BAB V. RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH TAHUN 201 8.
EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN 2016 DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN TAHUN
A. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonom
Hasil pembangunan ekonomi di Jawa Barat ditunjukkan dengan capaian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Berlaku. Pada Tahun 2012, besar PDRB adhb Jawa Barat sebesar 1.128,25 Triliun Rupiah dan memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar 13,10 persen. Besar PDRB adhb Jawa Barat pada Tahun 2016 mencapai angka 1.652,59 Triliun Rupiah dengan kontribusi terhadap PDB Indonesia sebesar 13,32 persen.
0 1,000,000 2,000,000 3,000,000 4,000,000 5,000,000 6,000,000 Kota Banjar Kota Cirebon Kota Sukabumi Kabupaten Pangandaran Kota Cimahi Kota Tasikmalaya Kabupaten Purwakarta Kabupaten Kuningan Kota Bogor Kabupaten Sumedang Kabupaten Ciamis Kabupaten Majalengka Kabupaten Subang Kabupaten Bandung Barat Kabupaten Indramayu Kabupaten Tasikmalaya Kabupaten Cirebon Kota Depok Kabupaten Cianjur Kabupaten Karawang Kabupaten Sukabumi Kota Bandung Kabupaten Garut Kota Bekasi Kabupaten Bekasi Kabupaten Bandung Kabupaten Bogor
II - 18
Gambar 2.6
Grafik Perkembangan PDRB Jawa Barat dan PDB Nasional Tahun 2012-2016
Meningkatnya kontribusi PDRB Jawa Barat terhadap PDB Indonesia, menunjukkan bahwa laju pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat tumbuh lebih tinggi dibandingkan Perekonomian Indonesia. Dari grafik Perkembangan PDRB Jawa Barat dan PDB Nasional Tahun 2012-2016 nampak bahwa dalam kurun waktu Tahun 2015 – 2016, PDRB Jawa Barat tumbuh lebih cepat dibanding pertumbuhan PDB Indonesia. Namun demikian, ketika terjadi penurunan laju pertumbuhan ekonomi, pada Tahun 2013-2014, PDRB Jawa Barat turun lebih besar dibanding PDB Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa Perekonomian Jawa Barat lebih sensitif terhadap perubahan Perekonomian di Indonesia.
II - 19
Gambar 2.7
Grafik Pertumbuhan Ekonomi Jawa Barat dan Nasional Tahun 2012- 2016
Perekonomian di Jawa Barat bertumpu pada Sektor Industri Pengolahan yang memberikan kontribusi lebih dari 40 persen terhadap pembentukan PDRB Jawa Barat dalam kurun waktu 2012 – 2016. Selanjutnya sektor yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap pembentukan PDRB Jawa Barat adalah Sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi motor yang berada dalam kisaran 15 persen, diikuti Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan dengan kontribusi berkisar pada angka 9 persen.
- 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 2012 2013 2014 2015 2016 Persen
Laju Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2012-2016
II - 20
Gambar 2.8
Kontribusi Lapangan Usaha terhadap Pembentukan PDRB Jawa Barat 2012-2016
Berdasarkan laju pertumbuhannya, Sektor Informasi dan
Komunikasi; Sektor Konstruksi; Sektor Transportasi dan Pergudangan; Sektor Transportasi dan Pergudangan; Sektor Jasa Keuangan dan Asuransi; Jasa Perusahaan; Sektor Jasa Pendidikan; Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial; serta Sektor Jasa Lainnya menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi, di atas 7 persen. Sementara Sektor Pertambangan dan Penggalian serta Sektor Administrasi Pemerintahan, Pertanahan mengalami pertumbuhan yang negatif pada kurun waktu Tahun 2012 – 2016.
II - 21
Gambar 2.9
Laju Pertumbuhan PDRB berdasarkan Lapangan Usaha 2012-2016
Seiring dengan pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat, pendapatan perkapita masyarakat yang didekati melalui PDRB per kapita, meningkat dari 25,27 Juta Rupiah pada Tahun 2012 menjadi 34,88 Juta Rupiah pada Tahun 2016. Namun demikian, kenaikan tersebut masih di bawah PDB per kapita yang mencapai 35,11 Juta Rupiah pada Tahun 2012 dan 47,96 Juta Rupiah pada Tahun 2016.
Gambar 2.10
Grafik Perkembangan PDRB Perkapita Jawa Barat, dan PDB Perkapita Nasional
II - 22 - 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 2012 2013 2014 2015 2016 Nasional Jawa Barat Gambar 2.11
Grafik Inflasi Jawa Barat dan Nasional Tahun 2012-2016
Namun demikian, laju pertumbuhan ekonomi yang cukup baik belum dapat diimbangi dengan pemerataan pendapatan masyarakat. Hal ini ditandai dengan angka indeks gini pada Tahun 2016 sebesar 0,41 yang lebih tinggi dari angka indeks gini Nasional sebesar 0,39.
II - 23
Gambar 2.12
Indeks Gini Tahun 2012-2016
Kondisi umum kesejahteraan masyarakat Jawa Barat dapat dilihat dari pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai barometer indikasi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup. Sebagai ukuran kualitas hidup, IPM dibangun melalui pendekatan tiga dimensi dasar, mencakup umur panjang dan sehat, pengetahuan, dan kehidupan yang layak. Ketiga dimensi tersebut memiliki pengertian sangat luas karena terkait banyak faktor. Untuk mengukur dimensi kesehatan, digunakan Angka Harapan Hidup waktu lahir. Untuk mengukur dimensi pengetahuan digunakan gabungan indikator angka melek huruf dan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS). Adapun untuk mengukur dimensi hidup layak digunakan indikator kemampuan daya beli masyarakat terhadap sejumlah kebutuhan pokok yang dilihat dari rata-rata besarnya pengeluaran per kapita sebagai pendekatan pendapatan yang mewakili capaian pembangunan untuk hidup layak.
II - 24
Gambar 2.13
Perkembangan IPM Jawa Barat 2012-2016 dan Nasional
Berdasarkan metode perhitungan baru yang dilakukan BPS, IPM Jawa Barat meningkat dari 67,32 poin pada Tahun 2012 yang termasuk
dalam status “sedang” menjadi 70,05 poin pada Tahun 2016 dan
termasuk ke dalam status “tinggi”. Namun demikian, capaian nilai IPM
Jawa Barat ini masih di bawah capaian angka IPM Nasional, yang mencapai angka 67,70 poin pada Tahun 2012 dan 70.18 poin pada Tahun 2016.
Peningkatan IPM tersebut tidak terlepas dari capaian komponen- komponen IPM yang terdiri dari komponen pendidikan, kesehatan dan daya beli. Indeks Pendidikan Jawa Barat dari 56,27 poin pada Tahun 2012 meningkat menjadi 60.67 poin pada Tahun 2016. Namun demikian, capaian Indeks Pendidikan ini masih berada di bawah angka Nasional, yang mencapai angka 62,83 poin pada Tahun 2016.
II - 25
Gambar 2.14
Grafik Perkembangan Indeks pendididkan Jawa Barat dan Nasional Tahun 2012-2016
Berdasarkan indikator pembentuknya, capaian Indeks Pendidikan Jawa Barat terbentuk dari capaian angka Harapan Lama Sekolah dan capaian angka Rata-Rata Lama Sekolah (RLS). Dalam kurun waktu 2012 – 2016, Harapan Lama Sekolah dan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) di Jawa Barat menunjukkan peningkatan yang menjadi indikasi bahwa semakin banyak penduduk yang bersekolah. Pada Tahun 2016, Harapan Lama Sekolah Jawa Barat mencapai angka 12,30 yang berarti bahwa anak-anak usia 7 Tahun memiliki peluang untuk menamatkan pendidikan mereka hingga lulus SMA. Dari angka Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) Jawa Barat yang mencapai angka 7,95 menunjukkan bahwa rata-rata penduduk Jawa Barat berusia 25 Tahun ke atas telah mengenyam pendidikan hingga kelas II SMP. Namun demikian, capaian kedua indikator tersebut menunjukkan angka yang masih di bawah angka Nasional.
II - 26
Grafik Perkembangan harapan lama sekolah Jawa Barat dan
Nasional Tahun 2012-2016
Grafik Perkembangan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) Jawa Barat dan Nasional Tahun 2012-2016
Gambar 2.15
Angka Harapan Hidup (AHH) yang menggambarkan dimensi umur panjang dan hidup sehat terus meningkat setiap tahunnya Pada Tahun 2012, Angka Harapan Hidup (AHH) Jawa Barat sebesar 71,82 Tahun dan terus meningkat hingga mencapai angka 72,44 Tahun pada Tahun 2016. Capaian Angka Harapan Hidup di Jawa Barat telah melampaui capaian Nasional.
Grafik Perkembangan Indeks kesehatan Jawa Barat dan Nasional Tahun 2012-2016
Grafik Perkembangan Angka harapan hidup Jawa Barat dan
Nasional Tahun 2012-2016
II - 27
Dimensi standar hidup layak Jawa Barat yang ditunjukkan oleh pengeluaran per kapita mencapai angka Rp 10.035 ribu per tahun pada Tahun 2016. Walaupun menunjukkan peningkatan setiap tahunnya, capaian angka Jawa Barat tersebut masih di bawah capaian angka Nasional yaitu sebesar Rp 10.420 ribu per tahun.
Grafik Perkembangan Indeks Daya Beli Jawa Barat dan Nasional
Tahun 2012-2016
Grafik Perkembangan Pengeluaran perkapita Jawa Barat dan Nasional Tahun 2012-2016
Gambar 2.17
Indikator kesejahteraan lainnya adalah Nilai Tukar Petani (NTP) yang menggambarkan kemampuan daya beli petani yang dihitung dari hasil perbandingan antara pendapatan yang diterima petani dengan pengeluaran petani baik untuk keperluan rumah tangga petani maupun biaya keperluan proses produksi.
II - 28
Gambar 2.18
Grafik Perkembangan NTP Jawa Barat Tahun 2012-2016
Dalam kurun waktu Tahun 2012 – 2016, pendapatan dan
pengeluaran petani di Jawa Barat menunjukkan fluktuasi yang cukup seimbang. Lebih tingginya pendapatan dibandingkan pengeluaran petani menghasilkan angka Nilai Tukar Petani (NTP) yang masih di atas angka 100. Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Barat menunjukkan kecenderungan meningkat, dari 102,20 poin pada Tahun 2012 menjadi 104,86 poin pada Tahun 2016. Sementara itu, Nilai Tukar Petani (NTP) Nasional menunjukkan penurunan, yaitu dari 105,24 poin pada Tahun 2012 menjadi 101,65 poin pada Tahun 2016.
Gambar 2.19
II - 29