• Tidak ada hasil yang ditemukan

Filsafat Metafisika, Epistimologis, dan Axiologis

BAGI ILMU PENGETAHUAN

A. Filsafat Metafisika, Epistimologis, dan Axiologis

Yang dimaksud dengan metafisika adalah cabang filsafat yang membahas persoalan tentang keberadaan (being) atau eksistensi (existence). Archie J. Bahm mengatakan bahwa metafisika merupakan suatyu penyelidikan pada masalah perihal keberadaan.8

Dalam metafisika orang berupaya menemukan bahwa keberadaan itu memiliki sesuatu yang “kodrati”, yakni karakteristik umum, sehingga metafisika menyadi suatu penyelidikan kea rah kodrat eksistensi.

Beberapa istilah yang sering disepadankan dengan metafisika adalah (i) filsafat pertama (first philosophy), (ii) pengetahuan tentang sebab (knowledge of couse), (iii) studi tentang Ada sebagai Ada (the study of Being as Being), (iv) studi tentang Ousia (Being), (v) studi tentang hal-hal abadi dan yang tidak dapat digerakkan (the study of the eternal and immovable), dan (vi) theology.9

8 Lihat Archie J. Bahm, 1986, Metaphysis: An Introduction, hal. 6

Beberapa peran metafisika yang dapat diambil dalam pe-mahaman ilmu pengetahuan: (i) metafisika mengajarkan cara ber-pikir yang cermat dan tidak kenal lelah dalam pengembangan ilmu pengetahuan; (ii) metafisika menuntut orisinalitas berpikir yang sangat diperlukan bagi ilmu pengetahuan; (iii) metafisika memberi-kan bahan pertimbangan yang matang bagi pengembangan ilmu pengetahuan, terutama pada wilayah praanggapan-praanggapan, sehingga persoalan yang diajukan memiliki landasan berpijak yang kuat; dan (iv) metafisika juga membuka peluang bagi terjadinya per-bedaan visi di dalam melihat realitas, karena tidak ada kebenaran yang benar-benar absolut.10

Yang dimaksud dengan epistemology (yang merupakan bidang filsafat), disebut juga teori pengetahuan. Secara etimologis, epis-temologis berarti teori pengetahuan (episteme=pengetahuan, dan logos=teori).

Beberapa istilah yang sering disepadankan dengan epistemo-logy adalah (i) kriteriologi (cabang filsafat yang membicarakan ukuran benar tidaknya pengetahuan), (ii) kritik pengetahuan (pem-bahasan mengenai pengetahuan secara kritis), (iii) Gnosiologi (perbincangan mengenai pengetahuan yang bersifat ilahiah/Gnosis), dan (iv) logika material (pembahasan logis dari segi isinya, sedangkan logika formal lebih menekankan pada segi bentuk).11

Masalah-masalah penting yang dikaji dalam epistemology adalah tentang (i) asal usul pengetahuan, (ii) peran pengalaman dan akal dalam pengetahuan, (iii) hubungan antara pengetahuan dengan keniscayaan, (iv) hubungan pengetahuan dengan kebenaran, (v) ke-mungkinan skeptisisme universal, dan (vi) bentuk-bentuk perubah-an pengetahuperubah-an yperubah-ang berasal dari konseptualisasi baru mengenai dunia.12

10 Lihat Rizal Mustansyir, 2003, Filsafat Ilmu (Yogjakarta, Pustaka Pelajar), hal. 15-16.

11 Lihat Soejono Soemargono, 1987, Filsafat Pengetahuan, hal. 5

Hakikat pengetahuan, tentu ada dalam pikiran manusia, sebaliknya tanpa pikiran pengetahuan tidak pernah akan akan. Berkaitan dengan hal ini, Archie J. Buhn mengungkapkan ada delapan struktur pikiran manusia, yang mencakup (i) mengamati (obsever), (ii) menyelidiki (inquiry), (iii) percaya (believe), (iv) hasrat (desires), (v) maksud (intends), (vi) mengatur (organizer), (vii) menyesuaikan (adapts), dan (viii) menikmati (enjoys).13

Sedangkan bidang yang ketiga, aksiologis akan membahas masalah teori ilmu dengan nilai (axios=nilai atau sesuatu yang berharga, dan logos=ilmu). Di sinilah, maka perbincangan ilmu relevansinya dengan beragam nilai akan menjadi cakupan pembicaraan, yang merujuk agar ilmu memiliki nilai manfaat, nilai guna, nilai kemaslahatan.

Pembicaran masalah aksiologis, ternyata memiliki banyak persoalan, yang mencakup empat factor.

1. Keberadaan kodrat nilai

Kodrat nilai itu akan berkisar pada apakah nilai itu berasal dari keinginan (voluntarisme: Spinoza), kesenangan (Hedonisme: Epicurus, Bentham, Meinong), kepentingan (Perry), prereferensi (Martineau), keingingan rasio murni (Kant), pemahaman mengenai kualitas tersier (Santayana), pengalaman sinoptik kesatuan kepribadian (personalisme: Green), berbagai pengalaman yang mendorong semangat hidup (Nietzshe), dan (relasi benda-benda sebagai sarana untuk mencapai tujuan atau konsekuensi yang sungguh-sungguh dapat dijangkau (pragmatisme: Dewey).

13 Lihat Archie J. Bahm, 1995, Epistemology: Theory of Knowledge, hal. 127-144, lihat juga Lihat Rizal Mustansyir, 2003, Filsafat Ilmu (Yogjakarta, Pustaka Pelajar), hal. 17-22.

2. Jenis-jenis nilai

Jenis-jenis nilai menyangkut perbedaan pandangan antara nilai intrinsik, ukuran untuk kebijaksanaan nilai itu sendiri, nilai-nilai instrumental yang menjadi penyebab (baik barang-barang ekonomis atau peristiwa-peristiwa alamiah) mengenai nilai-nilai intrinsik.

3. Kriteria nilai

Kriteria nilai artinya ukuran untuk menguji nilai yang dipengaruhi sekaligus teori psikologis dan logikanya. Penganut hedonist menemukan bahwa ukuran nilai terletak pada sejumlah kenikmatan yang dilakukan seseorang (Aristippus) atau masyarakat (Bentham). Penganut intuisinist menonjolkan wawasan yang paling akhir dalam keutamaan. Penganut idealist mengakui sistem objektif norma-norma rasional atau norma-norma ideal sebagai criteria (Plato). Sedangkan seorang naturalist menemukan keunggulan biologis sebagai ukuran standar.

4. Status metafisiknya

Status metafisik nilainya mempengaruhi (mempersoalkan) tentang bagaimana hubungan antara nilai terhadap fakta-fakta yang diselidiki melalui ilmu-ilmu kealaman (Kohler), kenyataan terhadap keharusan (Lotze), pegnalaman manusia tentang nilai pada realitas kebebasan manusia (Hegel).

Status metafisik nilai, karena itu, dalam konteks ini dapat diajukan tiga jawaban penting (a) subjektivisme (yang menganggap nilai merupakan suatu yang terikat pada pengalaman manusia), (b) objektivisme logis (yang menganggap nilai merupakan hakikat atau subtansi logis status eksistensial atau tindakan dalam realitas, dan (c) objektivisme metafisik ( yang menganggap bahwa nilai atau norma adalah integral, objektif dan unsure-unsur aktif kenyataan metafisik, sebagaimana yang dianut Theisme, absolutisme, dan realisme).

Secara etimologis, ethos=watak, dan moral dari mos=kebiasaan. Etika sebagai ilmu yang menyelidiki tingkah laku moral dapat dihampiri berdasarkan atas tiga macam pendekatan, yakni etika deskriptif, etika normative, dan metaetika.

Etika deskriptif sendiri merupakan cara melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas seperti adat kebiasaan, anggapan tentang baik atau buruk, tindakan yang diperbolehkan atau tidak. Etika deskriptif mempelajari moralitas yang terdapat pada invidu, kebudayaan atau subkultur tertentu. Oleh karena itu etika deskriptif ini tidak memberikan penilaian apapun, ia hanya memaparkan. Etika deskriptif lebih bersifat netral. Misalnya, penggambaran tentang adat Samin yang sangat harmonis dalam komunitasnya di Pati Jawa Tengah.

Etika normative mendasarkan pada norma. Etika normative dapat mempersoalkan norma yang diterima seseorang atau masyarakat lebih kritis. Etika normative mempersoalkan apakah norma itu benar atau tidak. Etika normative berarti sistem-sistem yagn dimaksudkan untuk memberikan petunjuk atau panuntun dalam mengambil keputusan yang menyangkut baik buruk. Etika normative, kemudian di bagi menjadi dua bagian (i) etika umum, yang menekankan pada tema-tema umum seperti apa yang dimaksud dengan etika? Megnapa norma moral mengikat kita? bagaimana hubungan antara tanggungjawab dengan kebebasan? (ii) etika khusus, yang menyangkut penerapkan prinsip-prinsip dari etika umum itu sendiri, biasanya disebut juga dengan etika terapan.***

Catatan Pengganggu:

Awas jangan bimbang (bingung) mempelajari filsafat ilmu, kemudian jika filsafat Anda anggap membingungkan baca bukunya Alain de Botton yang berjudul The Consolation of Philosophy (Filsafat sebagai Pelipur Lara), (Jakarta, Teraju, 2003). Selamat untuk tidak bingung : dariku, teman diskusimu.