• Tidak ada hasil yang ditemukan

“ Feedback Masyarakat untuk Mahkamah Konstitusi”

Kalau kedalam pasti tetap ada

hal-hal yang memang harus diting- katkan. Ditingkatkan ini bukan karena suatu kelemahan, tetapi proses wajar sebagai sebuah insti- tusi untuk selalu berusaha mem- beri yang terbaik.

Contohnya, dalam persoalan- persoalan publik service, dalam arti pelayanan peradilan sudah oke. Tapi pelayanan diluar peradilan, apakah MK itu sudah maksimal memperkenalkan dirinya kepada masyarakat?

Jadi, ada kelem ahan dalam hal belum dikenalnya MK oleh masya- rakat luas?

Itu sebenarnya bukan kele- mahan. Kalau melihat fungsi tradisional pengadilan, tidak ada ketentuan bahwa kita harus dike-

nal. Kita mempunyai fungsi spesial, yaitu melaksanakan fungsi konsti- tusi. Maka meskipun tidak menjadi kewajiban lembaga peradilan, tetapi ada kebutuhan untuk dike- nal. Jadi sosialisasi itu bagian dari kebutuhan konstitusi. Dan MK mempunyai potensi untuk mela- kukan itu.

Feedback dari masyarakat yang diinginkan seperti apa?

Karena lembaga peradilan bersifat bebas merdeka, maka feedback itu akan beda dengan feedback lembaga perwakilan. Kalau lembaga perwakilan, masya- rakat menyampaikan aspirasi. Sedangkan lembaga peradilan bukan (menerima) aspirasi, sulit- nya disitu. Feedback itu agak susah dibaca. Karena justru kebebasan

dupan bangsa.

Apa suka dukanya menjadi hakim konst it usi?

Sebagai salah seorang hakim konstitusi sudah tentu dua tahun ini ada suka dan dukanya. Suka- nya Alhamdulillah saya bersyukur pada tuhan bahwa orang seperti saya ini masih bisa menyum- bangkan pikiran dan perbuatan- perbuatan yang sekiranya menjadi manfaat atau bisa memberikan manfaat kepada perjalanan bangsa. Dan kalau di hitung-hitung suka dan dukanya itu ya hampir tidak ada dukanya. Semua sudah men- jadi beban kewajiban. Asal semua itu dilaksanakan dengan penuh dedikasi, penuh integritas dan penuh kesadaran, Insya Allah semua kendala atau pun hambatan bisa kita atasi.

Apakah bapak puas dengan apa yang dicapai MK dalam dua tahun ke belakang?

Soal kepuasan itu relatif, tapi saya bersyukur walaupun banyak

kekurangan yang harus kita perbaiki, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Itulah kira-kira batasan daripada kepu- asan. Kalau kepuasan dalam arti di luar itu nggak ada batasnya, malah ya mungkin orang lain puas yang satunya tidak puas, karena kepuasan itu ukurannya sangat relatif.

Apa saj a kelemahan yang harus diperbaiki?

Kekurangannya itu masih banyak, terutama segi pendukung. Anda tahu sendiri gedungnya saja masih nyewa, dan ruangannya pun sempit sehingga berjubel, kurang memungkinkan untuk bisa bekerja dengan baik. Padahal hasil dari pekerjaan itulah yang pada akhir- nya menentukan mutu atas hasil yang diberikan oleh Mahkamah ini. Dalam hal kinerja juga perlu kiranya dibuat sebuah pembagian tugas yang jelas, yaitu job descrip- tionnya itu harus tegas sehingga

semua pegawai atau petugas yang berada atau bekerja di MK, dari hakim sampai ke bawah semuanya sudah harus tahu betul apa yang menjadi tugas dan kewajibannya. Jadi kesadaran untuk mengabdi kepada MK dengan menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya juga syarat pokok.

Apa harapan bapak terhadap MK di masa depan?

Jujur untuk ke depan saya secara pribadi sebagai salah se- orang hakim konstitusi sudah tentu mengharapkan Mahkamah ini bisa semakin berkembang. Dalam arti makin maju baik dalam memutus atau mengadili maupun dalam hal melayani masyarakat. Tegasnya Mahkamah ini harus menjadi MK yang bisa menjadi kebanggaan bangsa. Dan juga mendapat suatu apresiasi dan disegani di tengah-tengah kehi- dupan internasional di dalam era demokrasi ini.

(Lwe)

itu sendiri adalah mahkota lembaga peradilan termasuk MK. Maka feedback itu wujudnya apresiasi.

Jadi ketika masyarakat puas, lalu t idak memberikan reaksi. Maka dianggap feedback yang baik?

Makanya bentuk feedback gimana? Sesuatu yang menjadi asupan kemudian asupan itu dipertimbangkan. Sulit untuk

lembaga peradilan kan?

Saya bedakan tadi dengan se- buah lembaga perwakilan. Ini bu- kan persoalan yang aspirasinya ma- suk banyak lalu menjadi menang. Sebuah lembaga peradilan konstitusi, salah satu fungsinya justru mengontrol apakah mayori- tas di dalam parlemen itu dalam menggunakan hak-hak konstitusi- nya tidak bertentangan dengan UUD. Meskipun mayoritas, kalo menggunakan hak-haknya berten- tangan dengan UUD maka produk- nya, bukan mayoritasnya, bisa dikontrol.

Apakah itu kemudian menjadi kemenangan minoritas?, tidak!

Jadi jangan dibaca kalau ma- yoritas dikalahkan lalu yang dime- nangkan adalah minoritas. Check and balances-nya memang seperti itu. Jadi kalau disebut feedback tidak pas.

Keinginan mayoritas bisa dikesam- pingkan ya Pak?

Iya, tapi jangan ditafsir kare- na keinginan mayoritas dikesam-

pingkan, kemudian kita meme- nangkan minoritas. Dikesam- pingkannya karena tolok ukur konstitusi. Minoritas pun jika dia bertentangan dengan konstitusi, dikesampingkan juga. Tapi mino- ritas kalau benar menurut konsti- tusi, juga ada tempatnya, ada chance- n y a .

Dalam w aktu dekat, apa kondisi internal MK yang harus diperbaiki?

Supporting man power-nya. Terus terang kita masih mencari bentuk organisasi. Pertanyaan besar adalah, apa kira-kira standar organisasi bagi lembaga negara yang ada di Indonesia ini, DPR, MPR maupun MA, cocok untuk sebuah insitusi yang namanya MK. Kalau toh nanti ada yang tidak pas, itu kan tidak bisa diputuskan MK sendiri. Kalau kita nanti sampai pada kesimpulan seperti itu (pe- nyempurnaan MK-Red.), tolong MenPAN atau Depkeu, supporting people dengan segala perangkat MK disesuaikan dengan kebu- tuhan. (mw)

Pe n ye m p u rn a a n MK a d a - lah pro s e s be rke s in am bu n gan tan pa h e n ti. H akim Ko n s titu s i Maru arar Siah aan , S.H ., m e n g- u n gkapkan h al te rs e bu t dalam w aw an cara d e n gan Rafiu d d in M u n i s ta m a r d a n Er y S a tr i a Pam u n gkas dari BM K. Be riku t ku tip a n w a w a n ca ra n ya :

Maruarar Si ahaan, S.H.:

“Perlu Integrasi Wewenang Pengujian