3.4. Komponen-Komponen IPM
4.3.4. Fertilitas Dan Partisipasi Keluarga Berencana
Penduduk yang berkualitas merupakan modal awal suatu pembangunan. Namun seperti kita ketahui, masalah kependudukan yang tidak pernah ada habisnya masih menjadi perhatian pemerintah dan bangsa ini. Salah satu masalah yang menjadi perhatian utama pemerintah dalam beberapa tahun belakangan ini adalah laju pertumbuhan penduduk.
Pertumbuhan penduduk perlu dikendalikan. Pertambahan penduduk yang tidak terkendali akan menyulitkan pemerintah dalam penyediaan pangan, sandang, perumahan, fasilitas kesehatan, penyediaan lapangan pekerjaan dan bidang-bidang lain yang terkait langsung mupun tidak langsung dengan adanya pertambahan penduduk. Salah satu instrumen untuk mengetahui sejak dini kemungkinan adanya pertambahan penduduk adalah dengan mengetahui indikator fertilitas. Beberapa
Analisis Situasi Pembangunan Manusia Kabupaten Magelang 2013 59
indikator fertilitas yang bisa ditampilkan pada analisa kali ini antara lain umur perkawinan pertama, banyaknya anak lahir hidup dari wanita yang pernah kawin dan banyaknya anak yang masih hidup.
Tabel 4.14
Indikator Fertilitas di Kabupaten Magelang, 2009 - 2013
Uraian Tahun
2009 2010 2011 2012 2013
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Umur Perkawinan Pertama Wanita
(persentase) : 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 a. < 17 tahun 18,41 19,24 14,01 13,81 17,94 b. 17-18 tahun 23,33 25,65 23,57 21,58 23,94 c. 19-24 tahun 44,57 42,10 51,67 49,40 44,94 d. 25 tahun ke atas 13,69 13,02 10,75 15,22 13,18 Rata-rata Anak Lahir Hidup
(ALH) dari Wanita Pernah Kawin (15-49) Tahun
2,17 2,18 2,08 2,04 2,05
Rata-rata Anak Masih Hidup (AMH) dari Wanita Pernah Kawin
(15-49) Tahun 2,06 2,06 2,02 1,95 1,98
Sumber : Susenas, BPS Kabupaten Magelang
Umur perkawinan pertama yang terlalu dini menyebabkan percepatan pertambahan penduduk. Semakin muda usia pada saat melangsungkan perkawinan pertama kali, maka semakin lama panjang waktu yang dimungkinkan untuk hamil/melahirkan. Selain itu, wanita yang kawin pada usia yang sangat muda mempunyai resiko yang cukup besar pada saat mengandung dan melahirkan serta berdampak pada kesehatan ibu dan anak.
Data yang diperoleh dari hasil Susenas 2013 menyebutkan bahwa perkawinan pertama pada wanita usia kurang dari 17 tahun (17,94%) dan pada kelompok usia 17 – 18 tahun (23,94%), bila dibandingkan dengan tahun 2012 terjadi kenaikan. Dan terjadi penurunan pada kelompok usia 19-24 tahun (44,94%) dan kelompok usia 25 tahun keatas (13,18%). Ada tambahan pekerjaan rumah untuk Pemerintah sehingga dapat menekan angka perkawinan pertama pada usia dibawah 18 tahun.
Analisis Situasi Pembangunan Manusia Kabupaten Magelang 2013 60
Diperlukan kecermatan untuk mengamati laju pertambahan banyaknya anak lahir hidup. Sebab banyaknya anak lahir hidup dari wanita pernah kawin pada wanita yang masih produktif (usia 15-49 tahun) dari tahun 2009 sampai tahun 2012 cenderung menurun tapi di tahun 2013 angkanya mulai beranjak naik walaupun kenaikannya hanya sedikit. Tetapi bila angkanya dibulatkan menjadi 0 digit dibelakang koma, rata-rata banyaknya anak yang dilahirkan hidup masih disekitar 2 anak per wanita produktif. Angka tersebut masih dalam batas program pemerintah yaitu cukup 2 anak dalam satu pasangan hidup.
Partisipasi penduduk terhadap program Keluarga Berencana (KB) yang telah dikeluarkan oleh pemerintah dalam rangka program pengendalian jumlah penduduk sangat berpengaruh terhadap angka kelahiran. Partisipasi KB atau penduduk yang pernah KB dari wanita pernah kawin usia 15-49 tahun dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2013 cenderung fluktuatif. Pada tahun 2009 sebanyak 77,57% wanita usia tersebut pernah ikut proram KB. Tahun 2010 partisipasinya turun menjadi 75,78%. Kemudian pada tahun 2011 angka partisipasinya naik menjadi 84.28% dan di tahun 2012 turun kembali menjadi 83,81%, dan untuk tahun 2013 kembali naik sebesar 84,82%.
Perkembangan penduduk usia 15-49 tahun yang sedang ber-KB dari tahun 2009-2013 terjadi fluktuasi. Untuk tahun 2009-2013 ini persentase penduduk wanita usia 15-49 tahun dengan partisipasi KBnya sebesar 84,82% terhadap total penduduk wanita usia, 15-49 tahun, 77,54% sedang memakai KB dan 22,46% sisanya tidak mamakai KB lagi.
Analisis Situasi Pembangunan Manusia Kabupaten Magelang 2013 61 Tabel 4.15
Indikator Keluarga Berencana (KB) Wanita Berumur 15-49 Tahun, Pernah Kawin dan Pernah/Tidaknya Menggunakan Alat/Cara KB
di Kabupaten Magelang, 2009 - 2013 Uraian Tahun 2009 2010 2011 2012 2013 (1) (2) (3) (4) (5) (6) Partisipasi KB (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 a. Pernah memakai 77,57 75,78 84,28 83,81 84,82 b. Tdk pernah memakai 22,43 24,22 15,72 16,19 15,18
Yang pernah memakai (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 a. Sedang memakai KB 76,11 78,91 78,43 80,23 77,54 b. Tdk memakai KB lagi 23,89 21,09 21,57 19,77 22,46 Alat Kontrasepsi (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 a. MOW/Tubektomi 5,77 7,53 2,83 4,19 4,26 b. MOP/Vasektomi 0,65 1,45 0,46 0,82 0,92 c. AKDR/IUD 18,21 15,41 13,68 16,12 17,49 d. Suntikan KB 55,54 53,48 57,12 48,94 47,70 e. Susuk KB 6,66 8,22 9,15 7,98 11,77 f. Pil KB 11,79 13,27 14,26 16,55 16,02 g. Kondom 1,06 0,23 1,77 0,77 0,66 h. Intravag 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 i. Kondom Wanita 0,00 0,00 0,23 0,00 0,46 j. Tradisional 0,32 0,41 0,48 4,62 0,72
Sumber : BPS Kabupaten Magelang
Jika dilihat dari pemakaian alat kontrasepsi, jenis alat kontrasepsi yang paling banyak digunakan adalah suntikan. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, penggunaan alat KB suntik mencapai persentase yang cukup tinggi yaitu berada pada kisaran 50%. Pada tahun 2013, dari sebanyak 77,54% wanita subur yang sedang menggunakan alat kontrasepsi, 47,70% adalah pengguna alat kontrasepsi suntikan. Angka ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2012 yang mencapai 48,94%.
Alat kontrasepsi lain yang cukup diminati adalah AKDR/IUD dan Pil KB masing-masing digunakan oleh pengguna alat KB sebesar 17,49% dan 16,02%. Kemudian pengguna susuk KB ada sebesar 11,77% pengguna susuk ini bila dibandingkan tahun
Analisis Situasi Pembangunan Manusia Kabupaten Magelang 2013 62
sebelumnya mengalami kenaikan hampir 50%, di mana tahun 2012 sebesar 7,98%. Untuk pengguna alat kontrasepsi yang lainnya persentase kecil sekali dan berada dibawah 5% seperti MOW/Tubektomi (4,26%), MOP/vasektomi (0,92%), kondom (0,66%), kondom wanita (0,46%), dan KB tradisional (0,72%). Untuk tahun 2013 ini pengguna KB dengan cara tradisional bila dibandingkan dengan tahun 2012 besarannya sangat menurun yaitu dari 4,62% di tahun 2012 menjadi 0,72% di tahun 2013. Ini dimungkinkan pengguna KB cara tradisional ini berfikir agak repot penggunaannya walaupun dari segi biaya akan lebih murah.
Dari semua alat kontrasepsi yang ditawarkan kepada masyarakat, ternyata pengguna terbesar adalah wanita. Hal ini bisa dilihat dari jenis-jenis alat kontrasepsi yang digunakan oleh mayoritas penduduk. Pada tahun 2013, kondom dan MOP/vasektomi yang penggunanya adalah kaum pria persentasenya jika dijumlahkan hanya 1,58%. Hal ini berarti bahwa 98,42% sisa penggunanya adalah kaum wanita.
4.4. Perumahan
Salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan rumah tangga adalah fasilitas perumahan yang dimiliki oleh penduduknya. Arti fisik perumahan dalam konteks yang diperluas disebut pemukiman. Pemukiman yaitu tempat tinggal anggota masyarakat dan individu-individu yang biasanya hidup dalam ikatan perkawinan atau keluarga beserta berbagai fasilitas pendukungnya. Perumahan menjadi tempat tumbuh, hidup, berinteraksi, perlindungan dari gangguan dan fungsi lainnya bagi penghuninya. Dengan demikian semakin tinggi status sosial ekonomi, keadaan rumah semakin lengkap dan bermutu baik. Lengkap dalam arti fasilitas yang dimiliki rumah tersebut seperti listrik, air, jaringan drainase, telepon, serta sistem pembuangan kotoran semuanya tersedia.
Secara umum, kualitas rumah tinggal ditentukan oleh kualitas bahan bangunan yang digunakan, yang secara nyata mencerminkan tingkat kesejahteraan dari penghuninya. Oleh karena itu aspek kesehatan dan kenyamanan bahkan keindahan bagi sebagian masyarakat tertentu akan sangat menentukan pemilihan rumah tinggal
Analisis Situasi Pembangunan Manusia Kabupaten Magelang 2013 63
mereka dan hal tersebut berkaitan dengan kesejahteraan penghuninya. Selain kualitas rumah tinggal, tingkat kesejahteraan dapat juga digambarkan dengan fasilitas rumah tinggal yang digunakan sehari-hari. Kualitas perumahan yang baik dan penggunaan fasilitas perumahan yang memadai akan membeikan kenyamanan bagi para penghuninya.
Indikator ini menunjukkan kualitas dan kuantitas tempat tinggal yang dikuasai baik milik sendiri maupun bukan. Fisik bangunan yang kuat dan terbuat dari bahan yang tidak membahayakan, menjamin keamanan penghuni tidak saja dari ancaman kriminal tetapi juga dari kerentanan bangunan itu sendiri dan kemungkinan terserang penyakit. Fisik bangunan yang kuat ditentukan oleh pemilihan bahan komponen bangunan yaitu lantai, dinding, dan atap. Sementara kenyamanan dan kesehatan penghuni selain mengharuskan pemilihan bahan bangunan yang baik juga luas lantai yang memadai.
Menurut data Susenas tahun 2013 seperti tersebut pada tabel 4.16, persentase rumah tangga yang menempati luas bangunan tempat tinggal dengan luas 50-99 m2 dari tahun 2009-2013 hampir mencapai 60% bahkan di tahun 2011 mrncapai 64,83%, dan untuk tahun 2013 ini sebesar 56,90%. Rumah tangga yang menempati bangunan dengan luas kurang dari 50 m2 dan dengan luas 100-149 m2 mencapai hampir 20%. Dan rumah tangga dengan luas lantai lebih dari 150 m2 besarannya kurang dari 10%, dan tahun ini walaupun meningkat dibanding tahun 2012 namun besarannya hanya 6,69%.
Analisis Situasi Pembangunan Manusia Kabupaten Magelang 2013 64 Tabel 4.16
Persentase Rumah Tangga Menurut Luas Lantai Bangunan Tempat Tinggal di Kabupaten Magelang, 2009 - 2013 Uraian Tahun 2009 2010 2011 2012 2013 (1) (2) (3) (4) (5) (6) Luas Lantai (m2) : a. < 50 18,37 16,91 15,83 16,53 18,65 b. 50 - 99 55,16 58,51 64,83 58,47 56,90 c. 100 - 149 16,89 18,07 14,10 19,39 17,76 d. > 150 9,57 6,52 5,23 5,61 6,69 Jumlah 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
Sumber : BPS Kabupaten Magelang
Jenis lantai dapat digunakan sebagai indikator untuk melihat kualitas perumahan. Semakin baik kualitas lantai perumahan dapat diasumsikan semakin membaik tingkat kesejahteraan penduduknya. Selain itu, jenis lantai juga dapat mempengaruhi kondisi kesehatan masyarakat. Semakin banyak rumah tangga yang mendiami rumah dengan lantai tanah akan berpengaruh pada rendahnya derajat kesehatan masyarakat. Hal ini dikarenakan lantai tanah dapat menjadi media yang subur bagi timbulnya kuman penyakit dan media penularan bagi jenis penyakit tertentu, seperti penyakit diare, cacingan dan penyakit kulit.
Tabel 4.17
Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Air Minum di Kabupaten Magelang, 2009 - 2013
Uraian Tahun
2009 2010 2011 2012 2013
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Sumber Air Minum
a. Air dalam kemasan 0,29 0,36 0,72 0,51 2,48 b. Ledeng 12,66 13,30 15,77 18,66 14,16 c. Pompa 5,76 6,94 7,06 7,63 7,83 d. Sumur 43,13 41,03 38,01 33,28 41,22 e. Mata Air 38,16 38,37 38,44 39,88 34,31 f. Lainnya 0,00 0,00 0,00 0,05 0,00 Jumlah 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
Analisis Situasi Pembangunan Manusia Kabupaten Magelang 2013 65
Persentase rumah tangga menurut sumber air minum seperti pada tabel 4.17 diatas menyebutkan bahwa rumah tangga yang menggunakan air sebagai sumber air minum terbanyak adalah berasal dari sumur yakni mencapai 41,22%. Angka ini naik sekitar 7% dibanding pada tahun 2012 (33,28%). Penggunaan air minum setelah sumur, mata air menjadi sumber air minum yang banyak dipakai oleh rumah tangga, untuk tahun 2013 ini sebanyak 34,31%. Apabila kedua persentase tersebut dijumlahkan maka sudah didapatkan angka 75,53%. Artinya mata air dan sumur sudah dipakai oleh sekitar ¾ jumlah penduduk Kabupaten Magelang sebagai sumber air minum. Setelah sumur dan mata air, ledeng sebagai sumber air minum juga banyak digunakan, yakni sebesar 14,16%. Dan penggunaan air sebagai sumber air minum seperti pompa dan air dalam kemasan persentasenya tidak lebih dari 10%.
Tabel 4.18
Persentase Rumah Tangga Menurut Fasilitas Tempat Buang Air Besar di Kabupaten Magelang, 2009 - 2013
Uraian Tahun
2009 2010 2011 2012 2013
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Fasilitas Tempat Buang Air Besar
a. Sendiri 62,36 60,82 62,07 67,25 70,06
b. Bersama 8,72 7,54 10,09 10,43 5,86
c. Umum 5,82 8,94 5,93 6,10 7,27
d. Tidak Ada 23,10 22,70 21,91 16,21 16,81
Jumlah 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
Sumber : BPS Kabupaten Magelang
Semakin tumbuhnya kesadaran masyarakat Kabupaten Magelang tentang pentingnya kondisi lingkungan yang sehat. Salah satu hal yang mendukung kondisi tersebut yaitu dengan semakin meningkatnya persentase rumah tangga yang mempunyai tempat buang air besar sendiri dan semakin menurunnya persentase rumah tangga yang memanfaatkan tempat BAB bersama. Persentase rumah tangga pengguna tempat BAB sendiri pada tahun 2013 sebesar 70,06%, naik sekitar 3% dibanding keadaan tahun 2012 (67,25%).
Analisis Situasi Pembangunan Manusia Kabupaten Magelang 2013 66
Bab V Kesimpulan dan Saran
1. IPM adalah variabel tak bebas yang bersifat state, yaitu sebuah variabel yang perubahannya berlangsung sangat lambat dan akan meningkat/menurun sedikit demi sedikit sebagai respon terhadap perubahan berbagai kondisi fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan. Tidaklah mungkin mengubah tingkat IPM secara bermakna melalui program/proyek yang hanya bersifat temporer. Perencanaan pembangunan manusia yang dibuat seyogyanya mengacu pada kebijakan jangka panjang secara sistematis.
2. Nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Magelang Tahun 2013 sebesar 73,67 persen, walaupun lebih rendah dibanding IPM Jawa Tengah (74,05%) namun menempati peringkat ke-4 se-karesidenan Kedu dan se-Jawa Tengah pada peringkat ke-18. Peringkat yang cukup membanggakan tapi diusahakan agar bisa ditingkatkan.
3. Angka Harapan Hidup Masyarakat Kabupaten Magelang tahun 2013 sebesar 70,63 persen. Lebih rendah dibanding angka harapan hidupBila Jawa Tengah (71,97%) namun bila dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lain se-Karesidenan Kedu maka menempati peringkat yang ke-4.
4. Angka melek huruf masyarakat Kabupaten Magelang tahun 2013 sebesar 93,64 persen, lebih tinggi bila dibandingkan dengan angka Jawa Tengah. Dimana angka melek huruf masyarakat Provinsi Jawa Tengah sebesar 91,71 persen dan pada tingkat Karesidenan Kedu terbaik ketiga.
5. Rata-rata lama sekolah masyarakat Kabupaten Magelang tahun 2013 sebesar 7,55 tahun. Dengan kata lain rata-rata masyarakat Kabupaten Magelang telah menempuh pendidikan selama 7,55 tahun atau setara menduduki bangku kelas 1 (satu) Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Angka ini lebih tinggi bila dibandingkan angka Jawa Tengah (rata-rata lama sekolah untuk Jawa Tengah sebesar 7,43 tahun).