E.3 Teknik Pengumpulan Data
E.3.2 Focus Group Discussion Terhadap Empat Potongan Scene
Selain menggunakan teknik pengumpulan data berupa pengamatan terhadap iklan dengan pendekatan analisa semiotika Saussure, peneliti juga menggunakan teknik focus group discussion (FGD) sebagai alat pengumpul data
30 yang relevan. FGD telah dilakukan sebanyak 11 kali. 9 kali di Yogyakarta dan 2 kali di Jakarta. FGD dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data atas pendapat dan persepsi populasi terhadap empat potongan scene iklan politik “PKS Itu...” yang sudah peneliti pilih, dan persepsi tentang PKS secara umum.
Empat scene tersebut adalah scene ke-3 (Etnis/Suku Papua), scene ke-5 (Etnis Tionghoa), scene ke-7 (Perempuan Tanpa Jilbab), dan scene ke-9 (Anak Punk). 11 kali FGD yang dilakukan secara langsung melibatkan 47 informan yang dituangkan ke dalam 18 halaman rekaman kesimpulan FGD43. 2 FGD mendiskusikan potongan scene etnis Tionghoa. 4 FGD mendiskusikan potongan etnis/suku Papua. 4 FGD mendsikusikan potongan scene anak punk. Dan 1 FGD mendiskusikan potongan scene perempuan tanpa jilbab.
Tabel 1.2
Urutan FGD dan Fokus Scene Yang Didiskusikan
No Urutan FGD Potongan Scene Yang Didiskusikan
1 FGD Ke-1
Scene Etnis Tionghoa 2 FGD Ke-2
3 FGD Ke-3
Scene Etnis/Suku Papua 4 FGD Ke-4
5 FGD Ke-5 6 FGD Ke-6 7 FGD Ke-7
Scene Anak Punk 8 FGD Ke-8
31 9 FGD Ke-9
10 FGD Ke-10
11 FGD Ke-11 Scene Perempuan Tanpa Jilbab
Scene etnis/suku Papua penulis pilih karena merepresentasikan masyarakat minoritas di daerah timur Indonesia. PKS adalah partai politik yang lahir di daerah perkotaan di Pulau Jawa dengan basis massa kalangan kampus yang berdomisili di perkotaan. Sudah menjadi rahasia umum pula bahwa PKS banyak memenangkan Pilkada di daerah-daerah di mana karakteristik perkotaan ada di situ. Sehingga, scene etnis/suku Papua ini merupakan sebuah titik ekstrem dan kebalikan dari representasi PKS yang tidak umum.
Gambar 1.1
32 Perlu diketahui juga bahwa citraan penanda dua orang wajah khas daerah timur Indonesia (Papua), di mana mayoritas masyarakat di sana adalah non-muslim, merupakan strategi perluasan basis massa yang ekstrem bagi partai yang memilih Islam sebagai ideologi gerakanya, maupun penguatan opini dan image dalam iklan ini44
Perlu diketahui pula bahwa di dalam potongan scene etnis Tionghoa ini, terdapat petanda dengan teks yang mengatakan “PKS itu: Partai Keberuntungan , bahwa PKS multikultur. Oleh karena itu, patut dicermati apa pendapat pemilih pemula terhadap fenomena potongan scene iklan tersebut.
Kemudian, scene etnis Tionghoa penulis pilih karena kekhasan etnis Tionghoa di Indonesia. Etnis Tionghoa memiliki sejarah panjang di Indonesia. Jauh sebelum PKS dan bahkan Islam menjadi agama mayoritas di Indonesia, mereka sudah eksis dalam kegiatan ekonomi dengan mempertahankan budaya khas mereka. Kekerasan yang dilatarbelakangi faktor kecemburuan sosial, dan budaya chauvinisme oknum mayoritas di Indonesia pada etnis Tionghoa juga mempengaruhi benak masyarakat atas citraan etnis tersebut.
Di dalam iklan “PKS Itu...”, dengan citra diri politik etnis Tionghoa, maka PKS sedang menunjukan hal yang multikultur dan tidak biasa dalam budaya kampanye politik di Indonesia. Merupakan sesuatu yang tidak umum ketika kampanye suatu partai politik Islam menggunakan etnis Tionghoa sebagai salah satu katalisator untuk merepresentasikan minoritas yang memiliki sejarah khusus.
44 Budi Setyono, Iklan dan Politik: Menjaring Suara dalam Pemilihan Umum, AdGoal.com., Jakarta, 2008, hlm. 27.
33 Saya”. Kepercayaan pada keberuntungan (kehokian) merupakan kepercayaan yang sangat tidak diakui PKS sebagai partai dengan basis Islam Tarbiyah. Dengan menggunakan petanda teks seperti itu, PKS bahkan menggeser kepercayaan demi perluasan basis suaranya terhadap tanda-tanda yang terdapat dalam suatu paket tanda-tanda pesan atau teks45
Penggunaan pada potongan scene anak punk juga menunjukkan bahwa PKS ingin menyasar kelompok punk yang pada hakikatnya bersifat apatis terhadap masalah politik prosedural, apalagi masalah Islam politik. Oleh karena itu, mengingat fungsi iklan sebagai kampanye untuk memberikan efek persuasif yang bukan merujuk pada identifikasi khas PKS. Sesuatu yang menarik dan patut untuk dikaji lebih mendalam.
Kemudian, penulis mengambil potongan scene perempuan tanpa jilbab. Scene menggambarkan seorang perempuan yang mengatakan “PKS itu: Penuh Kasih Sayang”. PKS sebagai partai politik yang berideologi Islam, dengan penggunaan aktris perempaun tanpa mengenakan jilbab adalah sebuah fenomena penting dan tidak khas PKS. PKS seolah seperti bukan partai politik yang memiliki basis pendukung massa Islam.
Scene perempuan tanpa jilbab dinilai mampu menjadi penguat persepsi atas tujuan politik jangka pendek PKS dalam mempengaruhi pemilih pemula. Scene tersebut sangat tidak PKS, ditambah dengan make up yang tebal, yang bukan budaya basis pendukung PKS yang islami.
34 dan efek pengingat46
Dalam proses FGD, terdapat beberapa hal yang didiskusian dengan populasi
. Setidaknya, dalam potongan scene anak punk ini terdapat citraan yang tidak mungkin dapat dilupakan tentang karakteristik anak punk dalam sebuah iklan partai politik Islam.
Scene anak punk merupakan sebuah keestreman pemilihan citraan diri politik yang luar biasa. Mengingat kelompok punk di Indonesia tidak memiliki konotasi positif di sebagian mayoritas masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi etika dalam berpakaian dan berperilaku. Sesuatu yang menarik dan unik di mata masyarakat, tentunya menimbulkan pro dan kontra bagi penerima pesan.
47
a) Pertama, peneliti mendiskusikan soal apa yang dipikirkan populasi di FGD terhadap potongan scene yang menjadi fokus FGD. Peneliti ingin mendapat data terkait persepsi populasi dengan melihat scene gambar yang menjadi fokus FGD.
. Hal yang didiskusikan tersebut adalah:
b) Kedua, setelah diskusi tuntas pada tahap persepsi, peneliti mengarahkan diskusi terkait sejauh mana scene gambar yang ditunjukkan kepada populasi dalam menentukan pilihan politiknya. Peneliti ingin mendapat data tentang sejauh mana populasi untuk memilih PKS dengan melihat scene gambar yang didiskusikan di FGD.
46 Sunarto, Perilaku Konsumen Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2004, hlm. 283.
35 c) Ketiga, peneliti juga mengarahkan diskusi untuk mengetahui terkait
dengan pengetahuan umum populasi atas PKS. Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui latar belakang penggambaran penjelasan atas persepsi populasi terhadap persoalan yang didiskusikan.
d) Keempat, peneliti melemparkan pertanyaan terkait faktor apa yang membuat populasi menentukan pilihan politik populasi. Faktor yang menentukan pilihan politik populasi tersebut menjadi data penting untuk mendukung argumen tentang perubahan perilaku politik pemilih pemula di Indonesia.
Sebagian besar populasi FGD bukanlah kader PKS. Populasi FGD terdiri atas mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Univeristas Pembangunan Nasional (UPN), Universitas Sanata Dharma, Akademi Ilmu Komputer (AMIKOM), dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Peserta FGD terdiri mulai dari angkatan 2013 hingga angkatan 2008.
Tabel 1.3 Profil Peserta FGD
Universitas Fakultas Angkatan
1 Universitas Gadjah Mada MIPA 2012
2 Universitas Gadjah Mada MIPA 2012
3 Universitas Gadjah Mada Farmasi 2012
4 Universitas Gadjah Mada Kedokteran 2012
5 Universitas Gadjah Mada Fisipol 2009
36 7 Universitas Gadjah Mada Kedokteran Hewan 2009
8 Universitas Gadjah Mada Fisipol 2009
9 Universitas Gadjah Mada Fisipol 2009
10 Universitas Gadjah Mada Fisipol 2008
11 Univeritas Pembangunan Veteran Teknik 2009 12 Univeritas Pembangunan Veteran Teknik 2009 13 Univeritas Pembangunan Veteran Pertanian 2008
14 Universitas Gadjah Mada Hukum 2010
15 Universitas Sanata Dharma Ekonomi 2013 16 Universitas Gadjah Mada Geografi 2009 17 Universitas Gadjah Mada Geografi 2009 18 Universitas Gadjah Mada Teknologi Pertanian 2011 19 Universitas Gadjah Mada Sekolah Vokasi 2010
20 Universitas Gadjah Mada Teknik 2009
21 Universitas Gadjah Mada Sekolah Vokasi 2010
22 Universitas Gadjah Mada Fisipol 2011
23 Universitas Gadjah Mada Ilmu Budaya 2009
24 Universitas Gadjah Mada Biologi 2012
25 Universitas Negeri Jakarta Teknik 2010 26 Universitas Negeri Jakarta Bahasa dan Seni 2012 27 Universitas Negeri Jakarta Teknik 2009 28 Universitas Negeri Jakarta Bahasa dan Seni 2010 29 Universitas Gadjah Mada Kehutanan 2011 30 Universitas Gadjah Mada Sekolah Vokasi 2010 31 Universitas Gadjah Mada Ekonomi dan Bisnis 2010 32 Universitas Gadjah Mada Ekonomi dan Bisnis 2011
33 Universitas Gadjah Mada Biologi 2012
34 Universitas Gadjah Mada Fisipol 2011
35 Universitas Gadjah Mada Psikologi 2010 36 Akademi Ilmu Komputer Teknologi Informatika 2009
37 38 Universitas Gadjah Mada Kedokteran 2012
39 Universitas Gadjah Mada Fisipol 2011
40 Universitas Gadjah Mada Fisipol 2010
41 Universitas Negeri Jakarta Bahasa dan Seni 2009 42 Universitas Negeri Jakarta Ilmu Pendidikan 2010 43 Universitas Negeri Jakarta Ilmu Pendidikan 2010 44 Universitas Gadjah Mada Sekolah Vokasi 2011 45 Universitas Gadjah Mada Kehutanan 2011 46 Universitas Gadjah Mada Sekolah Vokasi 2012
47 Universitas Gadjah Mada Fisipol 2009
Peneliti mengambil sampel mahasiswa terutama dengan batasan dari angkatan 2013 hingga angkatan 2008 yang merupakan pemilih kategori pemula. Peneliti ingin mengetahui persepsi pemilih pemula sebagai masukan analisa terhadap iklan “PKS Itu...” diluar analisa subyektif peneliti sendiri atas analisa semiotika yang dilakukan pada seluruh scene iklan. Hal tersebut penting mengingat mayoritas pemilih adalah pemilih awam, yang salah satu kategorinya adalah pemilih pemula, untuk membantu menjawab pertanyaan penelitian skripsi ini.
Jumlah populasi FGD dan volume data yang berhasil dikumpulkan tersebut melebihi perkiraan peneliti pada saat akan memulai penelitian. Ketika itu peneliti sempat mengkhawatirkan kesediaan populasi untuk memberikan informasi saat FGD berlangsung dan menjawab dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara terbuka. Ternyata kekhawatiran tersebut tidak
38 terbukti di lapangan. Sebaliknya, secara umum seluruh populasi memberikan informasi dengan antusias.
Dalam setiap FGD, peneliti menggunakan satu fokus scene. Hal ini dilakukan untuk memperdalam diskusi seputar makna di balik scene tersebut. Karena alasan mengambil empat scene khusus dari empat belas scene, sudah menjadi teknik dalam pengambilan data dengan cara sample.
Peneliti menggunakan potongan empat scene iklan politik “PKS Itu...” dalam bentuk gambar, bukan video. Peneliti menggunakan gambar sebagai pemudah untuk menunjukkan scene pada setiap FGD yang dilakukan karena keterbatasan teknis dan kemampuan peneliti. Akan tetapi, scene yang sesungguhnya berupa video hanya berdurasi 2 detik saja, sehingga tidak akan mendistorsi makna yang dimaksud setiap scene apabila dikonversi dalam bentuk gambar. Titik tekan pada scene bukan pada cerita pada scene, karena per scene tidak memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lain, bahkan di dalam setiap scene sendiri tidak ada persambungan makna yang berbeda atau hanya memiliki makna tunggal. Titik tekan semiotika scene ada pada citraan latar belakang, aktor/aktris yang digambarkan, dan teks yang tercantum di dalam scene.
Teknik pengumpulan data FGD ini memiliki keterbatasan terkait dengan konteks waktu empat scene iklan disajikan peneliti. Ketika FGD ini dilakukan pada periode Juli 2013, sedangkan scene iklan yang peneliti sajikan telah diterbitkan PKS pada medio semester pertama 2009. Tetapi, secara substansi yang berbicara soal konten, maka konteks waktu menjadi tidak memiki relevansi yang tidak
39 terlalu signifikan karena konten empat scene ini terkait dengan budaya citra diri politik yang ingin ditunjukkan, sehingga masih relevan untuk ditanyakan terkait dengan persepsi pemilih pemula dalam forum-forum FGD yang digelar.
E.3.3 Wawancara
Untuk mempertajam seputar ke-PKS-an, maka peneliti juga menggunakan teknik wawancara dengan pengurus PKS di tingkat pusat. Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan yang dilakukan antara pewawancara (interviewer) dan yang diwawancara (interviewee)48. Untuk melakukan pengklasifikasian mengenai macam-macam wawancara dan salah satunya adalah wawancara yang terstruktur dan wawancara yang tidak terstruktur49
Peneliti menggunakan teknik wawancara tidak terstruktur. Narasumber dalam penelitian ini adalah Bapak Agus Purnomo dan Bapak Andi Rahmat. Keduanya merupakan anggota DPR RI 2009-2014 dari Fraksi PKS. Wawancara . Wawancara terstruktur mengharuskan pewawancara menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. Sedangkan wawancara tidak terstruktur digunakan untuk menemukan informasi yang bukan baku atau informasi tunggal. Hasil wawancara semacam ini menekankan kekecualian, penyimpangan, penafsiran yang tidak lazim, penafsiran kembali, pendekatan baru, dan pandangan ahli.
48 Lexy J.Moleong, Op.cit., hlm. 135.
40 dilakukan di sela-sela kegiatan yang diisi oleh kedua narasumber sewaktu datang ke Yogyakarta, dan peneliti mendiskusikan hal-hal terkait masalah penelitian.