• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

3. Field Testing

buku catatan, setelah itu siswa mempelajari dan berlatih membaca dan menulis aksara Jawa berdasarkan buku pegangan yang dimiliki. Selain itu, kendala yang dihadapi guru adalah siswa kurang terampil dalam menyusun kata menggunakan huruf aksara Jawa sehingga di setiap pertemuan susunan Aksara Legena harus selalu disajikan di papan tulis.

2. Draft Development

Kegiatan draft development merupakan pengembangan produk. Langkah pengembangan produk dilakukan melalui berbagai tahap. Tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut.

a. Perumusan tujuan pembelajaran berdasarkan kompetensi dasar yang telah ditentukan

b. Mengumpulkan materi aksara Jawa untuk kelas IV Sekolah Dasar yang diperlukan.

c. Pembuatan produk dengan memodifikasi bentuk kartu scramble menjadi

scramble aksara Jawa.

d. Mengemas produk awal scramble aksara Jawa untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar.

3. Field Testing

Media pembelajaran yang dikembangkan kemudian diujicobakan kepada guru dan siswa. Akan tetapi, sebelum uji coba lapangan, dilakukan validasi media dan materi kepada ahli media dan materi terlebih dahulu. Validasi tersebut dilaksanakan agar media layak diujicobakan di lapangan. Adapun tahapan uji coba lapangan menurut Arif S. Sadiman (2011: 183-186) adalah sebagai berikut.

32

a. Uji Coba Satu lawan Satu, yaitu produk diuji cobakan minimal kepada 3 siswa yang prestasi belajarnya berkategori pandai, sedang, dan kurang. b. Uji Coba Kelompok kecil, yaitu kepada 10-20 siswa.

c. Uji Coba Kelompok Besar, yaitu minmal kepada 30 siswa.

Revisi produk dilakukan berdasarkan penilaian hasil validasi oleh ahli media, materi, dan komentar siswa. Revisi dilakukan untuk memperbaiki media pembelajaran yang dikembangkan.

C.Uji Coba Produk

Produk yang telah divalidasi oleh ahli materi dan media bukan produk akhir yang layak dipakai. Oleh karena itu, produk yang dikembangkan dan telah divalidasi oleh expert judgments diujicobakan kepada subjek penelitian. Uji coba lapangan memodifikasi dari metode Borg and Gall dan Arif S. Sadiman. Adapun tahapan uji coba produk adalah sebagai berikut.

1. Desain Uji Coba

a. Uji Coba Pendahuluan, yaitu kepada 2 siswa kelas IV SD N Samirono. b. Uji Coba Kelompok Kecil, yaitu kepada 10 siswa kelas IV SD N Samirono. c. Uji Coba Kelomok Besar, yaitu kepada 19 siswa kelas IV SD N Samirono. 2. Subjek Uji Coba

Subjek uji coba pada penelitian pengembangan ini adalah anak kelas IV SD N Samirono. Jumlah keseluruhan subjek penelitian adalah 31 anak.

33

Jenis data yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini adalah data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berasal dari pengisian angket oleh ahli materi, media, dan uji coba. Adapun data kualitatif, berasal dari tanggapan, saran, dan masukan dari ahli materi, media, dan uji coba.

Kelayakan produk didapatkan data deskriptif yaitu kriteria sangat baik (SB), baik (B), cukup (C), Kurang (K), Sangat Kurang (SK). Kriteria tersebut dituliskan menjadi 1,2,3,4, dan 5 di angket yang diisi untuk validasi materi, media, dan uji coba.

D.Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data diperlukan agar peneliti mendapatkan data yang dapat dipertanggung jawabkan. Suharsimi Arikunto (2006: 223) menyatakan bahwa mengumpulkan data sangat penting dalam suatu penelitian karena memengaruhi kesimpulan penelitian. Adapun teknik pengumpulan data menurut Suharsimi Arikunto terdiri dari tes, kuesioner/angket, Interview/wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian pengembangan scramble aksara Jawa ini adalah sebagai berikut.

1. Observasi Tidak Terstruktur

Sugiyono (2013: 203) menyatakan bahwa observasi tidak terstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis mengenai hal yang akan diobservasi. Adapun dalam penelitian pengembangana ini observasi dilaksanakan pada tahap exploration.

34

Observasi pada tahap exploration merupakan suatu upaya mengumpulkan informasi awal mengenai pembelajaran Bahasa Jawa di kelas IV SD N Samirono. Komponen pembelajaran yang diamati adalah media pembelajaran, sumber belajar, sikap siswa selama pembelajaran dan kendala yang dialami guru.

2. Wawancara Tidak Terstruktur

Sugiyono (2011: 197) mengungkapkan bahwa wawancara tidak terstruktur merupakan wawancara yang dilakukan tanpa menggunakan pedoman wawancara. Oleh karena itu dalam penelitian pengembangan ini, wawancara tidak terstruktur digunakan untuk wawancara awal mengenai pembelajaran materi aksara Jawa di kelas IV SD N Samirono. Daftar pertanyaan wawancara semi terstruktur adalah sebagai berikut.

Tabel 3. Daftar Pertanyaan Wawancara dengan Guru

No Pertanyaan

1 Bagaimana minat siswa dalam pembelajaran aksara Jawa di kelas? 2 Media apa yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran aksara Jawa? 3 Metode apa yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran aksara Jawa? 4 Kendala apa yang dihadapi guru dalam kegiatan pembelajaran aksara

Jawa?

3. Penilaian Ahli

Penilaian ahli merupakan langkah validasi produk. Penilaian dari ahli digunakan untuk mengetahui bahwa media layak diuji cobakan kepada siswa atau

35

tidak. Penelitian pengembangan ini menggunakan penilaian dari dua ahli yaitu ahli materi dan media.

Ahli materi bertugas untuk menilai materi yang terdapat dalam media dan ahli media bertugas menilai media secara keseluruhan. Penilaian, komentar, dan saran digunakan untuk perbaikan media hingga mendapat kriteria “layak” dari

para ahli. 4. Angket

Sugiyono (2013: 199) menyatakan bahwa angket merupakan teknik pengumpulan data menggunakan seperangkat pertanyaan untuk dijawab oleh responden. Angket yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari angket ahli media, materi, dan anak. Angket yang diberikan kepada responden harus dalam kondisi yang baik agar responden tertarik untuk mengisi angket.

Tujuan pengggunaan angket untuk ahli materi dan media adalah untuk mengetahui kelayakan media sebelum uji coba. Adapun penggunaan angket untuk siswa adalah untuk mendapatkan komentar, kritik, dan saran perbaikan media yang dikembangkan. Dengan demikian, media yang dikembangkan mendapatkan

kriteria “baik”.

Pembuatan angket dalam penelitian ini berdasarkan teori untuk mengkaji media dan karakteristik anak. Angket ahli materi dibuat berdasarkan teori Oemar Hamalik (2011: 178) mengenai asas penyusunan isi suatu kurikulum atau materi yaitu signifikansi, validitasm relevansi sosial, utility, learnability dan minat. Sebelum digunakan instrumen divalidasi oleh ahli materi yaitu Bapak Afendy

36

Widayat, M.Phil. dosen jurusan bahasa daerah FBS UNY. Berikut kisi-kisi angket yang digunakan.

Tabel 4. Kisi-Kisi Angket Ahli Materi

No Indikator Butir Pernyataan No. Butir

1 Signifikasi Kesesuaian materi dengan SK/KD 1 Kesesuaian latihan dengan SK/KD 3

2 Validitas Kedalaman Materi 2

Kebenaran cakupan materi 7

Keterkinian materi 8

3 Relevansi Sosial

Kesesuaian materi dengan kehidupan sehari-hari siswa

10

4 Utility Memberi kesempatan siswa untuk latihan

berulang

14 Memberi kesempatan siswa untuk latihan

lanjut

15 Pemberian evaluasi untuk mengukur

ketercapaian siswa

17

5 Learnability Pemberian petunjuk belajar 4

Pemberian contoh-contoh dalam penyajian materi

5

Kemudahan memahami materi 9

Pemaparan materi secara runtut 13 Proporsi soal dengan cakupan materi 16

6 Minat Menumbuhkan motivasi siswa 6

Kesesuaian bahasa yang digunakan dalam petunjuk belajar dengan tingkat

perkembangan siswa

11 Kesesuaian materi dengan perkembangan

siswa

12 Materi yang disajikan memperhatikan

perbedaan individu

18 Kesesuaian penyajian materi dengan

tingkat perkembangan siswa

19 Kemenarikan sajian materi dalam media 20

Jumlah 20

Selanjutnya, angket ahli media dibuat berdasarkan indikator pemilihan media pembelajaran Wina Sanjaya (2011: 173). Instrumen sebelum digunakan

37

divalidasi oleh Bapak Estu Miyarso, M.Pd. dosen Teknologi Pendidikan FIP UNY. Adapun kisi-kisi angket yang dibuat adalah sebagai berikut.

Tabel 5. Kisi-Kisi Angket Ahli Media

No Indikator Butir Pernyataan No. Butir

1 Kesesuaian dengan tujuan yang akan dicapai

Kesesuaian media dengan tujuan pembelajaran 1 2 Kesesuaian dengan materi yang akan diberikan

Kesesuaian media sebagai sumber belajar 4

3 Kesesuaian media dengan minat,

kebutuhan, dan kondisi siswa

Kesesuaian media dengan karakteristik siswa

2 Kesesuaian warna media dengan

karakteristik siswa

10 Kesesuaian petunjuk penggunaan dengan

tingkat perkembangan siswa

3

Keamanan media bagi siswa 13

4 Media harus efektif dan efisien

Kemampuan media untuk mengulang apa yang dipelajari

6 Kemampuan media sebagai stimulus

belajar

7 Kemampuan media untuk umpan balik

segera

8 Kemampuan media untuk menggalakkan

latihan yang serasi

9

Efisiensi media dengan biaya 12

Kemampuan media menjadikan pembelajaran bervariasi

14 Kemampuan media menjadikan

pembelajaran menjadi interaktif

15 5 Kemudahan

pengoperasian

Kemampuan media untuk alat bantu memahami dan mengingat informasi

5 Kemudahan penggunaan media dalam

praktik pembelajaran

11

38

Selanjutnya, angket tanggapan siswa terhadap scramble aksara Jawa divalidasi oleh Ibu Supartinah, M.Hum. selaku dosen mata kuliah bahasa daerah PGSD FIP UNY.

Tabel 6. Kisi-Kisi Angket Penilaian oleh Anak

No Indikator Butir

1 Kejelasan petunjuk penggunaan media 1

2 Kemampuan media menarik perhatian anak 1

3 Kesesuaian warna media dengan tingkat perkembangan media

1

4 Kejelasan tulisan dalam media 1

5 Kesesuaian latihan dengan tingkat perkembangan anak 1

6 Keamanan media 1

7 Kemampuan media untuk alat bantu memahami dan mengingat informasi

1

8 Kemudahan penggunaan media 1

9 Kemampuan media membuat anak senang dalam pembelajaran

1

10 Kesesuaian media sebagai sumber belajar 1

Jumlah 10

E.Teknis Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Data yang dianalisis berupa skor diperoleh dari angket ahli materi, media, dan penilaian anak. Langkah analisis data yang dilakukan menggunakan pengkategorisasian oleh Eko Putro Widyoko (2010: 238) sebagai berikut.

Rentang Kriteria

X > Xi + 1,80 Sbi Sangat Baik

Xi + 0,60 Sbi< X ≤ Xi + 1,80Sbi Baik Xi –0,60Sbi < X ≤ Xi + 0,60Sbi Cukup Xi –1,80Sbi < X ≤ Xi – 0,60 Sbi Kurang

39 Keterangan:

Xi (Rerata Ideal) = ½ (skor mak ideal + skor min ideal) Sbi (Simpangan baku ideal) = 1/6 (skor mak ideal – skor min ideal) X = Skor Aktual

Dengan demikian, berdasarkan rumus di atas maka penerapan pada penelitian pengembangan ini adalah sebagai berikut.

Skor Maksimal = 5 Skor Minimal = 1 Xi = ½ (5 + 1) = 3 Sbi = 1/6 (5 – 1) = 0,6

Skala 5 (Sangat Baik) = X > Xi + 1,80 Sbi = X > 3 + (1,80 x 0,6) = X > 3 + 1,08

= X > 4,08

Skala 4 (Baik) = Xi + 0,60 Sbi< X ≤ Xi + 1,80Sbi

= 3 + (0,60 x 0,6)< X ≤ 3 + (1,80 x 0,6) = 3 + 0,36 < X ≤ 3 + 1,08

= 3,36 < X ≤ 4,08

Skala 3 (Cukup) = Xi –0,60Sbi < X ≤ Xi + 0,60Sbi

= 3 – (0,60 x 0,6) < X ≤ 3 + (0,60 x 0,6) = 3 – 0,36 < X ≤ 3 + 0,36

40 = 2,64 < X ≤ 3,36

Skala 2 (Kurang) = Xi –1,80Sbi < X ≤ Xi – 0,60 Sbi = 3 – (1,80 x 0,6) < X ≤ 3 – (0,60 x 0,6) = 3 – 1,08 < X ≤ 3 – 0,36

= 2,92 < X ≤ 2,64 Skala 1 (Sangat Kurang) = X ≤ Xi – 1,80Sbi

= X ≤ 3– (1,80 x 0,6) = X ≤ 3 – 1,08 = X ≤ 1,92

Adapun penerapan perhitungan rumus konversi di atas disederhanakan sebagai berikut. Rentang Kriteria X > 4,08 Sangat Baik 3,36 < X ≤ 4,08 Baik 2,64 < X ≤ 3,36 Cukup 1,92 < X ≤ 2,64 Kurang X ≤ 1,92 Sangat Kurang

Dengan demikian, media layak untuk digunakan apabila memperoleh nilai

41 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.Hasil Penelitian

1. Exploration (Studi Pendahuluan dan Analisis)

Kegiatan eksplorasi dilakukan untuk mengumpulkan informasi mengenai permasalahan pembelajaran aksara Jawa di kelas IV SD N Samirono. Kegiatan ini berupa observasi tidak terstrukur dan wawancara kepada wali kelas IV SD N Samirono pada tanggal 16 Februari 2016. Hasil dari kegiatan eksplorasi ini adalah sebagai berikut.

a. Pembelajaran aksara Jawa tidak menggunakan media.

b. Sumber belajar yang digunakan satu-satunya adalah buku materi Sinau

Basa Jawa Gagrag Anyar.

c. Metode yang digunakan ceramah dan siswa hanya senang meniru hasil tulisan guru.

d. Siswa belum paham cara menyusun kata dengan aksara Jawa.

e. Siswa belum dapat mengenali perbedaan huruf aksara Jawa satu dengan yang lainnya.

Guru menyatakan bahwa siswa lebih suka menyalin aksara Jawa yang ditulis oleh guru di papan tulis. Oleh karena itu, guru melaksanakan kegiatan pembelajaran materi aksara Jawa dengan metode ceramah lalu menugaskan siswa untuk mengerjakan soal yang ada di buku materi. Inovasi pembelajaran pun belum pernah dilakukan untuk membantu kegiatan pembelajaran.

42

Pada kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan guru sudah sesuai dengan karakteristik siswa Sekolah Dasar yaitu operasional konkrit seperti yang diutarakan Piaget (dalam Ritta Eka Izzaty, 2008: 105). Hal ini dapat dilihat dari kegiatan rehearsal (pengulangan) yang menurut Samsunuwiyati Mar’at (2010:

158) merupakan cara siswa dalam memahami materi pada tahap operasional konkrit.

Sesuai dengan peryataan Samsunuwiyati Mar’at (2011: 184) pada tahap usia Sekolah Dasar siswa hanya melakukan kegiatan yang jelas aturannya. Oleh karena itu siswa melaksanakan perintah guru untuk mengerjakan soal yang ada di buku materi. Akan tetapi, walaupun telah dilaksanakan pembelajaran secara rehearsal, siswa tetap belum dapat mengenali huruf aksara Jawa dan menyusun aksara Jawa.

Tahap operasional konkrit siswa Sekolah Dasar memengaruhi karakteristik siswa dalam proses belajar. Pada tahap tersebut menurut Dollar&Miller (Abin Syamsuddin, 2009: 164) karakteristik siswa dalam belajar adalah membutuhkan motivasi, perhatian individu, mengerjakan sesuatu, dan adanya evaluasi. Hal tersebut tidak didapatkan siswa dalam proses pembelajaran aksara Jawa di kelas. Dengan demikian, diperlukan perantara yang dapat digunakan untuk membantu siswa.

Azhar Arsyad (2011: 7) menyatakan bahwa media merupakan alat bantu yang dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Selanjutnya Harjanto (2005: 243) menyatakan bahwa media memiliki manfaat di antaranya menumbuhkan motivasi, siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, dan metode mengajar

43

yang bervariasi. Dengan demikian, media pembelajaran sangat membantu dalam kegiatan pembelajaran aksara Jawa karena sesuai dengan karateristik siswa Sekolah Dasar dalam proses belajar.

Akan tetapi kegiatan pembelajaran aksara Jawa di kelas IV SD N Samirono tidak menggunakan media. Pembelajaran dilakukan dengan metode ceramah dan siswa melaksanakan perintah dari guru. Hal tersebut membuat siswa tidak memahami tujuan pembelajaran yang dilaksanakan dan bahan pembelajaran yang diberikan oleh guru. Hal ini dapat diketahui dari hasil wawancara di mana siswa belum menguasai materi aksara Jawa. Oleh karena itu penggunaan media menurut Harjanto (2005: 243) dapat menyajikan bahan pembelajaran lebih bermakna dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pembelajaran.

Media pembelajaran scramble aksara Jawa dibuat berdasarkan analisis keadaan yang terjadi pada pembelajaran aksara Jawa di kelas IV SD N Samirono. Media ini dibuat berdasarkan karakteristik proses belajar siswa pada tahap operasional konkrit. Selain itu media ini diharapkan dapat memberikan variasi pembelajaran sehingga tidak monoton hanya menggunakan ceramah.

2. Perencanaan dan Pengembangan Media

Pada pengembangan media pembelajaran scramble Aksara Jawa komponen yang dikembangkan yaitu tujuan pembelajaran, materi dalam media

scramble aksara Jawa, media pembelajaran, metode penggunaan, dan evaluasi.

Adapun tahapan perencanaan dan pengembangan media pembelajaran scramble aksara Jawa adalah sebagai berikut.

44 a. Penyusunan Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran disesuaikan dengan Kompetensi Dasar yang tertera pada Peraturan Gubernur DIY Nomor 64 tentang Muatan Lokal Wajib Bahasa Jawa di SD Tahun 2013.

1) Kompetensi Dasar

3.5 Memahami kata dan kalimat beraksara Jawa Legena, dan yang menggunakan sandhangan swara lan panyigeg.

2) Tujuan Pembelajaran

Berdasaran Kompetensi Dasar dan analisis situasi pada pembelajaran aksara Jawa di kelas IV SD N Samirono tersebut maka tujuan pembelajaran yang dikembangkan melalui media scramble aksara Jawa adalah sebagai berikut.

a) Siswa dapat membaca aksara Jawa Legena.

b) Siswa dapat membaca kata yang disusun dari aksara Jawa Legena.

c) Siswa dapat menyusun kata menggunakan aksara Jawa Legena

d) Siswa dapat membaca kata yang menggunakan aksara

Legenabersandhangan swara lan panyigeg.

b. Penyusunan Materi

Berdasarkan tujuan pembelajaran yang dibuat untuk media scramble aksara Jawa maka materi yang disajikan pada media ini adalah sebagai berikut.

45 1) Tulisan aksara Jawa Legena.

2) Tulisan sandhangan swara dan panyigeg.

c. Pembuatan Produk dengan Memodifikasi Bentuk Kartu Scramble menjadi Scramble Aksara Jawa

Modifikasi scramble aksara Jawa terletak pada item aksara

Legena dan Sandhangan. Komponen yang dimodifikasi adalah jenis

huruf, ukuran, dan bentuk. Item aksara dan sandhangan dibuat dengan program Corel Draw X5 menggunakan font (jenis huruf) hanacaraka dengan cakupan materi yang telah dibuat. Item selanjutnya dicetak pada kertas jenis ivory260.

d. Pengemasan Produk Awal Scramble Aksara Jawa

Produk awal media scramble aksara Jawa yang dibuat berupa petunjuk penggunaan, item aksara dan sandhangan, lay out media. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut.

1) Petunjuk Penggunaan

Petunjuk penggunaan dibuat untuk memudahkan siswa dalam menggunaan media tanpa bantuan dari peneliti. Adapun bentuk petunjuk penggunaan adalah sebagai berikut.

46

Gambar 2. Produk Awal Petunjuk Penggunaan

Petunjuk penggunaan dibuat dengan program Corel Draw X5 berukuran 15 cm x 15 cm. Jenis huruf yang dipakai adalah

Futura MD ukuran 17,636 pt untuk judul dan Century Gothic

ukuran 14 pt untuk isi petunjuk. Background warna menggunakan warna RGB kode #FEF0B1. Selanjutnya petunjuk dicetak pada kertas art paper tipe 20. Adapun bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa ngoko.

2) Aksara dan Sandhangan

Aksara berisi aksara Jawa legena dan sandhangan swara

dan panyigeg. Aksara dan Sandhangan ini yang akan diurutkan

47

Gambar 3. Produk awal item aksara dan sandhangan

Aksara dan sandhangan dibuat menggunakan program

Corel Draw X5 berukuran 3 x 3 cm. Jenis font yang digunakan

adalah hanacaraka dengan ukuran 58,48 pt untuk aksara legena dan 46,462 pt untuk sandhangan. Background warna untuk aksara menggunakan warna CMYK #0601000 untuk aksara

legena dan RGB dengan kode #FCFA8A untuk sandhangan.

Selanjutnya design dicetak pada kertas ivory tipe 260.

3) Lay Out Media

Lay out media berupa kain flanel yang dijahit pinggirnya

dengan kain batik. Kain flanel dalam satu paket media scramble aksara Jawa terdiri dari 5 lembar dengan warna yang berbeda setiap lembarnya. Selanjutnya lembaran-lembaran kain tersebut

48

disatukan menyerupai buku. Pada setiap lembar kain flanel berisi materi yang berbeda.

Gambar 4. Produk Awal bagian Cover

Bagian cover media pembelajaran scramble aksara Jawa menggunakan bakcground kain flanel berwarna merah muda. Cover dihiasi dengan bentuk pohon dan tulisan ayo sinau yang dibuat dari kain flanel. Bagian pinggir cover diberi kain batik berukuran 2 cm dengan cara dijahit.

49

Bagian Kaca 1 berisi aksara legena yang harus diurutkan siswa menjadi urutan yang benar. Petunjuk urutan yang benar berada di kantung tas di sebelah kanan aksara legena.

Background untuk Kaca 1 yaitu kain flanel berwarna hijau muda

dan bagian tepi diberi kain batik beukuran satu cm dengan cara dijahit. Pada halaman ini terdapat aksara legena berukuran 3x3 cm yang ditempelkan pada kain flanel hitam dengan ukuran yang sama. Kartu ini dapat dibongkar pasang karena penempelannya dengan perekat tekstil.

Gambar 6. Produk Awal bagian Kaca 2

Bagian Kaca 2 berisi gambar buaya dan kelelawar. Pada halaman ini siswa harus menyusun kata baya dan lawa dengan aksara legena di kaca 1. Kata disusun di bagian merah muda yang berukuran 6 x 3 cm. Background kaca 2 dibuat dari kain flanel berwarna kuning sedangkan bentuk buaya dan kelelawar dengan hijau, hitam, dan coklat.

50

Gambar 7. Produk Awal bagian Kaca 3

Bagian kaca 3 berisi soal latihan yang harus dikerjakan siswa. Background kaca 3 merupakan kain flanel berwarna coklat tua dengan tulisan gladhen berwarna oranye. Tempat soal berwarna kuning dengan ukuran 6x3 cm dan dilapisi plastik mika. Siswa dapat menyusun kata pada bagian merah yang terdapat perekat dengan ukuran 6x3 cm.

Gambar 8. Produk Awal bagian Kaca 4

Bagian Kaca 4 berisi sandhangan swara dan panyigeg. Pada bagian ini terdiri dari background warna biru muda, tulisan

sandhangan sebagai judul yang dibuat dari kain flanel coklat,

sandhangan dan tempat menyusun kata berukuran 6x6 cm.

51 e. Validasi Ahli

Setelah produk dibuat kemudian dinilai oleh ahli materi dan ahli media. Penialaian ini dilakukan sebelum uji coba lapangan (field

testing). Tujuan dari kegiatan ini adalah agar media layak untuk diuji

coba. Validasi ahli dilaksanakan dua kali oleh ahli materi dan dua kali oleh ahli media.

Validasi ahli materi pada media dinilai oleh Bapak Afendy Widayat, M.Phil dosen jurusan Bahasa Daerah, Fakultas Bahasa dan Seni. Validasi ahli materi pertama dilaksanakan pada 7 April 2016. Berikut hasil penilaian oleh ahli materi yang pertama.

Tabel 7. Hasil Ahli Materi Pertama

No Indikator

Peniaian 1 2 3 4 5

1 Kesesuaian materi dengan SK/KD 

2 Kedalaman Materi 

3 Kesesuaian latihan dengan SK/KD 

4 Pemberian petunjuk belajar 

5 Pemberian contoh-contoh dalam penyajian materi

6 Menumbuhkan motivasi siswa 

7 Kebenaran cakupan materi 

8 Keterkinian materi 

9 Kemudahan memahami materi 

10 Kesesuaian materi dengan kehidupan sehari-hari siswa

11

Kesesuaian bahasa yang digunakan dalam petunjuk belajar dengan tingkat perkembangan siswa

12 Kesesuaian materi dengan perkembangan siswa

52

No Indikator

Penilaian

1 2 3 4 5 14 Memberi kesempatan siswa untuk latihan

berulang

 15 Memberi kesempatan siswa untuk latihan

lanjut

 16 Proporsi soal dengan cakupan materi  17 Pemberian evaluasi untuk mengukur

ketercapaian siswa

 18 Materi yang disajikan memperhatikan

perbedaan individu

 19 Kesesuaian penyajian materi dengan tingkat

perkembangan siswa

 20 Kemenarikan sajian materi dalam media 

Jumlah 12 8

Jumlah x Skor 24 24

Jumlah Total 48

Rata-Rata 2,4

Hasil penilaian pertama oleh ahli materi adalah 2,4. Angka tersebut apabila dikonversikan dari data kuantitatif ke kualitatif maka masuk dalam kategori kurang. Dengan demikian perlu dilakukan revisi sesuai dengan saran. Adapun saran yang diberikan adalah sebagai berikut.

1) Bentuk Wigyan dan kelengkapan Sandhangan Swara lan Panyigeg

53

Pada bentuk wigyan tersebut sama dengan bagian

sandhangan taling tarung. Seharusnya bentuk ekor sandhangan

wigyan lebih panjang ( ). Selain itu terdapat sandhangan

panyigeg yang belum dicantumkan yaitu layar dan cecak.

2) Kata-kata bahasa Jawa Ngoko yang belum tepat

Gambar 10. Komponen Revisi Petunjuk Penggunaan

Pada petunjuk penggunaan terdapat kata yang penulisannya tidak tepat dan kalimat yang ambigu. Kata yang

salah penulisannya adalah “halaman, huruf, garapana, garap,

latian” dan kalimat yang ambigu adalah “urutna, aksara Jawa

ing sisih kiwa tas dadi urutan sing bener”.

54

Pada Kaca 4 terdapat tempat soal untuk menyusun kata ber-sandhangan swara dan panyigeg. Tempat soal ini berjumlah empat buah.

Gambar 11. Jumlah Tempat Soal Sandhangan

Saran yang diberikan yaitu jumlah tempat latihan soal ditambah. Hal ini dikarenakan dalam suatu kata yang menentukan adalah vokalnya atau swara-nya. Oleh karena itu jumlah tempat soal minimal sesuai dengan jumlah sandhangan

Dokumen terkait