• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

2.1.7. Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Pertanian

Suatu output produksi akan dipengaruhi oleh beberapa faktor produksi. Dalam sektor pertanian, terdapat beberapa faktor produksi yang dapat mempengaruhi produksi yaitu sebagai berikut.

2.1.7.1. Pengaruh Luas Lahan Terhadap Produksi Pertanian

Mubyarto (1987), lahan sebagai salah satu faktor produksi yang mempunyai kontribusi yang cukup besar terhadap usahatani. Besar kecilnya produksi dari usahatani anatara lain dipengaruhi oleh sempitnya lahan yang digunakan, Meskipun demikian, Soekartawi (1993) menyatakan bahwa bukan

berarti semakin luas lahan pertanian maka semakin efisien lahan tersebut. Bahkan lahan yang sangat luas dapat terjadi inefisiensi disebabkan oleh :

1. Lemahnya pengawasan terhadap penggunaan faktor-faktor produksi seperti bibit, pupuk, obat-obatan dan tenaga kerja.

2. Terbatasnya persediaan tenaga kerja disekitar daerah itu yang pada akhirnya akan mempengaruhi efisiensi usaha pertanian tersebut. 3. Terbatasnya persediaan modal untuk membiayai usaha pertanian

tersebut (Soekartawi,1993).

Sebaliknya lahan yang luas relatifnya semput, usaha pengawasan terhadap penggunaan faktor produksi semakin baik, penggunaan tenaga kerja tercukupi dan modal yang dibutuhkan tidak terlalu besar.

Penelitian yang dilakukan oleh Tri Santoso (2012) dengan judul Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi Pada Usahatani Ubi Jalar (Ipomoea batatas L) Lahan Pasir Kecamatan Mirit Kabupaten Kebumen, faktor lahan berpengaruh positif terhadap produksi ubi jalar.

2.1.7.2. Pengaruh Bibit Terhadap Produksi Pertanian

Bibit menentukan keunggulan dari suatu komoditas. Bibit yang unggul cenderung menghasilkan produk dengan kualitas yang baik. Sehingga semakin unggul benih komoditas pertanian, maka semakin tinggi produksi pertanian yang akan dicapai.

Jumlah bibit ubi jalar yang dibutuhkan untuk areal penanaman 1 hektar tergantung pada jarak tanam. Untuk jarak 75x30 cm maka kebutuhan bibitnya ±35.555 stek per hektarnya dan untuk jarak 100x25 cm ±32.000 stek per hektarnya. Ada beberapa jenis varietas ubi jalar yang ditanam di Jawa Tengah yaitu varietas daya, varietas borobudur, varietas prambanan, varietas mendut dan varietas kalasan. Semua jenis varietas tersebut dibedakan oleh potensi hasil produksinya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Karmizon Defri (2011) dengan judul Analisis Pendapatan dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Usahatani Ubi Jalar, Studi Kasus : Desa Purwasari Kecamatan Darmaga Kabupaten Bogor, diperoleh hasil bahwa bibit berpengaruh positif terhadap jumlah produksi ubi jalar.

2.1.7.3. Pengaruh Penggunaan Pupuk Terhadap Produksi Pertanian

Pemberian pupuk dengan komposisi yang tepat dapt menghasilkan produk yang berkualitas. Pupuk yang sering digunakan adalah pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik merupakan pupuk yang berasal dari penguraian bagian – bagian atau sisatanaman dan binatang, misalnya pupuk kandang, pupuk hijau, kompos, bungkil, guano, dan tepung tulang.Pengaruh pupuk organik bagi tanaman adalah untuk merangsang pertumbuhan tanaman dengan memperbaiki unsur hara yang ada didalam tanah. Sementara itu, pupuk anorganik atau yang biasa disebut sebagai pupuk buatan adalah pupuk yang sudah mengalami proses di pabrik misalnya pupuk urea, TSP, dan KCI. Pengaruh pupuk anorganik bagi tanaman

adalah untuk mempercepat pertumbuhan serta meningkatkan mutu dan hasil yang maksimal.

Dalam usahatani ubi jalar pemupukan organik atau kandang dilakukan bersamaan dengan pengolahan lahan sedangkan pemupukan anorganik dalam hal ini pupuk yang digunakan adalah pupuk urea dilakukan 2 kali, pertama saat tanam dengan dosis 1/3 dan pada saat tanaman berumur 45 hari setelah tanam dengan dosis 2/3. Standar kebutuhan pupuk untuk areal penanaman 1 hektar adalah 18 ton per hektar atau 3 rit per hektar untuk pupuk kandang dan 100 Kg per hektar untuk pupuk urea.

Penelitian yang dilakukan oleh Husnul Khotimah (2010) dengan judul Analisis Efisiensi Teknis dan pendapatan Usahatani Ubi Jalar di Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, membagi variabel pupuk menjadi beberapa jenis yaitu pupuk kandang, pupuk daun, pupuk P (SP-36, Phonska NPK), pupuk K (Phonska, NPK, KCL),dan pupuk N (Urea, ZA, Phonska, NPK). Pada penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa pupuk P dan pupuk K berpengaruh secara positif terhadap jumlah produksi ubi jalar.

2.1.7.4. Pengaruh Pestisida Terhadap Produksi Pertanian

Menurut the US Environtment Pestisida Control act, pestisida adalah semua zat atau campuran zat yang khusus untuk meberantas atau mencegah gangguan serangga, binatang pengerat, nematode, cendawan, gulma, virus, bakteri. jasad renik yang dianggap hama. Kecuali virus, bakteri atau jasad renik yang terdapat pada manusia atau binatang lain.

Pestisida dapat menguntungkan usahatani namun disisi lain pestisida dapat merugikan petani. Pestisida dapat menjadi kerugian bagi petani jika terjadi kesalahan pemakaian baik dari cara maupun komposisi. Kerugian tersebut atara lain pencemaran lingkungan, rusaknya komoditas pertanian, keracunan yang berakibat kematian pada manusia dan hewan peliharaan. Penggunaan pestisida yang tepat akan meyebabkan tanaman terbebas dari penyakit yang disebabkan oleh sejenis jamur yang menyerang pada tanaman, sehingga berproduksi secara optimal.

Untuk usahatani ubi jalar, kebutuhan pestisida untuk areal penanaman 1 hektar ± 3 liter per hektar. Penggunaan pestisida disesuaikan dengan keadaan tanaman ubi jalar.

Penelitian yang dilakukan oleh Farah Ratih (2012) dengan judul Efisiensi Teknis Usahatani Ubi Jalar di Desa Cikarawang Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menunjukkan bahwa pestisida berpengaruh secara signifikan terhadap produksi ubi jalar.

2.1.7.5. Pengaruh Tenaga Kerja Terhadap Produksi pertanian

Tenaga kerja merupakan penduduk yang sudah ada atau sedang bekerja, yang sedang mencari pekerjaan dan melakukan kegiatan lain seperti bersekolah dan mengurus rumah tangga. Sebagian besar tenaga kerja di Indonesia masih menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian. Dalam usahatani sebagian besar tenaga kerja berasal dari keluarga petani sendiri yang terdiri dari ayah sebagai kepala keluarga, isteri dan anak-anak petani. Tenaga kerja yang berasal dari

keluarga petani ini merupakan sumbangan keluarga pada produksi pertanian secara keseluruhan dan tidak pernah dinilai dengan uang (Mubyarto, 1987). Ukuran tenaga kerja dapat dinyatakan dalam hari orang kerja (HOK).

Sumber daya alam akan dapat bermanfaat apabila telah diproses oleh manusia secara serius. Semakin serius manusia menangani sumber daya alam semakin besar manfaat yang diperoleh petani. Tenaga kerja merupakan faktor produksi yang penting dan perlu dilihat dari tersedianya tenaga kerja tetapi juga kualitasnya dan macam tenaga kerja juga diperhatikan (Soekartawi, 2003).

Tri Santoso (2012) dengan judul Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi Pada Usahatani Ubi Jalar (Ipomoea batatas L) Lahan Pasir Kecamatan Mirit Kabupaten Kebumen, menunjukkan hasil bahwa faktor produksi tenaga kerja merupakan faktor produksi yang berpengaruh secara positif dalam menetukan tingkat produksi ubi jalar.

Dokumen terkait