II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Fenomena Banjir Pasang
Banjir merupakan bencana luar biasa ketika dapat merubah pola-pola kehidupan dari kondisi normal, menimbulkan kerugian harta, benda maupun jiwa manusia, merusak struktur sosial komunitas serta memunculkan lonjakan kebutuhan pribadi atau komunitas1. Menurut Setyawan (2005), Jakarta adalah kota pesisir yang sangat besar (coastal megacity) yang sejak awal perkembangannya mengalami permasalahan banjir. Berdasarkan penyebabnya, ada dua tipe banjir yang terjadi di Jakarta. Pertama, banjir yang disebabkan oleh curah hujan tinggi, yang terjadi di berbagai kawasan kota. Kedua, banjir karena pasang surut yang terjadi di kawasan dekat pantai. Banjir tipe pertama berkaitan
1 Bahan Diskusi “Seminar & Workshop Komunitas Sebagai Rangkaian Kegiatan Dalam Rangka
Pekan Sadar Bencana” Tanggal 16-23 September 2005 oleh Satkorlak Pemprop DKI Jakarta.
Retopik “Banjir Sudah Diurus, Tapi Belum Serius”, oleh ET Paripurno, Komunitas Peduli Bencana.
dengan aktifitas manusia di daerah aliran sungai, sedangkan banjir tipe kedua berkaitan dengan aktifitas manusia dan kondisi geologi di daerah dekat pantai.
Menurut Sandora (2008), 40 persen dari wilayah Jakarta merupakan dataran rendah yang sangat rentan mengalami banjir yang periode waktunya dapat lebih lama jika tidak ada usaha untuk menyalurkan banjir tersebut. Dampak dari masalah banjir akan bertambah buruk ketika wilayah dataran rendah di Jakarta terletak di pesisir pantai. Hal ini disebabkan oleh peningkatan level muka air laut (permanen), fluktuasi pasang naik/surut, gelombang pasang dan gelombang badai (sewaktu-waktu). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sandora (2008), kejadian banjir tahun 2007 yang terjadi di kawasan pesisir Jakarta khususnya di wilayah Penjaringan dan Pluit semakin besar dibandingkan dengan kejadian banjir yang terjadi pada tahun 2002. Hal ini mengindikasikan bahwa seiring bertambahnya waktu, dampak yang ditimbulkan banjir juga semakin besar.
Semarang juga merupakan salah satu wilayah yang mengalami banjir pasang. Kota Semarang menghadapi masalah yang cukup rumit dan serius berupa penanggulangan banjir pasang yang durasi waktunya satu sampai tiga jam (Arbriyakto dan Kardyanto, 2002).
2.1. Penyebab Terjadinya Banjir Pasang
Salah satu dampak dari peningkatan efek rumah kaca adalah kenaikan muka air laut. Kenaikan muka air laut akan mengakibatkan mundurnya garis pantai. Dampak lain dari kenaikan muka air laut adalah terjadinya peningkatan frekuensi dan intensitas banjir. Kondisi daratan yang tergenang banjir akan bertambah parah jika terjadi penurunan permukaan tanah akibat eksploitasi air tanah oleh manusia (Naryanto, 2009).
Setyawan (2005) menyatakan bahwa persoalan banjir yang terjadi di kawasan dekat pantai disebabkan oleh pasang surut dan land subsidence. Belum ditemukan cara terpadu untuk mengatasi persoalan banjir tersebut sampai sekarang. Menurut Diposaptono (2007), banjir pasang yang terjadi di wilayah pesisir disebabkan oleh banyak hal. Pengembangan serta pembangunan wilayah pesisir tanpa memperhatikan kaidah tata ruang ramah bencana, konversi hutan mangrove, over-eksploitasi air tanah serta adanya pemanasan global merupakan beberapa penyebab terjadinya banjir pasang.
Pasang surut juga mempunyai kontribusi terhadap bencana banjir pasang. Muka air laut pasang dapat mencapai level tertinggi (highest high water level) dalam kurun waktu 18.6 tahun. Kejadian ini semakin merugikan daerah pesisir pantai. Gelombang laut akibat angin juga mempengaruhi terjadinya banjir pasang di wilayah pesisir. Apabila terjadi badai pada saat pasang tertinggi, maka dapat menyebabkan timbulnya banjir rob yang besar (Diposaptono, 2007).
2.3. Dampak Banjir Pasang
Kenaikan muka air laut berdampak terhadap keamanan bangunan pantai yang ada. Kenaikan muka air laut juga akan meningkatkan frekuensi overtopping bangunan pantai sehingga tingkat keamanan bangunan tersebut berkurang (Naryanto, 2009). Menurut Diposaptono (2007), secara umum dampak kenaikan muka air laut adalah terpaparnya pantai di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil. Akibatnya, ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil seperti pantai berpasir pantai berbatu, tebing, dataran pasang surut, terumbu karang dan lahan basah termasuk mangrove mengalami kerusakan bahkan bisa lenyap.
Dampak kenaikan muka air laut adalah tergenangnya dataran rendah, meningkatnya erosi pantai dan menimbulkan intrusi air asin ke daratan. Untuk kawasan permukiman, dampak tidak langsung naiknya muka air laut adalah adanya perubahan kualitas air bersih, turunnya produktifitas pertanian dan perpindahan penduduk Wuryanti (2002).
Sarana dan prasarana seperti pelabuhan, industri, pembangkit listrik, wisata dan lain-lain yang berada di wilayah pesisir juga akan tergenang dan rusak akibat meluapnya air laut. Dampak lain dari SLR (Sea Level Rise) atau kenaikan muka air laut adalah mundurnya garis pantai. Kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil yang terendam air laut dapat mencapai 4 050 ha per tahun. Angka tersebut berdasarkan asumsi kelandaian pantai hanya dua persen. Dampak SLR lainnya adalah terjadinya abrasi pantai. Hal ini disebabkan energi gelombang yang semakin besar sehingga abrasi pantai semakin intensif (Diposaptono, 2007).
Selain abrasi pantai, bangunan pantai dan fasilitas prasarana perikanan juga akan rusak karena gelombang yang semakin besar energinya. Akibat lain dari SLR adalah terjadinya sedimentasi di muara sungai. Kondisi ini diperparah oleh muara-muara sungai di Indonesia yang umumnya landai. Jika diasumsikan SLR satu meter saja, maka air laut akan masuk ke sungai sejauh puluhan kilometer. SLR juga mengakibatkan intrusi air laut. Hal ini disebabkan volume air laut yang masuk ke dalam sungai akan semakin besar. Kondisi ini merupakan masalah serius bagi penduduk di pulau-pulau kecil yang menggantungkan air tawar dari sungai (Diposaptono, 2007).
Menurut Marfai et al. (2008), banjir pasang memberikan dampak terhadap aktifitas masyarakat sehari-hari seperti aktifitas domestik dan pekerjaan lainnya.
Masyarakat tidak dapat bekerja karena jalan di sekitar rumah mereka terendam banjir. Layanan publik untuk mendukung aktifitas domestik seperti suplai air dan listrik tidak dapat digunakan selama banjir pasang. Alasan masyarakat tidak bekerja selama terjadi banjir pasang adalah perjalanan yang terganggu dan tidak adanya akses menuju tempat kerja serta untuk menjaga keluarga dan peralatan rumah tangga.
Soedarsono (1996) dalam Marfai et al. (2008) mengemukakan bahwa ketika terjadi banjir pasang, anak-anak mudah terserang penyakit. Penyakit yang sering diderita saat terjadi banjir yaitu diare, demam dan malaria. Hal ini disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak bersih pada saat banjir. Selain itu banjir pasang juga berdampak terhadap rusaknya bangunan. Kobayashi (2003) dalam Marfai et al. (2008) menunjukkan dampak banjir pasang terhadap rusaknya bangunan yang terjadi di Desa Tanjung Mas yang tercantum dalam Tabel 1. Tabel 1. Dampak Banjir Pasang yang terjadi di Desa Tanjung Mas
No .
Komponen Bahan yang Digunakan
Tingkat Kerusakan
Tanda
1. Pondasi Batu Serius Kemiringan
tanah yang tidak sama
2. Lantai Tanah padat
(halaman)
Plester dari semen (beranda/teras) keramik (dalam rumah) Serius Serius Serius Tiap 5 tahun harus ditinggikan.
3 Dinding Batu bata Sedang
4. Bingkai Pintu Kayu Serius Tiap 5 tahun
sekali kayu diganti karena rusak
Menurut Sandora (2008), dampak banjir pasang adalah timbulnya biaya kerusakan yang ditanggung oleh masyarakat khususnya di wilayah pesisir Jakarta. Biaya kerusakan dibagi dalam dua jenis yaitu biaya kerusakan langsung dan biaya kerusakan tidak langsung. Biaya kerusakan langsung terdiri dari biaya kerusakan properti dan biaya kesehatan, sedangkan biaya kerusakan tidak langsung terdiri dari pendapatan masyarakat yang hilang akibat banjir, biaya pencegahan terhadap banjir, biaya transportasi dan biaya untuk mendapatkan air bersih.
Naiknya muka air laut (pasang) yang terjadi secara simultan berpengaruh terhadap bentuk-bentuk bangunan maupun kawasan, kondisi lingkungan sosial dan strata masyarakat. Dampak kenaikan muka air laut (pasang) dapat pula berupa perilaku penyesuaian serta antisipasi maupun penanganan fisik terhadap bangunan (Astuti, 2002).
2.4. Kerugian-Kerugian yang Timbul Akibat Banjir Pasang
Mengukur kerugian yang diakibatkan oleh suatu bencana menjadi hal penting karena dapat meminimalisasi kerusakan lingkungan, hilangnya penghidupan dan kerugian ekonomi sosial. Terdapat perbedaan dalam pengukuran kerugian bencana banjir yang disebabkan oleh air hujan dan pengukuran kerugian bencana banjir yang disebabkan kenaikan muka air laut (pasang). Bencana banjir yang disebabkan oleh air hujan, terjadi dalam jangka waktu pendek, sedangkan bencana banjir yang disebabkan oleh kenaikan muka air laut (pasang) terjadi dalam jangka waktu panjang. Kerugian yang ditimbulkan oleh kedua banjir tersebut pun berbeda. Prinsip dasar yang dapat digunakan dalam menilai kerugian kedua bencana banjir tersebut terletak pada intensitas genangan air (Wuryanti, 2002).
Arbriyakto dan Kardyanto (2002) menyebutkan bahwa masyarakat pesisir khususnya di Semarang mengalami kerugian fisik dan sosial akibat banjir pasang. Kerugian fisik yang ditanggung masyarakat pesisir di Semarang meliputi pengurugan tanah secara rutin dengan tinggi rata-rata 15 cm per tahun, kehilangan bangunan rumah setelah jangka waktu 12 sampai 30 tahun dari masa awal pembangunan, dan pengediaan perabot rumahtangga setiap tiga tahun sekali. Kerugian sosial yang dialami masyarakat pesisir di Semarang berupa terbuangnya waktu atau peluang yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk suatu kegiatan yang produktif atau bernilai ekonomis. Selain itu, terdapat biaya tambahan sosial yang harus dikeluarkan untuk memperbaiki rumah atau perabotan rumahtangga dalam waktu yang tidak terduga.
Salah satu kerugian yang dialami oleh masyarakat pesisir yaitu kerugian bangunan akibat genangan banjir pasang. Klasifikasi serta perhitungan kerugian bangunan yang disebabkan oleh banjir pasang, dibagi dalam tiga tipe yaitu kerugian kehilangan rumah, kerugian rumah yang rusak berat, serta kerugian rumah yang rusak ringan. Biaya masing-masing rumah tersebut termasuk dengan perlengkapannya berturut-turut yaitu sebesar Rp 10 Milyar, Rp 20 Milyar dan Rp 5 Milyar. Selain kerusakan rumah, terdapat juga kerusakan infrastruktur yang ada di sekitar rumah. Nilai kerusakan infrastruktur tersebut diasumsikan sebagai representasi 15 persen dari jumlah total kerusakan sektor perumahan yaitu sebesar USD 141.3 million (Bappenas, 2007 dalam Sandora, 2008).
Kobayashi (2004) menyebutkan bahwa banjir pasang menimbulkan kerusakan fisik rumah dan kerugian sosial masyarakat. Kerusakan fisik rumah meliputi kerusakan struktural, kerusakan astetikal, kerusakan peralatan
rumahtangga dan penyingkatan umur rumah. Kerugian sosial berupa terganggunya pekerjaan dan sekolah karena banjir.
2.5. Tindakan Adaptasi Terhadap Banjir Pasang
Menurut Diposaptono (2007), tiga pola atau strategi yang dapat dilakukan dalam adaptasi terhadap banjir pasang di wilayah pesisir adalah:
1. Pola protektif yaitu dengan membuat bangunan pantai yang mampu mencegah banjir pasang agar tidak masuk ke darat serta dengan melakukan restorasi melalui peremajaan pantai dan rehabilitasi mangrove.
2. Pola adaptif yaitu menyesuaikan dengan banjir pasang. Rumah-rumah penduduk dibuat model panggung agar aman dari genangan air laut terutama pada waktu banjir pasang.
3. Pola mundur (retreat). Pola ini bertujuan menghindari genangan dengan cara merelokasi permukiman, industri, daerah pertanian dan lain-lain ke arah darat agar tidak terjangkau air laut akibat banjir pasang.
Beberapa adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat dalam menghadapi masalah banjir pasang diantaranya adalah meninggikan rumah, meninggikan lantai di atas level air banjir, meninggikan halaman sekitar rumah, dan membuat bendungan (dam) kecil untuk mencegah masuknya air ke dalam rumah. Bentuk adaptasi ini biasanya dilakukan berdasarkan tingkat pendapatan masyarakat. Masyarakat yang berpendapatan tinggi dapat membangun kembali tempat tinggal mereka dengan meninggikan lantai sekitar satu meter di atas tanah. Sebaliknya, masyarakat yang tidak dapat meninggikan lantai rumah, melakukan tindakan
adaptasi berupa membuat bendungan kecil di depan rumah mereka (Marfai et al. 2008).
Astuti (2002) membagi tiga tindakan adaptasi masyarakat pesisir Jakarta dalam menghadapi banjir pasang yaitu tindakan adaptasi fisik, tindakan adaptasi nonfisik, reklamasi. Adaptasi fisik berupa penyesuaian bentuk rumah dengan cara meninggikan lantai rumah dan membuat tanggul. Adaptasi nonfisik berupa penyesuaian diri masing-masing anggota masyarakat dengan kondisi banjir dengan cara tetap melakukan pekerjaan dan aktifitas lainnya. Reklamasi merupakan tindakan adaptasi yang dilakukan oleh pemerintah yang berhubungan dengan pembangunan sarana dan prasarana yang menunjang.
Perbedaan yang terdapat pada penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya yaitu pada kajian mengenai kerugian fisik akibat banjir yang terjadi di salah satu kawasan pesisir Jakarta (Kamal Muara) dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi nilai kerugian fisik tersebut. Kerugian fisik dalam penelitian ini berkaitan dengan biaya-biaya yang dikeluarkan akibat kerusakan fisik yang terjadi karena banjir. Selain itu, penelitian ini juga secara tidak langsung menggambarkan fenomena banjir pasang yang terjadi di kawasan pesisir Jakarta terkait dengan kenaikan level muka air laut, penurunan tanah dan berbagai isu lingkungan yang terjadi di kawasan pesisir Jakarta.
III. KERANGKA PEMIKIRAN
Kerangka pemikiran dalam penelitian ini terdiri dari kerangka pemikiran teoritis, hipotesis penelitian dan kerangka pemikiran operasional. Konsep yang berkaitan dengan kerugian-kerugian yang timbul akibat banjir pasang, dijelaskan dalam kerangka pemikiran teoritis. Alur pemikiran yang dibangun dalam penelitian ini digambarkan dan dijelaskan dalam kerangka penelitian operasional. Adapun hipotesis penelitian merupakan dugaan yang diharapkan dalam penelitian. 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis
Kerangka pemikiran teoritis memuat konsep-konsep yang berkaitan dengan kerugian-kerugian akibat banjir pasang. Konsep-konsep yang berkaitan dengan penelitian ini adalah konsep mengenai biaya dan kerugian. Konsep biaya berkaitan dengan kerugian yang timbul akibat banjir pasang sedangkan konsep mengenai kerugian berkaitan langsung dengan tujuan penelitian.
3.1.1. Biaya
Ada tiga konsep mengenai biaya, yaitu biaya oportunitas atau biaya sosial, biaya akuntasi dan biaya ekonomi. Biaya oportunitas atau biaya sosial adalah pendapatan bersih yang dikorbankan atau penghematan biaya yang tidak jadi diperoleh karena mengerjakan atau memilih alternatif lain. Biaya akuntasi adalah biaya historis, depresiasi dan biaya lain yang berhubungan dengan pembukuan. Biaya ekonomi adalah pengeluaran yang sepantasnya atau sewajarnya saja untuk menghasilkan sesuatu barang atau jasa. Konsep biaya ekonomi didasarkan pada ide biaya oportunitas (Nicholson, 1999).
3.1.2. Kerugian
Menurut Wuryanti (2002), istilah “kerugian” yang diakibatkan suatu bencana, dalam pengertian umum meliputi beberapa komponen antara lain jumlah korban jiwa, jumlah kerusakan bangunan, biaya yang harus dikeluarkan untuk perbaikan atau pergantian, rusak atau hilangnya fungsi komunikasi, transportasi dan infrastruktur lainnya, biaya terganggunya bisnis dan jumlah penduduk yang kehilangan rumah tinggal. Kerugian fisik akibat naiknya muka air laut adalah kerusakan yang terjadi akibat genangan air atau banjir. Beberapa faktor yang mempengaruhi kerugian yang ditimbulkan banjir adalah sebagai berikut:
1. Tinggi genangan 2. Lamanya genangan 3. Kecepatan air
4. Pergerakan ketinggian muka air genangan 5. Frekuensi kejadian
6. Jumlah sampah dan lumpur yang terbawa pada saat banjir 7. Perubahan iklim
Menurut Wuryanti (2002), secara umum kerugian fisik maupun nonfisik akibat banjir meliputi beberapa hal, antara lain:
1. Kehilangan jiwa dan properti
2. Kerusakan pada rumah dan properti seperti perabot rumah dan barang elektonik.
3. Terganggunya mata pencaharian akibat rusaknya pertanian, pertenakan, pertambakan dan sebagainya.
5. Erosi tanah, menyebabkan lahan tertutup sampah, pasir, batu sehingga mengurangi produktifitas pertanian karena berkurangnya tingkat kesuburan tanah.
6. Kerusakan infrastruktur dan fasilitas penting lainnya seperti klinik, sekolah, jalan, telepon dan sumber listrik.
7. Terganggu suplai air bersih dan terkontaminasinya sumber air bersih yang dapat menyebabkan penyakit.
8. Memicu terjadinya penyakit menular, seperti diare, malaria dan berbagai penyakit lain.
3.1.3. Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran dan perumusan masalah penelitian, maka hipotesis penelitian ini adalah:
1. Diduga kerugian fisik rumahtangga yang timbul akibat banjir merupakan biaya perbaikan dan biaya kehilangan komponen bangunan dan peralatan rumahtangga yang rusak karena banjir.
2. Biaya perbaikan rumahtangga dipengaruhi secara positif oleh luas rumah, pengeluaran, tinggi banjir, lama tinggal, lokasi, jenis rumah dan status kepemilikan rumah serta dipengaruhi secara negatif oleh biaya pencegahan. Besarnya biaya perbaikan untuk rumahtangga yang berlokasi dekat dengan pantai diduga lebih besar dibandingkan dengan biaya perbaikan untuk rumahtangga yang berlokasi jauh dari pantai.
3. Biaya kehilangan dipengaruhi secara positif oleh lama tinggal, lama banjir, jenis rumah dan status kepemilikan rumah.
4. Diduga banjir pasang menimbulkan kerugian nonfisik terhadap rumahtangga pesisir berupa biaya berobat, terganggunya aktifitas, terganggunya transportasi dan kerugian lain.
3.2. Kerangka Pemikiran Operasional
Alur kerangka operasional mengenai penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1. Pemanasan global, siklus pasang dan tata guna lahan sangat berkaitan dengan peristiwa naiknya muka air laut yang memberikan dampak bagi wilayah pesisir. Naiknya muka air laut menyebabkan terjadinya banjir pasang, sehingga dapat merugikan masyarakat pesisir. Dampak banjir pasang di wilayah pesisir akan bertambah parah jika terjadi penurunan tanah akibat kegiatan industrialisasi. Banjir pasang yang menimpa masyarakat pesisir menimbulkan kerugian terutama bagi rumahtangga.
Kerugian yang dialami rumahtangga pesisir terdiri dari kerugian fisik dan kerugian nonfisik. Kerugian fisik dilihat dari biaya-biaya yang dikeluarkan oleh rumahtangga atas kerusakan fisik bangunan dan peralatannya. Biaya-biaya tersebut terdiri dari biaya perbaikan dan biaya kehilangan. Biaya perbaikan dan biaya kehilangan dihitung berdasarkan informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dengan responden.
Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya biaya perbaikan dan biaya kehilangan menggunakan model regresi liner berganda. Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi biaya perbaikan dan biaya kehilangan adalah biaya pencegahan, luas rumah, pengeluaran rumahtangga, tinggi banjir, lama tinggal, lama banjir, lokasi rumah dari pantai, jenis rumah dan status kepemilikan rumah.
Gambar 1. Alur Kerangka Pemikiran Operasional : Ruang lingkup penelitian
Naiknya muka air laut (pasang tinggi)
-Pemanasan global
-Siklus pasang -Tata guna lahan
Tindakan pencegahan yang dilakukan rumahtangga dalam menghadapi banjir
Kerugian fisik yang ditanggung oleh rumahtangga pesisir
Banjir pasang di daerah pesisir (Kamal Muara)
Dampak banjir pasang terhadap rumahtangga pesisir di Kamal Muara
Kerugian nonfisik yang diterima oleh rumahtangga pesisir Penurunan muka tanah
Rekomendasi dalam tata ruang wilayah Kamal Muara untuk masa yang akan datang Biaya perbaikan
terhadap rumah dan fasilitasnya 1. Kerugian nonfisik akibat banjir terhadap kesehatan. 2. Kerugian nonfisik akibat banjir terhadap aktifitas. 3. Kerugian nonfisik akibat banjir terhadap transportasi. Analisis deskriptif Analisis model regresi linier berganda Biaya kehilangan peralatan rumahtangga Faktor-faktor yang mempengaruhi biaya kehilangan dan biaya perbaikan 1. Biaya pencegahan 2. Luas rumah 3. Pengeluaran rumahtangga 4. Tinggi Banjir 5. Lama tinggal 6. Lama banjir 7. Lokasi 8. Jenis rumah 9. Status Kepemilikan rumah Industrialisasi
Biaya-biaya yang telah dihitung, kemudian dibandingkan berdasarkan faktor-faktor yang berpengaruh dalam model biaya perbaikan dan model biaya kehilangan. Perbandingan biaya-biaya tersebut merupakan penjelasan secara deskriptif mengenai hasil estimasi model biaya perbaikan dan biaya kehilangan. Kerugian nonfisik akibat banjir pasang diidentifikasi menggunakan analisis deskriptif dengan tabulasi berdasarkan kerugian nonfisik akibat banjir pasang terhadap kesehatan, aktifitas, transportasi dan kerugian lain.
Kerugian-kerugian akibat banjir pasang yang dialami rumahtangga pesisir, menyebabkan rumahtangga melakukan berbagai tindakan pencegahan yang bertujuan untuk mengurangi dampak banjir yang terjadi. Berbagai tindakan pencegahan yang dilakukan oleh rumahtangga pesisir dapat memberikan rekomendasi kepada pemerintah dalam perencanaan tata kota Kamal Muara di masa yang akan datang, sehingga kerugian-kerugian yang timbul akibat banjir pasang dapat berkurang atau bahkan dapat dihindari. Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan serta informasi untuk rumatangga pesisir dalam menentukan pilihan tempat tinggal yang layak untuk ditempati.
IV. METODE PENELITIAN
Metode penelitian dalam penelitian ini terdiri dari penjelasan mengenai waktu dan lokasi penelitian, jenis dan sumber data penelitian, metode penarikan sampel, indentifikasi jenis kerugian fisik akibat banjir pasang, perbandingan nilai kerugian fisik akibat banjir pasang, indentifikasi jenis kerugian nonfisik akibat banjir pasang, dan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi nilai kerugian fisik akibat banjir pasang. Selain itu, dijelaskan juga defenisi operasional dari variabel-variabel yang digunakan dalam model.
4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian
` Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Kamal Muara, Jakarta Utara. Pemilihan tempat penelitian dilakukan dengan sengaja (purposive) karena Kamal Muara merupakan salah satu lokasi yang berbatasan langsung dengan laut Jawa yang mengalami kejadian banjir pasang setiap bulan. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Juni sampai Juli 2010.
4.2. Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari pengamatan dan wawancara menggunakan kuesioner kepada masyarakat RW 01 dan RW 04 Kelurahan Kamal Muara yang mengalami banjir pasang. Data primer meliputi: karakteristik rumahtangga sampel, kerusakan fisik komponen rumah dan peralatan rumahtangga, biaya perbaikan, biaya kehilangan, biaya pencegahan, dampak banjir pasang terhadap kesehatan anggota rumahtangga, biaya berobat, dampak banjir pasang terhadap aktifitas anggota rumahtangga, dampak banjir pasang terhadap transportasi dan dampak lain yang timbul akibat banjir pasang.
Data sekunder adalah data mengenai kondisi wilayah Kamal Muara dan data penurunan tanah di Kamal Muara. Data sekunder diperoleh dari Pemerintah Kelurahan Kamal Muara dan Badan Pusat Geologi dan Tata Lingkungan. Selain itu, data sekunder juga diperoleh dari studi-studi literatur serta hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh suatu instansi, perorangan atau lembaga yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan.
4.3. Metode Penarikan Sampel
Pengambilan sampel dilakukan dengan metode nonprobability sampling. Sampel adalah rumahtangga pesisir yang tinggal di RW 01 dan RW 04 Kelurahan