C. Berdasarkan Luas Luka Bakar
1. Fase Inflamasi
Setelah terjadinya luka, respon inflamasi tubuh dimulai yang terdiri dari komponen vaskular dan seluler:
Respon vaskular terjadi sesaat setelah trauma luka bakar yang ditandai dengan adanya vasodilatasi dengan ekstravasasi cairan ke ruangan interstitial. Pada trauma luka bakar yang berat, peningkatan permeabilitas kapiler akan memicu ekstravasasi plasma masif (Tiwari, 2012).
Respon seluler ditandai dengan adanya sel neutrofil dan monosit sebagai sel pertama yang bermigrasi ke area inflamasi. Kemudian, neutrofil akan segera menurun dan digantikan oleh makrofag. Migrasi sel-sel tersebut diinduksi oleh faktor kemotaktik seperti kallkirein dan peptida fibrin yang dilepaskan dari proses koagulasi dan substansi yang berasal dari sel mast seperti tumour necrosis factor, histamin, protease, leukotrien dan sitokin. Respon seluler membantu fagositosis dan proses pembersihan jaringan mati dan toksin akibat jaringan yang terbakar (Tiwari, 2012).
2. Fase Proliferasi
Pada luka bakar partial thickness, re-epitelisasi akan dimulai dalam bentuk migrasi keratinosit dari sisa kulit yang masih utuh pada dermis beberapa jam setelah luka, biasanya proses ini akan menutup luka dalam 5 hingga 7 hari. Setelah re-epitelisasi membran basal terbentuk diantara dermis dan epidermis, angiogenesis dan fibrogenesis akan membantu rekonstruksi dermis (Tiwari, 2012).
3. Fase Remodeling
Fase remodeling merupakan fase ketiga dari proses penyembuhan dimana maturasi graft dan sikatriks terjadi. Pada fase akhir ini diawali dengan penambahan protein struktural fibrosa seperti kolagen dan elastin di sekitar epitelium, endotel dan otot polos sebagai matriks ekstraselular.
Kemudian, fase resolusi pada matriks ekstraselular akan menjadi jaringan sikatriks dan fibroblas akan menjadi fenotipe miofibroblas yang akan
bertanggung jawab terhadap kontraksi sikatriks. Pada luka bakar derajat II dalam dan derajat III, fase resolusi akan memanjang hingga beberapa tahun dan akan membentuk kontraktur luka serta jaringan parut hipertropik (Tiwari, 2012). Hiperpigmentasi yang terlihat pada luka bakar superfisial diakibatkan adanya respon berlebih dari melanosit terhadap trauma luka bakar, sedangkan hipopigmentasi pada luka bakar dalam diakibatkan hancurnya melanosit pada kulit (Tiwari, 2012).
2.2.7 Tatalaksana
a. Pertolongan pertama
- Hentikan proses pembakaran
- Pertama, pertimbangkan keamanan Anda sendiri - Jika terbakar: Stop-drop-roll
- Jika listrik: Matikan arus
- Jika bahan kimia: Lepaskan agen yang terbakar dan irigasi dengan air - Dinginkan luka bakar dengan air keran dingin selama 20 menit, berguna
hingga 3 jam setelah cedera - Jangan menyebabkan hipotermia - Jangan gunakan es
Untuk semua luka bakar :
- Lepaskan pakaian yang tidak menempel di luka bakar - Lepaskan semua perhiasan
- Tutupi luka bakar
- Menggunakan kassa bersih balutan bersih yang lain - Mencari bantuan medis
Kriteria rujukan menurut Australian & New Zealand Burn Association (ANZBA)
- Luka Bakar lebih besar dari 10% (TBSA)
- Luka akar lebih besar dari 5% TBSA pada anak-anak
21
- Full Thickness burns lebih dari 5% TBSA
- Luka Bakar pada Area Khusus ( Wajah, tangan, kaki, genitalia, perineum, sendi utama dan luka bakar ekstremitas atau dada) - Luka bakar dengan cedera inhalasi
- Luka bakar listrik - Luka bakar kimia
- Luka bakar dengan penyakit yang sudah ada sebelumnya - Luka bakar terkait dengan trauma besar
- Luka bakar pada anak kecil dan orang tua.
- Luka bakar pada wanita hamil
Luka bakar ringan dapat diobati dapat dengan menggunakan perawatan luka bakar sebagai berikut :
- Pendinginan : Area luka bakar kecil dapat didinginkan dengan air keran atau saline solution nuntuk mencegah perkembangan pembakaran dan mengurangi
rasa sakit.
- Pembersihan : Air dan sabun antibakteri.
- Menutup : Salep antibiotik topikal
- Kenyamanan : Obat nyeri atau obat nyeri resep bila diperlukan. Belat juga dapat memberikan dukungan dan kenyamanan untuk area terbakar tertentu.
Untuk luka bakar yang tergolong parah (>20% TBSA):
1. A (Airway)
Perhatikan riwayat luka bakar di ruang tertutup, tanda-tanda edema jalan napas atas, sputum hitam, luka bakar pada wajah, gangguan pernapasan (sesak napas, stridor, mengi, suara serak).
Jika terdapat tanda-tanda di atas, maka jalan nafas beresiko.Pertimbangkan kebutuhan untuk intubasi dan mengamankan jalan napas sesuai kebutuhan.Pertahankan tindakan pencegahan trauma tulang belakang terutama saat terjadi ledakan atau pada pasien luka bakar listrik.
2. B (Breathing)
Nilailah pernapasan sesuai kebutuhan.
Perhatikan kecukupan pernapasan saat terdapat luka bakar sirkumferensial pada dinding dada, pertimbangkan escharotomy.
3. C (Circulation)
Nilai sirkulasi: warna, tekanan darah, dan detak jantung (ANZBA, 2013) Untuk luka bakar yang tergolong parah juga dilakukan resusitasi cairan.
Resusitasi cairan harus dimulai untuk mempertahankan pengeluaran urin> 0,5 mL / kg / jam. Salah satu formula resusitasi cairan yang umum digunakan adalah formula Parkland.
Jumlah total cairan yang akan diberikan selama 24 jam awal adalah:
4 ml RL × berat pasien (kg) ×% TBSA.
Setengah dari jumlah dihitung diberikan selama delapan jam pertama dimulai ketika pasien awalnya dibakar. Sebagai contoh, jika 70 kg pasien memiliki 30% TBSA luka bakar ketebalan parsial mereka akan membutuhkan 8400 mL larutan Ringer Laktat dalam 24 jam pertama dengan 4200 mL dalam 8 jam pertama dan 4200 mL dalam 16 jam berikutnya . Ingatlah bahwa formula resusitasi cairan untuk luka bakar hanya perkiraan dan pasien mungkin memerlukan lebih banyak atau lebih sedikit cairan berdasarkan tanda-tanda vital, keluaran urin, cedera lain atau kondisi medis (Schaefer, 2019).
2.2.8 Komplikasi
Komplikasi pada pasien luka bakar berdasarkan waktu terjadinya, yaitu segera, awal, dan lanjut. Komplikasi segera dari luka bakar adalah sindrom kompartemen dari luka bakar sirkumferensial. Sebagai contoh, luka bakar pada ekstremitas dapat mengakibatkan iskemia ekstremitas dan luka bakar toraks dapat menyebabkan hipoksia dikarenakan adanya gagal napas rekstriktif (Grace dan Borley, 2006).
Adapun komplikasi awal luka bakar yaitu hiperkalemia karena adanya sitolisis pada luka bakar yang luas, gagal ginjal akut (kombinasi dari hipovolemia,
23
sepsis, dan toksin jaringan), infeksi, dan ulkus akibat stres (ulkus Curling) (Grace dan Borley, 2006).
Komplikasi lanjut luka bakar adalah terjadinya kontraktur. Kontraktur merupakan kontraksi yang menetap dari kulit dan atau jaringan dibawahnya yang dapat menyebabkan deformitas dan keterbatasan gerak. Kelainan ini disebabkan karena tarikan parut abnormal pasca penyembuhan luka bakar (Perdanakusuma, 2009).
2.3 ALBUMIN
2.3.1 Definisi Albumin
Albumin merupakan protein plasma yang paling banyak terdapat dalam tubuh manusia, yaitu sekitar 55-60%. Albumin terdiri dari rantai tunggal polipeptida dengan berat molekul 66,4 kDa dan terdiri dari 585 asam amino. Pada molekul albumin terdapat 17 ikatan disulfida yang menghubungkan asam-asam amino yang mengandung sulfur. Molekul albumin berbentuk elips sehingga dengan bentuk molekul seperti itu tidak akan meningkatkan viskositas plasma dan larut sempurna. Kadar albumin serum ditentukan oleh fungsi laju sintesis, laju degradasi, dan distribusi antara kompartemen intravaskular dan ekstravaskular.
Cadangan total albumin 3,5-5,0 g/kg BB atau 250-300 g pada orang dewasa sehat dengan berat 70 kg, dari jumlah ini 42% berada di kompartemen plasma dan sisanya di dalam kompartemen ektravaskular (Evans, 2002). Albumin manusia (human albumin) dibuat dari plasma manusia yang diendapkan dengan alkohol.
Albumin secara luas digunakan untuk penggantian volume dan mengobati hipoalbuminemia (Uhing, 2004: Boldt, 2010).
2.3.2 Fungsi Albumin
Menurut Maulidah (2015), fungsi albumin adalah sebagai berikut: