• Tidak ada hasil yang ditemukan

FENOMENA FREETER PADA MASYARAKAT JEPANG

3.1 Fenomena freeter pada masyarakat Jepang

Pasca perang dunia kedua berakhir Jepang dapat kembali bangkit dari keterpurukan dengan cepat. Hingga pada dekade 1970an Jepang berhasil masuk dalam persaingan dunia dari segala bidang diantaranya bidang ekonomi. Jepang terlihat begitu menonjol dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia. Kebangkitan Jepang yang begitu cepat ini tidak luput dari pemikiran dan semangat orang Jepang yang ingin keluar dari zona keterpurukn pasca perang dunia kedua. Namun semua hasil yang mereka peroleh dalam kemajuan bidang ekonomi tidak diraih dengan mudah. Semua didapat dari hasil perjuangan keras dan giat masyarakat Jepang untuk mengembalikan harga diri bangsa. Segala kesenangan, kemewahan dan kekayaan negara didapat dari hasil disiplin ketat, usaha tanpa kenal lelah, dan semangat kerja keras yang telah diwarisi tuun temurun oleh pendaulu mereka sebelumnya (Ann Wan Seng, 2006:8).

Terdapat banyak pola pikir orang Jepang untuk maju yang diwariskan oleh orang Jepang terdahulu. Seperti semangat kerja tinggi, disiplin dan loyalitas tinggi yang merupakan aplikasi dari semangat juang bushido pada era samurai. Walaupun pada era modern ini samurai sudah tidak ditemukan namun semangat juang hidup mereka masih tertanam dalam

masing-masing orang Jepang hingga saat ini. Pola pikir dan semangat bushido umumnya diterapkan pada setiap pekerja Jepang. Ini terlihat dari keuletan, disiplin kerja dan loyalitas pada pekerja dalam tiap-tiap perusahaan Jepang. Setiap apa yang menjadi ketentuan dalam perusahaan tidak pernah dilanggar bahkan mereka dapat bekerja dengan lebih banyak

23

menghabiskan waktu bagi perusahaannya dari pada keluarga. Apa yang menjadi permasalahan perusahaan merupakan permasalahan yang dipikul bersama oleh setiap pekerja.

Dalam hidup mereka bekerja totalitas bagi perusahaan merupakan kebanggaan tersendiri yang kemudian akan dipandang dalam lingkungan mereka. Mereka selalu memberikan yang terbaik untuk perusahaan dimana mereka bekerja. Mereka bekerja melebihi batas waktu yang ditentukan dari 8 jam bekerja menjadi 12 jam bekerja dalam satu hari. Mereka rela kerja walaupun tidak mendapatkan gaji ekstra dari hasil lembur mereka. Semata-mata hanya untuk memajukan perusahaan. Akibat dari ini tidak jarang dari pekerja Jepang ditemui dalam keadaan stress berat dengan tekanan mental yang memuncak hingga menyebabkan kematian.

Fenomena ini disebut karoshi, yaitu bekerja secara berlebihan hingga menyebabkan kematian. Secara harafiah karoshi diatikan sebagai kematian akibat bekerja terlalu keras yang mengacu pada kondisi dimana korban jatuh sakit dan mati, sering karena terjadi pendarahan otak mendadak atau serangan jantung, sebagai hasil keterkaitan kelelahan bekerja, kombiasi jam kerja yang panjang dan tanggung jawab intens, ditambah lagi dengan gaya hidup yang tidak teratur dan tidak sehat. Korban biasanya diyakini pria setengah baya. Namun pada beberapa kasus, korban karoshi juga termasuk jumlah besar karyawan perempuan (Buckley, 2002:247). Walaupun tanpa ada paksaan dari perusahaan namun sebagian dari para pekerja Jepang masih mengaplikasikan hal ini sebagai kebanggan dan kepuasan tersendiri apabila berhasil mengangkat harkat dan martabat perusahaan.

Namun semenjak terjadinya melemahnya perekonomian di Jepng pada akhir tahun 1980an mengakibatkan struktur kerja di perusahaan-perusahaan Jepang bergeser dengan mengikuti pola ekonomi non-liberal yang terjadi di seluruh dunia. Perubahan permintaan tenaga kerja diperkuat oleh strategi perusahan yang dirancang untuk mempertahankan grafik keuntungan selama menghadapi masa kesulitan ekonomi (ishida & Slater, 2010:162). Hal ini kemudian memunculkan kepanikan bagi para pekerja Jepang karena banyak perusahaan

24

berelih merekrut pekerja paruh waku. Dengan kemungkinan adanya pemutusah hubungan kerja secara missal atau transfer pekerja ke perusahaan lain.

Sementara itu banyaknya permintaan bagi para pekerja paruh waktu memberikan kesempatan yang besar bagi para fresh graduate untuk mengisi lwongan-lowongan yang dibutuhkan perusahaan. Dilain pihak harapn dan kesempatan untuk menjadi pekerja tetap bagi fresh graduate dari SMU atau unversitas semakin keci. Dikarenakan keputusan perusahaan-perusahaan Jepang yang memilih mengurangi pengeluaran perusahaan dalam perekrutan pegawai tetap dan memilih bekerja paruh waktu dengan alasan mengendalikan kelemahan perekonomian.

Salah satu sudut pandang dari hal ini berfokus pada kaum muda yang kemudian lebih memilih untuk keluar dari pandangan pekerja tetap dengan beralih menjadi pekerja paruh waktu. Muncul pemikiran dari kaum muda Jepang untuk tidak mengikuti apa yang orang tua mereka perbuat bagi perusahaanya. Sebagian kaum muda Jepang memandang bekerja sebagai pekerja tetap dengan bekerja keras dan loyal terhadap perusahaan dimana tempat mereka bkerja, hanya akan menghabiskan waktu dan tenaga. Seperti orang tua mereka terdahulu saat bekerja keras mengorbankan seluruh waktu dan kesenangan pribadi untuk memulihkan perekonomian Jepang pasca perang dunia kedua, dengan kerja mengabdi seumur hidup dan penuh totalitas pada perusahaan, namun tidak mendapatkan gaji yang setimpal dari apa yang telah diberikan. Beragam spekulasi muncul mengenai pergeseran pola pikir kaum muda Jepang, sebagian menilai pilihan menjadi pekerja freeter muncul karena adanya keinginan kuat pemuda Jepang untuk hidup bebas tanpa tekanan dan mencari kesenangan diri sendiri semata-mata dilakukan untuk mengejar mimpi sendiri dan bukan impian perusahaan. Disat pemikiran terhadap pekerja paruh waktu atau freeter dimunculkan untuk menanggulangi permasalahan perekonomian yang melemah dan fleksibilitas dunia ketenaga kerjaan di Jepang, pekerja sebagai freeter kemudian berubah sebagai gaya hidup baru kaum muda

25

Jepang. Dengan anggapan dari pemuda Jepang bahwa tidak ada pelajaran penting yang dpat diperoleh dari bekerja sebagai pekerja tetap dengan pengorbanan dan tanggung jawab kolektif ( dalam kehidupan berkelompok) yang diperlukan unuk membuat mereka bertanggung jawab dalam lingkungan sosial masyarakat Jepang dewasa ini. Apa yang dilakukan pemuda Jepang saat ini berbeda jauh dengan para pendahulu mereka. Hingga muncul anggapan sebagian kaum muda Jepang yang memilih hidup sebagai freeter atau pekerja waktu dirasakan tidak memeluk etos kerja Jepang (ishida & Slater, 2010:162).

3.3.1 Meningkatnya Jumlah Freeter di Jepang

Dengan semakin meningkatnya jumla freeter di Jepang beberapa tahun terakhir ini, pasti ada alasan yang mendorong kemunculan para freeter tersebut. Latar belakang dibalik meningkatnya jumlah freeter yang terjadi di Jepang disebabkan oleh dua faktor, yaitu :

1. Faktor yang pertama dari sisi perusahaan yaitu terjadinya perubahan dalam permintaan tenaga kerja. Meningkatnya jumlah freeter menurut kosugi terjadi akibat perilaku perusahaan yang merubah system rekrumen mereka yaitu dengan mengurangi jumlah tenaga kerja yang baru lulus. Rekrumen untuk para lulusan baru dari universitas mengalami penurunan.Hal ini mennunjukan bahwa besarnya penurunan dalam perekrutan dapat berbeda-beda sesuai dengan tingkat pendidikannya.

2. Faktor kedua dari tenaga kerja itu sendiri. Meningkatnya jumlah freeter sebagai akibat terjadinya perubahan dalam cara berpikir dan perilaku dari orang muda Jepang.

Contoh perubahan dalam perilaku dan cara berpikir orang muda Jepang diantaranya seperti kecenderungan diantara freeter, atau tidak melakukan apa-apa setelah tamat sekolah, serta tingginya jumlah pekerja muda yang berhenti bekerja atas kemauan

26

sendiri. Para siswa sekolah menengah atas yang bertempat tinggal di kota-kota besar, menungjukan bahwa kira-kira setengahnya berharap mendapat pekerjaan tetapi berhenti di tengah jalan.Hal ini terjadi akibat rendahnya jumlah pekerjaan yang ditawarkan, selain itu juga akibat adanya masalah system alokasi pekerjaan untuk siswa sekolah menegngah atas. Di Jepang alokasi pekerjaan dilakukan oleh sekolah, dan karena perusahaan memberikan penawaran kerja hanya pada sekolah-sekolah yang terpilih saja oleh sebab itu penawaran pada sekolah lain sangat rendah.

Disamping itu, sekolah secara sistematis memberkan penawaran kerja kepada siswa menurut prestasi akademis dan cacatan kehadiran sekolah, oleh karena itu mereka yang prestasi dan cacatan kehadirannya rendah menyerah pada tahap awal mencari pekerjaan dan berhenti konseling karir disekolah.

Selain itu hasil dari survei tersebut menunjukan bahwa sebagian dari siswa yang memilih menjadi freeter adalah mereka yang tidak memikirkan karir mereka dimasa yang akan datang atau tidak dapat memutuskan apa yang harus dilakukan. Hal ini menunjukan pentingnya relisasi dari sekolah dalam konseling karir yang bertujuan untuk membantu siswa memahami berbagai macam pekerjaan dan juga diri mereka, serta membentuk gambaran tentang maksud dari pekerjaan.

Ketidak jelasan dalam sikap tegas para kaum muda sebagai penyebab utama meningkatnya jumlah freeter, sikap yang tidak jelas dan teguh merupakan bentuk ketidak mampuan menyesuaikan diri dari kepribadian kaum muda terhadap lingkungan mereka, dan hal ini menjadi semakin rumit dan tidak terduga. Meningkatnya jumlah freeter di Jepang dikarenakan tiga sistem sosial (keluarga, pendidikan, pasar tenaga kerja) dan kepribadian individu.Sejak awal tahun 1990 kondisi keluarga, pendidikan dan pasar tenaga kerja telah berubah dan masing-masing sistem tersebut sedang menghadapi masalah dan batasannya

27

sendiri.Para kaum muda Jepang telah kehilangan arah mereka tanpa kesiapan untuk menghadapi kesulitan tersebut.

3.1.2 Kehidupan Seorang freeter

Freeter merupakan bagian dari masyarakat Jepang yang datang dari golongan muda

berusia 15 sampai 34 tahun. Keputusan sebagian kaum muda Jepang untuk memilih hidup sebagai freeter dilandasi pemikiran akan kebebasan. Kebebasan dalam menentukkan jalan hidup yang mengabdi dalam sebuah perusahaan menjadi pandangan hidup baru bagi kaum muda Jepang.

Ada beberapa hal yang mempengaruhi pemiihan kaum muda Jepang untuk menjadi freeter diantaranya keluarga, pendidikan dan pasar tenaga kerja (Honda, 2005:12). Dari segi

keluarga factor pemikiran dan kemampuan financial orang tua dalam keluarga yang mempengaruhi masa depan dari anak mereka. Permasalahan yang sering muncul ketika orang tua dalam dalam hal ini ayah sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga menghadapi permasalahan PHK, pemotongan gaji, sakit ataupun kematian secara langsung mempengaruhi financial keluarga sampai berimbas pada ketidak mampuan mereka untuk membiayai pendidikan anak. Anak-anak merek pun harus putus sekolah dan membantu perekonomian keluarga dalam bekerja paruh waktu hingga menghadapi pilihan sebagai freeter.

Disamping itu terdapat pula sebagian pola pikir orang tua di Jepang yang tidak memberikan motivasi yang baik bagi anak-anak mereka. Orang tua yang pada masa mudanya juga menghadapi permasalahan yang sama dengan tidak mendapatkan pekerjaan yang baik berimbas pada anak-anak mereka. Tidak jarang ditemui sebagian yang menginginkan anaknya untuk berpkir realistis terhadap masa depan mereka dengan membandigkan kemampuan financial keluarga hingga anak-anak mereka terpaksa harus putus sekolah dan beralih mencari pekerjaan.

28

Permasalahan lain datang dari segi pendidikan. Beberapa contoh seputar permasalahan pendidikan antara lain kurangnya informasi tentang universitas di kota bagi siswa sekolah menegah yang berasal dari daerah yang berjarak cukup jauh dari universitas tujuan. Terkadang jurusan dan spesifikasi kejuruan yang telah diambil tidak mewakili apa yang meeka inginkan sehingga banyak dari mahasiswa yang kemudian tidak mau melanjutkan studi lebih jauh lagi. Kegagalan dipertengahan jalan ini membawa mereka menjadi freeter di koa tempat mereka menimba ilmu.

Sebagian permasalahan seputar pendidikan juga datang dari para guru di seolah menengah atas. Para guru di sekolah umumnya mengarahkan siswa untuk menggali potensi akademi agar lebih unggul dan dapat bekerja di sebuah perusahaan sesuai kemampuan yang mereka miliki. Juga kecenderungan para guru yang mengarahkan para siswanya untuk masuk ke universitas tertentu yang di favoritkan. Hal ini menjadi beban bagi sebagian siswa kaena harus berusaha keras untuk menjadi seperti apa yang orang lain harapkan. Sementara disisi lain mungkin ada sebuah bakat dan kemampuan lain yang bisa menjadi tolak ukur jenis pekerjaan apa yang nantinya baik untuk di geluti oleh mereka.

Dari sudut pandang pekerjaan yaitu peningkatan akan tenaga kerja yang tidak tetap dan paruh waktu cukup drastis setelah terjadinya melemahnya perekonomian. Selain itu pula pekerjaan sebagai pekerja tetap dirasakan cukup berat bagi sebagia kaum muda. Sebagian dari kaum muda di Jepang merasa tidak percaya diri untuk mengambil bagia sebagai pekerja tetap, dikarenakan tingkat pendidikan yang rendah di rasa kalah dalam persaingan menempati posisi pekerja tetap. Hal yang sama juga terlihat dari anggapan sebagian kaum muda yang memandang pekerjaan tetap sebagai hal yang monoton. Mereka cenderung memilih pekerjaan yang tidak tetap atau pekerjaan paruh waktu yang di rasakan lebih menarik tanpa ada tekanan yang cukup berat dari atasan serta kebebasan untuk masuk dan berhenti dari pekerjaan.

29

Dokumen terkait