hipokampus, khususnya bersama-sama dengan vesikel neurotransmitter glutamin pada akson terminal. Faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin yaitu kadar besi dan seng dalam tubuh. Kadar besi dan seng yang terdapat dalam tubuh seorang individu di dapat dari asupan makanan yang di konsumsi setiap hari.
Apabila tubuh mengalami anemia gizi besi maka terjadi penurunan kemampuan bekerja. Penelitian yang dilakukan Ama (1987) menemukan ternyata anemia mempengaruhi daya konsentrasi, daya persepsi dan perhatian anak sekolah dasar. Pada anak sekolah, apabila mengalami anemia gizi maka akan menyebabkan gampang lelah, sulit berkonsentrasi ketika guru mengajar di kelas, sulit mengingat pelajaran yang di ajarkan di dalam kelas. Dalam penelitian Kusumadi (2003) mengenai status gizi dan perkembangan kognitif anak sekolah dasar di daerah endemis malaria, menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kadar hemoglobin dengan kognitif. Penelitian yang di lakukan oleh Huwae (2008) mengenai hubungan kadar seng dan memori jangka pendek pada anak sekolah dasar menunjukkan ada hubungan antara kadar seng dengan memori jangka pendek pada anak. Dari penelitian tersebut dapat di simpulkan bahwa kadar hemoglobin berpengaruh terhadap memori pada seorang anak.
Seseorang yang menderita anemia defisiensi Fe, maka jumlah hemoglobin dalam darahnya lebih rendah dibandingkan dengan orang yang tidak anemia.
Seseorang yang mempunyai kadar hemoglobin di dalam darah lebih rendah dari nilai normal, menyebabkan gangguan pada proses belajar, baik karena
menurunnya daya ingat ataupun berkurangnya kemampuan berkonsentrasi.
Dalam situasi kelas, seorang murid sangat memerlukan keterampilan working memory yang optimal untuk mengerjakan aktivitas sehari-harinya. Working memory yang buruk mengakibatkan gangguan dalam melakukan tugas sederhana seperti mengingat instruksi di kelas sampai pada aktivitas yang lebih kompleks yang melibatkan fungsi menyimpan dan memproses informasi, serta kemampuan bertahan dalam mengerjakan tugas yang lebih sulit.
G. Kerangka Penelitian
H. Hipotesis Penelitian
Hipotesa dalam penelitian ini adalah apakah terdapat perbedaan working memory pada siswa sekolah dasar jika ditinjau dari kadar hemoglobin.
Working Memory
Working Memory pada usia subjek yang diteliti
Faktor-faktor yang mempengaruhi WM (Nutrisi)
Jika ditinjau dari kadar hemoglobin bagaimana perbedaannya
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian merupakan salah satu elemen penting dalam suatu penelitian sebab metode penelitian menyangkut cara yang benar dalam pengumpulan data, analisis data, dan pengambilan kesimpulan hasil penelitian (Hadi, 2000). Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kausal-komparatif yang bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat, tapi tidak dengan jalan eksperimen tetapi dilakukan dengan pengamatan terhadap data dari faktor yang diduga menjadi penyebab, sebagai pembanding. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan desain studi cross-sectional. Menurut Notoadmojo (2010) dalam penelitian cross sectional variabel sebab atau risiko dan akibat atau kasus yang terjadi pada objek penelitian diukur atau dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan working memory ditinjau dari kadar hemoglobin pada siswa sekolah dasar.
A. Identifikasi Variabel-Variabel Penelitian
Menurut Azwar(2011), identidikasi variable penelitian merupakan langkah penetapan variable-variabel utama yang menjadi fokus dalam penelitian serta penentuan fungsinya masing-masing. Identifikasi variable penelitian perlu dilakukan guna menetukan metode pengumpulan data yang akan dilakukan, serta jenis analisis data yang sesuai untuk digunakan. Ada dua variable dalam penelitian ini, yaitu variable tergantung dan variable bebas. Variable-variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Variabel tergantung : Working Memory 2. Variabel bebas : Kadar Hemoglobin B. Definisi Operasional variable Penelitian
1 Working Memory
Working memory merupakan kemampuan subjek untuk merespon stimulus warna dari kata yang tercetak pada alat tes stroop test effect yang inkongruen yang diberikan selama 30 detik. Stroop test yang inkongruen, adalah stroop test yang terdiri dari 6 jenis warna yang dicetak dengan warna yang berbeda dari warna kata yang tercetak. Skor Stroop test effect di peroleh dari kemampuan subjek dalam menyebutkan warna kata yang tercetak tanpa terpengaruh oleh jenis warna pada kata yang tercetak.
Semakin tinggi skor yang diperoleh dari tes stroop test effect, maka kemampuan working memory yang di miliki subjek semakin tinggi.
Sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh dari tes stroop test effect, maka semakin rendah kemampuan working memory yang dimiliki subjek.
2 Hemoglobin
Hemoglobin merupakan zat protein yang ditemukan di dalam darah, yang memberi warna merah pada darah, memiliki kandungan oksigen yang akan di bawa dari paru-paru ke jaringan-jaringan yang ada di dalam tubuh manusia. Kadar hemoglobin diukur dengan mengambil darah dari pembuluh darah Vena yang dicampur dengan Etylene Diamine Tetra Acetate(EDTA), kemudian darah yang telah dicampur dengan EDTA, akan di uji dengan larutan drabkin.
C. Populasi, sample, dan teknik pengambilan sampel
Populasi penelitian merupakan individu yang menjadi sumber data penelitian. Menurut Azwar (2011) populasi merupakan sekelompok subjek yang hendak dikenai generalisasi hasil penelitian. Sekelompok subjek yang akan dikenai generalisasi tersebut terdiri dari sejumlah individu yang setidaknya mempunyai satu ciri atau karakteristik yang sama.
Populasi dalam penelitian ini adalah Siswa Sekolah Dasar kelas 5 yang ada di kota Medan yang memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:
1. usia 10-11 tahun 2. Tidak buta warna
Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 24 orang yang berasal dari siswa-siswi kelas 5 SD yang berusia 10-11 tahun yang bersekolah di SD HKBP Padang Bulan. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik Sampling Insidental. Teknik sampling incidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok dengan sumber data (Sugiyono, 2012)
D. Metode pengumpulan data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan alat tes stroop test effect. Stroop test effect salah satu alat untuk mengukur working memory pada seseorang. Alat ini terdiri dari beberapa kata yang telah disusun. Kata-kata yang ada di dalam alat tes merupakan jenis-jenis warna dan
akan diberikan warna yang berbeda. Stroop test yang digunakan pada penelitian ini berupa kata yang ditampilkan dalam kondisi inkongruen. Kondisi inkongruen berisikan kata yang tidak selaras dengan warna yang tertera, seperti merah yang ditampilkan dengan tinta biru. Subjek penelitian diharuskan menjawab berdasarkan warna yang tertera pada kata
1 Pengukuran Hemoglobin a. Pemeriksaan Hemoglobin
Bahan pemeriksaan adalah darah vena dengan antikoagulan EDTA(Etylene Diamine Tetra Acetate). Cara pengambilan darah:
1. Bersihkan tempat yang akan diambil darahnya dengan kapas alkhohol 70%
2. Pasang ikatan pembendung pada lengan atas dan mintalah pada pasien untuk mengepal tangannya supaya venanya terlihat jelas.
3. Lalu tusuk kulit dengan jarum pada permukaannya sesuai dengna vena.
4. Kemudian tarik penghisap semprit supaya darah mausk ke spuit sampai jumlah darah yang dikehendaki didapat
5. Lepas ikatan pembendung, letakkan kapas tadi diatas jarum kemudian tarik jarum dari permukaan kulit secara perlahan
6. kemudian mintalah kepada orang yang diambil darahnya tadi untuk menekan pada bekas tusukan jarum tersebut selama beberapa menit.
7. Lalu lepaskan jarum dari semprit, masukkan kedalam tabung melalui dinding tabung.
8. Kemudian campurkan darah dengan antikoagulan EDTA hingga merata.
b. Alat
1. Jarum suntuik atau spuit 2. kapas alcohol atau swab 3. plester
8. Alat ukur berupa stroop test effect 9. stopwatch
10. reward
2. Pengukuran Working Memory
Alat ukur yang digunakan untuk mengukur memori adalah stroop test yang terdiri dari 24 kata yang bertuliskan 6 jenis warna dan diberi warna tidak sesuai dengan apa yang tertulis. Alat ukur akan dicetak dalam kertas HVS ukuran A4, dengan ukuran huruf 24, jenis huruf Times New Roman dan spasi 2.
E. Uji Validitas
Suatu instrumen pengumpulan data atau alat ukur dapat dikatakan valid jika alat ukur tersebut benar-benar mampu mengukur apa yang ingin diukur atau sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam penelitan ini, alat ukur Stroop test yang di pakai dibuat sendiri oleh peneleti. Validitas yang digunakan pada penelitian ini adalah professional judgements dengan dosen sebagai pemberi penilaian terhadap
alat ukur working memory. Sedangkan alat ukur hemoglobin divalidasi oleh HB Meter.
F. Uji Reliabilitas
Suatu instrumen pengumpulan data atau alat ukur dapat dikatakan reliable ketika alat ukur tersebut digunakan beberapa kali namun tetap memberikan hasil pengukuran yang sama. Reliabilitas alat ukur juga dapat dilihat ketika alat ukur mampu menghasilkan skor normal dengan kecilnya error dalam pengukuran.
Nilai Realibilitas pada alat ukur penelitian ini yaitu 0.733. Reliabilitas yang baik adalah yang koefisien reliabilitasnya mendekati 1 karena rentang koefisien reliabilitas berkisar dari 0-1 sehingga semakin tinggi koefisien reliabilitas atau semakin mendekati angka 1, maka reliabilitas alat ukur semakin baik. Sebaliknya, semakin rendah koefisien reliabilitas atau semakin mendekati angka 0, maka semakin rendah reliabilitasnya. Pengujian reliabilitas dilakukan dengan menggunakan teknik reliabilitas Cronbach Alpha dan data-data diolah dengan menggunakan program SPSS versi 17.0 for Windows
G. Prosedur Penelitian
1 Tahap persiapan
a. Awalnya peneliti mengurus seluruh berkas yang diperlukan serta mengurus surat izin untuk melakukan penelitian di tempat penelitian, kemudian peneliti melakukan raport terhadap instansi penelitian sekaligus meminta izin untuk melakukan pengambilan data di instansi tersebut. Setelah mendapat persetujuan, peneliti dan kepala sekolah kemudian menyepakati tanggal pelaksanaan penelitian.
b. Persiapan alat ukur
Peneliti sudah mempersiapkan alat ukur sebelum melakukan penelitian, adapun alat ukur yang diberikan adalah stroop test dan juga alat pengambil dan pengukur hemoglobin darah. Selain itu peneliti juga meminta pendapat professional judgement yaitu dosen pembimbing untuk memberikan penilaian terhadap stroop test yang telah peneliti siapkan.
2 Tahap Pelaksanaan
Penelitian ini berlangsung kurang lebih selama satu hari dengan menyesuaikan waktu terhadap proses belajar mengajar di instansi tersebut sehingga tidak mengganggu jam pelajaran para siswa. Pengambilan data dilakukan sekitar pukul 10.00 WIB di dalam ruangan kelas yang telah ditentukan sebelumnya oleh pihak instansi. Peneliti datang lebih awal sebelum dilakukannya penelitian untuk mempersiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan dan memperhatikan pencahayaan serta suhu ruangan didalam kelas. Pada saat melakukan penelitian, peneliti dibantu oleh ayah peneliti dan seorang rekannya yang akan bertugas sebagai pengambil dan pemeriksa darah. Selain itu peneliti juga dibantu oleh seorang guru yang menertibkan subjek yang akan di berikan stroop test agar dapat kondusif selagi peneliti memberikan tes kepada salah seorang subjek. Guru tersebut menyuruh siswa berbaris di luar ruang kelas dan bertugas menyuruh masuk subjek jika subjek sebelumnya telah selesai diberikan tes.
Penelitian di mulai dengan memberikan stroop test kepada siswa secara individual. Subjek yang telah selesai diberikan stroop test, akan kembali berbaris di luar kelas. Setelah seluruh subjek penelitian telah selesai diberikan stroop test, subjek di ambil darahnya satu persatu dan setelah subjek selesai di ambil darahnya, subjek diminta untuk menunggu di luar kelas dan akan berganti dengan subjek lainnya. Kemudian, subyek diperiksa kadar hemoglobinnya dengan menggunakan alat pengukur hemoglobin..
Setelah penelitian selesai dilakukan, peneliti menyuruh subjek untuk masuk kembali ke kelas kemudian mengucapkan terimakasih atas partisipasi mereka dan juga memberikan reward sebagai tanda terimakasih peneliti, setelah itu peneliti segera membereskan semua perlengkapan dan juga tidak lupa untuk membersihkan ruangan dan membereskannya kedalam keadaan semula.
3. Tahap Pengolahan data
Pengolahan dan analisis data subjek penelitian akan digunakan dengan bantuan program SPSS 17.00 for windows untuk memudahkan peneliti dalam mengolah dan menginput data
H. Metode analisis data
Metode analisis data yang digunakan untuk pengujian hipotesis penelitian ini adalah analisa statistika nonparametrik, yaitu analisis komparasi. Jumlah sampel dalam penelitian ini ada 24 sampel. Oleh karena itu peneliti memutuskan utntuk menggunakan Uji Non parametrik Mann-Whitney.
I. Uji Mann-Whitney
Uji rerata dengan menggunakan uji Independent-Samples T Test untuk statistik non parametris (Man Whitney U-Test) dengan taraf signifikasi 0,05.
Adapun hipotesis statistik yang akan diuji menurut Sugiyono (2012) adalah :
a. H0 : μ1 < μ2 b. Ha : μ1 > μ2,
Dengan kriteria pengujian menurut Santoso(2012), yaitu:
a. Jika nilai signifikansi < .05, maka H0 ditolak, Ha diterima.
b. Jika nilai signifikansi > .05, maka H0 diterima, Ha ditolak.
BAB IV
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
A. ANALISIS DATA
1. Gambaran Sampel Penelitian
Sampel dalam penelitian ini adalah siswa/siswi kelas 5 SD Swasta HKBP Padang Bulan Medan tahun ajaran 2017/2018. Total keseluruhan partisipannya berjumlah 24 orang yang terdiri dari:
Tabel IV.1 Kategorisasi Berdasarkan Jenis kelamin
Sampel Penelitian %
Laki-Laki 10 orang 42 %
Perempuan 14 orang 58 %
N 24 orang 100 %
Selanjutnya jika ditinjau berdasarkan usia partisipan,gambaran dari sebaran partisipannya yaitu:
Tabel IV. 2 Kategorisasi Berdasarkan Umur
Usia N %
10 th 15 62.5 %
11 th 9 57.5 %
N 24 100 %
Dari tabel tersebut diketahui bahwa rentang usia sampel penelitian adalah 10-11 tahun, yang terdiri dari 62.5 % sampel berusia 10 tahun, 57.5% sampel berusia 11 tahun.
2. Kategorisasi Skor Hemoglobin dan Working Memory
a. Kategorisasi Working Memory
Partisipan dalam penelitian ini di katakan memiliki working memory yang baik apa bila menjawab kata-kata warna dalam tulisan, bukan menyebutkan warna kata yang tercetak. Setiap kata yang di jawab benar, diberi nilai 1 dan apabila salah diberi nilai 0. Rumus penskoringan sebagai berikut:
Jumlah keseluruhan kata yaitu 24 kata. Partisipan dikatakan memiliki working memory baik apa bila dapat menjawab lebih dari 19 kata(>80%). Untuk lebih jelasnya, dapat di lihat pada tabel beriku:
TABEL IV.3 Kategorisasi Skor Working Memory
b. Kategorisasi Hemoglobin
Partisipan dalam penelitian merupakan anak berumur 10-11 tahun.
Kadar hemoglobin anak berumur 10-11 tahun dikatakan memiliki hemoglobin normal apabila ia memiliki kadar hemoglobin diatas 12.00 gr/dl. Apabila kadar hemoglobin di bawah batas normal, maka kadar hemoglobin partisipan termasuk kategori rendah Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut.
Kategori Jumlah benar Persentase
Baik >19 >80%
Cukup 15-19 60-80%
Kurang <12 <60%
TABEL IV. 4 Kategorisasi Kadar Hemoglobin
c. Kategorisasi Skor Working Memory Siswa Yang Memiliki Hb Normal
Tabel IV. 5 Kategorisasi Skor Working Memory Siswa yang memiliki hb Normal
Kelompok Umur Batas Nilai Hemoglobin (gr/dl)
Anak 6 bulan- 6 tahun 11,0
Anak 6 tahun-14 tahun 12,0
Pria dewasa 13,0
Ibu hamil 11,0
Wanita dewasa 12,0
Kategori Jumlah benar Persentase
Baik 11 84 %
Cukup 1 8%
Kurang 1 8 %
Total 13 100%