TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Dasar Pengetahuan
2.7 Konsep Kanker leher rahim
2.7.4 Faktor yang Mempengaruhi Kanker Leher Rahim
Faktor yang mempengaruhi terjadinya kanker leher rahim dibagi atas faktor individu dan faktor pasangan.
1. Faktor individu
a. HPV (Human Papillomavirus)
Penelitian baru-baru ini memperlihatkan bahwa infeksi HPV dapat menyebabkan kanker leher rahim. Hal ini terdeteksi menggunakan penelitian Molecur. Pada 99,7% wanita dengan karsinoma sel skuamosa karena infeksi HPV merupakan penyebab mutasi neoplasma (perubahan sel normal menjadi ganas).
Terdapat 138 strain HPV yang sudah diidentifikasi, 30 diantaranya dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Dari sekian tipe HPV yang menyerang dubur dan alat kelamin. Ada 4 tipe HPV yang biasa menyebabkan masalah di manusia. Seperti 2 subtipe HPV dengan resiko tinggi keganasan yaitu tipe 16 dan 18 yang ditemukan pada 70% kanker leher rahim. Serta HPV tipe 6 dan 11, yang menyebabkan 90% kasus genital warts (kutil kelamin).
b. Faktor etologik
Penelitian saat ini memang memfokuskan virus sebagai penyebab penting kanker leher rahim. Sebab infeksi protozoa, jamur dan bakteri tidak potensial onkogenik. Tidak semua virus memang dapat menyebabkan kanker. Namun paling tidak dikenal kurang lebih dari 150 juta jenis virus
31
diduga memegang peranan penting dalam kejadian kanker pada binatang. Sepertiganya diantaranya adalah golongan virus DNA. Pada proses karsinogenesis asam nukleat virus tersebut dapat bersatu ke dalam gen dan DNA sel tuan rumah sehingga menyebabkan terjadinya mutasi sel.
c. Herpes Simpleks Virus (HVS) tipe-2
Pada awal tahun 1970 herpes simpleks tipe 2 banyak dibicarakan, lantaran sebagai timbulnya Kanker leher rahim atau kanker leher rahim. Namun ternyata virus tersebut tidak berperan besar dalam timbulnya Kanker leher rahim. Virus ini hanya diduga sebagai faktor pemicu terjadinya kanker. Atau dianggap sama dengan karsinogen kimia atau fisik.
d. Perubahan fisiologik epitel serviks
Jaringan epitel pada serviks ada dua jenis yaitu epitel skuamosa dan epitel kolumnar. Kedua epitel tersebut dibatasi oleh sambungan skuamosa-kolumnar (SSK). Namun letaknya menyesuaikan umur, aktivitas seksual dan paritas.
Pada wanita yang seksualitasnya tinggi maka SSK terletak di ostium eksternum. Wanita dapat terjadi perubahan fisiologis pada jaringan epitel serviks. Jaringan epitel kolumnar akan digantikan epitel skuomosa yang disebut dengan metaplasia. Perubahan ini terjadi karena pH yang rendah dan biasanya sering dijumpai pada masa pubertas. Akibat proses metaplasia ini maka terdapat 2 SSK, yaitu SSK asli dan SSK baru, menjadi tempat pertemuan antara epitel skuamosa baru dengan epitel kolumnar. Daerah di antara kedua SSK ini disebut daerah transformasi.
Perubahan pH yang rendah ini kemungkinan bisa disebabkan karena aktivitas bahan pemicu kanker leher rahim. Hal ini berbahaya karena dapat mengubah sel yang normal menjadi sel yang tidak normal.
e. Perubahan neoplastik epitel serviks
Proses terjadinya Kanker leher rahim begitu erat dengan proses metaplasia. Akibat pH rendah maka bahan-bahan pemicu kanker dapat bermutasi dan dapat mengubah sel aktif metaplasia. Ini menimbulkan sel-sel berpotensi ganas. Bisa saja mutagen yang bermutasi berasal dari Human Papilo Virus (HPV). Sel yang mengalami mutasi tersebut dapat berkembang menjadi sel diplastik dan dapat menyebabkan kelainan epitel. Dari displasia ringan, displasia sedang, displasia berat dapat berkembang menjadi karsinoma invasive. Tingkat displasia dan karsinoma in-situ dikenal juga sebagai tingkat pra-kanker.
f. Merokok
Tembakau adalah bahan pemicu karsiogenik yang paling baik. Asap rokok menghasilkan polycyclic aromatic hydrocarbon heterocyclic nittrosamines. Wanita perokok memiliki resiko 2 kali lebih besar terkena Kanker leher rahim dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok. Efek langsung bahan-bahan tersebut pada serviks adalah menurunkan status imun lokal sehingga dapat menjadi kokarsinogen infeksi virus.
Sebuah penelitian menunjukkan, lendir serviks pada wanita perokok mengandung nikotin dan zat-zat lainnya yang ada di dalam rokok. Zat-zat
33
tersebut akan menurunkan daya tahan serviks disamping merupakan kokarsinogen infeksi virus.
g. Penggunaan celana ketat
Kondisi lingkungan vulva dan vagina dapat terganggu diakibatkan pemakaian celana dalam yang ketat. Terutama jika bahan celana itu terbuat dari kain yang dapat menghambat pernafasan daerah vulva dan vagina misalnya nilon. Sebetulnya secara umum tidak ada dampak langsung dari pemakaian celana ketat atau legging terhadap kesehatan alat reproduksi perempuan. Dampak tersebut akan bisa muncul jika digunakan terus menerus dalam jangka waktu yang lama.
Secara normal di dalam vagina terdapat banyak mikroorganisme yang sebagian besar tidak membahayakan tubuh. Hanya sekitar 5% saja bakteri pathogen yang berkeliaran dalam vagina. Namun jika ada bakteri dari luar yang menyerang maka bakteri tersebut dapat berkembang. Dalam penggunaan legging dapat mempercepat berkembangnya bakteri karena vagina menjadi lembab. Oleh sebab itu hindarilah penggunaan celana ketat terlalu lama.
h. Umur
Menopause memang akan dialami semua wanita. Pada masa itu sering
terjadi perubahan sel-sel abnormal pada mulut rahim. Pada usia 35-55 tahun memiliki resiko 2-3 kali lipat untuk menderita kanker mulut rahim (serviks). Semakin tua umur seseorang akan mengalami proses kemunduran, proses tersebut tidak terjadi pada suatu alat saja tetapi pada
seluruh organ tubuh. Semua bagian tubuh mengalami kemunduran, sehingga pada usia lanjut lebih banyak kemungkinan jatuh sakit, atau mudah mengalami infeksi.
i. Paritas
Paritas merupakan keadaan dimana seorang wanita pernah melahirkan bayi yang dapat hidup atau viable. Paritas berbahaya adalah dengan memiliki jumlah anak lebih dari 2 orang atau jarak persalinan terlampau dekat. Sebab dapat menyebabkan timbulnya perubahan sel-sel abnormal pada mulut rahim. Jika jumlah anak yang dilahirkan melalui jalan normal banyak dapat menyebabkan terjadinya perubahan sel abnormal dari epitel pada mulut rahim dan dapat berkembang menjadi keganasan.
j. Usia wanita saat menikah
Dalam kenyataannya menikah dini mempunyai beberapa resiko. Selain kurangnya kesiapan mental juga mempunyai resiko lebih besar mengalami perubahan sel-sel mulut rahim. Hal ini karena pada saat usia muda, sel-sel rahim masih belum matang. Sel-sel tersebut tidak rentan terhadap zat-zat kimia yang dibawa oleh sperma. Dengan segala macam perubahannya dan jika belum matang ketika ada rangsangan sel yang tumbuh tidak seimbang dengan sel yang mati maka kelebihan sel ini bisa berubah sifat menjadi sel kanker.
35
2. Faktor pasangan
a.Hubungan seksual pada usia muda
Faktor resiko ini merupakan faktor utama. Sebab semakin muda seseorang perempuan melakukan hubungan seks, semakin besar resiko untuk terkena Kanker leher rahim. Berdasarkan penelitian para ahli, perempuan yang melakukan hubungan seks pada usia kurang dari 17 tahun mempunyai resiko 3 kali lebih besar dari pada yang menikah pada usia lebih dari 20 tahun.
b. Pasangan seksual lebih dari satu (Multipatner Sex)
Perilaku bergonta-ganti pasangan akan meningkatkan penularan penyakit kelamin. Penyakit yang ditularkan seperti infeksi human papiloma virus (HPV) telah terbukti dapat meningkatkan timbulnya Kanker leher rahim. Resiko terkena Kanker leher rahim menjadi 10 kali lipat pada wanita yang mempunyai teman seksual 6 orang atau lebih. Di samping itu, virus herpes simpleks tipe-2 dapat menjadi faktor pendamping.
Ditemukan berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa golongan wanita yang mulai mempunyai pasangan seksual yang berganti-ganti lebih resiko untuk menderita Kanker leher rahim. Sebab wanita yang berganti-ganti pasangan akan rentan terkena virus HPV. Tinjauan kepustakaan mengenai etiologi kanker leher rahim menunjukkan bahwa faktor resiko lain yang penting adalah hubungan seksual suami dengan wanita tuna susila (WTS). Dari WTS itu suami dapat membawa virus dan menularkan pada isterinya.