• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan

Menurut Djarijah (1995), untuk mendapatkan hasil kultur skeletonema costatum yang berkualitas baik, maka diperlukan beberapa factor yang dapat mendukung keberhasilan lingkungan kultur tersebut. Faktor-faktor yang mendukung tersebut diantanya adalah factor biologis, kimia, fisika, dan keberhasilan lingkungan kultur. Faktor biologis meliputi penyediaan bibit yang bermutu dan jumlah yang mencukupi. Faktor kimia adalah unsur hara dalam media pemeliharaan harus sesuai dengan kebutuhan jenis plankton yang akan dikultur. Faktor fisika yang mempengaruhi antara lain suhu, salinitas, pH, dan intensitas cahaya.

A. Suhu

Suhu berperan dalam pengatur proses metabolisme organisme dalam perairan. Suhu mempengaruhi suatu stadium daur hidup organisme dan merupakan faktor pembatas penyebaran suatu species. Dalam mempertahankan kelangsungan hidup dan reproduksi secara ekologis perubahan suhu menyebabkan perbedaan komposisi dan kelimpahan skeletonema costatum (Martosudarmo dan Wulani, 1990)

Skeletonema costatum merupakan diatom yang bersifat eurythermal yang mampu tumbuh pada kisaran suhu 3-30oC. Untuk pertumbuhan optimal, alga ini membutuhkan kisaran suhu antara 25-30 oC. Pada kisaran suhu 15-34 oC masih

9

dapat tumbuh dengan baik. Skeletonema costatum juga bersifat eurihaline, hidup di laut, pantai dan muara sungai (Isnasetyo dan Kurniastuty 1995).

Dalam proses aerasi, selain terjadi proses pemasukan gas-gas yang diperlukan dalam proses potositesis juga akan timbul gesekan antara gelembung udara dengan moleku-molekul air sehingga terjadi sirkulasi air. Proses sirkulasi air ini sangat penting untuk mempertahankan suhu tetap homogen serta penyebaran penyinaran dan nutrient tetap merata. Sirkulasi juga dapat mencegah pengendapan plankton dan menimbulkan getaran air yang menyerupai getaran di alam (Priyambodo, 2003, Mudjiman, 2004).

B. Salinitas

Salinitas merupakan salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi tekanan osmotik antara protoplasma sel organik dengan lingkungannya. Kadar garam yang berubah-ubah dalam air dapat menimbulkan hambatan bagi kultur Skletonema costatum. Skeletonema costatum tumbuh optimal pada salinitas 25-29 ppt (Djarijah, 1995). Kisaran nilai salinitas yang bisa ditoleransi oleh Skeletonema costatum antara 15-34 ppt dan optimalnya adalah 25-29 ppt. Karena jenis ini kebanyakan hidup di sekitar permukaan pantai dengan perairan bersifat payau dimana salinitasnya tidak terlalu tinggi. Salinitas yang terlalu tinggi atau rendah akan menganggu proses metabolisme sel sehingga pertumbuhan Skeletonema costatum kurang bagus (Natasasmita, dkk 2012).

C. Derajat Keasaman (pH)

10

Kebanyakan sel termasuk phytoplankton sangat peka terhadap perubahan pH media yang mengelilinginya. Kisaran pH untuk kebanyakan plankton berada pada nilai 7-9 dengan kisaran optimum 8,2-8,7. Kestabilan pH sangat diperlukan untuk pertumbuhan Phytoplankton yang maksimal. Peningkatan densitas dapat berakibat pada turunnya nilai pH, namun dengan bantuan aerasi dapat meningkatkan nilai pH pada nilai 9 selama pemeliharaan. Derajat keasaman (pH) merupakan salah satu parameter yang dapat menentukan produktivitas suatu perairan. Pada saat peningkatan pH melewati titik ambang, maka kecepatan tumbuh Phytoplankton akan menurun. Derajat keasaman juga berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan alga. Beberapa alga melakukan fotosintesis maksimum pada pH 7,0-8,0 (Priyambodo dan Triwahyuningsih, 2003).

D. Cahaya

Cahaya matahari yang sampai di permukaan laut terdiri dari suatu spektrum, berbagai gelombang cahaya. Intensitas dan spektrum cahaya matahari merupakan faktor pembatas terhadap pertumbuhan dan proses fotosintesis di laut dan secara tidak langsung juga berpengaruh terhadap produktifitas primer. Produktifitas primer adalah banyaknya energi radiasi yang diikat atau tersimpan dalam aktivitas fotosintesis dan kemosintesis dari organisme produsen dalam bentuk substansi organik yang dapat digunakan sebagai bahan makanan (Priyambodo dan Triwahyuningsih, 2003).

Pertumbuhan Skeletonema costatum sangat tergantung pada intensitas lamanya penyinaran dan panjang gelombang cahaya yang mengenai sel-sel

11

tanaman selama fotosintesis. Biasanya, dalam ruang kultur intensitas cahaya berkisar antara 500-5000 lux. Keadaan gelap dan terang juga harus dikontrol.

Kultur penyediaan bibit, intensitas cahaya yang diberikan berkisar antara 500-1000 lux, biasanya 12 jam dalam keadaan terang dan 12 jam dalam keadaan gelap.

Kultur massal diruang terbuka, intensitas cahaya lebih baik diberikan dibawah 10.000 lux (Isnantyo dan Kurniastuty, 1995).

Sumber cahaya selain dari matahari langsung dapat pula dilakukan manipulasi dengan menggunakan cahaya lampu neon dengan lama penyinaran minimum 18 jam cahaya/hari (Martosudarmo dan Wulani, 1990). Menurut Lavens dan Sorgeloss, (1996 dalam Mulyati, dkk 2004), bahwa kebutuhan intensitas cahaya ini tergantung pada kondisi tempat kultur dan kepadatan sel.

Intensitas cahaya di ruang kultur diatur pada nilai 2000 Lux. Pada kultur skala laboratorium hanya dibutuhkan 1000-5000 Lux.

Pertumbuhan Skeletonema costatum sangat tergantung pada intensitas lamanya penyinaran dan panjang gelombang cahaya yang mengenai sel-sel tanaman selama fotosintesis. Biasanya, dalam ruang kultur intensitas cahaya berkisar antara 500-5000 lux. Keadaan gelap dan terang juga harus dikontrol.

Kultur penyediaan bibit, intensitas cahaya yang diberikan berkisar antara 500-1000 lux, biasnya 12 jam dalam keadaan terang dan 12 jam dalam keadaan gelap.

Kultur missal diruang terbuka, intensitas cahaya lebih baik diberikan dibawah 10.000 lux (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995).

E. Aerasi

12

Aerasi diperlukan terutama untuk pengadukan media sehingga tidak terjadi stratifikasi suhu pada air media serta pupuk yang diberikan bisa diterima secara merata. Aerasi juga ibutuhkan sebagai akselerasi pamasukan udara terutama CO2 dan O2. Akselerasi yang baik untuk Skeletonema costatum tidak terlalu besar, karena apabila aerasi terlalu besar maka akan emutuskan filament sehingga skeletonema costatum akan hancur (Natasasmita, dkk 2012).

F. Nutrien

Skeletonema costatum untuk kehidupannya memerlukan bahan-bahan organik dan anorganik yang diambil dari lingkungannya. Bahan-bahan tersebut dinamakan nutrien, sedangkan penyerapannya disebut nutrisi. Fungsi utama bahan makanan (nutrien) adalah sebagai sumber energi dan pembangun sel. Pada budidaya Skeletonema costatum sangat dibutuhkan berbagai macam senyawa organik baik senyawa unsur hara makro (Nitrogen, Fosfor, Besi, Sulfat, magnesium, kalsium dan kalium) dan unsur hara mikro (Tembaga, Mangan, Seng, Boron, Molibdenum dan cobelt) (Djarijah, 1995).

Menurut Isnansetyo dan Kurniastuti (1995), pertumbuhan suatu jenis Phytoplankton sangat erat kaitanya ketersedian unsur hara dan mikro serta dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan phytoplankton antara lain: Intensitas cahaya, suhu dan pH air. Pada kultur phytoplankton sangat dibutuhkan berbagia macam seyawa anorganik baik sebagai macam senyawa anorganik baik sebagai hara makro ( N, P, K, S, Na, Si, dan Ca), dan hara mikro (Fe, Zn, Mn, Ci, Mg, Mo, dan Ca).

13 2.4. Cairan Rumen

Ternak ruminansia memiliki keunikan dan keunggulan tersendiri bila dibandingkan dengan ternak ternak yang lain, karena memiliki empat bagian lambung yaitu rumen, retikulum, omasum dan abomasum. Rumen merupakan tempat pencernaan fermentatif karena sejumlah besar mikroorganisme yang dapat menggunakan serat (selulosa dan polisakarida lain) dalam jumlah banyak yang dikonversi menjadi produk yang berkualitas tinggi. Keunikan dan keunggulan ini selalu dijadikan sebagai acuan penelitian oleh para ahli nutrisi untuk mengevaluasi berbagai aspek yang terkait dengan konsumsi, pencernaan, penyerapan, metabolisme, biosintesis, energi, pertumbuhan dan reproduksi (Tiven, 2012).

Perut hewan ruminansia terdiri atas rumen, reticulum, omasum dan abomasum. Volume rumen pada ternak sapi dapat mencapai 100 liter atau lebih dan untuk domba berkisar 10 liter (Putnam, 1991). Bagian cair dari isi rumen sekitar 8-10% dari berat sapi yang dipuasakan sebelum dipotong. Cairan rumen merupakan limbah yang diperoleh dari rumah potong hewan yang dapat mencemari lingkungan apabila tidak ditangani dengan baik. Bagian cair dari isi rumen kaya akan protein, vitamin B kompleks serta mengandung enzim-enzim hasil sintesa mikroba rumen (Gohl, 1981 dalam Afdal dan Erwan, 2006).

Menurut Putnam (1991), menyatakan bahwa cairan rumen mengandung enzim alfa amylase, galaktosidase, hemiselulosa dan selulosa. Rumen merupakan tabung besar untuk menyimpan dan mencampur ingesta bagi fermentasi mikroba.

Kerja ekstensif bakteri dan mikroba terhadap zat-zat makanan menghasilkan

14

produk akhir yang dapat diasimilasi. Kondisi dalam rumen adalah anaerobik dengan temperature 38-420C. tekanan osmosis pada rumen mirip dengan tekanan aliran darah, pH dipertahankan oleh adanya absorpsi asam lemak dan amoniak.

Saliva yang masuk kedalam rumen berfungsi sebagai buffer dan membantu mempertahankan pH tetap pada 6,8. Saliva bertipe cair, membuffer asam-asam, hasil fermentasi mikroba rumen. Selain itu juga saliva merupakan zat pelumas dan surfactant yang membantu didalam proses mastikasi dan ruminasi (Arora, 1989).

Pada dasarnya isi rumen merupakan bahan-bahan makanan yang terdapat dalam rumen belum menjadi feces dan dikeluarkan dari dalam lambung rumen setelah hewan dipotong. Kandungan nutriennya cukup tinggi, hal ini disebabkan belum terserapnya zat-zat makanan yang terkandung didalamnya sehingga kandungan zat-zatnya tidak jauh berbeda dengan kandungan zat makanan yang berasal dari bahan bakunya.

Anggorodi (1979), menyatakan bahwa ternak ruminansia dapat mensintesis asam amino dari zat-zat yang mengandung nitrogen yang lebih sederhana melalui kerjanya mikroorganisme dalam rumen. Mikroorganisme tersebut membuat zat-zat yang mengandung nitrogen bukan protein menjadi protein yang berkualitas tinggi. Mikroorganisme dalam rumen terdiri dari kelompok besar yaitu bakteri dan protozoa, temperatur rumen 39 sampai 40 0C, pH 7,0 sehingga memberikan kehidupan optimal bagi mikroorganisme rumen.

Sekitat 80% Nitrogen dijumpai dalam tubuh bakteri rumen berupa protein dan 20

% berupa asam nukleat. Berdasarkan analisa berbagai rumen maka kadar

15

berbagai asam amino dalam isi rumen diperkirakan 9-20 kali lebih besar daripada dalam makanan.

III. METODE PENELITIAN

3.1. Waktu dan Tempat

Kegiatan penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2014 di Laboratorium Pakan Alami. Balai Budidaya Air Payau Takalar, Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar, Propinsi Sulawesi Selatan.

3.2. Alat dan Bahan

Tabel 1. Alat-alat yang digunakan selama penelitian.

No Alat Spesifikasi Kegunaan

16

Tabel 2. Bahan yang digunakan dalam penelitian.

No Bahan Spesifikasi Kegunaan

1

17 A. Teknik pengambilan Cairan Rumen

Isi rumen sapi diambil dari rumah pemotongan hewan (RPH) Sungguminasa Gowa. Cairan rumen sapi diambil dari isi rumen sapi dengan cara filtrasi (penyaringan dengan kain katun) dibawah kondisi dingin. Cairan rumen hasil filtrasi disentrifuse dengan kecepatan 10.000 x g selama 10 menit pada suhu 4 0C untuk memisahkan supernatan dari sel-sel dan isi sel mikroba (Lee et al.

2000). Supernatan kemudian diambil sebagai sumber enzim kasar.

B. Persiapan Alat dan Air Media

Wadah yang digunakan pada penelitian ini terlebih dahulu distrilisasi menggunakan kaporit 10 ppm, dan disikat merata pada bagian permukaan wadah.

Pencucian peralatan aerasi dilakukan dengan perendaman kaporit 100 ppm selama 24 jam, pengeringan peralatan aerasi dilakukan selama 1-2 hari. Peralatan kultur berupa gelas ukur, pipet dan wadah penelitian terlebih dahulu dicuci bersih dengan deterjen dan air tawar kemudian dikeringkan dan disterilisasi menggunakan autoclave atau oven. Air yang digunakan dalam kultur Skeletonema costatum disterilisasi menggunakan larutan kaporit 10 ppm minimal selama 24 jam. Selama proses sterilisasi air, aerasi tetap dijalankan dengan posisi keluaran udara maksimal. Air yang telah dikaporit sebelum digunakan terlebih dahulu dinetralkan dengan natrium thiosulfat 5 ppm. Air dapat digunakan setelah dilakukan test yang menunjukkan kandungan Chlorine sebesar 0 ppm.

C. Aplikasi Cairan Rumen Ke Skeletonema costatum

18

Air laut yang sudah steril dengan kadar garam 28 ppt dimasukkan kewadah kultur sebanyak 900 ml. Air media kultur diberikan cairan rumen sesuai dengan dosis yang digunakan masing-masing untuk perlakuan A sebesar 0,5 ml/ltr, perlakuan B sebesar 1 ml/ltr dan perlakuan C sebesar 1.5 ml/ltr, kemudian aerasi diberikan dan ditunggu beberapa saat agar cairan rumen tercampur secara merata terlebih dahulu sebelum bibit Skeletonema costatum dimasukkan. Jumlah bibit Skeletonema costatum yang diberikan sebanyak 100 ml. Untuk memperoleh cahaya dalam kegiatan ini maka dipasang lampu neon 50 watt pada rak kultur sebagai pengganti cahaya matahari di dalam ruangan yang ber-AC.

D. Pengamatan Populasi Skeletonema costatum

Pengamatan populasi Skeletonema costatum dengan menghitung kepadatan yang dilakukan setiap hari sekali. Untuk menghitung kepadatannya digunakan alat Haemacytometer dengan bantuan mikroskop dan Hand Counter.

Teknik penghitungan dengan cara sebagai berikut : Sampel yang akan dihitung diambil sebanyak 1 ml dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Menambahkan 9 ml air laut steril, dikocok hingga homogen. Meneteskan air sampel di atas permukaan Haemacytometer lalu ditutup dengan Cover glass. Menghitung jumlah sel pada 4 kotak (yang masing-masing kotak di dalamnya terdapat 16

19 n = Kepadatan Fitoplankton

3.4. Perlakuan dan Rancangan Penelitian

Perlakuan yang dicobakan adalah penggunaan cairan rumen sebagai pupuk terhadap pertumbuhan pakan alami skeletonema costatum. Rancangan penelitian yang dilakukan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga dosis perlakuan dan satu kontrol sehingga jumlah satuan percobaan sebanyak 12 buah.

Kontrol : Tanpa cairan rumen Perlakuan A : 0,5 ml/liter

Perlakuan B : 1 ml/liter Perlakuan C : 1,5 ml/liter

A2 C1 C

1

B1 K

B2 A1 C1 K

C2 B3 A3 K

C3

20

Gambar 3. Penempatan unit percobaan setelah diacak.

3.5. Peubah Yang Diamati

Pertumbuhan relatif (%) dihitung dengan menggunakan rumus Sunyoto dan Mustahal (2004).

Nt – No

N = x 100 % No

Dimana :

N = Pertumbuhan relatif populasi No = Jumlah populasi awal

Nt = Jumlah populasi pada waktu

Sebagai data penunjang dilakukan pengukuran parameter kualitas air yang meliputi : suhu, salinitas, DO, dan pH. Pengukuran kualitas air dilakukan setiap hari.

3.6. Analisis Data

Untuk mengetahui penggunaan cairan rumen sebagai pupuk pertumbuhan pakan alami Skeletonema costatum, maka dianalisis menggunakan analisis sidik ragam pada tingkat kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT) untuk melihat perbedaan antar perlakuan (Gasperz, 1991).

21

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Pertumbuhan Relatif Skeletonema costatum

Pertumbuhan fitoplankton dalam media kultur dapat ditandai bertambah besarnya ukuran sel atau bertambahnya banyak jumlah sel. Semua perlakuan menunjukkan bahwa pertumbuhan dengan ditandai terjadinya peningkatan kepadatan setiap harinya.

Tabel 3. Rata-rata kepadatan Skeletonema costatum selama penelitian.

Perlakuaan Pertumbuhan Relatif Skeletonema costatum (%)

2 3 4 5 6 7

A (0.5 ml/ltr) 0.20 0.35 0.45 0.29 0.08 -0.22

22

B ( 1 ml/ltr) 0.31 0.35 0.47 0.74 0.38 -0.15 C ( 1.5 ml/ltr) 0.47 0.65 0.85 1.17 0.44 0.15

Kontrol 0.18 0.47 1.02 1.48 2.30 1.52

Berdasarkan Tabel 3 menunjukkan bahwa pertumbuhan relatif Skeletonema costatum tertinggi diperoleh pada perlakuan C sebesar 0.15 %, perlakuan B sebesar 0.15 % dan terendah diperoleh pada perlakuan A sebesar -0.22 %, akan tetapi lebih tinggi kontrol. Hasil analisis ragam pada (Lampiran 3) menunjukkan bahwa penggunaan cairan rumen sebagai pupuk berpengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap pertumbuhan Skeletonema costatum. Sedangkan hasil uji beda nyata terkecil pada (Lampiran 4) menunjukkan bahwa pertumbuhan Skeletonema costatum pada kontrol berbeda dengan perlakuan A, B dan C.

Perlakuan C berbeda dengan perlakuan A dan B, sedangkan perlakuan A tidak berbeda dengan perlakuan B. Untuk lebih jelasnya pertumbuhan relatif skeletonema costatum selama pemeliharaan dapat dilihat pada Gambar dibawah ini.

23

Gambar 4. Grafik pertumbuhan relatif Skeletonem costatum.

Pada Gambar 4 menunjukkan bahwa pada hari 2 dan 3 setiap perlakuan mengalami pertumbuhan, akan tetapi pertumbuhannya masih lambat. Pada hari ke 4 pada perlakuan A mencapai puncak pertumbuhannya relatifnya sebesar 0.45%. Perlakuan B dan C mencapai puncak pertumbuhannya masing-masing pada hari ke 5 dengan pertumbuhan relatifnya sebesar 0.74% dan 1.17%.

Sedangkan pada kontrol puncak pertumbuhannya relatifnya pada hari ke 6 sebesar 2.30 %.

Setelah setiap perlakuan mencapai puncak pertumbuhan, perlahan-lahan pertumbuhannya mengalami penurunan kembali. Adanya penurunan pertumbuhan diduga pada fase ini adalah fase kematian yang mana tingkat kematian lebih tinggi dari tingkat perkembangan. Menurut Martosudarmo dan Wulani (1990 dalam Anonim 2009), pertumbuhan fitoplankton secara umum ditandai dengan lima

-0.50

24

tahap terpisah yaitu : Tahap Induksi dimana tahap adaptasi dengan lingkungan yang baru, populasi, tidak berubah untuk sementara waktu. Tahap eksponensial ditandai dengan pembiakan sel yang cepat dan konstan. Tahap perlambatan adalah pertumbuhan kecepatan tumbuh mulai melambat. Tahap stasioner yaitu terjadinya penurunan kecepatan perkembangan secara bertahap. Tahap Kematian adalah tingkat kematian lebih tinggi dari tingkat perkembangan.

Pertumbuhan relatif Skeletonema costatum tertinggi diperoleh pada kontrol, hal ini disebabkan karena bibit Skeletonema costatum yang digunakan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya sehingga pertumbuhan maksimal dan penggunaan pupuk kimia dapat memacu pertumbuhan yang tinggi. Karena pupuk kimia mengandung unsur nutrient yang lengkap. Menurut Isnansetyo dan Kurniastuti (1995), pertumbuhan suatu jenis Phytoplankton sangat erat kaitanya ketersedian unsur hara dan mikro serta dipengaruhi oleh kondisi lingkungan.

Tingginya pertumbuhan relatif Skeletonema costatum yang diperoleh pada perlakuan C (1.5 ml/liter) diduga karena dosis cairan rumen yang digunakan tinggi dibanding dengan perlakuan A dan B, hal ini berdampak pada nutrient yang di kandung cairan rumen tinggi sehingga kepadatan yang dihasilkan tinggi.

Menurut Putnam (1991), menyatakan bahwa cairan rumen mengandung enzim alfa amylase, galaktosidase, hemiselulosa dan selulosa. Selain itu diduga disebabkan karena semakin besar dosis yang digunakan cairan rumen, semakin besar pula kandungan vitamin yang dihasilkan dan sebaliknya semakin kecil dosis cairan rumen yang digunakan semakin kecil juga kandungan vitamin yang dihasilkan, sehingga berdampak pada pertumbuhan relatif yang tinggi. Hal ini

25

dipertegas oleh Gohl, 1981 dalam Afdal dan Erwan (2006), mengatakan bahwa bagian cair dari isi rumen kaya akan protein, vitamin B kompleks serta mengandung enzim-enzim hasil sintesa mikroba rumen. Lebih lanjut Danikusumah dkk (1989 dalam Rostini, 2007), mengatakan bahwa vitamin B penting untuk merangsang pertumbuhan alga walaupun diperlukan dalam jumlah yang sedikit.

Rendanya pertumbuhan pada perlakuan B (1 ml/ltr) diduga disebabkan karena dosis cairan rumen yang digunakan rendah sehingga nutrient dan vitamin dalam media pemelihraan rendah. Hal tersebut berdampak pada rendahnya pertumbuhan Skeletonema costatum yang dihasilkan. Menurut Isnansetyo dan Kurniastuty (1995), bahwa dalam sebuah kultur, dimana persediaan nutrien dan cahaya tidak terbatas, biomas alga bertambah per waktu secara proposional.

Jumlah masa sel meningkat seiring terhadap waktu. Sel-sel membelah pada laju yang konstan. Keadaan ini sangat penting dalam menentukan keadaan kultur.

Pertumbuhan Skeletonema costatum yang terendah diperoleh pada perlakuan A (0.5 ml/ltr) hal ini diduga dosis cairan rumen yang digunakan sangat rendah, menyebabkan pertumbuhan Skeletonema costatum yang didapatkan rendah. Dari hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa semakin besar dosis cairan rumen yang digunakan semakin besar juga pertumbuhan relatif yang diperoleh dan sebaliknya semakin kecil dosis yang digunakan semakin kecil pertumbuhan relatifnya. Menurut Natasasmita, dkk (2012), mengatakan bahwa nutrient, vitamin dan salinitas yang dikandung dalam media kultur dapat

26

menentukan perkembangan sel fitoplankton, serta kepadatan Skeletonema costatum akan meningkat jika nutrient tinggi dan menurun jika nutrien rendah.

Dijelaskan oleh Putnam (1991), menyatakan bahwa cairan rumen mengandung enzim alfa amylase, galaktosidase, hemiselulosa dan selulosa.

Dengan demikian penggunaan cairan rumen yang dosis lebih tinggi dapat memacu pertumbuhan Skeletonema costatum yang lebih besar, karena diduga enzim ini yang mempengaruhi cepat lambatnya untuk pertumbuhan Skeletonema costatum.

Lebih lanjut dikatakan Jovanovic dan Cuperlovic (1977 dalam Murni, 2014), menyatakan mikrobia rumen dapat meningkatkan nilai gizi bahan makanan karena adanya protein mikrobia sehingga akan meningkatkan daya cerna. Selain itu rumen diakui sebagai sumber enzim pendegradasi polisakarida. Polisakarida dihidrolisis di rumen disebabkan pengaruh sinergis dan interaksi dari kompleks mikroorganisme, terutama sellulase dan xilanase (Trinci et al.,1994).

4.2. Kualitas Air

Kualitas air merupakan faktor lingkungan yang sangat mempengaruhi pertumbuhan Skeletonema costatum antara lain suhu, pH air, salinitas, dan oksigen terlarut. Nilai kisaran parameter kualitas air selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Parameter kualitas air selama penelitian.

27 pertimbangan bahwa kisaran suhu yang optimal bagi pertumbuhan Skeletonema costatum berkisar antara 25-30 oC, bahkan ada kisaran suhu 15-34 oC masih dapat tumbuh dengan baik (Isnasetyo dan Kurniastuty 1995).

Hasil pengukuran salinitas pada air media penelitian berkisar antara 27-28 ppt. Dimana pada kisaran ini masih layak untuk pertumbuhan Skeletonema costatum. Menurut Djarijah (1995), bahwa Skeletonema costatum tumbuh optimal pada salinitas 25-29 ppt. Lebih lanjut Natasasmita, dkk (2012), bahwa kisaran salinitas yang bisa ditoleransi oleh Skeletonema costatum berkisar antara 15-34 ppt.

Derajat keasaman (pH) setiap perlakuan selama penelitian berkisar antara 8,20-8,53. Kondisi pH ini masih layak untuk pertumbuhan Skeletonema costatum.

Menurut Priyambodo dan Triwahyuningsih (2003), bahwa kestabilan pH sangat diperlukan untuk pertumbuhan Phytoplankton yang maksimal. Kisaran pH untuk kebanyakan plankton berada pada nilai 7-9 sedangkan untuk pertumbuhan Skeletonema costatum kisaran optimum 8,2-8,7.

28

Hasil pengukuran kisaran oksigen terlarut setiap perlakuan selama penelitian berkisar antara 5.06-5,74. Nilai kisaran ini masih layak bagi pertumbuhan Skeletonema costatum. Menurut Priyambodo dan Triwahyuningsih.

(2003), untuk mempertahankan kelangsungan hidup fitoplankton, minimal terdapat kandungan oksigen terlarut sebesar 5 ppm. Sedangkan untuk pertumbuhan optimal Skeletonema costatum berkisar antara 5-8 ppm.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

29

Berdasarkan hasil penelitian penggunaan cairan rumen sebagai pupuk terhadap pertumbuhan pakan alami skeletonema costatum dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Puncak kepadatan pada perlakuan A diperoleh pada hari ke-4. Perlakuan B dan C puncak kepadatan masing-masing diperoleh pada hari ke-5 dan pada kontrol puncak kepadatannya pada hari ke-6.

2. Pertumbuhan relatif Skeletonema costatum tertinggi diperoleh pada kontrol sebesar 1.52 %, disusul pada perlakuan C sebesar 0.15 %, perlakuan B sebesar -0.15 % dan terendah diperoleh pada perlakuan A sebesar -0.22 %.

3. Parameter kualitas air yang terukur masih dalam batas yang layak bagi pertumbuhan Skeletonema costatum.

5.2. Saran

Untuk peningkatan pertumbuhan Skeletonema costatum yang maksimal, disarankan penggunaan cairan rumen dosis 1.5 ml/ltr.

DAFTAR PUSTAKA

Afdal, M dan E. Erwan. 2006. Penggunaan Feses Sebagai Pengganti Cairan Rumen Pada Teknik In Vitro : Estimasi Kecernaan Bahan Kering dan

30

Bahan Organik Beberapa Jenis Rumput. Fakultas Peternakan Universitas Jambi Kampus Mandalo Darat Jambi.

Arora, S.P. 1989. Pencernaan Mikroba Pada Ruminansia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Djarijah, A. S. 1995. Pakan Ikan Alami. Kanisius. Yogyakarta.

Isnansetyo, A. dan Kurniastuti. 1995. Teknik Kultur Phytoplankton dan Zooplankton. Pakan Alami Untuk Pembenihan Organisme Laut. Penerbit Kanisus. Yogyakarta.

Martosudarmo dan Wulani (1990), Petunjuk Pemeliharaan Kultur Murni dan Massal Mikroalga. Proyek Pengembangan Budidaya Udang Situbondo.

Situbondo.

Mudjiman A. 2004. Makanan Ikan Edisi Revisi. Jakarta: Penebar Swadaya.

Mulyati, S, M. Syaihuddin dan H. Batubara. 2004. Pengarauh Variasi Pupuk dan Densitasa Awal Terhadap Pertumbuhan Chlorella sp. Laporan Tahunan.

Balai Budidaya Air Payau Takalar. Departemen Kelautan Dan Perikanan.

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.

Natasasmita, D., D. P. Yudistira. F. Febyanto, N. Ridho, Dan S. Rusmiati. 2012.

Pengamatan Pertumbuhan Mikroalga Skeletonema Costatum Pada Salinitas Yang Berbeda.

Putnam, P.A.1991.Handbook of Animal Science.Academic Press, San Diego.

Putnam, P.A.1991.Handbook of Animal Science.Academic Press, San Diego.

Dokumen terkait