BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.9. Fluktuasi Muka Air Laut
2.9.1 Elevasi Muka Air Laut Rencana
Elevasi muka air laut rencana merupakan parameter sangat
penting di dalam perencanaan bangunan pantai. Elevasi tersebut
merupakan penjumlahan dari beberapa parameter yaitu pasang
surut, tsunami, wave set-up, wind set-up, dan kenaikan muka air
karena perubahan suhu global. Gambar 2.10 menunjukkan contoh
penentuan elevasi muka air rencana.
Gambar 2.10 Elevasi Muka Air Laut Rencana
(Sumber: Bambang Triatmodjo, 2011)
2.9.2 Pasang Surut
Pasang surut adalah fluktuasi muka air laut karena adanya
gaya tarik-menarik benda-benda di langit, terutama matahari dan
bulan terhadap massa air laut di bumi. Elevasi muka air tertinggi
(pasang) dan terendah (surut) sangat penting untuk merencanakan
bangunan pantai dan pelabuhan. Kurva pasang surut
Tinggi pasang surut adalah jarak vertikal antara air tertinggi
(puncak air pasang) dan air terendah (lembah air surut)yang
berurutan. Periode pasang surut bisa 12 jam 25 menit atau 24 jam
50 menit, yang bergantung pada tipe pasang surut.
2.9.2.1 Beberapa tipe pasang surut
Bentuk pasang surut di berbagai daerah tidak sama. Secara
umum pasang surut di berbagai daerah dapat dibedakan dalam
empat tipe, yaitu:
1. Pasang surut harian ganda (semi diunal tide)
Dalam satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air
surut dengan tinggi yang hampir sama dan pasang surut terjadi
secara berurutan dan teratur. Periode pasang surut rata-rata
adalah 12 jam 24 menit.
Dalam satu hari terjadi satu kali air pasang dan satu kali air
surut. Periode pasang surut adalah 24 jam 50 menit.
3. Pasang surut condong ke harian ganda (mixed tide prevailing
semidiurnal)
Dalam satu hari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut,
tetapi tinggi dan periodenya berbeda.
4. Pasang surut campuran condong ke harian tunggal (mixed tide
prevailing diurnal)
Dalam satu hari terjadi satu kali pasang dan satu kali surut,
tetapi tinggi dan periodenya berbeda.
2.9.2.2 Bebrerapa definisi elevasi muka air
Mengingat elevasi di laut selalu berubah satiap saat, maka
diperlukan suatu elevasi yang ditetapkan berdasar data pasang
surut. Beberapa elevasi tersebut adalah sebagai berikut:
a. Muka air tinggi (high water level atau high water spring,
HWS), muka air tertinggi yang dicapai pada saat air pasang
dalam satu siklus pasang surut.
b. Muka air rendah (low water level atau low water spring,
LWS), kedudukan air terendah yang dicapai pada saat air surut
dalam satu siklus pasang surut.
c. Muka air laut rerata (mean sea level, MSL), adalah muka air
rerata antara muka air tinggi rerata dan muka air rendah rerata.
Elevasi ini digunakan sebagai referansi untuk elevasi di
daratan.
2.9.3 Kenaikan Muka Air Karena Gelombang (Wave Set-Up)
Gelombang yang datang dari laut menuju pantai
menyebabkan fluktuasi muka air di daerah pantai terhadap muka
air diam. Pada waktu gelombang pecah akan terjadi penurunan
elevasi muka air rerata terhadap elevasi muka air diam di sekitar
lokasi gelombang pecah. Kemudian dari titik di mana gelombang
pecah permukaan air rerata miring ke atas ke arah pantai.
Turunnya muka air tersebut dikenal dengan wave set-down,
sedangkan naiknya muka air disebut wave set-up; seperti
ditunjukkan dalam Gambar 2.11 .
Gambar 2.11 Kenaikan Muka Air Karena Gelombang (Wave
Set-Up)
(Sumber: Bambang Triatmodjo, 2011)
Wave set-up dipantai dapat dihitung dengan menggunakan
teori Longuet-Higgins dan Stewart (1963). Besar wave set-down
di daerah gelombang pecah diberikan oleh :
𝑆𝑆𝑏𝑏 = −0,536𝐻𝐻
𝑎𝑎2 3�𝑔𝑔
1�2𝑇𝑇 (2.17)
dengan:
2S
b: set-down di daerah gelombang pecah
T : periode geombang
H
b: tinggi gelombang laut dalam ekivalen
d
b: kedalaman gelombang pecah
Wave Set-Up dipantai diberikan oleh bentuk berikut :
𝑆𝑆𝑆𝑆 = ∆𝑆𝑆 − 𝑆𝑆𝑏𝑏 (2.18)
Dengan menganggap d
b=1,28 H
bmaka :
∆S = 0,15 d
b(2.19)
Maka diperoleh :
𝑆𝑆𝑆𝑆 = 0,19 �1 − 2,82�𝐻𝐻
𝑎𝑎𝑔𝑔𝑇𝑇
2� 𝐻𝐻𝑏𝑏 (2.20)
2.9.4 Kenaikan Muka Air Karena Angin (Wind Set-Up)
Gelombang badai biasanya terjadi dalam waktu yang
bersamaan dengan proses alam lainnya seperti pasang surut.
Besarnya kenaikan muka air karena badai dapat diketahui dengan
memisahkan hasil pengukuran muka air laut selama terjadi badai
dengan fluktuasi muka air laut karena pasang surut.
Kenaikan elevasi muka air karena badai dapat dihitung
dengan persamaan berikut:
∆ℎ =𝐹𝐹
𝑖𝑖2 (2.21)
∆ℎ = 𝐹𝐹𝐹𝐹2𝑔𝑔𝜋𝜋𝑣𝑣
2(2.22)
dengan :
∆h : kenaikan elevasi muka air karena badai (m)
F : panjang fetch
i : kemiringan muka air
c : konstanta = 3,5x10
-6V : kecepatan angin (m/d)
d : kedalaman air (m)
g : percepatan gravitasi (m/d
2)
Di dalam memperhitungkan wind set-up di daerah pantai
dianggap bahwa laut dibatasi oleh sisi (pantai) yang impermeable
dan hitungan dilakukan untuk kondisi dalam arah tegak lurus
pantai.
2.9.5 Tsunami
Tsunami adalah gelombang yang terjadi karena gempa
bumi atau letusan gunung berapi. Gelombang yang terjadi
bervariasi dari 0.5 m sampai 30 m dan periode dari beberapa
menit sampai sekitar satu jam. Berbeda dengan gelombang
(angin) yang hanya menggerakkan air laut bagian atas, pada
tsunami seluruh kolam air dari permukaan sampai dasar bergerak
dalam segala arah. Cepat rambat gelombang tsunami tergantung
pada kedalaman laut. Semakin besar kedalaman emakin besar
kecepatan rambatnya.
Pencatatan gelombang tsunami di Indonesia belum banyak
dilakukan. Telah dikembangkan suatu hubungan anatara tinggi
gelombang tsunami di dareah pantai dan besaran tsunami m.
Untuk lebih jelasnya diberikan dalam Tabel 2.2.
Tabel 2.2. Hubungan antara besaran gempa dan tinggi tsunami di
pantai
(Sumber: Bambang Triatmodjo, 2011)
m H (meter)
5 >32
4.5 24.0 - 32.0
4 16.0 - 24.0
3.5 12.0 - 16.0
3 8.0 - 12.0
2.5 6.0 - 8.0
2 4.0 - 6.0
1.5 3.0 - 4.0
1 2.0 - 3.0
0.5 1.5 - 2.0
0 1.0 - 1.5
-0.5 0.75 - 1.0
-1 0.5 - 0.75
-1.5 0.3 - 0.5
-2 < 0.3
Kejadian tsunami yang disebabkan oleh gempa bumi di laut
tergantung pada beberapa faktor berikut ini :
1. Kedalaman pusat gempa (episentrum) di bawah dasar laut h
(km) .
2. Kekuatan gempa M yang dinyatakan dalam skala Richter.
3. Kedalaman air di atas episentrum d (m)
Gelombang tsunami mempunyai hubungan erat dengan
kekuatan gempa dan kedalaman pusat gempa. Gambar 2.12
menunjukkan hubungan antara kekuatan gempa M dan kedalaman
gempa terhadap kemungkinan terjadinya tsunami. Pada daerah
disebelah kiri garis A gempa yang terjadi tidak menimbulkan
tsunami. Sedang daerah disebelah kanan garis A dan B gempa
yang terjadi dapat menimbulkan tsunami.
Gambar 2.12 Hubungan antara Kekuatan Gempa dan Kedalaman
Episentrum dengan Terbentunknya Gelombang Tsunami
(Sumber: Bambang Triatmodjo, 2011)
2.9.6 Pemanasan Global
Kegiatan manusia yang mengakibatkan jumlah gas rumah
kaca di atmosfer dapat mengakibatkan naiknya suhu bumi.
Peningkatan suhu bumi dapat menimbulkan dampak bagi
kehidupan. Suhu yang lebih tinggi dan penguapan lebih besar
mengakibatkan curah hujan cenderung meningkat sehingga dapat
mengakibatkan banjir. Dampak lainnya adalah peningkatan tinggi
muka air laut yang disebabkan oleh pemuaian air laut dan
mencairnya gunung-gunung es di kutub. Kenaikan permukaan
laut akan menyebabkan mundurnya garis pantai sehingga
menggusur daerah permukiman dan mengancam daerah perkotaan
yang rendah, membajiri lahan produktif dan mencemari
persediaan air tawar. Untuk melindungi daerah tersebut perlu
dibangun tanggul laut. Gambar 2.13 memberikan perkiraan
besarnya kenaikan muka air laut dari tahun 1990 sampai 2100,
yang disertai perkiraan batas atas dan bawah. Gambar tersebut
berdasarkan anggapan bahwa suhu bumi meningkat seperti yang
terjadi saat ini, tanpa adanya tindakan untuk mengatasi nya.
Gambar 2.13 Perkiraan Kenaikan Muka Air Laut Karena
Pemanasan Global
Dalam dokumen
Desain Alternatif Bangunan Pemecah Gelombang Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi (PPN Prigi)
(Halaman 37-45)