• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.5. Definisi dan Batasan Operasional

3.5.2. Batasan Operasional

Adapun batasan operasional dari penelitian ini adalah : 1. Daerah penelitian berada di Kota Medan

2. Sampel penelitian adalah konsumen rumah tangga beras di Kota Medan yang mengkonsumsi beras lokal dengan pendapatan yang mampu mencukupi kebutuhan di rumah tangganya.

3. Waktu penelitian ini dilakukan pada tahun 2019.

BAB IV

DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK SAMPEL PENELITIAN

4.1 Deskripsi Daerah Penelitian

Kota Medan merupakan ibukota Provinsi Sumatera Utara sekaligus kota terbesar ketiga di Indonesia dan terbesar pertama di Pulau Sumatera. Sebagai Ibukota Propinsi, Kota Medan sering digunakan sebagai barometer dan tolok ukur dalam pembangunan dan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Karena letaknya, Kota Medan menjadi tempat yang strategis sejak zaman dahulu hingga sekarang, terlebih pada era MEA seperti saat ini. Hal ini disebabkan Kota Medan berada di jalur pelayaran Selat Malaka, sehingga kota ini menjadi pintu gerbang kegiatan ekonomi domestik dan mancanegara.

4.1.1 Letak dan Geografis

Kota Medan terletak antara 3º.27’ - 3º.47’ Lintang Utara dan 98º.35’ - 98º.44’ Bujur Timur dengan ketinggian 2,5 – 37,5 meter di atas permukaan laut. Kota Medan merupakan pusat pemerintahan di Provinsi Sumatera Utara terdiri dari 21 Kecamatan dan 151 Kelurahan. Perbatasan wilayahnya adalah :

1. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang, 2. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang, 3. Sebelah utara berbatasan dengan Selat Malaka, dan

4. Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang. Kota Medan merupakan salah satudari 30 Daerah Tingkat I di Sumatera Utara dengan luas daerah sekitar 265,10 km².

Kota Medan merupakan salah satu dari 33 Daerah Tingkat II di Sumatera Utara dengan luas daerah sekitar 265,10 km2. Kota ini merupakan pusat pemerintahan Daerah Tingkat I Sumatera Utara yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Deli Serdang di sebelah utara, selatan, barat dan timur. Kota Medan mempunyai iklim tropis dengan suhu minimum menurut Stasiun BBMKG Medan pada tahun 2017 yaitu 23,30C dan suhu maksimum yaitu 34,30C serta menurut Stasiun Sampali suhu minimumnya yaitu 23,10C dan suhu maksimum yaitu 33,70C.

Kelembaban udara di wilayah Kota Medan rata-rata 78 - 85%, dan kecepatan angin rata-rata sebesar 2,4m/sec, sedangkan rata-rata total laju penguapan tiap bulannya 108,2 mm. Hari hujan di Kota Medan pada tahun 2017 per bulan 14 hari dengan rata-rata curah hujan menurut Stasiun Sampali per bulannya 179 mm.

Luas Kota Medan tidak terlalu besar apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk yang tinggal setiap kilometer perseginya. Berdasarkan kecamatannya, Kota Medan terdiri dari 21 kecamatan yang memiliki luasan wilayah yang sangat beragam. kecamatan dengan luasan wilayah terkecil adalah Kecamatan Medan Perjuangan yaitu 4,09 Km2, sedangkan kecamatan dengan luasan wilayah terbesar adalah Kecamatan Medan Labuhan yaitu 36,67 Km2. Luas kecamatan di Kota Medan secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.1 Luas Wilayah Kota Medan Menurut Kecamatan Tahun 2017

Sumber : Medan Dalam Angka, 2018

Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa luas Kota Medan adalah 265,10 km2 dengan kecamatan terluas adalah Kecamatan Medan Labuhan yaitu 36,67 km2 atau 13,83% dari luas keseluruhan Kota Medan.

4.1.2 Data Jenis Beras di Daerah Penelitian

Beras masih menjadi bahan pangan pokok bagi sebagian besar masyarakat di Sumatera Utara khususnya Medan. Untungnya, saat ini sudah banyak produsen yang meluncurkan berbagai merek dan kemasan beras, mulai 1 kg, 5 kg, 25 kg, bahkan 50 kg. Harga beras sendiri bervariasi, tergantung merek dan juga ukuran atau berat beras yang bersangkutan. Beras yang biasa ditemui di pasaran memang memiliki jenis berbeda-beda. Namun biasanya masyarakat lebih mengenal dengan istilah beras medium dan beras premium. Berikut merupakan jenis beras beserta harga yang umumnya dikonsumsi oleh penduduk di Kota Medan.

Tabel 4.2 Jenis dan Harga Beras di Kota Medan

No Jenis Beras Harga Beras/kg (Rp)

1 IR 64/ Setra Ramos 11000

2 Kuku Balam 12000

3 Rojolele 11800

4 IR 42/Pera 10670

Sumber : Analisis Data Primer, 2019

Beberapa dari beras tersebut merupakan beras berkualitas premium yang diketahui kadar airnya lebih sedikit dibandingkan beras jenis medium. Dan harga yang diterapkan beras premium sendiri lebih mahal per kilo nya dibandingkan beras dengan jenis medium. Salah satu beras premium ialah beras jeni Kuku Balam dan yang merupakan beras medium ialah beras dengan Jenis Pera.

4.2 Keadaan Kependudukan

4.2.1 Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

Penduduk Kota Medan berjumlah 2.247.425 jiwa yang tersebar di kecamatan di Kota Medan. Jumlah dan persentase penduduk Kota Medan diperlihatkan pada tabel 4.2 berikut:

Tabel 4.3 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kecamatan dan Jenis Kelamin Tahun 2017

Sumber : Medan Dalam Angka, 2018

Berdasarkan Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk berjenis kelamin perempuan di Kota Medan lebih banyak dibandingkan penduduk yang berjenis kelamin laki-laki yaitu 1.137.465 jiwa dibanding 1.110.000 jiwa.

4.2.2 Komposisi Penduduk Berdasarkan Usia

Berikut merupakan komposisi penduduk di kota medan berdasarkan usia yang di golongkan berdasarkan jenis kelaminnya.

No. Kecamatan Jenis Kelamin

Jumlah

Tabel 4.4 Penduduk Menurut Kelompok Usia Tahun 2017

Total 1.110.000 1.137.425 2.247.425

Sumber : Medan Dalam Angka, 2018

Dari tabel 4.3 dapat diketahui bahwa penduduk Kota Medan pada tahun 2017 yang berjumlah 2.247.425 jiwa yang terdiri dari 1.110.000 jiwa laki-laki dan 1.137.425 jiwa perempuan. Menunjukkan jumlah usia non produktif (0-14 Tahun) yang terdiri dari bayi, balita, anak-anak dan remaja sebanyak 582.191 jiwa. Jumlah usia produktif yaitu 15-54 tahun sebanyak 1.411.094 jiwa. Sedangkan usia manula >55 tahun adalah 254.140 jiwa. Usia produktif adalah usia dimana orang memiliki nilai ekonomi yang tinggi sehingga dapat menghasilkan barang dan jasa dengan efektif.

4.2.3 Komposisi Penduduk Berdasarkan Rumah Tangga

Adapun banyaknya penduduk di Kota Medan Berdasarkan Rumah Tangga yang di golongkan tiap kecamatan sebagai berikut.

Tabel 4.5 Jumlah Penduduk dan Rumah Tangga Menurut Kecamatan Tahun 2017

Sumber : Medan Dalam Angka, 2018

Berdasarkan Tabel 4.4. dapat diketahui persentase tertinggi penduduk menurut Rumah Tangga berdasarkan Kecamatannya adalah di Medan Marelan dengan rata-rata anggota rumah tangga 4,69 dengan jumlah 36.069 Rumah Tangga . Persentase terendah adalah kecamatan Medan Baru dengan rata-rata rumah tangga yaitu 3,66 dengan jumlah 11.161 Rumah Tangga.

4.3 Karakteristik Sampel Dalam Penelitian

Penelitian ini mengambil responden dari konsumen beras anggota Rumah Tangga di Kota Medan. Pengambilan data responden dilakukan dengan cara mendatangi tempat umum, rumah-rumah di tiap kecamatan di Kota Medan, dan juga konsumen

No. Kecamatan Penduduk Rumah Tangga

yang berbelanja di beberapa pusat-pusat perbelanjaan dan meminta pendapat responden sesuai dengan panduan yang ada di kuesioner untuk dapat menentukan taraf atribut yang melekat pada produk ini.Berdasarkan penelitian, konsumen yang menjadi sampel dalam penelitian ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Jenis Kelamin Responden

Persentasi responden yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 13 dan yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 87

Tabel 4.6 Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin Jumlah (jiwa)

1 Laki-laki 13 2 Perempuan 87

Total 100

Sumber: Analisis Data Primer, 2019

Gambar 2. Diagram Jumlah Responden Berdasarkan Jenis Kelamin(%) Sumber: Analisis Data Primer, 2019

2. Usia

Persentasi responden yang berusia pada rentang usia <20 tahun sebanyak 2%, usia 20-30 tahun sebanyak 32 %, usia 31-40 tahun sebanyak 26%, usia 41-50 tahun sebanyak 24%, usia 51-60 tahun sebanyak 14%, usia >60 tahun sebanyak 2%.

Laki-laki 13%

Perempuan 87%

Jenis Kelamin

Rentang usia responden terbanyak adalah 20-30 tahun dan yang terendah adalah

<20 tahun dan >60 tahun.

Tabel 4.7 Responden Berdasarkan Usia

No Usia Jumlah (jiwa)

Sumber: Analisis Data Primer, 2019

Gambar 3. Diagram Jumlah Responden Berdasarkan Usia (%) Sumber: Analisis Data Primer, 2019

3. Pendidikan Terakhir

Berdasarkan penelitian, diperoleh persentasi responden dengan pendidikan akhir SD sebanyak 0% dari total responden, responden dengan pendidikan akhir SMP sebanyak 4 %, responden dengan pendidikan akhir SMA sebanyak 17%, responden dengan pendidikan akhir Diploma sebanyak 12% dan responden dengan pendidikan akhir Sarjana sebanyak 60%, responden dengan Pendidikan akhir Pascasarja yaitu sebanyak 7%.

Tabel 4.8 Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

No Pendidikan Akhir Jumlah (jiwa)

1 SD 0

Sumber: Analisis Data Primer, 2019

Gambar 4. Diagram Jumlah Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir (%)

Sumber: Analisis Data Primer, 2019

4. Pekerjaan

Berdasarkan pekerjaan, karakteristik responden didominasi oleh Ibu Rumah Tangga yaitu sebanyak 39 orang, diikuti oleh Pegawai Swasta sebanyak 25 orang.

Responden dengan jenis lainnya terdiri dari dosen, pensiunan, supir dan dokter umum. Responden yang bekerja pada perusahaan swasta sebanyak 25 orang, berwirausaha sebanyak 15 orang dan bekerja pada perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebanyak 10 orang.

0%SD SMP

Tabel 4.9 Responden Berdasarkan Pekerjaan

Sumber: Analisis Data Primer, 2019

Gambar 5. Diagram Jumlah Responden Berdasarkan Pekerjaan (%) Sumber: Analisis Data Primer, 2019

5. Pendapatan

Berdasarkan pendapatannya, karakteristik konsumen beras di Kota Medan digolongkan menjadi tiga, yaitu pendapatan rendah, pendapatan menegah dan pendapatan tinggi.

Responden dengan total pendapatan rendah, yaitu dibawah Rp 3.000.000,- (dibawah upah minimum regional) sebanyak 14 orang. Responden dengan jumlah total pendapatan menengah (Rp 3.000.000,- sampai dengan Rp 6.000.000,-) sebanyak 28 orang dan pendapatan atas (Rp 6.000.000,- sampai dengan Rp >15.000.000,-) sebanyak 58 orang.

Pelajar

No Pekerjaan Jumlah (jiwa)

1 Pelajar 4

Tabel 4.10 Responden Berdasarkan Pendapatan

No Pendapatan Jumlah (jiwa)

1 <Rp3.000.000 14

2 Rp3.000.000-Rp6.000.000 28

3 Rp6.000.000-Rp10.000.000 25

4 Rp10.000.000-Rp15.000.000 13

5 >Rp15.000.000 20

Total 100

Sumber: Analisis Data Primer, 2019

Gambar 6. Diagram Jumlah Responden Berdasarkan Pendapatan (%) Sumber: Analisis Data Primer, 2019

Berdasarkan Gambar 6 dapat diketahui bahwa mayoritas responden beras di Kota Medan berpendapatan menengah keatas dengan pendapatan Rp 6.000.000,- sampai dengan Rp >15.000.000 perbulan nya.

6. Jumlah Anggota Keluarga

Berdasarkan jumlah anggota keluarga, mayoritas atau lebih setengah dari keseluruhan responden memiliki anggota keluarga yang besar yaitu 4 orang anggota keluarga. Jumlah responden terbesar kedua adalah yang memiliki jumlah anggota keluarga 3 orang, yaitu sebanyak 27 responden. Selanjutnya dengan jumlah anggota keluarga sebanyak >4 orang berjumlah 24 responden, dan jumlah

<Rp3.000.000

anggota keluarga sebanyak 2 orang berjumlah 13 responden serta jumlah anggota 1 orang sebanyak 8 responden.

Tabel 4.11 Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga No Anggota Keluarga Jumlah (jiwa)

1 1 Orang 8

2 2 Orang 13

3 3 Orang 27

4 4 Orang 28

5 >4 Orang 24

Total 100

Sumber: Analisis Data Primer, 2019

Gambar 7. Diagram Jumlah Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga(%)

Sumber: Analisis Data Primer, 2019

1 Orang 8%

2 Orang 13%

3 Orang 4 Orang 27%

28%

>4 Orang 24%

Anggota Keluarga

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

Nilai kegunaan merupakan setiap pendapat responden yang dinyatakan dengan angka dan menjadi dasar dalam analisis konjoin (Santoso, 2010). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis preferensi masyarakat terhadap atribut beras lokal untuk menganalisis urutan atribut yang paling penting dari produk suatu beras dan untuk mengetahui tingkat keakuratan prediksi antara hasil estimasi dengan hasil aktual pada proses conjoint.

Pada penelitian analisis preferensi konsumen ini dengan conjoint analysis, menghasilkan nilai kegunaan yang menggambarkan penilaian konsumen terhadap setiap level atribut dengan angka positif dan negatif yang menunjukkan tingkat preferensi konsumen. Nilai positif dan yang paling besar menunjukkan level atribut yang disukai konsumen, dan yang bernilai negatif tidak banyak disukai konsumen.

5.1 Preferensi Konsumen Terhadap Atribut Beras Lokal di Kota Medan Preferensi konsumen adalah pemilihan konsumen yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam menentukan sikap terhadap suatu produk. Atribut dapat digunakan untuk mengetahui perilaku konsumen,yang menyatakan bahwa konsumen menilai utilitasnya bukan dari produk yang dikonsumsi tetapi dari karateristik atau atribut yang ada pada produk itu sendiri. Konsumen akan memberikan perhatian terbesar pada atribut yang yang menggambarkan pilihan yang diinginkan berdasarkan selera yang diinginkan konsumen.Atribut produk dapat menjadi penilaian tersendiri bagi konsumen terhadap suatu produk.

Konsumen akan melakukan penilaian terhadap produk dengan evaluasi terhadap

atribut produk. Konsumen akan menggambarkan pentingnya suatu atribut bagi dirinya.

Berdasarakan atribut yang sudah ditentukan maka dari itu ditentukan dimana definisi operasional untuk tiap atribut. Dengan menanyakan masing-masing level atribut, bagaimana pendapat konusmen terhadap atribut dan level setiap atribut, bagaimana penilaian konusmen akan beras lokal yang memiliki level atribut yang sudah ditentukan tersebut.Dimana dalam hal itu definisi operasional setiap atribut yaitu sebagai berikut.

Kepulenan ataupun dapat dikatakan rasa adalah kepulenan beras lokal yang dirasakan saat dikonsumsi oleh konsumen rumah tangga . Kriteria yang digunakan adalah “pulen” menempati level 1, “sedang ” menempati level 2 , “cukup pera”

menempati level 3, “tidak pulen”.

Warna adalah warna beras lokal yang dihasilkan pada saat selesai pengolahan dan sudah dalam kemasan. Kriteria yang digunakan untuk beras lokal di kota Medan adalah “putih” menempati level 1, “sedang ” menempati level 2 , “putih keruh”

menempati level 3, “tidak putih”.

Butir patah adalah butir beras sehat maupun cacat yang dapat ditemukan pada beras yang akan dikonsumsi apakah jumlah butir patahnya banyak maupun sedikit.

Kriteria yang digunakan untuk beras lokal di kota Medan adalah “sedikit”

menempati level 1, “sedang ” menempati level 2 , “banyak” menempati level 3.

Kebersihan produk adalah indikator kualitas dilihat dari ada tidaknya benda-benda lain yang tercampur dalam kemasan beras lokal . Kriterianya adalah “bersih ” menempati level 1, “sedang ” menempati level 2 , “ada kotoran” menempati level 3, “ada kotoran”.

Aroma adalah bau khas dari dari beras lokal setelah dimasak. Kriteria yang digunakan adalah Kriterianya adalah “sangat wangi ” menempati level 1, “wangi ” menempati level 2 , “tidak wangi” menempati level 3.

Daya tahan atau bisa disebut masa simpan produk adalah ketahanan beras lokal ketika disimpan yang diukur dengan kriteria “<1 Bulan ” menempati level 1, “1 Bulan ” menempati level 2 , “> 1 bulan ” menempati level 3.

Keseragaman beras lokal dilihat adakah terdapat beras lain, atau beras tersebut utuh dalam satu kemasan tersebut ketika konsumen hendak ingin mengolah beras tersebut dapat dilihat fisik dari beras lokal tersebut apakah utuh maupun bercampur.

Kriterianya adalah “seragam ” menempati level 1, “biasa ” menempati level 2 ,

“tidak seragam” menempati level 3.

Harga beras lokal adalah harga jual beras lokal yang dibayarkan konsumen rumah tanggan di Kota Medan setiap kilogram (Rp/kg). Kriterianya adalah “Rp 8.000-Rp 9.000/kg ” menempati level 1, “Rp 10.000-Rp 11.000/kg ” menempati level 2 ,

“³Rp12.000/kg” menempati level 3.

Dimana yang diharapkan oleh konsumen secara umum ialah, bahwa dengan preferensi konsumen terhadap beras lokal di Kota Medan, akan dihasilkan ataupun dikembangkan beras lokal yang mutu serta kualitas yang sesuai dengan yang diinginkan konsumen dengan harga yang terjangkau untuk masyarakat di Kota Medan, meskipun konsumen juga sudah terbiasa dengan harga yang diterapkan, karena itu konsumen mementingkan kualitas untuk produk beras lokal tersebut.

Produk beras lokal menjadi preferensi konsumen dilihat dari nilai kegunaan (utility values) yang paling besar diantara taraf/level pada masing- masing atribut. Berikut

ini hasil penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan proses analisis conjoint. Hasil dari penelitian ini dapat dilihat dari overall statistics pada SPSS.

Tabel 5.1 Hasil Analisis Conjoint pada Beras Lokal di Kota Medan

No Atribut Level/Sub-atribut Nilai Kegunaan (Utility Values)

Rp 10.000-Rp 11.000/kg -.011

³Rp12.000/kg .092

Sumber : Analisis Data Primer, 2019

Beras lokal yang menjadi preferensi konsmen dapat dilihat dari nilai kegunaan (utility values) yang paling besar diantara level / taraf pada masing – masing atribut.

Berdasarkan hasil penelitian spesifikasi beras lokal yang cenderung lebih disukai konsumen yaitu ditinjau dari :

1. Kepulenan

Kepulenan merupakan suatu atribut yang menunjukkan tingkat beras yang sudah menjadi nasi yang sudah tidak keras, agak lengket, terasa berair dan tetap lunak setelah dingin. Kepulenan yang menjadi pilihan konsumen ialah beras dengan dengan tingkat kepulenan yang tinggi. Beras yang pulen dimana beras tersebut ketika dimasak beras tersebut akn lebih lembut dan tidak keras. Oleh karena itu mengapa beras lokal yang pulen cenderung lebih disukai karena citarasa dari beras pulen tersebut lebih enak untuk dikonsumsi, dan juga lebih kaya rasa bagi konsumen.

Hasil ini dapat dilihat di Tabel 5.1 ditunjukkan pada atribut kepulenan, beras lokal yang pulen memiliki nilai kegunaan (utility values) terbesar diantara taraf yang lain yaitu sebesar .123 sedangkan untuk beras yang tidak pulen sendiri mendapatkan nilai kegunaan terendah yaitu -.176 . Berikut ini grafik nilai kegunaan atribut kepulenan beras pada analisis conjoint.

Gambar 8. Diagram Nilai Kegunaan Masing-masing Level Atribut Kepulenan Sumber : Analisis Data Primer,2019

2. Warna

Warna merupakan atribut yang sudah diatur secara genetik yang dapat dilihat langsung apakah warna pada beras tersebut cenderung lebih cerah atau lebih keruh atau biasa saja. Pada atribut warna sendiri, konsumen cenderung memperhatikan warna untuk membeli beras, dimana konsumen menyukai beras yang berwarna lebih cerah. Karena beras yang berwarna putih tersebut terlihat lebih memikat dari segi warna sehingga konsumen lebih tertarik dibandingkan beras yang berwarna putih keruh yang terlihat kurang menarik untuk konsumen membuat keputusan pembelian beras. Dengan catatan konsumen juga memperhatikan tingkat keputihan beras tersebut karena adanya sedikit pertimbangan bahwa warna putih yang terkandung dalam beras bisa jadi merupakan warna putih yang di dapatkan dari zat-zat pewarna yang tidak baik untuk di konsumsi. Oleh karena itu, untuk produsen beras pun harus memperhatikan tingkat warna pada beras tersebut bagaimana agar tetap menarik konsumen tetapi aman dikonsumsi. Karena konsumen cenderung beras yang warnanya putih. Hasilnya ditunjukkan pada Tabel 5.1 dimana nilai kegunaan atribut warna, beras lokal yang berwarna putih memiliki nilai terbesar yaitu .110 . Berikut ini nilai kegunaan atribut warna beras lokal pada proses analisis conjoint:

Gambar 9. Diagram Nilai Kegunaan Masing-masing Level Atribut Warna Sumber : Analisis Data Primer,2019

3. Butir Patah

Butir patah adalah atribut yang menunjukkan baik sehat maupun cacat yang mempunyai ukuran lebih kecil dari 6/10 bagian tetapi lebih besar dari 2/10 bagian ukuran panjang rata-rata butir beras utuh. Atribut butir yang menjadi pilihan konsumen beras lokal yaitu beras lokal dengan tingkat butir patah yang sedikit.

Dikarenakan, butir patah bukan sesuatu yang terlalu diperhatikan oleh konsumen ketika membeli, karena beberapa konsumen tidak terlalu mengetahui tingkatan butir patah yang seharusnya pada beras tersebut. Tetapi apabila konsumen menemukan beras dengan butir patah yang berlebih konsumen sendiri tidak menyukai beras lokal dengan atribut butir patah tersebut.

Pada Tabel 5.1 bahwa konsumen menyukai beras lokal dengan butir patah sedikit yaitu .138 kemudian diikuti dengan tingkat butir patah yang sedang yaitu -.016 dan tidak menyukai beras dengan butir patah banyak -.122.

Berikut ini nilai kegunaan atribut butir patah beras lokal pada proses analisis conjoint:

Gambar 10. Diagram Nilai Kegunaan Masing-masing Level Atribut Butir Patah

Sumber : Analisis Data Primer,2019

4. Kebersihan

Kebersihan merupakan atribut yang menunujukkan apakah beras tersebut ditemukan partikel lain selain beras yang tidak sewajarnya di konsumsi oleh konsumen beras. Atribut kebersihan untuk beras lokal yang menjadi pilihan konsumen ialah beras lokal yang bersih dikarenakan, beras tersebut akan dikonsumsi dan konsumen sangat memperhatikan tingkat kebersihan dari sesuatu yang akan dikonsumsi, terutama beras yang merupakan makanan pokok atau makanan sehari-hari.

Untuk beberapa kondisi juga, kebersihan sangat diperhatikan ketika mencuci beras tersebut, berapa kali beras tersebut harus dicuci dimana semakin banyak frekuensi pencucian beras tersebut maka bisa jadi beras tersebut kurang bersih. Maka beras yang bersih selain aman dikonsumsi juga lebih menghemat waktu.

Hasil ini ditunjukkan pada tabel 5.1 dimana konsumen memilih beras lokal dengan tingkat atribut yang bersih yaitu .150 . Berikut ini adalah grafik nilai kegunaan atribut kebersihan beras lokal pada analisis conjoint :

Gambar 11. Diagram Nilai Kegunaan Masing-masing Level Atribut Butir Patah

Sumber : Analisis Data Primer,2019

5. Aroma

Aroma adalah atribut beras yang dianalisa melalui indra penciuman ketika beras tersebut dimasak, apakah mengeluarkan bau beras yang normal, pandang wangi, maupun apek. Atribut aroma beras lokal yang menjadi pilihan konsumen yaitu beras lokal yang memiliki aroma yaitu, Pandan Wangi karena merupakan ciri khas dari suatu beras yang memiliki citarasa yang enak. Hasil ini ditunjukkan pada tabel 5.1 dimana taraf atribut beras yang wangi memiliki nilai kegunaan yang kuat yaitu .071 dibandingan beras lokal yang sangat wangi dengan taraf -.077

sedangkan yang tidak memiliki aroma lebih diminati yaitu .006. Berikut ini adalah grafik nilai kegunaan atribut aroma beras lokal pada analisis conjoint :

Gambar 12. Diagram Nilai Kegunaan Masing-masing Level Atribut Aroma Sumber : Analisis Data Primer,2019

6. Daya Tahan

Daya tahan adalah atribut yang menunujukkan seberapa lama beras tersebut dapat disimpan oleh konsumen. Atribut daya tahan yang menjadi pilihan konsumen yaitu, atribut beras lokal yang memiliki daya tahan lebih dari 1 Bulan. Karena waktu tersebut sesuai dengan waktu konsumsi beras . Rata-rata konsumsi beras dirumah tangga selalu lebih dari 1 bulan. Hasil ini ditunjukkan pada tabel 5.1 dimana nilai kegunaan atribut daya tahan lebih dari 1 bulan yaitu sebesar .026 dimana merupakan nilai terbesar dibandingkan sub-atribut yang lainnya. Berikut ini adalah grafik nilai kegunaan atribut daya tahan beras lokla pada analisis conjoint :

Gambar 13. Diagram Nilai Kegunaan Masing-masing Level Atribut Daya Tahan

Sumber : Analisis Data Primer,2019

7. Keseragaman

Keseragaman beras adalah atribut yang menununjukkan apakah beras yang di beli oleh konsumen di kemasan tersebut merupakan beras yang sama, atau bahkan terdapat beberapa butir dari beras lain didalamnya. Keseragaman pada beras lokal yang menjadi pilihan konsumen adalah yang seragam yaitu yang utuh . Dimana

Keseragaman beras adalah atribut yang menununjukkan apakah beras yang di beli oleh konsumen di kemasan tersebut merupakan beras yang sama, atau bahkan terdapat beberapa butir dari beras lain didalamnya. Keseragaman pada beras lokal yang menjadi pilihan konsumen adalah yang seragam yaitu yang utuh . Dimana

Dokumen terkait