BAB II LANDASAN TEORI
2.2 Metodelogi Peningkatan Six Sigma
2.2.2 Fase Measure
Contoh dari proses mapping bisa dilihat pada Gambar 2.2 berikut.
Gambar 2.2 contoh proses mapping
2.2.2 Fase Measure
Fase Measure (M) merupakan fase mengukur tingkat kecacatan pelanggan dan tingkat kinerja. Dalam fase ini, pengukuran yang dilakukan antara lain:
28 1. Pengukuran baseline kinerja
Sebelum dilakukan proses six sigma harus dilakukan pengukuran tingkat kinerja saat ini atau pengukuran baseline kinerja. Ukuran hasil kinerja
baseline yang digunakan pada six sigma adalah tingkat DPMO (Defect Per Million Opportunity) dan pencapaian tingkat kapabilitas sigma (sigma level). Perhitungan nilai sigma dilakukan untuk mengetahui performa proses saat ini yang akan menjadi tolak ukur dalam menentukan tindakan perbaikan yang harus dilakukan. Langkah-langkahnya yaitu:
a. Menghitung nilai DPMO
DPMO merupakan suatu ukuran kegagalan dalam Six Sigma yang menunjukan kerusakan suatu produk dalam satu juta barang yang diproduksi. Kriteria DPMO harus didefinisikan dengan teliti. Kerusakan dapat digambarkan dengan tidak bersih, tidak tepat atau tidak sesuai dengan standar. DPMO dituliskan dengan persamaan:
2.1
Nilai DPMO dari suatu produk menggambarkan rata-rata pengukuran pada suatu proses.
b. Mengobservasi nilai DPMO ke nilai sigma mengunakan tabel konversi sigma
29
setelah diperoleh nilai DPMO dan level sigma, maka kita dapat mengetahui besarnya baseline kinerja perusahaan saat ini.
2. Pengukuran tingkat kapabilitas proses (capabilityproses).
Suatu proses disebut mempunyai kapabilitas jika proses tersebut mempunyai kemampuan untuk menghasilkan output yang berada dalam batas spesifikasi yang diharapkan. yaitu apabila nilai rata-rata dari proses tersebut sama dengan nilai target yang diharapkan dan besarnya rentang batas spesifikasi yang diinginkan perusahaan, yaitu batas spesifikasi atas perusahaan (USL) dan batas spesifikasi bawah perusahaan (LSL) lebih besar dari rentang batas kontrol pada produk yaitu dihasilkan, yaitu garis hasil atas (UCL) dan garis hasil bawah (LCL) [6]. Untuk lebih jelasnya dapat dillihat pada Gambar 2.2. Besarnya batas spesifikasi perusahaan ditentukan oleh bagian Quality Control pada perusahaan sedangkan besarnya batas terkontrol dapat diketahui melalui bagan kendali
Shewhart.
Ukuran yang menyatakan kemampuan proses tersebut dinamakan capability index. Sedangkan analisanya disebut analisa proses kapabilitas. Analisa proses kapabilitas dapat digunakan apabila proses tersebut berada dalam proses control statistik. Apabila tidak maka nilai kapabilitasnya tidak dapat dipercaya.
30
Gambar 2.3 Bentuk Bagan Kendali Proses Mempunyai Kapabilitas
Menurut [6], proses kapabilitas dapat digolongkan kedalam tiga kondisi, yaitu:
a. Proses yang memiliki kapabilitas tinggi, terjadi jika rentang proses berada didalam rentang spesifikasi (dapat dilihat pada Gambar 2.4).
2.2
Gambar 2.4 Bagan Kendali Kapabilitas Tinggi
b. Proses yang memiliki kapabilitas hampir tidak cukup, terjadi jika rentang proses sama dengan rentang spesifikasi (Gambar 2.5).
31
2.3
Gambar 2.5 Bagan Kendali Kapabilitas hampir tidak cukup
c. Proses yang tidak memiliki kapabilitas, terjadi jika rentang proses lebih besar dibandingkan dengan rentang spsesifikasi (Gambar 2.6).
2. 4
Gambar 2.6 Bagan Kendali Proses tidak memiliki Kapabilitas
Terdapat berbagai indeks kapabilitas proses, akan tetapi dalam skripsi ini akan digunakan 3 macam indeks, yaitu:
32
a. Indeks Kapabilitas Proses Cp
Indeks Kapabilitas Proses Cp merupakan indeks kapabilitas yang paling
sederhana, digunakan untuk menunjukan kemampuan suatu proses dalam memenuhi spesifikasi limit. Ada beberapa asumsi yang harus dipenuhi sebelum menggunakan Cp, yaitu distribusi dari proses harus berdistribusi normal dan nilai rata-rata proses (X) harus tepat sama dengan nilai target (T), yang berarti nilai X dari proses harus tepat berada di tengah dari interval nilai USL dan LSL. Jika asumsi ini tidak terpenuhi, maka nilai Cp akan memberikan misleading
result (kurang dapat dipercaya). Dapat dikatakan Cp merupakan perbandingan
antara rentang spesifikasi dengan rentang proses, sehingga seharusnya bernilai lebih dari satu [6]. Dituliskan:
2.5
Sehingga:
2.6
Nilai Cp = 1, jika rentang spesifikasi sama dengan rentang proses. Dikatakan proses hampir memiliki kapabilitas.
Nilai Cp > 1, jika rentang spesifikasi lebih besar dari rentang proses. Dikatakan
proses memiliki kapabilitas tinggi.
Nilai Cp < 1, jika rentang spesifikasi lebih kecil dari rentang proses. Dikatakan
33
Secara umum dapat dikatakan semakin besar nilai Cp, maka semakin baik proses
tersebut. Six sigma merupakan pengembangan dari konsep Cp. Proses
memiliki Cp = 2. Hubungan antara nilai Cp dan kapabilitas proses dapat di lihat
pada Tabel 2.2 di bawah ini [7].
Table 2.2 Hubungan Cp dan Kapabilitas proses
Cp Kapabilitas Proses 0, 33 1, 0 σ 0, 50 1, 5 σ 0, 67 2, 0 σ 0, 83 2, 5 σ 1, 00 3, 0 σ 1, 17 3, 5 σ 1, 13 4, 0 σ 1, 50 4,5 σ 1, 67 5, 0 σ 1, 83 5,5 σ 2, 00 6, 0 σ 2, 17 6, 5 σ 2, 33 7, 0 σ
b. Cpk (Indeks Kapabilitas Aktual)
Cpk merupakan indeks yang menunjukan seberapa baik suatu proses dapat
memenuhi spesifikasi limit, dengan mengukur jarak terdekat antara kinerja proses dan batas spesifikasi. Semakin kecil nilai Cpk semakin dekat jarak kinerja
proses dan batas spesifikasi, hal ini berarti proses tersebut semakin baik. Formula Cpk dituliskan [6].
34 Dengan
35 Jadi, 2.8 Dengan: = rata-rata proses = simpangan/standar deviasi
dapat dikatakan bahwa Cpk lebih baik daripada Cp. Akan tetapi Cpk juga
mempunyai kekurangan, yaitu Cpk hanya melihat penyebaran dari rata-rata
proses dan spesifikasi limit, sehingga tidak dapat memberikan informasi bagaimana penyebaran dari proses control secara keseluruhan, hanya bagaimana penyebaran proses terhadap spsesifikasi limit.
Terdapat hubungan antara Cpk dan kapabilitas proses pada berbagai tingkat
sigma. Hubungan tersebut sama dengan yang ditunjukan pada Tabel 2.3 di bawah ini.
36
Tabel 2.3 Hubungan Cpk dan Kapabilitas Proses
Cpk Kapabilitas Proses 0,33 1, 0 σ 0,50 1, 5 σ 0,67 2, 0 σ 0,88 2, 5 σ 1,00 3, 0 σ 1,17 3, 5 σ 1,33 4, 0 σ 1,50 4,5 σ 1,67 5, 0 σ 1,83 5,5 σ 2,00 6, 0 σ 2,17 6, 5 σ 2,33 7, 0 σ
1. Indeks kapabilitas proses Cpm
Indeks kapabilitas proses Cpm (disebut juga Taguchi Capability Index) digunakan untuk mengukur pada tingkat mana output suatu proses berada pada nilai spesifikasi target kualitas (T) yang diinginkan oleh pelanggan. Semakin tinggi nilai Cpm menunjukan bahwa output proses itu semakin mendekati nilai spesifikasi target kualitas (T) yang diinginkan pelanggan. Formula Cpm di tuliskan:
2.9
Dengan adalah variansi dan selisih antara rata-rata proses ( ) dan target (T).
37
1. Dapat diterapkan pada suatu interval spesifikasi yang tidak simetris (asymmetrical specification interval), di mana nilai spesesifikasi target kualitas (T) tidak berada pada tepat di tengah nilai USL dan LSL.
2. Dapat dihitung untuk tipe distribusi apa saja, tidak mensyaratkan data harus berdistribusi normal. Hal ini berarti perhitungan Cpm adalah bebas dari persyaratan distribusi data, serta tidak memerlukan lagi uji normalitas untuk mengetahui apakah data yang dikumpulkan dari proses itu berdistribusi normal.
Dalam program peningkatan kualitas Six Sigma, biasanya dipergunakan kriteria sebagai berikut:
a) Cpm≥ 2,00
Proses dianggap mampu dan kompetitif. b) 1,00 ≤ Cpm≤ 1,99
Proses dianggap cukup mampu, namun perlu upaya-upaya giat untuk peningkatan kualitas menuju target perusahaan berkelas dunia yang memiliki tingkat kegagalan sangat kecil menuju nol (zero defect oriented). Perusahaan yang memiliki nilai Cpm yang berada di kisaran ini memilliki kesempatan
terbaik dalam melakukan program peningkatan kualitas six sigma. c) Cpm < 1,00
Proses dianggap tidak mampu dan tidak kompetitif untuk bersaing di pasar global.
38