Tingkat fragmentasi batuan hasil peledakan merupakan suatu petunjuk yang sangat penting dalam menilai keberhasilan dari suatu kegiatan peledakan, dimana material yang memiliki ukuran seragam lebih diharapkan daripada material yang banyak berukuran bongkah. Tingkat fragmentasi yang kecil akan
menambah produktivitas, mengurangi keausan dan kerusakan peralatan sehingga menurunkan biaya pemuatan, pengangkutan dan proses berikutnya, dalam beberapa pekerjaan juga akan
mengurangi secondary blasting. Beberapa faktor yang
berpengaruh terhadap fragmentasi hasil peledakan adalah :
3.1.1 Karakteristik Massa Batuan
Pada suatu proses peledakan densitas dan kekuatan
(strength) dari batuan mempunyai hubungan yang cukup erat.
Secara umum batuan yang mempunyai densitas yang rendah dapat lebih mudah dihancurkan dengan faktor energi yang lebih rendah, sedangkan batuan yang mempunyai densitas yang lebih tinggi memerlukan energi yang lebih tinggi untuk mendapatkan hasil fragmentasi yang memuaskan. Pada massa
batuan yang mempunyai densitas yang tinggi, ada beberapa
cara untuk memastikan energi peledakan yang sedang berlangsung cukup untuk menghancurkan batuan :
a. Menambah diameter lubang ledak, agar tekanan yang terjadi pada lubang ledak dapat ditingkatkan dengan
adanya penambahan ANFO.
b. Mengubah geometri peledakan dan rangkaian pola penyalaan.
c. Memilih material stemming yang cocok, agar
energi peledakan dapat terdistribusi pada massa batuan secara sempurna.
3.1.2 Kekuatan Batuan
Kuat tekan dan kuat tarik merupakan parameter awal untuk menentukan suatu proses peledakan. Semakin tinggi harga dari kuat tekan dan kuat tarik dari batuan, maka batuan
tersebut akan semakin susah untuk dihancurkan. Mudstone yang terdapat di daerah tersebut misalnya mempunyai kuat tekan rata-rata 18,17 MPa dan kuat tarik rata-rata 1,92 MPa lebih mudah dihancurkan daripada sandstone dengan kuat tekan rata-rata 20,4 MPa dan kuat tarik rata-rata-rata-rata 2,13 MPa. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa harga kuat tarik lebih rendah dari kuat tekan, oleh karena itu retakan-retakan yang terjadi pada massa batuan akibat proses peledakan yang sedang berlangsung lebih banyak disebabkan oleh tegangan tarik yang dihasilkan dari proses peledakan yang bersangkutan.
3.1.3 Stuktur Geologi Batuan
Salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam merencanakan suatu operasi peledakan adalah struktur geologi. Adanya ketidakmenerusan dalam sifat batuan akan mempengaruhi perambatan gelombang energi dalam batuan. Jika perambatan energi melalui bidang perlapisan, maka sebagian gelombang akan dipantulkan dan sebagian lagi akan dibiaskan dan diteruskan, karena adanya sebagian gelombang yang dipantulkan maka kekuatan energi peledakan akan
berkurang. Kekar atau joint merupakan suatu rekahan
pada batuan yang tidak mengalami pergeseran pada bidang rekahannya didalam massa batuan yang memiliki
sifat ketidakmenerusan (discontinuities) yang juga merupakan
bidang lemah. Jika batuan yang diledakkan terdapat banyak kekar, maka hasil peledakannya akan membentuk blok-blok dengan mengikuti arah kekar-kekar yang ada maka dapat dipastikan fragmentasi batuan yang dihasilkan menjadi tidak seragam. Untuk mengatasi hal tersebut maka arah peledakan harus disesuaikan dengan arah dan kemiringan
umum dari kekar tersebut. Disamping itu bidang bebas yang terbentuk juga cenderung mengikuti arah kekar tersebut, oleh sebab itu arah bidang bebas dari jenjang perlu disesuaikan dengan arah kekar yang ada. Berdasarkan hasil analisis kekar dengan menggunakan program Dips versi 5.0 diperoleh arah dan kemiringan umum kekar yaitu kekar mayor N 272°E/64° dan kekar minor N 150°E/76°. Menurut R.L. Ash (1967) untuk menyesuaikan arah peledakan dengan arah kekar yang ada, bidang bebas diambil sejajar dengan perpotongan kedua kekar dan menentukan arah peledakan kearah sudut tumpul dari perpotongan kedua kekar tersebut, sehingga didapatkan arahpeledakan untuk optimalisasi fragmentasi yaitu N 31°E dan N 211°E.
3.1.4 Air Tanah
Kondisi air tanah sangat mempengaruhi proses peledakan, adanya air menyebabkan bahan peledak harus mengubah air disekitarnya menjadi uap air selama proses detonasi. Jika kandungan air tanah pada suatu daerah blok peledakan sangat tinggi, bahan peledak (ANFO) kemungkinan tidak akan meledak atau rusak dan akan terjadi misfire. Untuk mengatasi hal ini bahan peledak perlu dibungkus dengan bahan yang tahan air sebelum dimasukkan ke lubang ledak atau jika lubang ledak sudah terisi air maka air dikeluarkan dengan udara bertekanan tinggi dari kompresor. Selain dengan membungkus bahan peledak ANFO dengan kantong plastik, masalah air dalam lubang ledak juga dapat diatasi dengan mengganti bahan peledak ANFO dengan HANFO (heavy ANFO) yaitu campuran antara ANFO dengan emulsi dengan perbandingan tertentu.
Hal yang penting mengenai penyalaan awal adalah letak primer dalam kolom bahan ledak. Umumnya primer pada atau dekat level (bootem priming). Bootem priming mempunyai keuntungan :
1. Memperbaiki fragmentasi.
2. Mengurangi masalah toe, lantai yang baik, Permukaan yang lebih bersih. 3. Mengurangi suara, batu terbang dan overbreak pada permukaan.
4. Lebih sedikit terjadi cut off dan gagal ledak.
3.1.6 Pola Penyalaan
Urutan dimana lubang ledak dinyalakan dan interval waktu antar detonasi berikutnya mempunyai pengaruh yang besar terhadap kinerja peledakan secara keseluruhan, kinerja peledakan produksi hanya dapat dioptimalkan bila isian diledakkan dalam suatu urutan yang terkendali pada selang yang sesuai. Alokasi waktu tunda yang optimum untuk suatu peledakan bergantung pada beberapa faktor dianyaranya :
1. Sifat massa batuan (rock mass properties). 2. Geometri peledakan.
3. Diameter, kemiringan dan panjang lubang ledak. 4. Karakteristik bahan peledak.
5. Sistem inisiasi.
6. Jenis dan lokasi primer. 7. Batasan lingkungan.
8. Hasil yang diinginkan.(fragmentasi)
Kemiringan lubang ledak secara teoritis ada dua, yaitu lubang ledak tegak dan lubang ledak miring. Rancangan peledakan yang menerapkan lubang ledak tegak, maka gelombang tekan yang dipantulkan oleh bidang bebas lebih sempit, sehingga kehilangan gelombang tekan akan cukup
besar pada lantai jenjang bagian bawah, hal ini dapat menyebabkan timbulnya tonjolan pada lantai jenjang.
Gambar 3.4 Pemboran dengan lubang ledak tegak dan lubang ledak miring
Sumber : http//:Analisis fragmentasi peledakan, 2014. DI Akses tanggal 28 Maret 2016.
Sedangkan pada peledakan dengan lubang ledak miring akan membentuk bidang bebas yang lebih luas, sehingga akan mempermudah proses pecahnya batuan dan kehilangan gelombang tekan pada lantai jenjang menjadi lebih kecil.
3.1.8 Pola Pemboran
Pola pemboran merupakan suatu pola pada kegiatan pemboran dengan menempatkan lubang-lubang bor secara sistematis. Berdasarkan letak lubang bor maka pola pemboran pada umumnya dibedakan menjadi dua macam, yaitu pola pemboran sejajar (paralel pattern) dan pola pemboran selang-seling (staggered pattern). Pola pemboran sejajar adalah pola dengan penempatan lubang bor yang saling sejajar pada setiap kolomnya, sedangkan pola pemboran selang-seling adalah pola dengan penempatan lubang bor secara selang-seling pada setiap kolomnya.
Gambar 3.4 Pola Pemboran Sejajar dan Pola Pemboran Selang-Seling. Sumber : http://miningforce.blogspot.co.id/2011/09/analisa-produktifitas-peledakan-untuk.html. Di akses 21 Januari 2016.
Pola pemboran sejajar merupakan pola yang lebih mudah diterapkan dilapangan, tetapi perolehan fragmentasi batuannya kurang seragam, sedangkan pola pemboran selang-seling lebih sulit penanganannya di lapangan namun fragmentasi batuannya lebih baik dan seragam, hal ini disebabkan karena distribusi energi peledakan yang dihasilkan lebih optimal bekerja dalam batuan. Setelah operasi pemboran dan peledakan dilakukan, banyak dijumpai fragmentasi batuan yang tidak bisa langsung dimuat ke dalam oleh alat gali muat ke alat angkut, sehingga menghambat proses pemuatan dan pengangkutan. Karenanya perlu dilakukan kajian ulang terhadap geometri peledakan yang ada, dengan mempertimbangkan jenis batuan yang akan diledakkan, serta faktor-faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan dalam peledakan untuk mendapatkan fragmen batuan yang diinginkan.