• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

A. Kecerdasan Moral

3. Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Moral

Berns (2007) berpendapat bahwa ada tiga keadaan (context) yang berpengaruh terhadap perkembangan moral seseorang, yaitu:

a. Konteks situasi

Konteks situasi meliputi sifat hubungan antara individu dan yang terkait dengan apakah ada orang lain yang melihatnya, pengalaman yang sama sebelumnya, dan nilai sosial atau norma di masyarakat tempat tinggal (Berns, 2007).

b. Konteks individu

Konteks individu yang mempengaruhi kecerdasan moral adalah sebagai berikut:

1) Temperamen

Perkembangan moral dipengaruhi oleh temperamen individu, karakteristik bawaan seseorang yang sensitif terhadap berbagai pengalaman dan kemampuan bereaksi pada variasi interaksi sosial.

2) Kontrol diri (self-control)

Perkembangan moral juga dipengaruhi oleh kontrol diri, yaitu kemampuan untuk mengatur dorongan, perilaku, dan emosi.

3) Harga diri (self-esteem)

Pada anak, harga diri belum berkembang secara sempurna. Konsep yang lebih tepat untuk menggambarkannya adalah self-worth. Pada anak usia prasekolah, nilai diri anak belum dapat didasarkan pada penghargaan realistik. Anak mampu membuat penilaian atas kompetensinya namun belum mampu memilah nilai pentingnya. Pada masa dewasa harga diri mulai berkembang secara sempurna, dimana pada masa ini seseorang telah mampu memberikan penilaian terhadap hasil yang telah ia capai dan mereka telah mampu menggambarkan sejauh mana seseorang menilai kemampuan yang ia miliki.

Dalam pandangan Ross Thompson (dalam Santrock, 2007), anak adalah pemegang moral, berjuang untuk memahami apa itu moral. Mereka dapat dibantu

dalam perjuangannya ini dengan “panduan sensitif dari mentor orang dewasa di rumah yang memberikan pelajaran mengenai moralitas dalam kehidupan sehari-hari”. Beberapa aspek penting dari hubungan orangtua dan anak yang berkontribusi terhadap perkembangan moral anak ialah (a) kualitas hubungan (b) disiplin dari orang tua (c) strategi proaktif dan (d) dialog konvensional.

a. Kualitas hubungan

Menurut Thompson (dalam Santrock, 2007), kualitas hubungan orangtua dengan anak dalam hal memperkenalkan anak pada kewajiban mutual dalam hal hubungan interpersonal yang erat merupakan dasar yang penting terhadap pertumbuhan moral positif pada anak. Dalam hubungan tersebut perlu diperhatikan kewajiban orang tua dan anak yang harus dilakukan. Kewajiban orangtua ialah terlibat dalam pengasuhan positif dan memandu anak menjadi manusia yang kompeten. Kewajiban anak ialah merespons dengan sesuai terhadap inisiatif dari orangtua dan mempertahankan hubungan positif dengan orangtua.

b. Disiplin dari orangtua

Disiplin orangtua terhadap anak memberikan pengaruh perkembangan moral anak. Menurut Hoffman (dalam Santrock, 2007) orang tua dapat mendisiplinkan anak melalui penarikan kasih sayang, penegasan kekuasaan, atau induksi. Penarikan kasih sayang merupakan teknik disiplin dimana orangtua menahan perhatian dan kasih sayang terhadap anak. Penegasan kekuasaan merupakan teknik disiplin dimana orangtua berusaha mengontrol anak dan sumber daya yang dimilikinya.

c. Strategi proaktif

Menurut Thompson, McGinley, dan Meyer (dalam Santrock, 2007) strategi proaktif merupakan strategi pola asuh yang penting berarti secara proaktif menghindari potensi perilaku buruk oleh anak sebelum hal ini terjadi. Pada anak yang lebih muda, menjadi proaktif berarti menggunakan pengalihan seperti mengganggu atensi mereka atau memindahkan mereka ke aktivitas lain. Pada anak yang lebih tua, proaktif berarti berbicara dengan anak mengenai nilai yang dianggap penting bagi orangtua. Nilai-nilai ini dapat membantu anak yang lebih tua dan juga remaja untuk menahan godaan yang pasti muncul dalam konteks seperti hubungan dengan teman sebaya dan juga dari media yang berada di luar jangkauan pengawasan langsung orangtua.

d. Dialog konvensional

Dialog konvensional adalah dialog yang berkenaan dengan perkembangan moral dapat menguntungkan baik ketika mereka berlangsung sebagai bagian dari usaha mendisiplinkan ataupun berlangsung dalam interaksi sehari-hari orangtua dan anak (dalam Santrock, 2007). Pembicaraan yang dimaksud dapat direncanakan atau spontan dan dapat terfokus pada kejadian masa lalu (contoh, perilaku salah anak yang dahulu atau perilaku positif secara moral), kejadian di masa yang akan datang (contoh, pergi ke suatu tempat yang dapat menimbulkan godaan dan memerlukan perilaku moral positif), atau kejadian masa kini (contoh, berbicara kepada anak mengenai tantrum saudaranya).

Perkembangan moral anak tidak hanya dipengaruhi oleh orangtua saja, akan tetapi lingkungan sekolah dapat memberikan pengaruh terhadap moral (dalam Santrock, 2007). Anak banyak menghabiskan waktu di luar rumah dan jauh dari orangtua ketika sekolah. Hal yang mempengaruhi perkembangan moral anak di sekolah seperti (a) kurikulum tersembunyi (b) pendidikan karakter (c) pendidikan moral kognitif (d) klarifikasi nilai dan (e) pembelajaran pelayanan.

a) Kurikulum tersembunyi

Menurut John Dewey (dalam Santrock, 2007) ialah kurikulum dimana sekolah tidak menyediakan program khusus untuk pendidikan moral. Akan tetapi pendidikan moral dapat dimasukkan ke kurikulum yang berkaitan dengan peraturan sekolah dan peraturan kelas, orientasi moral dari guru dan administrasi sekolah, dan juga materi teks.

b) Pendidikan karakter

Menurut William Bennet dan William Damon (dalam Santrock, 2007) yaitu mengajari pelajar untuk “melek moral” (moral literacy) untuk mencegah mereka melakukan perilaku amoral yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Setiap sekolah wajib memiliki kode moral eksplisit yang dikomunikasikan secara jelas kepada kelas. Pelanggaran terhadap kode moral diatas berakibat terkena sanksi. Instruksi mengenai konsep moral dapat berupa diskusi kelas, permainan peran, dan memberikan reward terhadap perilaku baik dari murid.

c) Pendidikan moral kognitif

Pendidikan moral kognitif (dalam Santrock, 2007) merupakan sebuah konsep yang didasari dari kepercayaan bahwa pelajar harus belajar nilai-nilai moral, misalnya demokrasi dan keadilan, seiring dengan perkembangan penalaran moral. Menurut teori Kohlberg (dalam Santrock, 2007) dalam membangun penalaran moral anak dan remaja perlu membuat program pendidikan moral kognitif. Program tersebut berlangsung selama satu semester, dimana murid-murid mendiskusikan berbagai isu moral. Instruktur dalam hal ini, guru bertindak sebagai fasilitator dan bukan sebagai pengatur kelas. Diharapkan murid akan mengembangkan bagi pendidikan karakter untuk terlibat lebih dalam daripada sekedar membuat daftar kebajikan moral untuk dipajang di kelas.

d) Klarifikasi nilai

Klarifikasi nilai yaitu membantu orang dalam rangka mengklarifikasi tujuan hidup mereka dan hal-hal yang layak untuk diperjuangkan. Menurut William (dalam Santrock, 2007) para pelajar didorong untuk menemukan nilai mereka sendiri dan memahami nilai yang dimiliki orang lain.

e) Pembelajaran pelayanan

Menurut Flanagan (dalam Santrock, 2007) merupakan bentuk pendidikan yang mengangkat tanggung jawab sosial dan pelayanan terhadap masyarakat atau komunitas. Dalam pembelajaran pelayanan ini, para pelajar sengaja dilibatkan dalam aktifitas misalnya tutoring, membantu manula, bekerja di rumah sakit, membantu di penitipan anak, atau

membersihkan area kosong untuk dijadikan area bermain. Pritchad, Whitehead, dan Waterman (dalam Santrock, 2007) berpendapat pembelajaran pelayanan bertujuan untuk membantu para pelajar untuk tidak terlalu self-centered (egois) bermotivasi lebih untuk membantu orang lain.

Berdasarkan uraian tentang faktor-faktor kecerdasan moral, dapat disimpulkan bahwa ada hal-hal yang mempengaruhi kecerdasan moral yaitu dari segi konteks atau keadaan yaitu konteks sosial dan individu. Hubungan anak dengan orangtua juga mempengaruhi kecerdasan moral yaitu kualitas hubungan, disiplin orangtua, strategi proaktif, dan dialog konvensional. Selain itu sekolah juga berpengaruh terhadap kecerdasan moral, diantaranya: kurikulum tersembunyi, pendidikan karakter, pendidikan moral kognitif, klarifikasi nilai, pembelajaran pelayanan.

Dokumen terkait