LANDASAN TEORETIS
2.1 Teknologi Pendidikan dan Media Pembelajaran
2.1.10 Feature Video
Perkembangan feature berawal dari dunia jurnalistik, terlebih media cetak yang diyakini diketemukan terlebih dahulu dari media yang lain. Seiring berjalannya waktu ketika disusul oleh media radio sebagai salah satu temuan media elektronik yang digunakan sebagai penyampai pesan, seakan-akan media cetak merasa terdesak. Namun keberadaan media-media tersebut tidak bisa dipersamakan karena memiliki karakteristik dan pengaruh kepada audiens masing-masing, terutama tentang kecepatan pemberitaan atau penyampaian informasi. Oleh karena itu kedua media ini harus dapat saling mengisi dan berdampingan. Namun tetap saja media cetak mengalami persaingan yang cukup berat, dengan demikian media cetak harus mencari jalan keluar untuk mengatasi kecepatan pemberitaan media elektronik. Disinilah diperlukan jenis tulisan feature yang dapat dikatakan ada sejak munculnya surat kabar. Pada perkembangan selanjutnya dalam media radio dan televisipun telah ada feature yang sering disebut dengan feature udara.
Feature diterjemahkan dengan karangan khas. Selain itu, feature juga berarti bagian, mutu, atau sifat paling menonjol dan luar biasa dari sesuatu. Arti lainnya adalah suatu tulisan khusus berupa artikel dan lain-lain dalam surat kabar atau majalah yang biasanya disajikan secara menonjol. Bertolak dari berbagai pendapat, Isnawijayani (2013:7) menarik kesimpulan bahwa feature adalah tulisan yang membicarakan tentang sesuatu yang ada kaitannya dengan sumber berita, yang disajikan dengan gaya yang khas, sehingga mengandung nilai berita dan nilai estetik.
Feature juga merupakan kelompok atau rumpun news (berita). Secara teoretis, feature termasuk dalam soft news (berita ringan, berita lunak). Perlu dipahami pula bahwa soft news (berita ringan, berita lunak) bukan merupakan cerminan dari konten atau materinya, melainkan pada segi atau teknik penyajiannya. Pada karya feature, seberat apapun materi yang diangkat, audiens akan menikmatinya dengan ringan. Sebagai pedoman dasar, karena feature merupakan bagian dari news, maka apapun pesan, uraian, atau cerita yang disajikan haruslah merupakan fakta obyektif bukan berupa fiktif. Feature pada umumnya tidak terikat waktu, lebih mendalam dalam menyajikan fakta, serta menekankan pada unsur daya pikat manusia (human interest).
Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, teknologi, model, metode hingga media pembelajaran seperti sekarang ini, menuntut manusia untuk kreatif dan inovatif dalam menciptakan atau memodifikasi hal yang sudah ada untuk dapat disesuikan dan diterapkan dengan kondisi yang diharapkan. Begitu juga dengan media pembelajaran berbasis feature video yang notabene sudah berkembang dalam media cetak maupun elektronik, kini peneliti ingin mengkreasikan menjadi sebuah media pembelajaran yang diharapkan sesuai dengan arah model pembelajaran yang diharapkan pada kurikulum sekarang ini. Feature video yang dimaksud untuk diterapkan dalam media pembelajaran ini merupakan bentuk yang disajikan secara kolaboratif yang terdiri atas narasi, wawancara, dialog, diskusi hingga reportase. Menjadi alternatif sebagai penghadir pengalaman langsung tanpa harus terjun secara langsung di lapangan disesuaikan dengan dasar kurikulum 2013 yang menyatakan bahwa belajar adalah ketika
peserta didik mengalami, menjadi alasan peneliti untuk mengembangkan media pembelajaran berbasis feature video ini.
Menurut Zubaidah (1997) dalam Joko Purwanto (2011), diterangkan bahwa pengajar dapat melakukan penyesuaian dan meningkatkan daya kreativitas dalam proses penyampaian konten pembelajaran menjadi lebih berkesan dan mudah dipahami sesuai dengan citarasa dan karakteristik siswa. Feature video pada hakikatnya serupa dengan video pembelajaran lain yang bersifat interaktif tutorial untuk membimbing siswa dalam memahami sebuah materi melalui visualisasi. Siswa diharapkan dapat ikut masuk ke dalam alur video berimajinasi membentuk pengalaman belajar dan secara interaktif mengikuti kegiatan praktik sesuai dengan yang ada dalam video tersebut. Adapun karakteristik media pembelajaran berbasis feature video ini, yaitu : 1) Mengatasi keterbatasan jarak dan waktu; 2) Dapat diulang untuk menambah kejelasan; 3) Pesan yang disampaikan cepat dan mudah diingat; 4) Mengembangkan pikiran, imajinasi dan pendapat siswa; 5) Memperjelas hal-hal yang abstrak dan memberikan gambaran yang lebih relistis; 6) Sangat kuat mempengaruhi emosi seseorang; 7) Sangat baik menjelaskan suatu proses dan ketrampilan, mampu menunjukkan rangsangan yang sesuai dengan tujuan dan respon yang diharapkan dari siswa; 8) Semua siswa dapat belajar baik yang pandai ataupun yang kurang pandai; 9) Menumbuhkan minat dan motivasi belajar; 10) Penampilan dapat segera dilihat kembali untuk dievaluasi.
Selain itu terdapat pula komponen serta kelebihan (Joko Purwanto, 2011) yang dimiliki media pembelajaran berbasis feature video ini, sehingga sesuai
digunakan dalam proses pembelajaran tertentu. Adapun komponen serta kelebihan tersebut adalah sebagai berikut.
1) Unsur multimedia
Menurut Romiszowski (1998), bahwa video/film adalah salah satu media pembelajaran yang cukup berkesan karena di dalamnya terdapat penggabungan secara baik unsur multimedia seperti audio, visual, gerak, warna dan kesan tiga dimensi. Muhammad Hasan (2000) mengakui kelebihan video/film yang secara langsung dapat menarik minat dan perhatian siswa melalui penggunaan unsur- unsur gerak, bunyi, warna, dan cahaya yang tertata secara baik menjadi video/film dan seterusnya dapat mendorong pembelajaran siswa. Menurut Norton dan Wiburg (2003) bahwa unsur-unsur dramatik dan kegiatan yang terdapat dalam video/film dapat digunakan dalam upaya meningkatkan kesan pada proses pengajaran dan pembelajaran.
2) Manipulasi perspektif ruang, masa dan ukuran
Penggunaan video dapat memanipulasi ruang, masa dan ukuran guna mendukung pembelajaran. Suatu fenomena alamiah dapat dijelaskan dengan perspektif yang berbeda secara mikrocosmis atau makrocosmis. Misalnya mengenai proses metamorfosis pada seekor kupu-kupu secara close-up, atau secara makrocosmis seperti gerak kapal laut yang semakin menjauh dan menghilang.
Yusuf (1997) dalam Joko Purwanto (2011) menyatakan bahwa video/film mempunyai kelebihan untuk memanipulasi masa. Misalnya dengan melakukan perubahan kepada masa dengan menggunakan teknik-teknik seperti gerak
perlahan, gerak cepat, bingkai demi bingkai, penyerapan dan ulang tayang. Video turut memampatkan, mempercepat atau meregangkan masa dengan teknik-teknik seperti penyerapan, pemfokusan atau digelapkan dan sebagainya. Dalam kejadian kehidupan sehari-hari banyak hal yang memerlukan masa yang agak lama seperti proses pembangunan jembatan ataupun proses percambahan biji hingga jadi pohon. Melalui video/film, perkembangan tersebut dapat ditunjukkan kepada para siswa sehingga dapat dipelajari dalam waktu yang singkat.
3) Penyampaian Pesan Pengajaran
Sebagai salah satu media komunikasi video/film dapat juga digunakan dalam pembelajaran sebagai suatu cara penyampaian bahan atau materi pelajaran. Naim (1995) dalam Joko Purwanto (2011) berpendapat bahwa,
“Sebagai satu media komunikasi, video/film dapat menyampaikan secara terperinci dan konkrit pesan-pesan pendidikan seperti pembelajaran isi kandungan kurikulum serta pembentukan sikap dan tingkah laku siswa. Disamping itu, video/film dapat digunakan untuk menonjolkan realitas kehidupan, dan membangkitkan emosi dan perasaan”.
Menurut Amla et all. (2000) dalam Joko Purwanto (2011), dituturkan bahwa video dilihat sebagai satu media yang dinamis untuk merangsang umpan balik dari luar maupun dalam yang terkadang bisa mempengaruhi psikologi seseorang. Selain itu video dapat dipergunakan untuk menyampaikan pesan pendidikan terutama yang berkaitan dengan moral pemimpin dan sikap pemimpin.
4) Memudahkan Pembelajaran dan Pencapaian Objektif Pengajaran
Video/film dapat digunakan untuk membantu guru dalam menerangkan suatu konsep yang abstrak atau sukar untuk dijelaskan hanya dengan kata-kata. Penghadiran masalah sebenarnya ke tempat tertentu dengan perkara yang telah berlalu atau yang sedang terjadi tanpa batasan waktu, jarak dan tempat dapat
ditemukan dalam penggunaan video. Selain itu, video juga diyakini dapat meningkatkan pemahaman siswa, menghindari salah atau percabangan penafsiran hingga memudahkan pembelajaran.
Menurut Naim (1990) dalam Joko Purwanto (2011), dapat dijelaskan bahwa video dapat menempati keperluan mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat, memperlihatkan yang tidak terlihat, mengecilkan yang besar, membesarkan yang kecil, memperlihatkan yang telah berlalu dan memvisualkan hal-hal futuristik. Selain itu, video juga dapat dimanfaatkan untuk mencapai pembelajaran yang objektif. Misalnya, penghadiran keadaan Negara asing ke dalam kelas, menunjukkan pertumbuhan biji, ataupun yang lainnya. Video yang direka bentuk dan digunakan secara sistematis juga dapat merangsang daya imajinasi dan penglihatan siswa.
Fatawi (2000) dalam Joko Purwanto (2011) juga menyatakan bahwa “berbagai video/film dan tayangan televisi seperti drama, dokumentasi, iklan hiburan, majalah dan sebagainya dapat digunakan untuk mencapai objektif pengajaran tertentu”. Misalnya bentuk drama yang dapat digunakan untuk perubahan sikap, pandangan dan emosi. Bentuk iklan dapat dieksploitasikan untuk menanam nilai-nilai murni dan sebagainya. Bentuk dokumentari atau rencana dapat digunkan untuk pemahaman dunia dan budaya suatu masyarakat. Penggunaan video film tertentu dapat diulang tayang dan dilihat berkali-kali untuk membantu meningkatkan daya ingat dan kemahiran.
Video/film tertentu dapat merangsang umpan balik atau respon, interaksi dan penyertaan siswa terhadap apa yang dipaparkan, baik secara psikomotorik
atau afektif. Rangsangan ini dapat menjadi pendukung terhadap kesan pembelajaran ke arah objektif yang diharapkan. Penyertaan aktif siswa dalam perkara yang dipelajari merupakan hal penting dalam pengajaran dan pembelajaran (Abdul Malik, 1995) dalam Joko Purwanto (2011).
5) Meningkatkan berbagai kemahiran dan pengalaman belajar
Video juga dapat berperan dalam meningkatkan berbagai kemahiran dan pengalaman belajar. Penggunaan video dapat meningkatkan kemampuan literasi visual siswa, dimana mereka dapat menginterpretasi simbol-simbol visual secara tepat dan berinteraksi hingga memberi respon yang selaras dengan perolehan pesan-pesan. Balakhrisman (1994) dalam Joko Purwanto (2011) mengatakan bahwa “dari berbagai jenis sumber bahan pelajaran, umumnya video film mempunyai kesan yang lebih tinggi untuk pembelajaran yang berkaitan dengan fakta”. Abdul Malik (1995) dalam Joko Purwanto (2011) juga berpendapat bahwa melalui penggunaan video siswa dapat memperoleh berbagai pengalaman serta kemenarikan minat dan menjadikan pembelajaran menyenangkan. Sehingga video diyakini bisa juga dikukuhkan sebagai salah satu strategi pembelajaran yang dapat digunakan.
2.1.11 Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Kurikulum 2013