BAB IV. PERAN DARI TIGA KELUARGA DALAM MENANAMKAN
4.3. Keluarga Zahira
4.3.1. Latar Belakang Keluarga Zahira
Zahira Ananda Putri atau biasa dipanggil dengan sebutan Zahira saat ini telah menginjak usia 5 tahun. Zahira tinggal di Jl. Swadaya berdekatan dengan rumah Syifa. Kondisi rumah Zahira sederhana bersih serta nyaman untuk dijadikan tempat tinggal mereka.
Lingkungan di daerah rumah Zahira bersih serta, masyarakat di sana pun sangat baik, ramah dan sering bersilaturahmi satu sama lain. Rumah Zahira juga berdekatan dengan Pak Kepling. Tetapi di lingkungan sekitar rumah Zahira sering terjadi perampokan rumah. Syukurnya rumah Zahira tidak pernah kemalingan dan jangan sampai hal itu terjadi. Begitulah kondisi tempat tinggal Syifa.
Zahira tinggal bersama Ayah, Ibu dan Tami abangnya yang sekarang ini sudah sekolah kelas 5 SD. Ayahnya bernama Pak Nanda dan Ibunya bernama Ibu Juli. Pak Nanda yang berpendidikan SMA pekerjaannya adalah seorang Kuli Bangunan. Walaupun kehidupan mereka sederhana, tetapi Pak Nanda tidak pernah meninggalkan Shalat. Bahkan beliau sering mengajak Zahira dan Tami untuk pergi ke mesjid.
Pak Nanda selalu mengajarkan kepada anak-anaknya untuk berinfaq di mesjid. Pak Nanda mempunyai jiwa kesosialan yang tinggi yaitu selalu ingin membantu orang-orang disekitarnya baik itu dari segi materi ataupun dari segi tenaga. Di samping itu karena Pak Nanda seorang Kuli Bangunan jadi, ia dengan mudah dapat membantu tetangganya dengan keahliannya itu.
Sedangkan Ibu Juli tidak bekerja hanya menjadi ibu rumah tangga saja, dan mengasuh 2 anaknya. Sejak kecil Zahira dan Tami di didik oleh Ibu Juli tentang Ilmu Agama yang baik dan benar. Ibu Juli sangat aktif dalam mendidik anak-anaknya dan menanamkan sifat-sifat sosial seperti ringan tangan atau berinfaq di mesjid, kemudian saling membantu satu sama lain.
Pola asuh yang digunakan oleh Pak Nanda dan Ibu Juli kepada Zahira dan Tami yakni pola asuh demokratis. Dimana pola asuh demokratis merupakan yang paling ideal. Hal ini dikarenakan keinginan Zahira dan Tami dihargai dan didengarkan sementara Pak Nanda dan Ibu Juli tetap memegang kendali. Dalam pola asuh ini, hubungan antara Zahira dan Tami dengan orang tuanya bisa menjadi hangat di satu waktu, namun di waktu yang lain Orang tua mereka menjadi tegas.
Selain itu, pengambilan keputusan merupakan kesepakatan antara Orang tua dan anak-anaknya.
Keterbukaan juga dijunjung tinggi dalam keluarga ini, setiap keputusan yang diambil disertai alasan mengapa boleh dan tidak boleh. Selain itu dapat melatih kemampuan Zahira dan Tami untuk bertanggung jawab. Namun pola asuh ini harus dijalankan secara seimbang. Jangan sampai justru berat sepihak hingga
berakhir pada konflik antara anak dan orang tua. Jika Pak Nanda dan Ibu Juli berhasil dalam memberi pola asuh secara demokratis maka, dapat membuat Zahira dan Tami menjadi sosok yang memiliki harga diri tinggi, mandiri, tumbuh rasa percaya diri, bisa mengontrol diri dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap keputusan yang di ambil.
Kegiatan sehari-hari Zahira yakni pagi belajar di PAUD Sanggar Kreatifitas Anak dan malam sesudah Maghrib belajar membaca Iqra’ dan melaksanakan Shalat gurunya dan abangnya. Kegiatan abangnya pun hampir sama cuma bedanya Tami masuk sekolah siang abis Zuhur. Tami sangat menyayangi Zahira begitupun sebaliknya. Zahira mempunyai sifat penyabar sama seperti Orang tuanya yang sangat sayang kepada anak-anaknya. Walaupun Zahira masih berumur 5 tahun, tetapi sudah bersikap dewasa dan penurut kepada Orang tuanya.
Dia tidak malas dalam melaksanakan Shalat 5 waktu.
Kebiasaan ini sudah tertanam kepada Zahira karena, Kakek Zahira dulu waktu muda pernah menjadi Qori’ di kampungnya. Itulah sebabnya Zahira dan Tami selalu di ajarkan mengaji oleh Kakek dan Neneknya. Setelah itu, Kakek dan Neneknya sudah menanamkan kepada Zahira waktu kecil untuk menjadi anak yang baik, penyabar serta patuh dan hormat kepada kedua Orang tua. Begitu juga abangnya Zahira yang sudah berniat untuk masuk ke Pesantren setelah tamat SD nanti. Dan Orang tua Zahira berharap kelak Zahira akan menyusul abangnya untuk masuk ke Pesantren.
Boleh dikatakan kedua Orang tua Zahira adalah Orang tua yang baik, aktif dan penyabar. Itu semua disebabkan dari Kakek dan Neneknya Zahira yang memang dari kecil, Orang tua Zahira diajarkan Ilmu-ilmu Agama yang baik.
Apalagi hubungan Silaturahmi antara mereka sesama saudara kandung sangat dekat dan tetap berkomunikasi satu sama lain tidak pernah putus sampai saat ini.
Sehingga Zahira dan Tami tidak pernah kekurangan kasih sayang dari Orang tua, Oom dan Tante-tantenya. Meskipun kehidupan ekonomi mereka sederhana tetapi, keluarga mereka saling menyayangi satu sama lain.
4.3.2. Peran Orang Tua Dalam Menanamkan Pelaksanaan Ibadah Shalat Pada Zahira
Peran Orang tua dalam menanamkan Ibadah Shalat kepada kedua anaknya sangat baik dan cukup mudah diterima oleh Zahira dan Tami. Karena, Pak Nanda dan Ibu Juli termasuk Orang tua yang Sholeh dan Sholihah. Mereka menanamkan Ibadah Shalat kepada kedua anaknya dengan cara.Menyekolahkan Zahira dan Tami ke sekolah yang baik dan yang lebih mengutamakan Ilmu Agama. Setelah itu Pak Nanda dan Ibu Juli memanggil Guru Mengaji ke rumah yaitu dalam 1 Minggu 3 kali di hari Selasa, Kamis dan Jum’at.
Kakek dan Neneknya juga sangat berperan dalam menanamkan pelaksanaan Ibadah Shalat ini. Karena, dari sejak kecil Orang tua Zahira dan Tami sudah dididik untuk tidak meninggalkan Shalat 5 waktu. Jadi, ilmu ini juga yang diterapkan Pak Nanda dan Ibu Juli kepada kedua anaknya. Sehingga Zahira dan
Tami dari sejak umur 4 tahun sudah melaksanakan Shalat dan setelah umur 7 tahun nanti, mereka berdua harus mengerjakan Shalat 5 waktu.
Disamping itu, sifat penyabar Pak Nanda dan Ibu Juli dalam mendidik anak-anaknya, mereka tidak pernah merasakan paksaan untuk melaksanakan Shalat dan mengaji. Zahira dan Bustami juga merupakan anak yang penurut dan saling menyayangi satu sama lain. Maka terjalinlah hubungan Silaturahmi yang kuat antara Ayah, Ibu, Oom, Tante dan sepupu-sepupunya.
4.3.3. Faktor Pendukung Dalam Menanamkan Pelaksanaan Ibadah Shalat Pada Zahira
Faktor pendukung keberhasilan Zahira dan Tami menjadi anak yang rajin melaksanakan Ibadah Shalat yaitu berasal dari kedua orang tua mereka. Kedua oramg tua Zahira dan Tami adalah yang sangat baik, pemyabar, penyayang dan taat kepada Allah SWT. Pak Nanda dan Ibu Juli rajin Shalat 5 waktu dan tidak sombong kepada siapa pun. Secara turun-temurun keluarga mereka taat beribadah, karena Kakek dan Neneknya Zahira dan Tami orang yang rajin Shalat dan mengerti Agama Islam. Bahkan Kakeknya sewaktu muda menjadi seorang Qori’
yang baik dan di pandang orang sangat bagus suaranya dalam membaca Al-Qur’an.
Dengan begitu Pak Nanda dan Ibu Juli berinisiatif untuk memanggil guru mengaji ke rumah. Agar kelak Zahira dan Tami dapat menjadi seorang Qori’ dan Qori’ah untuk meneruskan generasi dari Kakeknya. Dalam seminggu 3 kali Zahira
dan Tami belajar membaca Iqra’, Shalat dan belajar menghafal surah-surah pendek. Di samping memanggil guru mengaji ke rumah, Pak Nanda dan Ibu Juli memasukkan anaknya ke pendidikan yang Islami.
Seperti Zahira yang sekarang ini masuk dan belajar di dalam PAUD Sanggar Kreatifitas Anak. Dimana PAUD tersebut, mengajarkan Zahira untuk Shalat, membaca Iqra’ dan membaca doa-doa dalam Islam. Bahkan abangnya Tami pun sekolah Islami, dan di dalam sekolah tersebut belajar mengenai sejarah-sejarah Islam. Dengan begitu Zahira dan Tami dapat mengamalkan dan melaksanakan Ibadah Shalat sejak usia dini. Jadi, sangat banyak sekali hal-hal yang mendukung Zahira dan Tami untuk lebih taat beribadah, beramal Sholeh. Hal yang paling penting untuk medukung Zahira dan Tami untuk rajin beribadah yaitu nasehat dari kedua orang tua mereka untuk tetap menjadi anak yang Sholeh dan Sholeha.
4.3.4. Faktor Penghambat Dalam Menanamkan Pelaksanaan Ibadah Shalat Pada Zahira
Faktor penghambatnya adalah hanya rasa malas-malasan yang ada pada diri Zahira dan Tami. Karena teman-teman Zahira masih banyak yang belum melaksanakan Ibadah Shalat ataupun memanggil Guru Mengaji ke Rumah. Zahira masih sering menonton TV sampai lupa sudah masuk waktu Shalat atau waktu untuk belajar mengaji. Jadi, itu lah faktor penghambatnya untuk Zahira dan abangnya untuk melaksanakan Ibadah Shalat dan belajar mengaji.
4.3.5. Solusi Untuk Mengatasi Faktor Penghambat Dalam Menanamkan Pelaksanaan Ibadah Shalat Pada Zahira
Solusi untuk mengatasi faktor penghambat dalam menanamkan Ibadah Shalat yakni dengan kesabaran Pak Nanda dan Ibu Juli dalam menanamkan pelaksanaan Ibadah Shalat kepada kedua anaknya yaitu dengan cara Pak Nanda dan Ibu Juli harus menjadi Orang tua yang taat kepada Allah SWT. Dan tak lupa pula Pak Nanda dan Ibu Juli harus selalu menjalankan Ibadah Shalat 5 waktu, kemudian memberi contoh kepada anak-anaknya untuk berinfaq di Mesjid.
Pak Nanda harus terus mengajak Zahira dan Tami untuk Shalat berjamaah di Mesjid. Agar mereka menjadi anak yang bisa bergaul dengan seluruh masyarakat yang ada di sekitar mereka khusunya di lingkungan Mesjid. Dengan menerapkan disiplin yang lebih ketat untuk anaknya terkhusus untuk Tami yang berusia 10 tahun itu sudah wajib melakukan Shalat dan tidak boleh meninggalkan Shalat lagi. Islam mengajarkan kepada kita jika anak sudah berumur 10 tahun belum melaksanakan Shalat, maka wajib bagi Orang tua untuk memukul dengan perlahan bukan dengan kekerasan yang bisa menyakitinya.
Ini contoh keluarga yang berperan aktif dalam menanamkan pelaksanaan Ibadah Shalat. Walaupun dengan kehidupan yang sederhana, mereka cukup bahagia dengan jalinan Silaturahmi yang kuat antara saudara-saudara kandungnya.
Mereka sesama saudara tidak pernah putus hubungan, saling menyayangi satu sama lain, penyabar, mempunyai sifat sosial yang baik, rajin beribadah dan bersedeqah. Keluarga ini juga saling mengingatkan satu sama lain untuk tetap taat kepada Allah SWT menjalani perintah Nya dan menjauhi larangan Nya. Luar biasa semoga kita semua dapat mencontoh keluarga Zahira Ananda Putri yang
MATRIK TIGA KELUARGA
Penanaman Nilai-Nilai Agama Pada Anak Usia Dini
No Indikator Keluarga Syifa Keluarga Fajri Keluarga Zahira
1 Latar Belakang
3 Faktor Pendukung
BAB V
PENUTUP
5.1. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah peneliti lakukan dan telah peneliti jabarkan mengenai peran orang tua dalam menanamkan ibadah shalat pada anak usia dini (PAUD) di Sanggar Kreatifitas Anak (SKA) Pinang Baris Penulis menyimpulkan bahwa:
Peran orang tua dalam menanamkan ibadah shalat pada anak usia dini (PAUD) di Sanggar Kreatifitas Anak (SKA) Pinang Baris sangatlah penting dan harus ada perencanaan yang matang, dan sudah di pikirkan oleh para orang tua Syifa dan Zahira. Dengan cara metode keteladanan, adat kebiasaan, nasehat, perhatian dan pengawasan. Orang tua memberikan bimbingan kepada anaknya setiap hari, tetapi yang lebih banyak berperan memberikan bimbingan adalah ibu.
Pelajaran tentang shalat yang diberikan yaitu tentang cara wudhu, bacaan-bacaan dan gerakan-gerakan shalat.
Faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan ibadah dimulai dari orang tuanya. Seperti kurangnya kasih sayang, perhatian dan kelalaian orang tua.
Adapun cara mendukung pelaksanaan ibadah shalat yaitu dengan cara memberikan pembinaan, pengawasan dan membiasakan anak untuk melakukan shalat yang sangat penting dan untuk pertumbuhan perkembangannya. Selain itu, PAUD Sanggar Kreatifitas Anak (SKA) juga salah satu pendukung dalam
Solusi untuk mengatasi faktor penghambat yaitu sebagai Orang tua memberikan motivasi yang bersifat materi maupun maknawi sangatlah baik.
Motivasi itu diharapkan bisa memberi peran yang besar terhadap jiwa anak dan juga terhadap kemajuan gerakannya yang positif dan membangun dalam menyikap potensi-potensi dan kecondongan-kecondongan yang dimilkinya.
Disamping itu, ia juga mendorong anak untuk terus maju ke depan.
5.1.Saran
Sehubungan dengan kesimpulan dalam penelitian ini maka dalam skripsi ini penulis mencoba memberikan sumbangsi pemikiran sebagai masukan. Adapun saran-saran penulis sebagai berikut :
1. Bagi orang tua
Peran orang tua dalam menanamkan ibadah shalat pada anak usia dini sangat besar manfaatnya dalam membentuk kepribadian anak, apalagi kepribadian yang islami dengan diwajibkannya shalat lima waktu pada usia yang telah ditentukan. Sedangkan pada kenyataannya masih kurang peran orang tua terhadap anak khususnya dalam menanamkan ibadah shalat pada anak sejak dini. Untuk mengatasi hal ini perlu adanya pembinaan terhadap orang tua di PAUD Sanggar Kreatifitas Anak Pinang Baris
2. Bagi pembaca
Peran orang tua dalam menanamkan ibadah shalat pada anak usia dini merupakan hal yang penting dalam kehidupan, untuk itu pembaca harus sadar akan pentingnya peran orang tua khususnya calon-calon orang tua yang akan mendidik anak-anaknya kelak.
3. Bagi masyarakat
Mendidik anak sejak usia dini adalah hal pertama dan utama yang harus dilakukan oleh orang tua terutama dalam hal keagamaan, jadi kita sebagai orang tua harus membimbing anak dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai warga masyarakat hanya mengandalkan lembaga saja dalam mendidik anak, tetapi harus ada kerjasama antara orang tua maupun lembaga dalam hal mendidik anak.
DAFTAR PUSTAKA Sumber Buku/Literatur:
Al-Faruq, Asadulloh. (2010). Mendidik Balita Mengenal Agama. Solo: Kiswah Media.
Aly, Hery Noer. (1999). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Logos.
Amin, Samsul Munir. (2007). Meniyapkan Masa Depan Anak Secara Islami.
Jakarta: Amzah.
Arikunto, Suharsimi. (2013). Prosedur Penelitian Suatu Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Ar-Ramadi, Amani. (2013). Pendidikan Cinta Untuk Anak. Solo: Aqwan.
Bachtiar, Wardi. (1997). Metodologi Penenlitian Ilmu Dakwah. Jakarta: Logos.
Bungin, Burhan. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif Cet.10. Jakarta:
Rajawali Pers.
Coombs, Philip. (1973). Memerangi Kemiskinan di Pedesaan melalui Pendidikan Non Formal. Jakarta: CV. Rajawali.
Daradjat, Zakiah. (1996). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Daradjat, Zakiah. (2005). Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang.
Dewantara, Ki Hadjar. (1961). Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Taman Siswa.
Dhofier, Zama Khasyari. (1994). Tradisi Pesantren. Jakarta: LP3ES
Gunawan, Imam. (2016). Metode Penelitian Kualitatif Teori & Praktik. Jakarta:
Bumi Aksara.
Hasan, Abd. (2008). Tafsir Ibadah. Yogyakarta: Pustaka Pesantren.
Hasanuddin. (1984). Cakrawala Kuliah Agama. Surabaya: Al-Ikhlas.
Ihromi, T.O. (1999). Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Jakarta: Yayasan Obor Indo.
Khairuddin. (1997). Sosiologi Keluarga. Yogyakarta: Liberti
Koentjaraningrat. (1990). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Lalumpoh, Cyrus.T. dkk. (2017). Metode Pengembangan Moral dan Nilai-Nilai Keagamaan Bagi Anak Usia Dini. Jakarta: Grasindo.
Moleong, Lexy.J. (2013). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Roesdakarya.
Narbuko, Cholid. dkk. (2015). Metodologi Penelitian Cet.14. Jakarta: Bumi Aksara.
Nasution, S. (2006). Metode Research. Jakarta: Bumi Aksara.
Saam, Zufan. (2013). Psikologi Konseling. Jakarta: PT. Graha. Grafindo Persada.
Salim, Peter. dkk. (1992). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Modern English Press.
Sedarmayati. dkk. (2002). Metodologi Penelitian Cet.1. Bandung: Mandar Maju.
Soekanto, Soejono. (1990). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R%D. Bandung:
Alfabeta.
Sulaiman, Abu Amr Ahmad. (2012). Panduan Mendidik Anak Muslim Usia Pra Sekolah. Jakarta: Darul Haq.
Suryabrata, Sumadi. (2010). Metode Penelitian. Jakarta: Rajawali Pers.
Sutoyo, Anwar. (2014). Bimbingan Dan Konseling Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suyono. (1985). Kamus Antropologi. Jakarta: Akademika Pressindo.
Rahman, Jamaal Abdur. (2005). Tahapan Mendidik Anak Teladan Rasulullah.
Bandung: Irsyad Baitus Salam.
Rifa’I, Moh. (2012). Risalah Tuntunan Shalat Lengkap. Semarang: PT. Karya Toha Pura.
Yus, Anita. (2011). Model Pendidikan Anak Usia Dini. Surabaya: Prenada Media.
Yusuf, Syamsu. (2009). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya.
Sumber Skripsi/Jurnal:
Gea, Antonius Atosokhi. (2008). Enculturation Pengaruh Lingkungan Sosial Terhdap Pembentukan Perilaku Budaya Individu. 3.
Komarudin, Didin. (2015). Bimbingan Keagmaan Bagi Anak (Studi di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Al-Fadillah Maguwoharjo Depok Sleman Yogyakarta).
Mustaqimah, Chalifah. (2016). Peran Orang Tua Dalam Meningkatkan Perilaku Keberagamaan Anak (Studi Terhadap 3 Keluarga di Desa Balupayung, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap).
Sumardiono, Agus. (2014). Metode Orang Tua Dalam Membangun
Sumber Internet:
http://saepul2408.blogspot.co.id/2014/10/kewajiban-orangtua-kepada anaknya.html?m=1 diakses pada tanggal 7 Mei 2019.
http://uzzaewa.blogspot.co.id/2014/06/faktor-pendukung-dan penghambat.html?m=1 di akses pada tanggal 7 Mei 2019.
https://boyhadiconsist.wordpress.com/2011/03/31/shalat membentuk pribadi-sukses-sejati-dunia-akhirat/di akses pada tanggal 7 Mei 2019.
http://www.hambaallah.net/2016/08/cara-melatih-dan-mengenalkan sholat.html?m=1 di akses pada tanggal 7 Mei 2019.
https://ilmurahmad.blogspot.co.id/2015/11/makalah-perkembangan-anak-usia-dini.html?m=1 di akses pada tanggal 7 Mei 2019.
http://makalahpendidikan-sudirman.blogspot.co.id/2012/05/metode-orang-tua-dalam -mendidik-anak.html?m=1 di akses pada tanggal 7 Mei 2019.
https://www.kompasiana.com/durian/552825f3f17e616a218b4572/5-tips-agar-anak-rajin-shalat di akses pada tanggal 7 Mei 2019.
LAMPIRAN
Peneliti berfoto dengan salah satu informan yang bernama Ibu Sri Rahayu, selaku Ibunya Syifa.
Peneliti sedang melakukan wawancara pada salah satu informan yang bernama Ibu Sri Rahayu, foto di ambil tepat di dalam rumah informan.
Peneliti berfoto dengan salah satu informan bernama Ibu Wani Ritonga, beserta anak-anaknya bernama Fajri dan Sasa.
Peneliti sedang bersama salah satu informan bernama Ibu Juli beserta anak nya Zahira. Foto ini di ambil tepat di depan rumah mereka.
Foto Zahira sedang melaksanakan Ibadah Shalat Zuhur di dalam rumahnya.