• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.5 Analisa Getaran

2.5.4 Fasa (Phase)

Fasa didefinisikan sebagai posisi elemen getaran terhadap titik tertentu atau elemen getaran lainnya. Fasa menunjukkan perbedaan awal siklus terjadi.

Hubungan fasa antara perpindahan, kecepatan, dan percepatan diilustrasikan pada Gambar 2.13 kecepatan puncak maju (peak forward velocity) terjadi pada 900 sebelum puncak perpindahan positif (peak positive displacement). Dengan kata lain, kecepatan mendahului 900 terhadap perpindahan, sedangkan percepatan tertinggal 1800 terhadap perpindahan, seperti terlihat pada Gambar 2.12 [14].

Gambar 2.12. Beda fasa antara perpindahan, kecepatan, dan percepatan [14]

Pengukuran fasa memberikan cara untuk menentukan bagaimana suatu elemen bergetar relatif terhadap elemen lain. Pembandingan gerak relatif dari dua atau lebih elemen mesin sering diperlukan dalam diagnosis kerusakan spesifik suatu mesin. Sebagai contoh, bila analisis menyatakan bahwa getaran suatu mesin tidak sefasa dengan getaran base-nya, maka mungkin terjadi kelonggaran baut atau kelonggaran mesin dari base-nya [14].

Jadi kecepatan dan percepatan juga harmonik dengan frekuensi osilasi yang sama, tetapi memiliki beda phasa terhadap perpindahan, berturut-turut dengan 𝜋

2 dan π radian. Pada Gambar 2.13 menunjukan hubungan perpindahan, kecepatan dan percepatan.

Gambar 2.13. Hubungan phasa perpindahan, kecepatan, dan percepatan pada gerak harmonik [14]

Analisa getaran merupakan cara yang paling handal untuk mendeteksi awal gejala kerusakan mekanik, elektrikal pada peralatan, sehingga analisa

perpindahan kecepatan percepatan

getaran ini menjadi pilihan teknologi predictive maintenance yang paling sering digunakan [14].

2.5.5 Standard Getaran (Vibrasi)

Amplitudo vibrasi (displacement, velocity dan acceleration) merupakan suatu ukuran tentang parah atau tidaknya ketidaknormalan / defect yang ada pada mesin atau peralatan. Yang perlu diingat bahwa sasaran utama bukanlah menentukan sampai batas berapa mesin masih bisa menerima level vibrasi yang terjadi sebelum terjadinya failure, tetapi mendapatkan karakter vibrasi yang dapat menjadi “warning” terhadap masalah yang sedang berlangsung, sehingga dapat direncanakan tindakan antisipatif yang bisa dilakukann sebelum kegagalan terjadi. Problem yang dihadapi oleh analis vibrasi adalah menentukan atau membuat penilaian apakah level vibrasi yang terjadi masih dapat diterima dan memungkinkan mesin terus dioperasikan secara aman. Sejumlah institusi menetapkan standar yang dimaksudkan sebagai panduan umum/generik dalam menggunakan vibrasi sebagai indikator kondisi mesin.

Pada umumnya semakin tinggi amplitudo vibrasi semakin buruk kondisi mesin. Akan tetapi harus dipertimbangkan bahwa :

a. Terdapat berbagai macam tipe mesin.

b. Mesin beroperasi pada berbagai macam kondisi.

c. Mesin mempunyai tingkat kekritisan yang berbeda-beda tergantung dari plant yang bersangkutan.

d. Mesin tersusun dari berbagai macam tipe komponen.

Nilai efektif kecepatan getaran digunakan untuk menilai kondisi mesin. Nilai ini dapat ditentukan oleh hampir semua pengukuran perangkat getaran konvensional. Standard yang digunakan untuk pengukuran getaran antara lain ASTM D3580-95 (Standard Test Methods For Vibration), ANSI S3.40 (Mechanical Vibration and Shock), DIN 31692-3 (Vibration Monitoring) dan ISO 10816-3 dengan perincian sebagai berikut :

ISO 10816-1: Pengukuran getaran untuk evaluasi mesin oleh non-rotating bagian umum.

ISO 10816-2 : Pengukuran getaran untuk evaluasi mesin non-rotating bagian base turbin uap dan generator yang melebihi 50 MW dengan operasi kecepatan 1500 rpm, 1800 rpm, 3000 rpm, 3600 rpm.

ISO 10816-3 : Pengukuran getaran untuk evaluasi mesin non-rotating bagian industri mesin dengan daya nominal di atas 15 kW dan nominal kecepatan antara 120 rpm dan 15 rpm.

ISO 10816-4 : Pengukuran getaran untuk evaluasi mesin non-rotating bagian turbin gas didorong tidak termasuk pesawat dan turunannya.

ISO 10816-5 : Pengukuran getaran untuk evaluasi mesin non-rotating bagian mesin hydraulic power generating dan pompa.

ISO 10816-6 : Mesin reciprocating dengan rating daya 100 kW

Berdasarkan standart ISO 10816-3 untuk standart vibrasi, memberikan batasan-batasan vibrasi berdasarkan kecepatan (velocity) yang dikategorikan dalam beberapa zona dan warna seperti ditunjukkan pada Gambar 2.14. [15]

Gambar 2.14. ISO 10816-3 Untuk Vibrasi [15]

Keterangan Gambar di atas sebagai berikut :

1. Zona A bewarna hijau, getaran dari mesin sangat baik dan di bawah getaran yang diijinkan.

2. Zona B bewarna hijau muda, getaran dari mesin baik dan dapat dioperasikan tanpa larangan.

3. Zona C bewarna kuning, getaran dari mesin dalam batas toleransi dan hanya dioperasikan dalam waktu terbatas.

4. Zona D bewarna merah, getaran dari mesin dalam batas berbahaya dan dapat terjadi kerusakan sewaktu-waktu [15].

Analisis data dimulai dengan pembahasan informasi hasil pengukuran dalam domain waktu. Data ini merupakan data awal yang cukup penting karena perilaku sinyal mencerminkan kondisi mesin dan data ini merupakan data paling hulu. Data ini dapat diolah lebih lanjut menjadi data dalam domain frekuensi. Data ini dapat dihubungkan dengan putaran yang terjadi pada poros pompa tersebut. Untuk keperluan diagnosis digunakan berbagai teknik pengolahan data lanjutan misalnya: peta spectrum frekuensi dan order-tracking.

Masalah resonansi bisa dipahami lebih baik bila frekuensi pribadi suatu struktur dapat diketahui. Salah satu cara untuk mengetahui frekuensi pribadi tersebut adalah dengan melakukan pengukuran fungsi respon frekuensinya.

Pengukuran ini melibatkan beberapa aspek penunjang diantaranya adalah teknik eksitasi getaran yang dikenakan pada struktur.

2.6. Modal Analisis (Mode Superposition Methods)

Modal analisis adalah suatu proses penentuan karakteristik dinamik dari suatu sistem. Modal analisis menjadi dasar mangapa respon getaran suatu sistem dapat di ekspresikan sebagai kombinasi linier dari respon kordinat modal nya.

Modal ini mencakup instrumentasi, pengolahan sinyal, estimasi parameter, dan analisis vibrasi [16].

Pengukuran vibrasi secara eksperimen pada umumnya memerlukan beberapa perangkat. Perangkat tersebut terdiri dari sumber eksitasi yang di sebut exciter untuk menghasilkan input gaya pada struktur. Transducers berfungsi untuk

mengkonversi gerakan mekanik pada struktur ke sinyal electric, signal conditioning. Amplifier untuk mencocokkan karakteristik transducers dengan input elektronik data digital, dan analyzer, di mana terdapat program komputer pemrosesan sinyal dan modal analisis. Skema penyusunan perangkat tersebut di ilustrasikan seperti pada Gambar 2.15. [17]

Gambar 2.15 Skema Modal Testing [17]

Getaran pada suatu sistem yang akan di tentukan secara eksperimen pada umumnya terdiri dari tiga mekanisme pengukuran : (1) mekanisme eksitasi; (2) mekanisme pembacaan; (3) mekanisme akuisisi data dan pengolahan. Mekanisme eksitasi di tentukan dari sistem yang menyediakan input gerakan terhadap struktur dalam analisis, umumnya berupa gaya yang di berikan pada koordinat tertentu.

Mekanisme pembacaan pada dasarnya di gunakan sensing device yang di kenal sebagai force transduces. Banyak variasi dari alat tersebut dan biasanya di gunakan pada eksperimental modal analisys adalah piezoelectric transducers baik untuk mengujur eksitasi gaya (force transducers) atau mengukur respon percepatan (accelerometers) [17].

Data yang di dapat dari free vibration test yaitu respon percepatan struktur dalam domain waktu tersebut kemudian di tranformasi agar menjadi domain

frekuensi dengan metode Fast Fourier Transform (FFT) dengan bantuan software.

Data respon struktur hasil FFT tersebut sekarang menjadi dalam domain frekuensi atau yang disebut sebagai frequency response function (FRF). Dari FRF akan terlihat frekuensi alami struktur setiap mode yang di asosiasikan dengan frekuensi nilai puncak, seperti terlihat pada Gambar 2.16. [17]

Gambar 2.16. Contoh respon jembatan akibat beban impuls dalam, (a) time domain; (b) frequency domain [17]

Simpangan struktur total merupakan kontribusi dari respon setiap mode (modal displacement). Simpangan kontribusi setiap mode dapat dihitung dengan melalui integrasi numerik atas persamaan independen. Apabila simpangan untuk setiap mode pada massa tertentu sudah diperoleh maka simpangan total massa yang bersangkutan merupakan superposisi atau penjumlahan dari simpangan tiap-tiap mode tersebut. Simpangan massa yang lain dapat dicari dengan cara yang sama. Berikut contoh modal analisis dari sistem derajat kebebasan banyak (MDOF) yang di modelkan sebagai bangunan geser, dengan menggunakan program MatLab. Dapat dilihat pada Gambar 2.17. [17]

Gambar 2.17. Contoh modal analisis dari sistem derajat kebebasan [17]

2.7. Analisa Vibrasi dengan Fast Fourier Transform (FFT)

Analisa fourier terbagi atas dua yakni deret fourier untuk sinyal periodik dan trasformasi fourier untuk sinyal aperiodik. Setiap sinyal periodik dapat dinyatakan atas jumlah komponen-komponen sinyal sinusoidal dengan frekuensi yang berbeda (distinct). Jika ada sebuah fungsi f(t) yang kontinyu periodik dengan periode T yang bernilai tunggal terbatas pada suatu interval terbatas, dan memiliki diskontinyuitas yang terbatas jumlahnya dalam interval tersebut serta dapat diintegralkan secara mutlak, maka f(t) dapat dinyatakan dengan deret fourier.

Dengan menggunakan software komputer, komputasi FFT menjadi lebih mudah dan cepat. Contoh sederhana FFT pada matlab sebuah fungsi f(t) dari time domain menjadi frequency domain, seperti pada Gambar 2.18 berikut [18].

Gambar 2.18. Hasil FFT dari Data Vibrasi [18]

FFT merupakan elemen pemrosesan sinyal pada pengukuran vibrasi. Pada pengukuran vibrasi ada empat tahapan untuk merubah sinyal vibrasi menjadi

spektrumnya. Algoritma FFT untuk analisa vibrasi tersebut adalah sebagai berikut:

➢ Pengambilan data vibrasi dari tranduser yang dihubungkan dengan sistem akuisisi.

➢ Sistem akuisisi menghasilkan spektrum yang menunjukkan perbandingan waktu dengan percepatan.

➢ Hasil spektrum diolah menggunakan software lain dengan menggunakan Fast Fourier Transform.

➢ Hasil pengolahan menggunakan FFT akan berupa grafik perbandingan frekuensi dengan amplitudo yang menunjukkan jenis kerusakan dan tingkat kerusakan mesin [18].

2.8. Diagnosa Vibrasi

Analisa spektrum vibrasi yang dilakukan dapat mengetahui berbagai permasalahan yang terjadi pada mesin dengan melihat pola – pola spektrum vibrasi yang terjadi. Permasalahan yang dapat disimpulkan dari analisis vibrasi ini antara lain unbalance, misalignment, poros yang melengkung (Bent Shaft), kelonggaran mekanikal (looseness) kerusakan pada bearings, resonansi dan oil whirl.

2.8.1 Unbalance

Unbalance merupakan permasalahan yang paling sering terjadi yaitu hampir 40% dari masalah yang menyebabkan vibrasi adalah dikarenakan oleh Unbalance, Unbalance adalah kondisi dimana pusat masa tidak sesumbu dengan sumbu rotasi. Solusinya untuk unbalance yaitu dengan proses balancing / mesin tidak di operasikan atau diganti.

Karakteristik Unbalance:

1. Amplitudo dominan pada 1X RPM

2. Vibrasi dominan pada arah Radial (Horizontal) 3. Time Waveform dari Unbalance sangat sinusoidal

4. Beda fasa antara pembacaan horizontal dan vertikal pada bearing yang sama adalah 90º (±30º) Out of Phase

5. Fasa pembacaan horizontal atau vertikal pada kedua bearing sefasa/ in phase (±30º).

Jenis Unbalance

1. Force Unbalance

Gambar 2.19 Force Unbalance

Force Unbalance, dimana ada dua gaya yang sama besar dan memiliki arah yang sama. Force Unbalance akan in-phase dan stabil. Spektrum akan dominan pada 1x RPM. Dapat dikoreksi dengan menempatkan satu balance weight (beban penyimpangan) dengan menggunakan metode satu plane. Ada perbedaan phase pada sisi inboard dan outboard horizontal, juga pada sisi inboard dan outboard wertikal dan ada perbedaan phase 90o antara sisi vertikal dan horizontal dalam satu bearing (±30o).

2. Couple Unbalance

Gambar 2.20 Couple Unbalance

Couple Unbalance, dimana ada ada dua gaya yang sama besar tapi memiliki arah yang berlawanan. Couple unbalanced menimbulkan 180o out – of phase dalam 1 shaft. Spektrum akan dominan pada 1x RPM. Amplitudo akan bervariasi dengan kuadrat kecepatan pada saat di bawah putaran kritis pertama rotor. Dapat juga menimbulkan vibrasi arah axial dan radial tinggi. Dapat dikoreksi menggunakan metode dua plane. Terdapat perbedaan phase 180o antara outboard dan inboard horizontal, begitu juga antara outboard dan inboardd wertikal. Bisa juga perbedaan phase 90O antara arah vertikal dan horizontal pada satu bearing (±30o).

3. Dynamic Unbalance

Gambar 2.21. Dynamic Unbalance

Dynamic Unbalance, dimana ada dua gaya yang tidak sama besar dan memiliki arah yang berlawanan. Dynamic Unbalance sering muncul dalam masalah unbalance yaitu merupakan kombinasi antara couple unbalance dan force unbalance. Spektrum dominan pada 1x RPM, dan dikoreksi dengan menggunakan metode dua plane. Perbedaan phase arah radial antara bearing outboard dan inboard berkisar antara 0o – 180o. Dimana perbedaan phase arah horizontal hampir sama dengan perbedaan fase vertikal pada saat membandingkan pengukuran pada bearing outboard dan inboard (±30o). Kedua, jika unbalance dominan, menghasolkan beda phasa 90o biasanya antara pengukuran arah vertikal dan horizontal pada masing-masing bearing (±30o).

2.8.2 Misalignment

Misalignment merupakan kondisi dimana sumbu aksial poros penggerak dengan poros yang digerakkan tidak segaris. Jika posisi dari sumbu aksial poros penggerak dengan poros yang digerakkan dalam keadaan tidak sejajar dengan ketinggian yang berbeda maka disebut parallel misalignment. Jika sumbu aksial poros penggerak dengan poros yang digerakkan posisinya saling menyudut, sedangkan kedua ujung (pada kopling) mempunyai ketinggian yang sama maka disebut angular misalignment.

Kebanyakan kasus misalignment merupakan gabungan antar Parallel dan Angular misalignment. Karakteristik dari misalignment campuran:

1. Vibrasi dominan pada 2x running speed pada arah axial dan radial.

2. Muncul harmonik dari running speed.

3. Pada waveform akan terjadi pengulangan pola dengan 1 atau 2 gelombang tiap putaran.

Pada dasarnya misalignment ada dua jenis, yaitu:

1. Offset atau Misalignment Parallel

Gambar 2.22 Parallel Misalignment

Misalignment Offset, juga disebut sebagai misalignment parallel ini mirip dengan angular misalignment, tetapi vibrasi tinggi pada arah radial 180o out of phasa dekat dengan kopling. Sering muncul 2x RPM lebih tinggi dari pada 1x RPM, tetapi tingginya relative terhadap 1x RPM sering ditentukan oleh jenis kopling dan konstruksi. Meskipun begitu bisa juga muncul dominan 1x lebih tinggi, dikuti munculnya 2x dan 3x RPM pada arah radial. Ketika kerusakan angular atau radial misalignment bertambah parah, akan muncul

amplitudo yang tinggi harmonik (4x – 8x), atau bahkan seluruh amplitudo harmonik mirip dengan mechanical loosenenss. Jenis kopling dan material sangat mempengaruhi spektrum ketika misalignment bertambah parah akan tetapi tidak muncul raised noise floor.

2. Angular Misalignment

Gambar 2.23 Angular Misalignment

Karakteristik dari angular misalignment ditandai vibrasi tinggi pada arah aksial, out of phasa 180o dekat dengan kopling. Biasanya akan sering muncul vibrasi tinggi arah aksial pada 1x dan 2x RPM dimana 1x RPM lebih tinggi dari 2x RPM. Meskipun begitu bisa juga muncul dominan 1x, 2x dan 3x RPM, ini bisa juga merupakan indikasi kerusakan pada kopling. Angular misalignment yang sudah parah bisa memunculkan harmonik 1x RPM. Tidak seperti mechanical looseness type B , harmonik pada misalignment tidak memiliki noise floor.

2.9. MATLAB

Matlab merupakan sebuah singkatan dari Matrix Laboratory, yang pertama kali dikenalkan oleh University of New Mexico dan University of Stanford pada tahun 1970. software ini pertama kali memang digunakan untuk keperluan analisis numerik, aljabar linier dan teori tentang matriks. Saat ini, kemampuan dan fitur yang dimiliki oleh Matlab sudah jauh lebih lengkap dengan ditambahkannya toolboxtoolbox yang sangat luar biasa. Beberapa manfaat yang didapatkan dari Matlab antara lain:

• Pemodelan dan simulasi

• Komputasi numerik

• Visualisasi dan analisis data

• Pembuatan grafik untuk keperluan sains dan teknik

• Pengembangan aplikasi, misalnya dengan memanfaatkan GUI [19]

Matlab dapat dipadang sebagai sebuah kalkulator dengan fitur yang lengkap.

Kita pernah menggunakan kalkulator dengan fasilitas minimal, misalnya hanya terdapat fasilitas penambahan, pengurangan perkalian dan pembagian.

Kalkulator yang lebih lengkap lagi adalah kalkulator scientific dimana fasilitas yang diberikan tidak hanya yang disebutkan di atas, melainkan sudah ada fungsi-fungsi trigonometri, bilangan kompleks, akar kuadrat dan logaritma.

Nah, Matlab mirip dengan kalkulator tersebut, tetapi dengan fitur-fitur yang lengkap diantaranya dapat digunakan untuk memprogram, aplikasi berbasis GUI dan lengkap dengan toolbox yang dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah sains dan teknik [19].

Matlab memberikan kemudahan bagi para pengguna untuk menemukan bantuan sehubungan dengan semua fasilitas yang diberikan oleh Matlab. Misalnya, bantuan tentang bagaimana memulai Matlab pertama kali, trik pemrograman, membuat grafik 2 dan 3 dimensi, menggunakan tool akuisisi data, pengolahan sinyal, penyelesaian persamaan diferensial parsial.

Untuk memperoleh bantuan tersebut, kita dapat memilih MATLAB Menu dari menu Help. Untuk bantuan tentang Matlab sendiri, dibagi atas beberapa bagian antara lain : [19]

1. Development Environment, bagian ini akan memberikan informasi yang lengkap mengenai desktop dari Matlab.

2. Mathematics, bagian yang menjelaskan bagaimana menggunakan fitur yang dimiliki oleh Matlab untuk dalam mengolah data matematis dan statistik.

Isi dalam bantuan ini dicakup antara lain: Matrks dan aljabar linier, polinomial dan interpolasi, analisis data dan statistik, fungsi function, matriks jarang (sparse matrix).

3. Programming and data type, bagian ini menjelaskan bagaimana membuat script dan fungsi dengan menggunakan Matlab. Bantuan ini mencakup pemrograman M-File, larik, larik multidimensi, optimalisai performance Matlab, tip pemrograman Matlab.

4. Graphics, bagian ini menjelaskan tentang bagaimana membuat atau mengeplot grafik dari data yang kita miliki. Yang termasuk dalam bagian ini antara lain, dasar-dasar pengeplotan, format grafik, membuat grafik khusus misalnya grafik dalam bentuk bar, histogram, contour dan lain-lain.

5. 3-D Visualization, bagian ini menjelaskan dengan tuntasbagaimana menampilkan data yang kita miliki dalam grafik 3 dimensi, termasuk didalamnya membuat grafik 3D, menentukan tampilan objek, transparansi objek, lighting dan lain-lain.

6. Creating Graphical User Interfaces, bagian ini menjelaskan bagaimana kita dapat membuat GUI (Graphical User Interface) berbasis Matlab. Disamping bagian-bagian yang sudah disebutkan di atas, disini juga disertakan beberapa bagian tambahan yang ikut melengkapi dokumentasi penjelasan tentang Matlab, diantaranya function-By cattegory, function-Alphabetical List, handle graphic property browser, external interfaces/API, external interfaces/API references dan lain-lain [19].

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat

Pengujian dilakukan di Laboratorium Motor Bakar Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara selama kurang lebih 2 bulan

.

3.2. Bahan

Dalam penelitian ini, subjek penelitian adalah turbin angin savonius yang diletakkan dalam model instalasi sederhana wind tunnel skala laboratorium seperti terlihat pada Gambar 3.1.

Gamba 3.1.(1) Perangkat Wind Tunnel, (2) Turbin angin.

Dalam penelitian ini akan dibuat turbin angin savonius tipe U seperti terlihat pada Gambar 3.2.

Gambar 3.2. Turbin angin savonius tipe U.

1

2

Bahan dari komponen turbin ini , antara lain : 1. Dudukan lengan sudu.

Dudukan lengan sudu turbin angin berbentuk silinder berbahan besi dengan ketebalan 10 mm, dan diameter luarnya 20 mm serta diameter dalam 10 mm, seperti terlihat pada Gambar 3.3.

Gambar 3.3. Dudukan lengan sudu 2. Lengan sudu.

Lengan sudu turbin angin berbahan plat besi dengan ketebalan 0,7 mm, seperti terlihat pada Gambar 3.4.

Gambar 3.4. Lengan sudu 3. Sudu

Sudu turbin angin berbahan pelat aluminium dengan ketebalan 0,3 mm, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 3.5.

Gambar 3.5. Bahan pelat aluminium untuk sudu

4. Poros

Berdasarkan jenis turbin ini, maka poros dipasang secara vertikal dan poros terbuat dari bahan stainless steel dengan diameter 8 mm dan tinggi 535 mm, seperti terlihat pada Gambar 3.6.

Gambar 3.6. Poros 5. Bantalan

Bearing (bantalan) adalah elemen mesin yang menumpu poros yang mempunyai beban, sehingga putaran atau gerakan bolak-baliknya dapat berlangsung secara halus, aman, dan mempunyai umur yang panjang.

Bearing harus cukup kokoh untuk memungkinkan poros serta elemen mesin lainnya bekerja dengan baik. seperti pada Gambar 3.7.

Gambar 3.7. Bantalan

6. Transmisi daya

Dalam penelitian ini roda gigi digunakan untuk mentransmisikan daya dan putaran. Diameter luar roda gigi pada poros 120 mm, dan diameter luar roda gigi pada poros motor DC 10 mm, seperti pada Gambar 3.8.

(a) (b)

Gambar 3.8.(a) roda gigi pada Poros turbin,(b)pada`poros motor DC 7. Generator listrik

Generator listrik yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah 12V 100 mA, seperti terlihat pada Gambar 3.9.

Gambar 3.9. Generator listirk 8. Bola lampu dan wayar

Bola lampu yang akan digunakan adalah jenis bola lampu LED seperti pada Gambar 3.10.

Gambar 3.10. Lampu LED dan wayar kecil

3.3. Peralatan

Peralatan yang akan digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini antara :

1.

Wind Tunnel, Dengan menggunakan wind tunnel maka relative dapat di setting kecepatan angin dan kestabilannya sesuai dengan kebutuhan penelitian, seperti pada Gambar 3.11.

Gamba 3.11.Perangkat Wind Tunnel.

(1).Compressor,(2).Test section, (3).Diffuser, (4).Kain penghubung, (5).Drive section

2.

Inverter, Inverter adalah salah satu alat untuk mengubah arus AC ke DC untuk menyuplay listrik ke dinamo motor dengan arus DC, jadi alat ini aslinya mempunyai multi fungsi, merubah AC ke DC kemudian mengeluarkannya dengan arus AC kembali, inverter diperlihatkan pada Gambar 3.12.

Gambar 3.12. Inverter

3.

Vibrometer, Vibrometer VQ – 400 - A, Alat ini digunakan untuk mengukur kecepatan permukaan getaran , juga dapat digunakan untuk mendapatkan waktu kecepatan getaran suatu benda atau bahan uji. Seperti pada Gambar 3.13.

1

3 4 5

2

Gambar 3.13. Alat vibrometer

4. Tachometer, Tachometer adalah alat untuk mengukur kecepatan putaran yang dikopel langsung dengan poros. Seperti pada Gambar 3.14.

Gambar 3.14. Alat Tachometer

Spesifikasi Digital Photo Contact Tachometer sebagai berikut:

Name : Digital Photo Contact Tachometer Display : Photo Tach (5 to 99,999 rpm) Contact Tach (0,5 to 19,999 rpm)

Resulotion : Photo Tach/Contact Tach 0,1 rpm (0,5 to 999,9 rpm)

1 rpm (over 1,000 rpm)

Accuracy : ± (0,05 % + 1 Digit)

Sampling Time : Photo Tach (1 sec over 60 rpm) Contact Tach (1 sec over 6 rpm)

Battery : 4 x 1,5 V AA (UM-3) Battery

Size : 215 x 65 x 38 mm

Weight : 300 g (0,66 lb)/including Battery

5.

Multi tester digital. Hasil ukur yang ditampilkan pada multitester digital merupakan hasil yang telah sesuai, sehingga tidak perlu dilakukan lagi perhitungan antara hasil ukur dan batas ukur

.

Fungsi Multimeter yang dimiliki setiap multimeter ada beberapa macam tergantung tipe dan merk multimeter. Akan tetapi pada umumnya setiap multimeter / multitester memiliki 3 fungsi ukur utama yaitu sebagai alat ukur arus, tegangan dan resistansi seperti yang diperlihatkan pada Gambar 3.15.

Gambar 3.15. Alat multi tester digital

6.

Anemometer, Fungsi Anemometer yaitu sebagai perangkat atau alat yang digunakan untuk mengukur kecepatan angin. Dengan anemometer kita dapat memperkirakaan cuaca pada hari itu. Selain itu anemometer juga dapat difungsikan sebagai alat pendeteksi cuaca buruk seperi angin topan ataupun badai. Pada dasarnya anemometer adalah alat untuk mengukur kecepatan udara atau kecepatan gas dalam femonema terjadinya hembusan angin, contohnya untuk mengkur aliran udara di dalam saluran, atau juga pengukuran arus terbatasi, seperti angin atmosfer. Untuk menentukan kecepatan, anemometer mendeteksi perubahan di beberapa sifat fisik dari fluida atau efek fluida pada alat mekanis dimasukkan ke

6.

Anemometer, Fungsi Anemometer yaitu sebagai perangkat atau alat yang digunakan untuk mengukur kecepatan angin. Dengan anemometer kita dapat memperkirakaan cuaca pada hari itu. Selain itu anemometer juga dapat difungsikan sebagai alat pendeteksi cuaca buruk seperi angin topan ataupun badai. Pada dasarnya anemometer adalah alat untuk mengukur kecepatan udara atau kecepatan gas dalam femonema terjadinya hembusan angin, contohnya untuk mengkur aliran udara di dalam saluran, atau juga pengukuran arus terbatasi, seperti angin atmosfer. Untuk menentukan kecepatan, anemometer mendeteksi perubahan di beberapa sifat fisik dari fluida atau efek fluida pada alat mekanis dimasukkan ke

Dokumen terkait