• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor yang Mempengaruhi Regulasi Emosi Subjek 2

BAB IV HASIL PENELITIAN

D. Temuan Lapangan

4. Faktor yang Mempengaruhi Regulasi Emosi Subjek 2

Selama subjek mengajar, persoalan-persoalan yang ia hadapi yaitu kesulitan dalam mengontrol moodnya (I.1.3a), butuh banyak orang saat menghadapi perilakunya (I.1.3b). Koordinator GPK juga mengatakan jika subjek mengeluh karena tidak mampu mengendalikan emosi ABK (Wtk.2b)

Subjek memikirkan berbagai cara dalam mengambil simpati AL (I.1.7b), dan mempelakukannya sepeti teman sendiri (I.1.7c). Ia berpendapat bahwa jika tidak memperlakukannya seperti itu, maka AL akan bertingkah semaunya sendiri dan jika diajak berbicara AL tidak akan mendengarkan karena yang ia dampingi usianya juga sudah 14 tahun .

Ketika terdapat sumber masalah lain, subjek berusaha utnuk professional saat jam kerja (I.1.11a), ia mengatakan bahwa ia akan mengesampingkan masalah pribadinya (I.1.11b).

c. Perbedaan Individual

Subjek tertarik dengan ABK karena rasa penasarannya dan tertarik dengan pola ABK yang lain dari umumnya (I.1.16a). Subjek juga menginginkan AL bisa berkembang optimal dan tidak harus pintar

70

(I.1.17a). Berkembang ke tahap mandiri, tidak harus secara akademik (I.1.17b). Tujuan lain subjek juga ia berusaha untuk menurukan tingkat emosi AL (I.1.17c).

Subjek dalam mengekspresikan perasaan negatifnyanya yaitu dengan makan (I.1.13a). Jika sudah stress, subjek memilih untuk makan dan jalan-jalan sebagai cara untuk mengendalikan persaannya (I.1.14a). Cara lain umtuk menenangkan dirimya yaitu dengan curhat, main, jalan ke Mall dan nonton (I.2.41c). Esok harinya ia merasa fresh dalam melakukan pekerjaan (I.2.41d). Namun, lambat laun stressnya kurang dan mulai menerima kondisi ABK didampinginya (I.2.41a).

Subjek mengatakan bahwa ia membutuhkan tenaga ekstra dalam menghadapi AL (I.1.18a). Ia mensugesti dirinya bahwa anak yang ia hadapi memang anak yang bermasalah dan butuh dibantu (I.1.18b). Ia berusaha untuk tidak terlalu emosi seperti diawal (I.1.18c). Subjek tetap bias fokus dalam melaksanakan pekerjaannya yaitu ketika mood AL dalam kondisi yang bagus (I.1.19a), ia masih bisa tetap membuat soal (I.1.19b).

Selama hal tersebut bisa membuat subjek tetap fokus, ia bersyukur dua atau tiga soal dapat dibuat ketika mood AL bagus (I.1.20a). Subjek juga merasa senang dan lega, kerja bawaannya jadi enak dan tidak malas (I.1.20b). Namun, ada kalanya ia tidak fokus yaitu pada saat menglami menstruasi dan AL tantrum (I.1.21a). Ia juga

berpendapat bahwa saat menstruasi efek dari hormon membuatnya pusing dan capek (I.1.21b). Jika sudah lelah, ia pergi lebih baik ke UKS daripada emosi dan marah-marah (I.1.22c).

Subjek mengatakan bahwa ia tepengaruh oleh keadaan ketika dia sedang menstruasi dan saat kondisi mood AL buruk, ia mengatakan jika susah untuk mengontrol AL (I.1.24a). Ia mengaku bahwa efek tersebut berdampak ke dirinya (I.1.24b), dan jika sudah keterlaluan ia menjadi agak sensi (I.1.24c). Namun jika saat mood AL tidak bagus dan subjek sedang menstruasi maka hal tersebut tidak masalah baginya (I.1.24d). Koordinator mengatakan jika subjek juga diberi arahan dalam mengontrol emosi (Wtk.12a).

Subjek berusaha untuk mensugesti dirinya karena diluaran sana atau teman-temannya masih banyak yang belum mendapatkan pekerjaan (I.1.29a), ia menjadi lebih ikhlas (I.1.29b). Ia berusaha untuk menerima dirinya karena jenjang karir yang ia lakukan sekarang bukan sebagai pilihannya (I.1.30a). Subjek berusaha menerima karena rejekinya sekarang adalah sebagai seorang GPK (I.1.30b). Ia menikmati dan menjalani pekerjaan ini sebagai GPK (I.1.30c). Koordinator juga mengatakan bahwa penerimaan subjek lebih bagus (Wtk.18a). Hal tersebut dirasa menjadi beban jika benar-benar sudah sutuk dan ABK sulit dikendalikan (Wtk.19a). Subjek juga mungkin merasa sungkan jika mau mengeluh (Wtk.19b).

72

Subjek mengatakan bahwa ia tepengaruh oleh keadaan ketika dia sedang haid dan saat kondisi mood AL buruk, ia mengatakan jika susah untuk mengontrol AL (I.1.24a). Ia mengaku bahwa efek tersebut berdampak ke dirinya (I.1.24b), dan jika sudah keterlaluan ia menjadi agak sensi (I.1.24c).

Terdapat banyak peristiwa yang terjadi selama subjek mengajar ABK salah satunya yaitu ketika ia merasa kesulitan saat mengontrol mood AL yang tidak bagus (I.1.27a). Ia mengatakan bahwa minggu ini kondisinya sudah mulai membaik (I.1.28a), emosi AL tidak terlalu buruk, kerja jadi nyaman (I.1.28b). Ia juga mengatakan tidak emosi dan marah-marah saat moodnya sedang bagus (I.1.28c). Seperti yang ia katakan:

“Alhamdulillahnya sih karena dua minggu ini kondisinya AL itu

sudah mulai yang tidak terlalu gulung-gulungnya tidak ada, seburuk-buruknya emosi AL itu dia yang cuman kayak gini-gini tok. Apa ya, Alhamdulillahnya itu aku kerja itu nyaman. Gak emosian, gak marah-marah. Bawa anaknya itu juga enak karena ya moodnya bagus.”

d. Dukungan Sosial

Ketika masalah yang dihadapi subjek datang secara bersamaan, subjek berusaha untuk istirahat di UKS jika sudah terlalu lelah hingga ke fisik atau pusing (I.1.12a). Kemudian ia juga bercerita dan ingin

diberi solusi terkait dengn masalah yang dihadapi dengan AL ke orang-orang di sekitar lingkungan sekolah (I.1.12b).

Subjek memilih untuk beristirahat dan curhat (I.1.25a), karena menurutnya hal tersebut sudah tepat disaat kondisinya kurang baik (I.1.26a). Subjek merasa perasaan negatifnya berkurang setelah ia beristirahat di UKS meskipun tidak 100% (I.2.44a). Ketika ia beristirahat di UKS, ia bertemu dengan orang UKS yang ramah ketika diajak curhat (I.2.43a). Namun ketika sampai di rumah jika ia masih merasa pekerjaan di sekolah enak ataupun tidak, teman-teman di kosnya menjadi tempat mencurahkan keluh kesahnya (I.2.42b). Ia mengatakan bahwa esok harinya ia merasa fresh dalam melakukan pekerjaannya (I.2.41d).

Orang tua lebih banyak tidak tau jika mendapati perasaan negatif ketika di sekolah (I.2.35a) yang lebih banyak mengetahui adalah teman-teman kosnya (I.2.35b). Orang tua taunya ia baik-baik saja dan nyaman saat bekerja (I.2.35c) karena ketika pulang pun ia tidak pernah membawa beban kerja ke orang tua (I.2.37a). A memilih bercerita ke ayah jika ada yang ingin diceritakan karena lebih dekat dengan ayah daripada ibu (I.2.37b). Namun tidak pernah bercerita tentang sisi berat pekerjaannya (I.2.37c). Pengalaman sebelumnya jika ia bercerita tentang ketidaknyamanannya I, ayahnya menyuruhnya

74

kenyamanan kerja nomor satu (I.2.38a). Lambat laut I semakin menghargai pekerjaan dan menutupi itu semua dari ayahnya (I.2.38b).

Dokumen terkait