bangunan gedung sebagian besar memang proyek swasta, namun untuk proyek energi dan transportasi porsi terbesar proyek pemerintah dan BUMN. Menurut Mukhsin, Jaya CM memiliki 3 bidang layanan. Yaitu : Gedung ( ada 3 divisi), Transportasi, dan Ketenagalistrikan (Powerplant dan Transmisi). Beberapa proyek gedung yang prestisus, antara lain : Pakubuwono Signatures (49 lantai), Green Bay Pluit (4 Tower@38lantai), Tunjungan Plaza 5 Surabaya (Mall 12 lantai, Hotel 12 lantai dan Condo 43 lantai), Ciputra World I, Jakarta (Mall dan 3 Tower@50 lantai), Synergy Building Alfa Tower, Tangerang Selatan (20 lantai), Podomoro City Medan (Mix used Mall, Apartemen 7 tower, Office 1 tower), . Di bidang kelistrikan telah banyak membangun dari skala kecil hingga besar (PLTA, PLTGU, PLTG, Mini Hidro), antara lain: PLTU Tanjung Jati B (4 x 660 MW), PLTU Suralaya (660 MW), dan proyek yang sekarang dalam tahap pelaksanaan adalah PLTU Adipala, Cilacap (660 MW), PLTGU Tambak Lorok (500 MW), PLTA Sipansihaporas (50 MW), PLTA Renun(65 MW).
Dikemukakan oleh Tulus Tambunan yang juga sebagai Kepala Divisi Bidang Transportasi Jaya CM, beberapa proyek prestisius di bidang transportasi antara lain : Manajemen Konstruksi Bandara Kualanamu Medan (2008-2013), Manajemen Konstruksi Bandara Ngurah Rai Bali (2010-2014), supervisi Jalan Tol Cikampek- Palimanan (2013-2016), Project Management Consultant untuk
Grand Design Bandara Soekarno Hatta meliputi: Apron Terminal 3, Terminal 3 Ultimate, Stasiun KA, Ground Support Equipment (GSE), Aksessibilitas, Landscape dan Peningkatan Sistem Jaringan Listrik (2013-2016), dan Pekerjaan Rel Ganda (double-double track) Manggarai-Bekasi, sekitar 55 km.
Proyek MRT Jakarta
Menurut Ir. Sapto, Deputy Project Manager dari Jaya CM, dalam proyek MRT Jakarta PT Jaya CM berkonsorsium dengan beberapa konsultan nasional,dan dengan konsultan Jepang JTC (Japan
Transporation Consultants) dan Nippon
Koei untuk pekerjaan Technical Assistance Services (TAS 2). Adapun lingkup pekerjaan Technical Assistance
Services (TAS 2) adalah melakukan
evaluasi lelang untuk dua paket lelang, yaitu System M/E dan Rolling Stock. Pekerjaan sistem M/E meliputi :
Substation, Power Distribution, Signaling & Train Operation, Telecomunication,
Facility SCADA, Automatic Fare Collection (AFC), Platform Screen Door, Escalators &
Elevators, Track work, dan untuk Rolling
Stock adalah pengadaan 16 train-set masing-masing 6 cars/train-set. Tentang teknologi yang diterapkan di proyek MRT, menurut Sapto, yang menarik adalah kereta MRT merupakan kereta listrik tanpa masinis (driverless). Dalam operasinya kereta hanya memiliki satu kondektur untuk menjaga pintu kereta. Pengendalian kereta dilakukan di controll center, di Lebak Bulus. Sistem pemasokan listriknya masih
Ir. Tulus Tambunan. Ir. Mukhsin Moechtar, IPU. Ir. Ir. Sapto
PT Jaya CM
Profile
Perusahaan
menggunakan sistem konvensional dengan pantograf di atas, bukan dengan sistem pasokan listrik di bagian bawah di samping rel (third rail).
Proyek bangunan gedung terbesar porsinya
Menurut Mukhsin, untuk proyek bangunan gedung Jaya CM lebih banyak memberikan jasa PM/CM. . Lingkup layanan jasa Project Management (PM) dimulai sejak awal proyek, yakni dari tahap Business Plan hingga tahap pelaksanaan konstruksi. Dalam lingkup pekerjaan PM, termasuk memilih konsultan perencana. Kalau dalam CM konsultan perencana sudah ada. Pada sistem CM biasanya menggunakan sistem “Fast Track”, dimana pekerjaan desain dan konstruksi dilaksanakan secara parallel dan melibatkan sub-kontraktor yang berkontrak langsung dengan owner. Jumlah sub-kontraktor untuk proyek bangunan gedung bisa puluhan hingga ratusan paket, yang berada di bawah kendali CM. Sementara layanan jasa difokuskan dalam pengendalian aspek Biaya, Mutu, Waktu dan Safety. Sementara untuk proyek-proyek non gedung, seperti di PLTU Ombilin ( 2 x 100 MW) dan PLTGU Tambak Orok (500 MW). pekerjaan transportasi dan ketenagalistrikan Jaya CM terlibat mulai dari hulu (termasuk Studi Kelayakan) sampai Konstruksi. Dalam pekerjaan ketenagalistrikan Jaya CM pernah menjadi leadfirm dimana konsultan asing sebagai associates, yaitu untuk proyek
PLTU Ombilin(2x100 MW) konsultan asingnya Lahmeyer Internasional dari Jerman dan PLTGU Tambak Lorok (1x500 MW) bermitra dengan Surgent-Landy dari Amerika Serikat. Proyek-proyek kelistrikan pada umumnya dibiayai oleh PLN. Ada beberapa proyek kelistrikan swasta, namun jumlahnya sangat sedikit.
Akhir tahun 1980-an Jaya CM mulai melakukan diversifikasi ke bidang Transportasi dan Energi, yang sebelumnya lebih focus ke bangunan gedung. Arah Jaya CM ke depan lebih memperluas ke proyek-proyek infrastruktur sesuai dengan program pemerintah, sementara untuk proyek
Town House Green Bay Tunjungan Plaza, Surabaya.
gedung akan lebih selektif. Dilihat dari kontribusi omzet perusahaan proyek-proyek gedung menyumbang 40 %, sedangkan untuk transportasi dan ketenagalistrikan masing-masing 30 %. Mengingat volumenya cukup besar maka untuk poyek gedung memiliki 3 divisi. Antara proyek pemerintah dan swasta porsinya masih seimbang. “Untuk proyek gedung sebagian besar proyek swasta.
Jumlah seluruh karyawan PT Jaya CM saat ini sekitar 550 orang. Dalam merekrut SDM dari fresh graduate kemudian dididik secara berjenjang, baik dalam internal perusahaan, maupun di luar perusahaan (dlam/luar negeri). Beberapa personil Jaya CM, misalnya juga diikutkan dalam kegiatan Technical
Visit ke luar negeri yang diselenggarakan
oleh Inkindo DKI Jakarta.
Masalah banting harga
Terkait dengan Billing Rate konsultan, menurut Mukhsin di beberapa proyek lebih rendah dari standar Inkindo. “Billing Rate Inkindo sudah cukup layak,
tetapi perlu dijadikan standard dalam pelelangan agar ada satu kompetisi yang wajar. Ini menjadi tugas Inkindo.
Menurut Mukhsin, perusahaan konsultan anggota Inkindo perlu menawarkan harga yang wajar, karena Billing Rate yang rendah akan mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan. Perusahaan Konsultan perlu mempertimbangkan pengembangan usahanya, peningkatan kemampuan/ pendidikan karyawannya, peningkatan sistem dan kemampuan perusahaan ketaraf yang lebih tinggi baik di tingkat nasional maupun internasional.
Persyaratan dalam proyek juga seringkali terlalu tinggi, misalnya untuk Project Manager harus S 2, pengalaman 20 tahun dan SKA Utama, sehingga menimbulkan biaya tinggi. Karena biasanya tenaga S2 yang sudah pengalaman 20 tahun biasanya sudah enggan untuk bekerja di lapangan, karena biasanya sudah duduk di tingkat manajemen perusahaan. “Kalau hanya ditaruh sebagai team leader atau
residence engineer, maka untuk tenaga
yang demikian itu rate juga sudah tidak sesuai,” jelas Tulus Tambunan.
Masalah Billing Rate untuk tenaga inspector (Subprof), menurut Tulus, juga perlu ditinjau karena terpaut jauh dengan tenaga S1 paratama. Padahal untuk tenaga inspector biasanya dalam lelang juga diminta S1. Misalkan untuk inspector rate-nya hanya Rp 7,3 juta tetapi S1 Pratama dengan pengalaman 1-3 tahun bisa mendapatkan Rp 16 juta. Mestinya untuk inspector perlu diperjelas pendidikannya cukup STM atau SLTA saja.
Kiat meraih pasar
Pasar jasa konsultansi memiliki sifat yang tidak konstan, ada pergeseran peluang pasar dari waktu ke waktu, sementara perusahan konsultan tetap harus mempertahankan karyawan yang ada. Dalam menghadapi pasar yang berfluktuasi, menurut Mukhsin, Jaya CM memiliki kiat sendiri. Beberapa tenaga spesialis di bidang ketenaglistrikan, seperti untuk boiler dan turbin, memang tidak bisa di geser ke bidang lain, namun
PT Jaya CM
untuk bidang-bidang arsitektur, sipil dan mekanikal, elektrikal bisa lebih fleksibel. Misalnya, bisa masuk ke proyek gedung atau transportasi. Sehingga jika ada penurunan pangsa pasar di bidang ketenagalistrikan, misalnya, maka tenaga-tenaga spesialis tetap dipertahankan.
Menurutnya Jaya CM juga memiliki potensi untuk terjun ke bidang Non Jasa Konstruksi. Jaya CM sering memberikan pelatihan di bidang manajemen konstruksi. Jadi Jaya CM bisa memberikan jasa pelatihan seperti itu, khususnya di daerah-daerah “Diversifikasi ke bidang non jasa konstruksi bisa dilakukan, memang masih kita pikirkan, ” ungkap Mukshin. Pengelolaan proyek-proyek gedung di dalam negeri dan di luar negeri, menurut Mukhsin agak berbeda.. Di dalam negeri pada umumnya dalam proyek gedung jumlah subkontraktor banyak, bisa mencapai ratusan, sehingga tugas CM menjadi lebih berat. Sub kontraktor yang biasanya merupakan spesialis kontraktor melakukan kontrak langsung dengan owner yang harus dikelola oleh CM. Di luar negeri tugas CM lebih ringan karena para subkontraktor berada di bawah koordinasi kontraktor utama.
Menurutnya ada perbedaan antara CM dan supervisi. Lingkup pekerjaan CM
lebih luas dibanding supervisi, karena sudah terlibat sejak perencanaan. Dalam sistem CM pada umumnya digunakan sistem “Fast Track” , dimana jumlah paketnya banyak. Karena seperti besi, semen, genset, AC, supply by owner atau kontrak langsung dengan pemilik gedung.
Menanggapi pertanyaan tentang prospek bisnis jasa konsultansi kedepan, Mukhsin merasa optimis. Untuk proyek bangunan gedung masih memiliki peluang yang banyak, bahkan boleh dikatakan bisa kewalahan karena jumlah SDM terbatas. Untuk itu perlu tetap selektif dalam memilih proyek-proyek gedung. Sementara itu, proyek-proyek infrastruktur, jika terealisasi sesuai program pemerintah akan memiliki peluang besar, seperti listrik 35.000 MW, proyek bendungan, bandara, jalan kereta api, jalan tol, dan sebagainya.
Menyinggung tentang sistem pembayaran untuk proyek-proyek swasta, menurutnya tidak ada masalah lancar-lancar saja. Pernah ada permasalahan di proyek swasta, misalnya, pembangkit listrik di daerah, adanya pergantian kebijakan akibat pergantian Kepala Daerah. Dalam menghadapi MEA, Jaya CM sudah mempersiapkan. Saat ini sudah ada 9 tenaga ahli Jaya CM yang memiliki sertifikat ACPE (Asean
Chartered Professional Engineer), dan
sedang diurus lagi 25 orang untuk memperoleh ACPE. Pada beberapa proyek Jaya CM juga menggunakan beberapa expert asing, dari Korea, Jepang, dan Singapura. Jaya CM juga sudah banyak bermitra dengan konsultan asing. Beberapa konsultan asing sudah ada yang melakukan pendekatan-pendekatan dengan Jaya CM. Kalau dana pembangunannya dari dalam negeri, misalnya PLN, konsultan nasional bisa menjadi leadfirm, tetapi jika dananya dari Jepang ada keharusan untuk menggunakan konsultan Jepang sebagai leadfirm.
Tentang prospek untuk memperluas pasar ke luar negeri, menurut Mukhsin, bisa dilakukan untuk lingkungan ASEAN, namun masih agak jauh, karena untuk menangani proyek-proyek di dalam negeri saja masih kerepotan. Sudah ada penawaran untuk proyek pembangkit listrik di Timor Timur , namun masih dipikirkan. Mencari tenaga project manager di dalam negeri tidak mudah, sehingga adakalanya harus merekrut tenaga ahli asing dulu baru setelah beberapa tahun kemudian dialihkan ke tenaga Indonesia. “Kelebihan tenaga ahli asing adalah dalam hal konsistensinya. Aspek teknis dan manajerial tenaga Indonesia tidak kalah, ” ungkapnya. (UY)
Profile
Perusahaan
aginya menjadi konsultan merupakan panggilan jiwa danamanah atau tugas yang diberikan Tuhan kepadanya, dan beliau meyakini bahwa inilah tujuan beliau dilahirkan ke dunia. Ia memulai profesi sebagai konsultan, yaitu sejak tamat SMA yang pada mulanya sebagai bekerja surveyor
Profil
pengukuran topografi di salah satu konsultan.setelah menamatkan pendidikan S1 dan S2 di Fakultas pertanian Universitas Padjajaran Bandung, dia kemudian memimpin perusahaan di bidang jasa konsultansi. Kini ia memimpin PT. Wira Widyatama, sebuah perusahaan konsultan besar terkemuka di Kalimantan
Selatan, yang telah banyak menangani proyek-proyek prestisius di Kalsel maupun di luar Kalsel.
Syamsul Arivin atau sering dipanggil sebagai Pak Ivin sudah aktif di Inkindo Kalsel sejak tahun 1994, menjabat sebagai Wakil Ketua DPP. Pada Musyawarah Provinsi Inkindo Kalimantan Selatan