BAB II TINAJUAN TEORITIS
3. Faktor yang Mempengaruhi Akidah
Mengenal faktor-faktor yang mempengaruhi akidah termasuk perkara yang harus diketahui oleh setiap muslim. Sebab, jika seseorang beragama Islam tidak cukup hanya pengakuan tanpa diiringi dengan amalan, ia harus menjalankan syariat agama Islam yang telah diwajiabkan atasnya baik itu perintah maupun larangan.
Tidak boleh seorang muslim melanggar larangan yang telah ditetapkan, karena sebagian larangan dapat menyebabkan seseorang keluar dari agama Islam, maka pentinglah kita harus mengenal hal-hal yang dapat merusak akidah seorang muslim.
14 Sufyan bin Fuad Baswedan, Tauhid Beres Negara Sukses (Jakarta Timur: Akbar Media,2012), h. 68
Mengetahui kejelekan bukan untuk melakukannya, akan tetapi untuk menjauhinya supaya seseorang tidak terjerumus kedalamnya. Apabila seorang muslim berkenalan dengan dosa, kemudian membuatnya takut dan menjauhi dosa tersebut, maka itulah yang diharapkan. Akan tetapi sebaliknya, jika seorang muslim jahil terhadap dosa dan hal yang diharamkan Allah SWT, maka ia akan terjerumus dan terjatuh dalam kubangan dosa tanpa sadar. Ada sepuluh perkara pembatal keIslaman yang banyak terjadi yaitu:
a. Berbuat syirik dalam beribadah kepada Allah
Asal makna syirik adalah engkau berpaling dari Allah SWT kepada makhluknya dalam perkara-perkara yang hanya menjadi kekhususan Allah saja.
Syirik adalah memperuntukkan sebagian dari ibadah kepada selain dari Allah, seperti doa, menyembelih, nadzar, istighatsah kepada selain Allah dalam urusan yang hanya Allah yang kuasa atasnya.15 Allah SWT berfirman dalam Q.S. dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.16
Dari ayat ini Allah tidak mengampuni orang-orang yang bebuat syirik, ini menunjukkan bahwa begitu besarnya dosa orang menyekutukan Allah dengan
15 Syaikh Shalih Bin Fauzan Al-Fauzan, op. Cit., h. 59
16 Departemen Agama RI, op. cit., h. 86
makhluknya. Orang yang tidak diampuni disini yaitu orang yang telah meninggal dunia dan dia belum bertaubat atas dosa syirik yang diperbuatnya, tapi selama nafas belum sampai ke kerongkongan dan dia bertaubat niscaya Allah akan mengampuninya.
b. Orang yang membuat perantara antara dirinya dengan Allah
Maksud dari yang kedua ini yaitu menjadikan sesuatu sebagai perantara antara dirinya dengan Allah dalam hal berdo’a, meminta syafaat, bertawakkal kepada-Nya, dan sebagainya. Maka barang siapa yang menjadikan orang lain, kuburan atau apapun itu sebagi perantara kepada Allah, dalam berdoa, meminta syafaat dan bertawakkal maka ia telah kafir berdasarkan kesepakatan ulama.
Mengutip dari buku mengenal Islam lebih dekat dijelaskan bahwa:
Barangsiapa yang menjadikan Malaikat dan para Nabi sebagai perantara yang ia berdoa, bertawakkal, dan meminta kepada mereka untuk meraih manfaat dan menolak mudharat, seperti minta diampuni dari dosa, minta hidayah untuk hati, melepaskan kesusahan dan kesulitan, maka ia telah kafir berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.17
c. Tidak mengkafirkan orang-orang musyrik atau ragu atas kekafiran mereka, atau membenarkan madzhab mereka.
Wajib seorang muslim untuk mengkafirkan orang yang jelas telah dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah telah mengkafirkan orang-orang musyrik, penyembah berhala, yahudi dan nashara, maka wajib bagi seorang muslim untuk meyakini di dalam hatinya atas kekafiran mereka sebagai bentuk mengikuti penkafiran oleh Allah dan Rasul-Nya kepada mereka.
17 Abu Anisah Syahrul Fatwa bin Lukman, Mengenal Islam Lebih Dekat (Bogor: Media Tarbiyah, 2014), h. 194
d. Meyakini ada petunjuk yang lebih sempurna daripada petunjuk Nabi sallallahu alaihi wasallam atau meyakini ada hukum lain yang lebih baik daripada hukum beliau.
Al qur’an secara tegas menyatakan bahwa hukum Allah dan Rasul-Nya adalah hukum yang wajib diyakini kebenaran dan kesempurnaannya. Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Ma’idah(5) ayat 50,
َنوُنِقوُي ٍمْوَقِل اً ْكُْح ِ هللَّا َنِم ُن َسْحَأ ْنَمَو َنوُغْبَي ِةهيِلِهاَجْلا َ ْكُْحَفَأ .
Terjemahnya:
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?18
e. Membenci ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Saw.
Barangsiapa yang membenci sedikit saja dari ajaran yang dibawa oleh Rasulullah, sungguh ia telah keluar dari agama Islam. Ada perbedaan antara benci yang sifatnya tabiat dari setiap manusia dan benci yang sifatnya menentang yang bisa membuat pelakunya keluar dari agama Islam.
Benci yang sifatnya tabiat manusia, karena rasa berat dan tidak ingin mengerjakannya bukanlah perkara yang mengeluarkan dari agama Islam, tetapi lebih condong pada jiwa yang malas, bukan berarti benci terhadap perintah Allah.
Sedangkan benci terhadap syariat Islam dan apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah yang mengeluarkan dari agama Islam cirinya adalah ia membenci
18 Departemen Agama RI, op. cit., h. 116
syariat itu setelah sampai padanya ilmu bahwa yang memerintahkannya adalah Allah, lantas dia membencinya, inilah yang bisa membatalkan keIslaman seseorang.
f. Memperolok-olok Agama Rasulullah Saw
Imam Ibnu Taimiyyah mengatakan, kaum muslimin telah sepakat bahwa orang yang mencela Allah dan Rasul, atau menolak sesuatu sedikit pun dari apa yang Allah turunkan atau membunuh Nabi dari Nabi-Nabi Allah, sungguh-sungguh ia telah kafir sekalipun menerima dan mengakui setiap apa yang Allah turunkan.
g. Sihir
Sihir secara bahasa artinya sesuatu yang tersembunyi dan halus sebabnya.
Asalnya sihir adalah memalingkan sesuatu dari hakikatnya kepada yang lain. Sihir mempengaruhi jiwa dan badan, sehingga membuat orang sakit, membunuh, memisahkan suami dengan istrinya, dan semua ini terjadi dengan takdir kauniyah Allah SWT. Ia adalah perbuatan setan dan sebagian besar dari padanya tidak dapat diperoleh kecuali melalui syirik dan mendekatkan diri kepada ruh-ruh jahat dengan apa yang di senanginya. Firman Allah SWT dalam Q.S. Al Baqarah(2) ayat 102
َرْح ِلسلا َساهنلا َنوُمِللَعُي او ُرَفَك َينِطاَي ه شلا هنِكَلَو ...
Terjemahnya:
Tetapi setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.19
19 Ibid, h. 16
h. Tolong menolong dengan kaum musyrikin dan bantu membantu dengan mereka dalam menghadapi kaum muslimin.
Sesungguhnya kewajiban seorang muslim setelah mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah mencintai para penolong Allah dan kaum muslimin serta membenci orang yang memusuhi Allah, dari kalangan orang-orang kafir, Allah berfirman dalam Q.S. Al-Mujadalah(58) ayat 22,
َبِآأ اوُن َكَ ْوَلَو ُ َلَو ُس َرَو َ هللَّا هداَح ْنَم َنوُّداَوُي ِرِخآ ْلا ِمْوَيْلاَو ِ هللَّ ِبِ َنوُنِمْؤُي اًمْوَق ُدَِتَ َلَ
ْ ُهَُءاَنْبَأ ْوَأ ْ ُهَُء
ْمُ َتََير ِشَع ْوَأ ْمُ َنَاَوْخ ا ْوَأ ِ .
Terjemahnya:
Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka20
i. Meyakini bahwa ada sebagian manusia yang mempunyai kebebasan untuk keluar dari syariat Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam.
j. Berpaling dari Agama Allah, tidak mempelajarinya dan tidak mengamalkannya.
Inilah sepuluh pembatal keIslaman yang banyak terjadi di kalangan kaum muslimin, yang sepuluh ini bukan merupakan suatu pembatasan tapi yang ini banyak terjadi ditengah masyarakat. Jika salah seorang melakukan salah satu pembatal keIslaman tersebut tentu itu dapat mereusak keIslamannya baik dia dalam kondisi bercanda atau serius. Perlu diketahui bahwa orang yang terjerumus dalam
20 Ibid, h. 545
perbuatan tersebut tidak boleh semerta-merta langsung kita fonis dia telah kafir, karena dalam hal fonis memfonis bukanlah tugas kita kecuali yang telah dijelaskan oleh Allah dan rasul-Nya, tapi ini tugas para ulama yang dalam ilmunya.