BAB III HASIL PENELITIAN
C. Diskresi Kepolisian
7. Faktor Yang Mempengaruhi Diskresi
Penting untuk mengetahui bagaimana penerapan diskresi yang dilakukan oleh kepolisian kepada geng motor dalam rangka pemberantasan aksi kriminal mereka. Berikut adalah hal-hal yang mempengaruhi implementasi diskresi oleh kepolisian:
a. Pemahaman Tentang Diskresi
Penegak hukum sebagai suatu proses pada hakikatnya merupakan penegakan diskresi dalam membuat keputusan yang tidak secara ketat diatur oleh kaidah hukum, akan tetapi mempunyai penilaian pribadi. Pada hakikatnya diskresi berada diantara hukum dan moral. Atas dasar uraian tersebut dapat dikatakan bahwa gangguan terhadap penegakan hukum mungkin terjadi, apabila ada ketidak serasian antara nilai, kaidah, dan pola perilaku. Oleh karena itu, dapatlah dikatakan bahwa penegak hukum bukanlah semata-mata berarti pelaksanaan perundang-undangan, walaupun dalam kenyataan di Indonesia kecenderungannya adalah demikian.
Diskresi kepolisian tergantung pada beberapa faktor, diantaranya:
78SERDAN, pada 6 Oktober 2015 .
[75]
1) Sifat pelanggaran yang terjadi; 2) Kepedulian masyarakat;
3) Pola pikir dan moral personel kepolisian; 4) Reaksi tersangka;
Maksud dari faktor sifat dari pelanggaran yang dilakukan adalah semakin serius perbuatan tersangka maka semakin terbatas pula kebebasan personel kepolisian untuk melakukan diskresi terhadap pelanggaran-pelanggaran kecil yang dilakukan oleh remaja, dibandingkan dengan tindak pidana yang tergolong berat misalnya pembunuhan, pemerkosaan, atau penganiayaan.
Faktor kedua yang mempengaruhi personel kepolisian dalam melakukan diskresi adalah faktor kepedulian masyarakat. Jika dalam suatu daerah masyarakat sangat terganggu dengan kejahatan-kejahatan di lingkungannya, misalnya prostitusi atau mabuk-mabukan yang meresahkan masyarakat, maka diskresi kepolisian akan menjadi berkurang. Dalam artian bahwa jika masyarakat semakin keras tekanannya terhadap jenis kejahatan tertentu dalam wilayahnya maka diskresi kepolisian akan semakin sempit.
Adapun faktor yang ketiga adalah faktor kerangka fikir personel kepolisian dan reaksi tersangka. Jika personel kepolisian mendapatkan kesulitan dalam menghadapi tersangka, ditambah lagi tersangka tersebut memberikan sikap yang bermusuhan terhadap personel kepolisian, maka personel kepolisian tersebut tidak akan bermurah hati terhadap pelanggarannya. Khusus pada faktor ketiga yaitu
[76]
sikap tersangka terhadap petugas ikut mempengaruhi penggunaan diskresi.
b. Peraturan Yang Menjadi Dasar Penerapan Diskresi Hasil penelitian dalam karya ini menunjukkan bahwa tiap individu kepolisian di Polrestabes Makassar memiliki hak untuk melakukan diskresi yang sama, yang dapat dilakukan dalam mencari solusi atau menyelesaikan permasalah yang ditemukan di lapangan, apalagi jika hal tersebut menuntut pengambilan keputusan yang cepat. Tiap diskresi yang dilakukan harus memiliki dampak positif yang luas bagi masyarakat, tanpa harus mengorbankan pihak lain dan tentunya tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, termasuk hukum pidana yang ada.
Ketika penulis melakukan wawancara dengan IPTU Ismail, SH dan IPTU Sabbarang yang berlangsung pada tanggal 20 November 2015 di Polrestbes Makassar, keduanya memberikan keterangan sebagai berikut:
Tiap individu di Polrestabes Makassar memiliki hak yang sama dalam melakukan diskresi, di mana diskresi tersebut harus memiliki dampak positif yang luas bagi masyarakat, tanpa mengorbarkan pihak lain.
Selanjutnya, bahwa diskresi tersebut pada intinya adalah segala tindakan yang dilakukan anggota kepolisian yang terdapat unsur pertentangan dengan hukum yang berlaku, namun bertujuan menjaga kepentingan umum karena memiliki manfaat yang lebih besar kepada masyarakat.
[77]
Walaupun penerapan diskresi terkadang menjadi solusi terakhir untuk menyelesaikan masalah dan bertentangan dengan aturan, diskresi tidak boleh dilakukan secara serta-merta. Dibutuhkan pertimbangan luar biasa yang dapat dipertanggungjawabkan secara logis, sehingga diskresi yang dilakukan tersebut dapat diterima oleh publik. Peraturan perundangan yang menjadi dasar hukum diskresi oleh polisi yaitu:
1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP);
2) Pasal 5, 7, 16, Dan 18 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.
3) Hukum Tidak Tertulis yang Berlaku Didalam Masyarakat.
Hukum yang tidak tertulis merupakan salah satu sumber hukum yang ada di Indonesia yang sesuai dengan kebudayaan dan dinamika kehidupan masyarakat Indonesia. Hukum tidak tertulis adalah sesuatu yang sifatnya konstitusional sebagaimana penjelasan umum UUD 1945, yakni:
Hukum dasar yang tidak tertulis merupakan hukum yang timbul dan telah ada sejak masyarkat itu ada dan terpelihara dengan baik
Dihubungkan dengan pelaksanaan tugas-tugas kepolisian, dalam menyelesaikan berbagai persoalan hukum
[78]
di masyarakat sering dapat diselesaikan berdasarkan hukum tidak tertulis yang berupa hukum adat, dan dalam kaitannya dengan hukum adat tersebut dapat dijadikan pedoman adalah adat kebiasaan yang ada di masyarakat yang sesuai atau tidak mepertahankan perlindungan keamanan, dan ketertiban yang ada di dalam masyaraat serta tidak merugikan orang lain.
Penyelesaian perkara dengan mengenyampingkan perkara-perkara ringan dalam prakteknya biasanya dilakukan atau diselesaikan melalui hukum adat atau kebiasaan di masyarakat. Meskipun Indonesia memiliki hukum positif yang berlaku nasional, namun tidak serta-merta hal tersebut akan diterima masyarakat, justru akan menimbulkan chaos jika dipaksakan. Jalur kekeluargaan merupakan jalan terbaik dalam menyelesaikan masalah sekaligus memperbaiki keadaan yang rusak sebelumnya, sama halnya dengan prinsip restorative justice yang mengedepankan pemulihan bagi para pihak yang terlibat. Di sinilah peran polisi yang juga wajib mengetahui hukum adat yang berlaku agar penerapan diskresi dapat berjalan lancar.
c. Pendapat Para Ahli Hukum yang Sesuai Dengan Yurisprudensi
Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan, penyidik sebagai aparat kepolisian mengambil pendapat para ahli atau pakar hukum sebagai landasan mengambil tindakan, utamanya dalam hal melakukan diskresi. Utamanya dalam melakukan kebijaksanaan tersebut agar dapat relevan dan sesuai dengan peraturan yang berlaku dan dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini, disebabkan segala tindakan yang
[79]
diambil oleh aparat kepolisian akan dipertanggungjawabkan pada proses selanjutnya.
8. Penerapan Diskresi Pada Aksi Kriminal Geng Motor