• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor yang Mempengaruhi Adherensi Pengobatan

2.4. Adherensi Pengobatan Pasien Asma

2.4.2. Faktor yang Mempengaruhi Adherensi Pengobatan

Saat ini sangat banyak faktor yang mempengaruhi adherensi pengobatan. Adapun faktor tersebut adalah (Bauman, 2005):

a. Kompleksnya Pengobatan

Kompleksnya pengobatan yang diberikan akan mempengaruhi adherensi pengobatan pasien. Penggunaan obat asma dengan cara inhalasi sering dirasakan rumit oleh pasien. Hal ini membuat pasien cenderung memilih pengobatan yang lebih mudah, walaupun tidak sesuai standar, seperti penggunaan obat secara oral.

b. Kemampuan Memahami Informasi

Data menunjukkan informasi dan instruksi pengobatan baik dari dokter maupun dari brosur penjelasan sangat sulit untuk dipahami pasien. Hal ini juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan pasien, latar belakang budaya dan ketrampilan penerimaan informasi. Banyak pasien asma menggunakan obatnya hanya ketika timbul gejala. Untuk alasan yang sama, penggunaan pelega lebih tinggi dibandingkan dengan obat pengontrol (pencegah), karena obat pelega secara langsung menyebabkan bronkodilatasi, maka efeknya lebih cepat dirasakan oleh pasien.

c. Kepercayaan Pasien

Pasien pergi berobat sering karena kepercayaan tentang penyakitnya. Penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan tentang penyakit, manfaat dan hambatannya, berpengaruh terhadap adherensi pengobatan pasien asma. Derajat penyakit berpengaruh terhadap adherensi pengobatan pasien. Penyakit akut/kronis atau penyakit yang menimbulkan rasa sakit dan mengancam jiwa pasiennya, memerlukan tingkat adherensi yang lebih tinggi, dibandingkan penyakit yang tidak berat. Penyakit asma adalah penyakit kronis, yang dalam kondisi ringan memberikan gejala klinis yang bersifat reversibel, sehingga pasien asma kadangkala menganggap penyakitnya tidak menimbulkan masalah yang berat pada dirinya.

Kepercayaan individu terhadap upaya pengobatan dan pelayanan kesehatan dapat merujuk pada konsep yang dikemukakan oleh Rosenstock dalam Sarwono (2004), yaitu tentang model kepercayaan kesehatan (Health Belief Model). Model kepercayaan kesehatan ini mencakup lima unsur utama, sebagai berikut:

a. Persepsi individu tentang kemungkinannya terkena suatu penyakit (perceived susceptibility). Mereka yang merasa dapat terkena penyakit tersebut akan lebih cepat merasa terancam.

b. Pandangan individu tentang beratnya penyakit tersebut (perceived

seriousness), yaitu risiko dan kesulitan apa saja yang akan dialaminya dari

c. Makin berat risiko suatu penyakit dan makin besar kemungkinannya bahwa individu tersebut terserang penyakit tersebut, makin dirasakan besar ancamannya (perceived threats). Ancaman ini mendorong individu untuk melakukan tindakan pencegahan atau penyembuhan penyakit. Namun ancaman yang terlalu besar malah menimbulkan rasa takut dalam diri individu yang justru malah menghambatnya untuk melakukan tindakan karena individu tersebut merasa tidak berdaya melawan ancaman tersebut.

d.Guna mengurangi rasa terancam tersebut, ditawarkanlah suatu alternatif tindakan oleh petugas kesehatan. Apakah individu akan menyetujui alternatif yang diajukan petugas tergantung pada pandangannya tentang manfaat dan hambatan dari pelaksanaan alternatif tersebut. Individu akan mempertimbangkan apakah alternatif tersebut memang dapat mengurangi ancaman penyakit dan akibatnya yang merugikan. Namun sebaliknya, konsekuensi negatif dari tindakan yang dianjurkan tersebut (biaya yang mahal, rasa malu, takut akan rasa sakit, dan sebagainya) seringkali menimbulkan keinginan individu untuk justru menghindari alternatif yang dianjurkan petugas kesehatan. Ini merupakan perceived benefits and

barriers dari model kepercayaan Health Believe Model.

d. Sikap Terhadap Pengobatan

Komunikasi dan pertanyaan terbuka sangat membantu untuk menemukan sikap pasien terhadap pengobatan. Sikap terhadap pengobatan berhubungan dengan bahaya pengobatan yang diberikan,

”unnaturalness” dari berbagai bentuk pengobatan, bahaya ketergantungan dan sikap anti terhadap pengobatan.

e. Komunikasi Dokter dan Pasien

Komunikasi dokter dan pasien merupakan peristiwa yang sangat penting dalam rangka penyembuhan pasien. Dalam komunikasi dokter pasien, dokter mempunyai posisi yang ”lebih tinggi” daripada pasien Dapat dikatakan dokter memiliki legitimate power sehingga dengan mudah dapat mempengaruhi pasien asma (Ali, 2006).

Kualitas dari interaksi dokter dan pasien memberikan pengaruh utama terhadap perilaku pengobatan pasien. Komunikasi dan kemitraaan, fleksibilitas, tidak bersikap pragmatik, atau menonjolkan sikap empati, dapat meningkatkan adherensi pengobatan pasien asma. Pada penatalaksanaan asma, dokter seringkali kurang memberikan informasi yang cukup, karena waktu yang tersedia terbatas. Idealnya dokter menyediakan informasi yang cukup, meskipun singkat, tetapi dapat mudah dimengerti dan diingat oleh pasien. Informasi yang diberikan juga jangan terlalu berlebihan, karena pasien sering sekali melupakan separuh dari informasi yang diberikan, meskipun informasi yang diberikan sudah jelas (Bauman, 2005).

Jacobs (2001) membuktikan adanya hubungan antara konsultasi dan edukasi dari dokter umum dengan kualitas hidup pasien asma dan PPOK. Pada studi ini dokter umum dianjurkan untuk memberikan konsultasi secara teratur selama 3 bulan kepada pasien asma ringan dan

pasien PPOK.

a.

Tepat sehari sebelum konsultasi rutin, pasien diminta untuk mengisi berupa kuisioner tentang penyakit dan kualitas hidup di ruang tunggu dan memberikannya kepada dokter umum di awal konsultasi. Dengan demikian, informasi tentang kualitas hidup pasien diberikan kepada dokter umum dengan cara yang terstruktur dan ditambahkan ke sistem pemantauan yang ada. Kuesioner yang terdiri dari 27 pernyataan dan menjadi lima dimensi kualitas hidup: keluhan fisik, faktor emosi, keterbatasan fisik dan sosial dan ketidakhadiran (dari tugas-tugas domestik atau bekerja) disebabkan penyakit. Pada saat konsultasi dokter mencatat:

b.

Intervensi diagnostic seperti spirometri, tes alergi atau foto thorax.

c.

Terapi obat-obatan yang diberikan, nasihat untuk berhenti merokok, waktu konsultasi lanjutan.

d.

Edukasi kesehatan tentang penyakit, pemakaian obat, regimen pengontrol, gaya hidup.

Konseling tentang aspek fisik, emosional, dll.

f. Faktor Psikologi dan Sosial Demografi.

Faktor psikologi dan sosial demografi seperti dorongan keluarga, faktor umur, jenis kelamin, sosial ekonomi, derajat penyakit berhubungan dengan adherensi pengobatan pasien. Beberapa penelitian menunjukkan hubungan yang erat antara faktor sosiodemografi dengan adherensi pengobatan pasien.

Gamble, (2009) mendapatkan wanita lebih patuh dibandingkan dengan pria. Hasil penelitian Well, (2008) menyatakan ada hubungan antara faktor suku dengan adherensi pengobatan yang menggunakan

Inhaled Corticosteroid (ICS). Pada pasien asma dari ras putih terdapat

hubungan antara kebutuhan akan ICS, pengetahuan tentang obat ICS, perilaku dokter dalam mengontrol pasien asma, dan kesiapan untuk menggunakan obat dengan kepatuhan pengobatan asma.

Dokumen terkait