PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Obyek Penelitian
B. Peran Dinas Perindustrian dan Perdagangan dalam Pemberdayaan Usaha Pupuk Organik di Desa Kolai Kecamatan Malua Kabupaten
2) Fasilitator di Bidang Pendanaan dan Permodalan
Disamping pemberian bantuan pendampingan, juga diperlukan fasilitasi dalam bidang pendanaan dan permodalan. Peran pemerintah dalam hal ini adalah membantu mencari jalan keluar untuk memperoleh pendanaan yang diperlukan.
Senada dengan hal tersebut kepala seksi program pengembangan industry dan perdagangan berinisial RN menyatakan bahaw:
“Sejauh ini untuk mengembangkan usaha pupuk organik yang ada di Desa Kolai Kecamatan Malua Kabupaten Enrekang, Dinas Perindustrian dan
Perdagangan belum memberikan bantuan dalam bentuk uang karena keterbatasan dana”. (Wawancara. 13 Mei 2014)
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat diketahui Dinas Perindustrian dan Perdagangan dalam pemberdayaan usaha pupuk organik di Desa Kolai Kecamatan Malua Kabupaten Enrekang tidak memberikan bantuan dalam bentuk uang karena alasan keterbatasan dana atau biaya, dilain sisi dikawatirkan terjadi penyelewengan dana bantuan yang diberikan.
Demikian halnya yang dituturkan oleh ketua pengelola usaha pupuk organik berinisial SPN yang ada di Desa Kolai Kecamatan Malua Kabupaten Enrekang bahwa:
“Dalam menjalankan usaha pupuk organik ini pihak kami tidak atau belum menerima bantuan pendanaan dan permodalan dalam bentuk uang. Sejauh ini bantuan yang pihak kami terima adalah bantuan hewan ternak (kambing dan sapi)”. (Wawancara. 13 Mei 2014)
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan memberi bantuan kepada kelompok pelaku usaha pupuk organik yang ada di Desa Kolai Kecamatan Malua Kabupaten Enrekang berupa hewan ternak yaitu beberapa ekor kambing yang kotorannya merupakan bahan baku dari pembuatan pupuk organik.
Lebih lanjut diungkapkan oleh bendahara usaha pupuk organik berinisial RD menyatakan bahwa:
“Modal awal yang kami gunakan dalam menjalankan usaha pupuk organik ini berasal dari inisiatip kami sendiri yaitu berupa sumbangan dari setiap anggota yang terlibat dalam kelompok usaha ini sebesar Rp. 8.000.000,00 dan selaku ketua kelompok ini saya memberi sumbangan terbanyak sebesar Rp. 20.000.000,00. Sehingga total dana awal yang berasal dari kelompok usaha ini sebesar Rp. 92.000.000,00”. (Wawancara. 13 Mei 2014)
Lebih lanjut diungkapkan oleh bendahara usaha pupuk organik berinisial RD menyatakan bahwa:
“Modal yang berasal dari sumbangan-sumbangan anggota kelompok usaha pupuk organik digunakan untuk pembuatan rumah kompos, pengadaan alat pengelolaan pupuk organik dan keperluan produksi lainnya serta pembelian kendaraan roda tiga. Mengenai pengadaan lahan untuk membangun rumah kompos dan kandang ternak serta pengadaan tenak (sapi dan kambing) tidak dihitung lagi dalam pengeluaran dari modal tersebut karena ketiga hal tersebut sudah didapatkan dari bantuan instansi pemerintah dalam hal ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Enrekang dan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Enrekang”.
(Wawancara. 13 Mei 2014)
Lebih lanjut diungkapkan oleh sekretaris usaha pupuk organik berinisial AR menyatakan bahwa:
“Modal yang ada sebenarnya belum cukup untuk memenuhi keperluan dalam menjalankan usaha pupuk organik ini tetapi sebagai ketua dari kelompok usaha ini beserta semua anggota yang terlibat akan mengupayakan mencari jalan keluar dari masalah tersebut”. (Wawacara.
13 Mei 2014)
Lebih lanjut diungkapkan oleh ketua usaha pupuk organik berinisial SPN bahwa:
“Usaha pupuk organik ini sebenarnya sudah dirintis sejak tahun 2004 artinya sudah ada sejak 10 tahun yang lalu. Tetapi akhir 2010 usaha ini baru diketuai oleh berinisial SPN dengan kelompok usaha yang baru.
Walaupun demikian produk pupuk organik ini pada umumnya sudah dikenal oleh masyarakat Kabupaten Enrekang khususnya masyarakat Desa Kolai Kecamatan Malua Kabupaten Enrekang. Sedangkan berbicara pendapatan atau hasil pemasaran pupuk organik ini pertahunnya masih belum stabil tergantung dari besar kecilnya permintaan pupuk organik pertahunnya”. (Wawancara. 13 Mei 2014)
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa usaha pupuk organik yang dijalankan kelompok usaha bersama tersebut mendapatkan modal dari sumbangan setiap anggota yang terlibat dalam usaha pupuk organik dan
untuk menutupi kekurangan-kekurangan yang dihadapi diperoleh dari keuntungan pemasaran produk pupuk organik.
b. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sebagai Regulator
Peran Pemerintah sebagai regulator adalah menyiapkan arah untuk menyeimbangkan penyelenggaraan pembangunan (menerbitkan peraturan-peraturan dalam rangka efektifitas dan tertib administrasi pembangunan). Sebagai regulator, pemerintah memberikan acuan dasar yang selanjutnya diterjemahkan oleh masyarakat sebagai instrumen untuk mengatur setiap kegiatan. Adapun kebijakan yang diarahkan yakni kebijakan dibidang permodalan guna mendukung kegiatan usaha masyarakat dan dianggarkan dari APBN/APBD dan kebijakan di bidang perizinan pendirian usaha untuk mempermudah proses perizinan menjadi lebih efektif dan efisien.
Pemerintah memiliki peranan yang besar untuk mendorong sektor perbankan melalui kebijakan-kebijakan yang mendukung para pelaku UKM.
Dalam UU No. 20/2008 tentang UMKM, khususnya dalam pasal 7 ayat 1 sangat jelas dinyatakan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah menumbuhkan iklim usaha dengan menetapkan peraturan perundang-undangan dan kebijakan. Adapun dukungan pemerintah atas UMKM diantaranya:
1. Pembinaan 2. Pendanaan
3. Sarana dan prasarana 4. Kemitraan
a) Pembinaan
Dukungan pemerintah untuk mengembangkan atau menumbuhkan usaha kecil menengah dalam hal ini usaha pupuk organik salah satunya adalah dalam hal pembinaan.
Demikian halnya dengan penuturan ketua pengelola usaha pupuk organik berinisial SPN menyatakan bahwa:
“Dalam pengelolaan usaha pupuk organik yang kami jalankan memang mendapat dukungan dari pemerintah dalam hal ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan yaitu telah diadakannya penyuluhan yang bertujuan untuk memberikan pemahaman atau pengetahuan yang lebih mendalam khususnya mengenai pupuk organik. Selain itu Dinas Perindustrian dan Perdagangan telah memberikan pemahaman mengenai bagaimana bekerjasama dalam hal ini membangun kemitraan dengan lembaga-lembaga lain untuk lebih mengembangluaskan usaha pupuk organik tersebut”. (Wawancara. 13 Mei 2014)
Lebih lanjut salah satu anggota kelompok usaha pupuk organik berinisial SW menyatakan bahwa:
“Memberikan pemahaman mengenai keunggulan pupuk organik dibanding dengan pupuk anorganik. Penggunaan pupuk organik merupakan cara untuk mengatasi masalah kesuburan tanah yang menurun sedangkan penggunaan pupuk anorganik yang berkepanjangan merupakan salah satu penyebab kerusakan unsur hara pada tanah”. (Wawancara. 13 Mei 2014) Lebih lanjut salah satu anggota kelompok usaha pupuk organik berinisial SAM menyatakan bahwa:
“Dengan adanya kebijakan pemerintah untuk memberikan pemahaman melalui pendidikan nonformal (penyuluhan) maka melalui pengelolaan usaha pupuk organik yang semakin modern setidaknya memberikan penghasilan tambahan”. (Wawancara. 13 Mei 2014)
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa kebijakan yang dikeluarkan pemerintah sebagai dukungan pengembangan usaha pupuk organik
dalam hal ini mengenai pemberian pemahaman atau pendidikan nonformal dan pelatihan telah ada dan sudah terimplementasikan dengan baik.
b) Pendanaan
Dukugan pemerintah dalam hal ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Enrekang untuk mengembangkan usaha pupuk organik dalam hal pendanaan belum ada.
Senada dengan hal tersebut, salah satu anggota pengelola usaha pupuk organik dengan inisial SW menuturkan bahwa:
“Sejauh ini kami belum pernah mendapat bantuan pendanaan atau dengan kata lain bantuan dalam bentuk uang dengan alasan keterbatasan dana”.
(Wawancara. 28 Maret 2014)
Lebih lanjut dituturkan oleh salah satu anggota usaha pupuk organik berinisial SAM menyatakan bahwa:
“Dana yang digunakan dalam menjalankan usaha pupuk organik ini berasal dari sumbangan setiap anggota yang terlibat dalam usaha pupuk organik ini, dengan kata lain bagamana cara kita untuk mengsiasati segala kekurangan yang dihadapi dalam menjalankan usaha pupuk organik ini”.
(Wawancara. 13 Mei 2014)
Lebih lanjut dituturkan oleh ketua usaha pupuk organik berinisial SPN menyatakan bahwa:
“Untuk melanjutkan usaha pupuk organik ini, dana yang digunakan adalah keuntungan dari hasil penjualan produk pupuk organik, walaupun keuntungan tersebut belum seberapa besarnya tetapi setidaknya dapat menutupi sedikit kekurangan-kekurangan yang ada”. (Wawancara. 13 Mei 2014)
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa kebijakan pemerintah sebagai pendukung pengembangan usaha pupuk organik dalam hal pendanaan belum terimplementasikn dengan baik.
c) Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana dalam hal pemasaran usaha pupuk organik ini sangat dikeluhkan oleh para pelaku usaha pupuk organik karena masih kurangnya perhatian pemerintah dalam pengadaan sarana dan prasarana promosi.
Senada dengan hal tersebut, maka kepala Desa Kolai Kecamatan Malua Kabupaten Enrekang dengan inisial SR menuturkan bahwa:
“Sarana dan prasarana yang tersedia hanya untuk kepentingan pengelolaan sedangkan sarana dan prasarana promosi sebagai petunjuk keberadaan usaha pupuk organik yang ada di Desa Kolai Kecamatan Malua Kabupaten Enrekang tidak ada. Sehingga selain melaui Koperasi Citra Mas pelaku usaha pupuk organik masih sering menjual hasil produksi kepada para pengepul dan bahkan digunakan untuk kepentingan pribadi”. (Wawancara.
28 Maret 2014)
Lebih lanjut ketua kelompok pengelola usaha pupuk organik berinisial SPN menyatakan bahwa:
“Mengenai bahan baku dari pembuatan pupuk organik ini, bukan hanya memakai kotoran ternak (sapi dan kambing) saja. Bahan baku tambahan lainnya juga banyak atau beragam tergantung potensi yang dimiliki daerah pembuat pupuk organik tersebut”. (Wawancara. 13 Mei 2014)
Lebih lanjut salah satu anggota pengelola usaha pupuk organik berinisial SW menyatakan bahwa:
“Selain kotoran ternak, bahan baku yang biasa kami gunakan adalah jerami padi, serabuk padi, abu sekam (abu sisa-sisa pembakaran) dan rerumputan”. (Wawancara. 13 Mei 2014)
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa mengenai dukungan pemerintah dalam hal penyediaan sarana dan prasarana masih kurang maksimal.
d) Kemitraan
Mitra merupakan teman atau rekan. Sehingga dalam pengertian ini adalah teman usaha yang identik dengan kerjasama.
Senada dengan hal tersebut, kepala Desa Kolai Kecamatan Malua Kabupaten Enrekang dengan inisial SR menuturkan bahwa:
“Menjalin kerjasama antara pelaku usaha pupuk organik dengan sejumlah unsur dalam masyarakt Desa Kolai Kecamatan Malua Kabupaten Enrekang dan berbagai instansi pemerintah merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam pemberdayaan usaha pupuk organik ini”.
(Wawancara. 13 Mei 2014)
Senada dengan hal tersebut, ketua pengelola usaha pupuk organik dengan inisial SPN menuturkan bahwa:
“Pemerintah dalam hal ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Enrekang karena telah memberikan pembinaan mengenai bagaimana berintegrasi atau bermitra. Sehingga adapun bentuk kemitraannya yaitu dengan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Enrekang dengan melakukan pemeriksaan ternak (penyuntikan dan pemantauan kesehatan ternak) secara berkala. Dan bentuk kemitraannya dengan Dinas Sosial Propinsi dan Kabupaten dalam bentuk bimbingan mental. Lalu bentuk kemitraannya dengan lembaga pemerintahan Desa Kolai yaitu dengan memanfaatkan sarana dan prasaran seperti balai Desa dan perangkat pendukungnya. Serta bentuk kemitraannya dengan Koperasi Citra Mas yaitu untuk sektor pemasaran produksi. Kemudian bentuk kemitraannya dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Enrekang itu sendiri yaitu penyediaan lahan (lokasi), pemberian bantuan hewan ternak, dan pengadaan penyuluhan”. (Wawancara. 28 Maret 2014) Lebih lanjut dituturkan oleh sekretaris pengelola usaha pupuk organik berinisial AR menyatakan bahwa:
“Dengan adanya kerjasama melalui kemitraan ini kami berharap dapat memperluas jangkauan pemasaran hasil produksi pupuk organik yang kami jalankan ini minimal sampai keluar kota”. (Wawancara. 13 Mei 2014)
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa dalam pengelolaan usaha pupuk organik yang dijalankan di Desa Kolai Kecamatan Malua Kabupaten Enrekang memang mendapat dukungan dari pemerintah dalam hal ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Enrekang akan tetapi dukungan tersebut belum sepenuhnya terealisasikan.
c. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sebagai Mediator
Mediator yang mampu membuat rule of the game yang demokratis yang mampu menjamin dan memberikan peluang bagi keterlibatan masyarakat dan swasta di daerah.
Senada dengan hal tersebut kepala Desa Kolai Kecamatan Malua Kabupaten Enrekang berinisial SR menyatakan bahwa:
“Dengan adanya kerjasama setidaknya dapat melibatkan masyarakat dan instansi pemerintah maupun swasta. Dalam hal ini masyarakat sebagai konsumen dapat menerima manfaat pupuk organik dalam mengembalikan kondisi kesuburan tanah dan pelaku pupuk organik mendapat keuntungan dari penjualan produk pupuk organik serta instansi pemerintah dan swasta program kerjanya dapat berjalan”. (Wawancara. 13 Mei 2014)
Sebagaimana yang dinyatakan oleh ketua pengelola usaha pupuk organik berinisial SPN menyatakan bahwa:
“Dalam menjalankan usaha pupuk organik kami berintegrasi dengan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Enrekang, Dinas Sosial Propinsi dan Kabupaten, Koperasi Citra Mas dan juga pemerintah Desa Kolai”.
(Wawancara. 28 Maret 2014)
Berdasarkan hasil wawancara diatas maka dapat diketahui bahwa usaha pupuk organik selain berintegrasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan, usaha pupuk organik juga berintegrasi dengan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Enrekang salah satu bentuk kemitraaannya yaitu dengan melakukan
pemeriksaan ternak (penyuntikan dan pemantauan kesehatan ternak) secara berkala.
Dan bentuk kemitraannya dengan Dinas Sosial Propinsi dan Kabupaten dalam bentuk bimbingan mental. Lalu bentuk kemitraannya dengan lembaga pemerintahan Desa Kolai yaitu dengan memanfaatkan sarana dan prasaran seperti balai Desa dan perangkat pendukungnya. Kemudian bentuk kemitraannya dengan Koperasi Citra Mas yaitu untuk sector pemasaran produksi. Serta bentuk kemitraannya dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan yaitu penyediaan lahan (lokasi), pemberian bantuan hewan ternak, dan pengadaan penyuluhan.
2. Tujuan Pemberdayaan Usaha Pupuk Organik di Desa Kolai Kecamatan