HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Analisis Data Penelitian
1. Faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri
Tema faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri terbagi dalam beberapa subtema, yaitu kondisi fisik dan faktor penentu, perkembangan dan kematangan, kondisi psikologi, kondisi lingkungan dan pengaruh agama dan budaya.
73
a. Subtema kondisi fisik dan faktor penentu.
Penyesuaian diri dapat dipengaruhi oleh kondisi fisik dan faktor penentu, di mana hal ini dapat terlihat dari kesehatan fisik, seta penyakit yang disebabkan oleh gen keturunan. Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa setelah informan HN merantau, ia mempunyai kebiasaan baru. Awalnya informan saat masih di kota asalnya hanya menjadi perokok pasif, namun kini informan menjadi perokok aktif dan penikmat kopi hingga menjadi kecanduan.
“Ya misalnya ada teman, masih menghargai teman okelah. Kalau sekarang sudah aktif, jadi kalau enggak ada rokok sehari bisa jadi gila, bisa stress. Kalau misalnya sehari enggak. Aduh susah, sehari enggak merokok, ngopi itu susah.”(line 1498-1506, informan HN)
Selain itu, pada informan HN dan informan IA juga mengalami gangguan pada pola makan dan kurang tidur yang diakibat oleh tugas perkuliahan.
“Jadi kalau di Jogja itu saya makan mungkin kadang dua kali, kadang tiga kali. karena banyak tugas.
Kemudian tidak ada yang mengingatkan. Kalau dirumah biasanya makan sampai lima kali.”(line 165-712, informan HN)
“Perubahannya yang saya alami mudah lelah, mungkin saya juga tidak mengecek kesehatan saya, terakhir saya periksa saya masih sehat, mungkin saya sakit lambung soalnya perih juga, alasan saya sering lelah mungkin karena kurang tidur, menyelesaikan tugas dan lain-lain terus juga kadang siang juga tidak makan, jadi saya merasa bahwa kondisi tubuh saya semakin melemah.”(line 904-918, nforman IA).
74
Sedangkan informan TS setelah menetap di kota Yogyakarta ia mengalami perubahan pada warna kulit. Hal ini disebabkan karena perbedaan kandungan air yang ada di kota asal dengan lingkungan baru.
“Enggak sih mas kalau sakit. Tapi kalau fisik kalau udah dijawa kulitnya jadi putih. Jadi aku lebih bersih.
Kalau di tempatku ada istilah air jawa, kalau kami pulang sering dibilang udah kena air jawa sih. Jadi bersih putih soalnya enggak tau kenapa, kalau udah pulang jadi putih. Karena air disana kapur, jadi cenderung hitam kalau disana. Kalau pulang dekil, tapi kesini putih lagi. Kalau cuaca disini agak bagus, kalau disana agak ekstrim dinginya.” (Line 332-351, informan TS)
Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa dari faktor kondisi fisik informan HN dan IA mengalami gangguan pada kesehatan fisik. Hal ini disebabkan karena penyesuaian kondisi tubuh dengan aktivitas yang baru. Selain itu, informan HN mengalami kebiasaan baru seperti merokok dan minum kopi yang menyebabkan kesehatannya menurun. Sedangkan pada informan TS ia juga mengalami perubahan pada pigmen kulit, karena kondisi lingkungan.
b. Subtema perkembangan dan kematangan.
Setiap individu mempunyai perkembangan dan kematangan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Perkembangan sangat berkaitan dengan usia sedangkan pada kematangan berkaitan dengan intelektual, sosial, dan emosi. Dari penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa informan HN setelah menetap di kota Yogyakarta ia kesulitan
75
dalam membagi waktu antara belajar akademik dan mengurus kegiatan dalam organisasi, sehingga nilai akademiknya menurun.
“Eee untuk tahun pertama kuliah itu tidak, tapi setelah semester 2, 3 itu memamg betul-betul drop karena saya lebih banyakan waktu di organisasi.”(line 970-975, informan HN)
Di sisi lain, informan IA dan TS mengalami sebuah tekanan saat bergabung dalam kerja kelompok karena perbedaan cara dan pola belajar sehingga sulit untuk mengungkapkan ide dalam pikirannya.
“Pertama-tama itu saya merasa tertekan juga karena berada ditengah teman-teman yang pola belajarnya udah beda.” (line 476-480, informan IA).
“Eh kebetulan disinikan orangnya kayak apa ya teratur banget kan, terus bisa gitu kerja lanjut terus, sedangkan aku enggak bisa, aku milih bagi tugas, aku pulang mengerjakan tugas dikosan.”(line 1096-1104, informan TS
Dapat disimpulkan bahwa informan HN mengalami kesulitan dalam membagi waktu belajar dengan kegiatan organisasi. Sedangkan pada informan IA dan TS mengalami sebuah tekanan yang disebabkan oleh perbedaan dalam cara belajar.
c. Subtema kondisi psikologis.
Penyesuaian diri seseorang sangat dipengaruhi oleh pengalaman, frustrasi, dan konflik yang sering ditemukan dilingkungannya, sehingga mempengaruhi kondisi psikologis individu tersebut. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa informan HN mengalami kesulitan untuk mendapatkan teman baru dan bergaul dengan orang lain,
76
sehingga ia mengalami masalah dalam menjalin relasi dengan orang lain. Selain itu, informan IA awal-awal menetap di kota Yogyakarta ia lebih banyak menutup diri dengan orang lain.
“Pertama sih susah. Saya sampai tahun kedua.... saya baru bisa bergaul dengan semua teman.Di satu kelas..mau Jawa mau siapapun. Ada beberapa teman yang susah bergaul, jadi saya dekati juga....ya saya merasa canggung. Apa lagi teman-teman yang sangat diam jadi sangat susah untuk bergaul dengan mereka.
Sekitar 70% saya bisa bergaul dengan teman dikelas, perempuan atau laki-laki.”(line 403-418, informan HN)”
“Waktu pertama datang ke sini, semacam saya menutup diri, tidak berani bercerita dengan orang karena pandangan saya itu orang yang ada didepan saya itu orang hebat semua. Sehingga saya itu macam gimana ya kayak minder. Apalagi saya orangnya introvert. Kayak mau memulai duluan itu susah sekali gitu.”(line 340-353, informan IA)
Di sisi lain, informan TS merasa minder dengan orang-orang baru yang ia temui di lingkungan baru.
“Disini itu anak-anak itu aktif dalam organisasi, jadi mereka itu pinter banget dalam organisasi. Terus aku mikir mungkin itu faktor eksternal mereka bagus.
Tempatku tidak ada event besar gitu di SMA. Jadi mereka bisa berbicara apa aja. Sedangkan tempatku itu orang-orang takut berbicara didepan umum. Pas ngomong di depan umum itu kurang terorganisir tidak jelas ngomong apa. Jadi mereka itu pintar banget ngomong mengenai cerita banyak hal yang belum aku temuin.”(line 69-89 informan TS)
Selain itu, ketiga informan yang mempunyai kepribadian introvert yang mengakibatkan kesulitan untuk membangun relasi dengan orang lain.
77
“Eee kalau saya biasanya orang yang susah bergaul kalau belum kenal. Jadi semisalnya, kalau Kak Garin itu masih canggung dalam bergaul. Kalau sudah akrab sekali, itu pasti akan lebih akrab dan tidak canggung.”(line 4-11, informan HN)
“Kalau saya sendiri merasa bahwa saya orang yang introvert dan eemm saya mengalami, apa ya karena saya pribadi introvert, saya sulit untuk penyesuaian diri.” (line 2-8, informan IA)
“Kalau teman dekatku, ya aku cerewet banget, ngobrol nyambung, tapi kalau dengan teman pada umumnya, kita ngumpul kerja kelompok terus kita ngobrol, tapi aku jarang ikut ngobrol sih, takut dibilang sok nyambung juga.”(line 1287-1297, inforamn TS)
Berdasarkan penjabaran di atas, dapat disimpulkan bahwa dari segi psikologis, informan HN dan IA awal-awal dalam penyesuaian dengan lingkungan baru lebih banyak menutup diri, sehingga kesulitan dalam bergaul dengan orang lain, contohnya informan HN membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan teman.
Sedangkan pada informan TS ia merasa minder dengan orang lain, karena merasa orang lain yang lebih baik darinya. Selain itu ketiga informan yang mempunyai kepribadian yang introvert.
d. Kondisi lingkungan.
Dalam hal ini linkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah mempunyai peranan penting dalam penyesuaian diri seorang individu.
Dari penelitian yang telah dilakukan ditemukan bahwa informan HN dan informan TS dalam keluargannya selalu memberikan pola asuh
78
yang demokrasi. Sehingga mereka bisa memberikan pendapat kepada orang tua, dan saling memahami satu sama lain.
“Eee ya didikan itu sesuai dengan ajaran gereja, kayak mencuri itu tidak baik, kemudian “eh kalau orang lewat itu disapa jangan diam” kemudian pokoknya banyak hal misalnya kayak kalau tamu datang ada apa-apa tolong disiapkan atau dirapikan. Kemudian jangan bohong, bohong ke orang tua itu penting, gereja berdoa jangan lupa Tuhan, misalnya ada tantangan atau cobaan itu pasti cobaan dari Tuhan jangan eee meninggalkan Tuhan karena Tuhan tidak meninggalkan kita.”(line 943-960, informan HN)
“Pola asuhnya bebas aja mau ngomong apa aja.
Kayak demokratis gitu. heem. Tapi kadang juga sering dimarah-marahin, dilarang pacaran.”(line 1502-1508, informan TS)
Sedangkan, informan IA dalam keluarganya dalam pola asuh lebih pada otoriter, dimana orang tua selalu memberikan tututan kepada informan dalam kehidupan sehari-hari dan posesif.
“Kalau mau pergi bermain juga ya dilarang gitu.
sering sekali dilarang, jadi kami harus selalu ada dirumah jadi kenalan saya hanya kakak dan adik saya sama orang tua gitu. jadi enggak pernah kontak. Pernah bersosialisasi tapi pakek lari gitu dirumah, sedikit-sedkit sembunyi pergi lari kerumah teman, tapi tidak lama itu pasti disuruh panggil.”(line 1621-1634, informan IA)
Kemudian, informan HN dan informan TS awal-awal berinteraksi dengan masyarakat, mereka lebih dekat dengan pedagang warung, pemilik kos.
“Kalau masyarakat secara keseluruhan tidak. Paling itu sama mama kos, bapak kos, kemudian sama satu fakultas. Lalu sama teman-teman kos, kemudian ada
79
mbak sama mas pemilik burjo disitu, Cuma beberapa doang sih. Karena gimana ya? memang saya itu susah sosialisasinya. Ya, susah bergaul.” (line 39-50, informan HN)
“Oh pernah sama pemilik burjo depan, itu anaknya aku jadiin testi, anaknya sering main sama aku. Tapi lebih banyak berinterkasi waktu di UKDW. Satu dengan pemilik kos, jadi sering berinteraksi sama ibu kosnya.” (line 539-548, informan TS).
Di sisi lain, informan IA lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat yang ada di lingkungan tempat tinggalnya saat ada kegiatan keagamaan.
“Kalau saya sendiri biasanya saya untuk bercerita ngobrol sama orang-orang itu sama tetangga waktu kami ada kunjungan. Memang sih jarang kunjungannya setiap hari kamis. Itu selalu ada doa di lingkungan kan, dan kami di komunitas itu dibagi tugas.”(line 818-827, informan IA)
Selain itu, informan HN, informan TS, dan informan IA juga mengalami prasangka negatif dari lingkungan tempat tinggalnya seperti warna kulit dan bentuk fisik.
“Sering, saya sempat ditanya pak polisi, “Mas dari Ambon”. Tidak pak. Kan saya itu mirip Ambon dan mirip Papua. Kan masalah kemarin Papua dan Ambon, itu yang jadi masalahya.”(line 685-691, informan HN)
“Dari NTT. Terus mereka hah dari NTT, kok putih emang ada yang putih ya, lah kok cantik, kayak semua jelek, padahal ditempatku kayak gini semuannya.”(line 454-461, informan TS)
“Mereka merasa NTT itu identik dengan papua. NTT itu dekat dengan papua jadi orang papua itu dianggap orang NTT padahal itu papua itu jauh banget gitu, dan beda banget sih menurut ku. Orang-orang merasa bahwa melihat
80
orang-orang dengan ciri-ciri rambut hitam, keriting, terus kasar oh ini pasti orang NTT terus kalau liat orang papua oh kamu dari apa ya dari timur ya, terus mereka merasa bahwa itu sama.”(line 665-681, informan IA).
Kemudian, informan HN dan informan TS juga mengalami perlakuan diskriminasi ketika menyewa kendaraan di lingkungan tempat tinggal mereka.
“Kalau kami..harus minta datanya dimana, tinggalnya dimana, kosnya dimana, KTP, KTM. KTM aja masih diperiksa sampai tahun berapa...jangan sampai KTM yang kaldaluarsa itu.”(line 278-285, informan HN)
“Aku sama temannku ada papua sama NTT. Waktu itu sewa motor, temanku enggak punya KTP punyanya KTP sementara, terus dia panggil aku minta KTP aku, terus mbaknya minta no hp aku, temanku aku, sama no orang tua. Terus temannku juga difoto, kayak kecurigaannya tinggi banget.”(line 583-597, informan TS).
Selain itu, informan HN juga mengalami perlakuan diskriminasi ketika ingin membeli barang.
“Kemarin saya beli baju itu... kalau teman saya, yang dia beli cuma lima puluh ribu. Kalau saya tujuh puluh ribu. Lalu saya nawar-nawar lima puluh ribu tidak bisa, ya udah, saya gak mau juga. Padahal baju itu mereknya sama.”(line 266-274, informan HN).
Kemudian, dua informan mengikuti dan menaati aturan-aturan yang ada di lingkungan masyarakat.
“Aturan, kalau dikos itu dilarang bawa cewek.Tapi saya selalu bilang ke pemilik kos. Jadi kita patuhi aturan yang dibikin. Jadi selalu mematuhi aturan saja.”(line 383-389, informan HN)
81
“Ada sih mas kalau mau keluar itu enggak boleh pakai celana yang pendek, jadi ya ganti pakaian dulu waktu keluar.”(564-569, informan TS)
Selanjutnya, dua informan mengungkapkan bahwa mereka mengikuti kegiatan yang ada di kampus agar dapat menjalin relasi dengan orang lain.
“Saya bergaulakan dari pertama ikut KOMPAIN disitu saya bertemu dengan semua orang, tapi cepat saja saya bergaul dengan mereka. Karena mereka terbuka dengan siapa saja. Jadi ya enak.”(line 1134-1141, informan HN)
“waktu di UKDW itu aku pernah masuk budaya, itu tentang orientasi budaya. Jadi eee di UKDW itu pernah ada. Jadi ada organisasi Manado. NTT, Sulawesi, Kalimantan termasuk dari tempatku Sumba ada organisasinya.”(line 94-103, informan TS)
Berdasarkan pemaparan di atas, informan HN, IA, dan TS mengalami perlakuan diskriminasi dari masyarakat lingkungan tempat tinggal mereka yang baru. Kemudian awal-awal mula berinteraksi informan HN dan TS lebih banyak berinteraksi dengan pemilik kos dan pedagang-pedagang di sekitar lingkungan mereka. Hal ini disebabkan informan masih baru di lingkungan tersebut, sehingga yang paling dekat yang mereka temui hanya pemilik kos untuk saling komunikasi mengenai keadaan di lingkungan dan pedagang karena mereka sering berbelanja untuk kebutuhan mereka. Sedangkan informan IA lebih banyak menemui masyarakat dilingkungannya karena ia sebagai birawati selalu ikut dalam kegiatan rohani, maka ia lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat. Dua informan juga
82
mematuhi aturan-aturan yang ada di lingkungan masyarakat. Selain itu pola asuh dalam keluarga informan HN dan TS lebih pada pola asuh demokrasi, dimana mereka diberi kebebasan dalam mengutarakan pendapat dan sangat dekat dengan keluarganya. Sedangkan pada informan IA keluarga lebih memberikan pola asuh yang otoriter, di mana keluarga informan sangat protektif kepada anak-anaknya.
Kemudian di lingkungan kampus informan mengikuti organisasi yang ada di kampus.
e. Pengaruh agama dan budaya.
Budaya memberikan pengaruh dalam pembentukan watak dan tingkah pada seorang individu, sedangkan agama menjadi patokan seseorang dalam menjalani kehidupan karena mempunyai nilai-nilai, kepercayaan dan praktik. Hal ini dapat menghilangkan ketegangan, konflik dalam kehidupan sehari-sehari.
Dalam penelitian ini ditemukan bahwa informan HN, IA, dan TS mempunyai perbedaan dari segi makanan. Di mana tempat asal mereka, makanan di sana lebih pedas, asin, pahit dan banyak ikan laut dibandingkan dengan kota Yogyakarta yang lebih manis dan sulit untuk mendapatkan makanan laut.
“Pasti itu ada. Kalau di tempat saya itu sukanya yang pedas, lalu pahit. Kalau disini sukanya yang manis-manis ya. Dan pedasnya itu pedas manis ya bukan pedas pedas tok. Lalu kalau di daerah saya itu hanya pedas tok. Jadi gak manis-manis . Lalu disini kayak contohnya daun papaya itu manis, kalau disana daun papaya itu pahit. Itu yang saya suka dari sana
83
daun papaya itu pahit. Kalau disini daun papaya lebih manis.”(line 138-152, informan HN).
“Kalau makanan saya tidak terlalu mempersoalkan sebenarnya makananya berbeda sekali, kadang-kadang saya cuma merasa daun papaya rasanya manis ya, disana daun papaya direbus saja langsung disajikan dengan sambal itu makanannya paling nikmat menurut kami, kadang ditumis saja. Tidak perlu pokoknya campur dengan daun ubi begitu taruh garam saja, itu makanan yang sangat menyenangkan.”(line 550-566, informan IA)
“Makannnya ternyata banyak manis, terus dari dulu susah banget dapat makanan laut, ikan disini bukan ikan laut, paling bawal, nila. Kalau disana itu kayak makanan laut itu sehari-hari ikan-ikan. Ikan disini rasanya beda dengan yang ada disana, disini lebih manis sama daging babinya susah. Kadang kalau makan daging babi disini beda sama tempatku. Lebih enak disana, soalnya lidahku nggak terbiasa.”(line 117-133, informan TS)
Selain itu, informan HN, TS, dan IA juga mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan teman di kampus karena perbedaan dialog dan bahasa. Sehingga membuat ketiga informan mencoba untuk belajar bahasa jawa dengan bertanya kepada temannya.
“Itu biasanya dari teman dikelas. Misalnya, kalau saya belum makan Bahasa Jawanya apa? Oh urung mangan. Ora.... jadi kayak gitu. Lalu dari mama kos karena mama kos itu tahunya Bahasa Jawatok, jadi bagaimana pun kita menanggapi dengan engeh atau dalem gitu. Kadang dari burjo juga. Mas burjo itu, sama istrinya juga kalau ngomong sama saya dengan Bahasa Jawa.”(line 117-131, informan HN)
“Saya itu orang nya pemalu juga untuk bertanya, saya kadang dengar aja, pura-pura dengar apa yang orang lain cerita, terus oh maksudnya ini, oh teman-teman kalau ngomong ini. kalau ada beberapa orang yang sudah akrab dengan saya dan menurut saya dia bisa bahasa jawa sedikit saya nanya yang diomong
84
dosen maksudnya apa. Oh begini begitu suster, oh kayak gitu. Jadi sedikit-sedkit saya mulai mengerti bahasa jawa.”(line 698-714, informan IA).
“Soalnya teman-temanku pakai bahasa jawa kan, kalau teman-temanku yang dekat ya ngerti aku pakai bahasa Indonesia. Tapi lebih banyak mereka itu pakai bahasa jawa, tau-taunya aku cuma diam aja, soalnya aku enggak tau mereka ngomong apa kayak gitu.”(line 217-227, informan TS)
Kemudian, informan HN, TS, dan IA juga mempunyai pandangan yang sama mengenai masyarakat Jawa. Mereka merasa orang Jawa sangat halus, saling menghargai dan menghormati, serta berperilaku sopan.
“Kalau pandangan saya tentang masyarakat disini....apa ya, sangat menghargai budaya dan sopan santunya tinggi sekali.”(line180-185, informan HN)
“Kalau kebiasaan ada itu kebiasaan, saya taunnya waktu di NTT itu orang jawa itu orang yang halus, budaya mereka halus, mereka itu tidak bisa ngomong kasar-kasar, mereka dengar omongan kasar mereka terkejut, dan juga suster kami yang pulang dari jawa mereka bilang kalau teman kami bilang ya buka ini, mereka terkejut aduh suster, jadi saya itu merasa bahwa oh berarti kita kejawa itu harus ngomongnya sopan bahasa baik, gitukan sehingga pas saya datang kesini kalau mau mengungkapkan sesuatu dengan nada yang keras wah jangan.”(line 511-532, informan IA)
“Disini pada saat aku tinggal itu orang-orangnya lembut-lembut, lebih halus kalau ngomong, terus suka menyapa gitu, kayak permisi,walau gak kenal pasti begitu. Terus kalau mereka marah itu lembut banget padahal keliatan marah. Tapi enggak merasa dimarah gitu sama orang jawa.”(line 138-150, informan TS)
Selanjutnya, peraturan-peraturan yang ada di lingkungan tempat tinggal, informan TS sangat memahami etika dan norma yang ada di
85
dalam masyarakat. Sehingga ketika informan TS ingin keluar dari kos, ia akan mengenakan pakaian yang pantas dan sesuai dengan lingkungan. Sama halnya dengan informan HN yang menganggap jika di lingkungan masyarakat boleh berpakaian bebas namun harus tetap menghormati.
“Kalau disini menurut saya sangat menjunjung kebebasan. Kamu mau pakai model baju apa, silahkan. Mau bermodel apa saja silahkan. Itu terserah kamu. Yang penting kamu bisa menghargai orang lain dan menghormati orang lain.”(line 194-202, informan HN)
“Ada sih mas kalau mau keluar itu enggak boleh pakai celana yang pendek, jadi ya ganti pakaian dulu waktu keluar.”(line 565-569, informan TS)
Kemudian ada perbedaan dialeg antara NTT dengan Jawa. Seperti yang dialami oleh informan HN, IA, dan TS. Saat berbicara dengan orang baru mereka masih membawa dialeg asal yang keras dan kasar.
Selain itu, ada perbedaan arti makna dalam kata bahasa.
“Pertama itu saya susah....sumpah! Kan apa ya orang timur itu ngomongnya keras, kuat, lalu tegas. Kemarin pengalamannya itu, saya kan pernah tes ikut SBMPTN di UI Sunan Kalijaga. Jadi pertama kan, disini kalau panggil mbak kan itukan mbaaa. Aku panggilnya mbak! Mbaknya kaget, sumpah.”(line 89-101, informan HN)
“Kalau dialog kami biasanya ngomong itu cepat-cepat tapi gimana ya, ya beda, menurutku beda logatnya kayak gitu kan. Kalau disana ya kadang-kadang terpotong-potongkan kalau ngomong. Hai pi makan kalau itu saya ngerti, artinya ayo mari kita makan, kalau disini ya gimana ya kalau disini yang saya bingug itu yo jok ngpo, itu apa artinya. Mereka ngomong apa gitu, bahasa jawa tetapi ada juga kadang pakai bahasa Indonesia mungkin itu karena
86
dialog dan gaya bahasa, membicaraknnya kan beda.”(line 428-477, informan IA)
“Pernah ini mas pengalaman aku sama temanku tidak sengaja senggol motor pas di Jalan Magelang. Dah tu diteriakin kan bajingan pengen ketawa padahal itu kan marahkan kalau orang jawa. Tapi kalau tempatku
“Pernah ini mas pengalaman aku sama temanku tidak sengaja senggol motor pas di Jalan Magelang. Dah tu diteriakin kan bajingan pengen ketawa padahal itu kan marahkan kalau orang jawa. Tapi kalau tempatku