Penelitian ini bertujuan untuk menjawab tiga pertanyaan di bidang pendidikan mengenai berbagai fenomena masalah bangsa, baik nasional maupun global , dengan mengevaluasi strategi dan kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan.
Karena strategi dan kebijakan bersifat multidimention dan multifacet maka isolasi terhadap permasalahan perlu dilakukan. Fasa dan dimensi sebelum dan sesudah tahap Strategi dan kebijakan tidak menjadi obyek penelitian, Peraga 12
Lebih lanjut, dengan menggunakan teori sistem, pemerintah membutuhkan dana yang dituangkan kedalam anggaran untuk menjalankan strategi dan kebijakan guna mewujudkan tujuan. Anggaran itu tidak lain adalah impelementasi strategi yang berupa moneter. Maka, output yang berupa hasil yang bisa dilihat dan dirasakan adalah output strategi dan kebijakan pemerintah dan akan menjadi obyek penelitian serta menjadi feedback.
Dalam sistem tata negara dan administrasi pemerintahan, output implementasi Strategi dan kebijakan itu berupa APBN, APBD, DAU, DAK, kemudian fenomena empirik sebagai feedback adalah indikator-indikator sosial dan ekonomi, secara tidak langung berelasi dengan software atau perangkat lunak pendidikan, indikator-indikator pendidikan yang berupa perangkat keras, dan pendidik. Parameter-patrameter tersebut akan menjadi data obyek penelitian yang kemudian di komparasi dengan tujuan pembangunan bangsa dalam tiga mazab pemerintahan, yaitu Soekarno, Soeharto, dan Reformasi.
Ketika symptom menjadi detektor mengenai kemunculan fenomena perubahan [83] maka symptom itu perlu diidentifikasi untuk menemukan penyebab masalah perubahan. Artinya, setiap masalah yang muncul pasti ada penyebabnya dan penyebab itu dideteksi melalui
symptom.
Dalam Peraga 13, t0 adalah symptom dimana abnormality atau abnormalitas memulai. Maka setiap perubahan, apapun itu, yang terjadi sebelum t0, harus menjadi kecurigaan untuk dianalisis tanpa apriori. Meskipun demikian, menurut Kepner dan Tregoe, ada masalah yang tidak didahului oleh symptom yaitu masalah abadi.
Dalam chronosystem NKRI hingga 2012, terkait dengan strategi dan kebijakan pemerintah, ada tiga perubahan rezim yang perlu di-identifikasi, yaitu rezim Soekarno, rezim Soeharto, dan rezim Reformasi, lihat Peraga 17. Artinya, ada tiga perubahan rezim pemerintahan untuk mendeteksi symptom perubahan guna mencari jawab terhadap abnormalitas yang berupa :
◦ Fenomena kehidupan berbangsa dan bernegara yang menjelaskan betapa moralitas bangsa sangat memprihatinkan.
◦ Sembilan fenomena nasional yang memberi gambaran menyedihkan mengenai kehidupan sosial dan pendidikan.
◦ Delapan fenomena Indonesia dalam Indikator Global.
◦ Tantangan 2030.
Maka, sesuai dengan Kepner and Tregoe, symptom itu adalah tiga kali perubahan rezim pemerintahan era kolonial ke Soekarno, era Soekarno ke Soeharto, dan era Soeharto ke era Reformasi. Dari ketiga symptom tersebut kemudian akan disibak perubahan-perubahan sebelumnya guna mendeteksi kemungkinan-kemungkinan penyebab masalah.
SYMPTOM 1945
Berkaitan dengan pembangunan bangsa melalui pendidikan, peran dr Wahidin Soediro Husodo pada tahun 1900 dengan usahanya untuk mendidik kaum pribumi jelas menjadi tonggak awal
perubahan sosial masyarakat melalui pendidikan Peraga 14. Bagaimanapun juga. gerakan Dr Wahidin ini mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung pemikiran gerakan perubahan sosial melalui pendidikan, disamping gerakan-gerakan politik. Bahkan ketika gerakan politik dilarang total oleh pemerintahan kolonial, aktifis founding fathers itu mendirikan PNI atau Pendidikan Nasional Indonesia. Kemudian, pada tahun 1922 Ki Hadjar mendirikan Taman Siswa yang bermula dari Yogyakarta dan akhirnya menyebar ke berbagai penjuru negeri.
Perubahan sosial melalui pendidikan sebelum symptom 1945 tersebut, bagaimanapun juga, telah menjadi tonggak ekskalasi gerakan perubahan sosial melalui pendidikan hingga 1950. Kelahiran berbagai pendidikan berazas keagamaan juga muncul setelah kurun 1922 hingga 17 Agustus 1945. Perkembangan pemikiran mengenai pembangunan pendidikan dan pembangunan bangsa yang dilakukan oleh para founding fathers berjalan seiring. Sehingga, mudah dipahami bahwa akumulasi pemikiran tersebut bermuara pada bukan hanya konstitusi UUD 1945 tetapi juga fondasi pendidikan yang sesuai dengan konstitusi.
Ki Hadjar Dewantara adalah Menteri Pangajaran pertama NKRI setelah proklamasi kemerdekaan di kabinet presidensial. Selanjutnya, selama kurun waktu 1945-1950, kabinet presidensial kemudian berganti-ganti dengan kabinet Syahrir I hingga kabinet RI Jogjakarta dengan Menteri Pendidikan Pengajaran Ki Mangunsarkara 1950. Meski secara politik terjadi turbulensi luar biasa pasca kemerdekaan, termasuk clash II 19 Desember 1948, namun fondasi pendidikan untuk membangun bangsa ditata semakin kokoh dengan :
• Membentuk PPPRI atau Panitia Persiapan Pengajaran Republik Indonesia yang melahirkan 10 Pedoman Guru Untuk Mendidik Warga Sejati di jaman Menteri Pengajaran
• Menata peralihan pendidikan kolonial ke republik seperti tingkat pendidikan SR 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun.
• Menata Pendidikan kejuruan sejak tingkat SLTP atau Sekolah lanjutan Tingkat Pertama hingga SLTA atau Tingkat Pendidikan Tingkat Atas.
• Menata Pendidikan Guru sejak Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Guru Atas, termasuk Sekolah Guru Pendidikan Jasmani.
• Menyusun kurikulum atau leer plan yang disebut sebagai Rencana Pengajaran 1947 dan sarat dengan pembentukan karakter agar sejajar dengan bangsa lain, serta peralihan dari leer plan Belanda ke republik yang berazaskan Pancasila.
• Mendirikan UGM pada 19 Desember 1949 tepat setahun setelah clash II.
• Mendirikan Konservatori Karawitan dan Kesenian ASRI.
• Membentuk UU Pertama Pendidikan NKRI yaitu UU No 4 Tahun 1950 Jogja karena dibentuk oleh Republik Jogja. UU Pendidikan ini kemudian dikokohkan menjadi UU Pendidikan NKRI No 12 TAHUN 1954 yang menytakaan bahwa UU No 4 th 1950 berlaku untuk seluruh Indonesia. UU ini berlaku selama 35 tahun setelah UU No 2 1989 keluar.
Lebih lanjut, sebelum 17 Agustus 1945 dan setelah symptom tersebut hingga 1950, telah terjadi perubahan-perubahan yang semakin memperkokoh landasan pendidikan untuk membangun bangsa Indonesia. Output pendidikan pada kurun tersebut didisain berwawasan kebangsaan sangat kuat dan dijuluki sebagai warga sejati, yaitu warga yang siap mengabdikan dirinya pada kepentingan bangsa dan negara serta mendahulukan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan sendiri, dan mengisi pembangunan bangsa secara kolektif. Disini sangat jelas paham integritas Soepomo dalam UUD 1945 menjadi acuannya. Sehingga, mudah sekali dipahami bahwa output pendidikan masa itu dan para profresor serta generasi masa itu sangat kuat wawasan kebangsaannya, karena disain pendidikannya.
Oleh karena itu, rezim Soekarno, adalah tonggak perubahan dari sistem pendidikan kolonial ke pendidikan NKRI. Sistem pendidikan kolonial ditata kembali oleh pemerintah NKRI yang berdaulat. Periode t0-t1 Peraga 14, dengan demikian, adalah masa perubahan untuk memancangkan tonggak pendidikan nasional. Pada saat itu pula pergolakan politik terus terjadi dan Belanda belum sepenuhnya keluar dari bumi pertiwi, namun fondasi yang sangat berharga yaitu pendidikan telah diutamakan dibangun karena arti pentingnya.
Pada posisi t0, pemerintahan Soekarno, pasca proklamasi kemerdekaan dengan menteri Pendidikan Mr Soewandi telah meletakkan tonggak perkembangan peradaban pendidikan untuk membangun bangsa. Tonggak-tonggak tersebut adalah :
1. Menetapkan profil Warga Sejati, sebagai “gegayuhan” atau foresight bagi tujuan pendidikan.
2. Pembentukan PPPRI atau panitia Persiapan Pengajaran Kemerdekaan Republik yang meletakkan guru sebagai pendidik dan sebagai values transformer dengan menetapkan 10 pedoman guru bagi seluruh guru di Indonesia. Tonggak ini sangat penting mengingat pada saat itu sekolah-sekolah di bekas jajahan Hindia Belanda ini bermaca-macam, demikian pula gurunya. Dengan 10 pedoman guru tersebut Visi dan Misi para Guru di seluruh Indonesia disamakan.
3. Merumuskan UU Pendidikan NKRI pertama yaitu UU Pendidikan No 4 tahun 1950, di jaman Menteri PP dan Ki Mangun Sarkara yang memuat tujuan pendidikan sesuai dengan nafas dan cita-cita proklamasi.
Tonggak-tonggak tersebut adalah dasar yang sangat fundamental bagi arah Pendidikan untuk membangun bangsa masa depan dan tentu mempengaruhi perkembangan manusia dan peradaban selanjutnya serta layak dan pantas untuk menjadi tonggak atau “tetenger” atau penanda awal perjalanan bangsa setelah merdeka di bidang Pendidikan. Bukan hanya menata kembali sistem pendidikan kolonial ke sistem pendidikan NKRI dengan membentuk PPPRI, namun juga menetapkan profile siswa yang disebut sebagai Warga Sejati, yaitu warga yang mencintai bangsa, negara, dan tumpah darahnya serta siap untuk mengabdikan hidupnya bagi bangsa dan negara. Semangat nation and character building untuk membangun jiwa patriotisme di generasi muda sangat kental. Maka, ini adalah foresight atau gegayuhan yang telah dideklarasikan oleh para founding fathers.
SYMPTOM 1967
Setelah Dekrit Presiden 5 Juli, UU Pendidikan No 4 tahun 1950 dikukuhkan sebagai UU Pendidikan NKRI. UU ini, de jure, ini masih berlaku hingga UU no 2 tahun 1989 keluar. Perubahan rezim Seokarno ke Soeharto membawa perubahan paradigma bangsa. Nation and
Character Building dianggap sudah selesai dan diganti dengan State building yang berakibat
pada reduksi terminologi pendidikan menjadi sekolahan yang dilanjut hingga rezim reformasi. Sebagai akibatnya, garapan kognitif lebih mendominasi dan perubahan makna pendidikan sebagai pembudayaan juga berubah. Selanjutnya, sebagai turunan dari perubahan paradigma bangsa tersebut adalah urusan budaya dikomersialkan dan disatukan dengan departemen pariwisata untuk dijual. Juga, euforia pembangunan ekonomi telah mengesampingkan pembangunan bidang sosial dan budaya, termasuk melibas setiap pemikiran kritis bangsanya. Sempurna penyimpangan makna hakekat pendidikan.
SYMPTOM 1998
Era reformasi tidak ada perubahan yang substansial dalam bidang pendidikan dan lebih kelihatan menonjol bagaimana dampak empat lapis globalisasi pada tiga bidang kebijakan pendidikan. Bahkan muncul fenomena UU BHP yang dibatalkan oleh MK karena menyimpang dari UUD 1945. Demikian pula dengan UN yang telah dibatalkan oleh MA, serta RSBI yang juga dibatalkan oleh MK. Di sisi yang lain, geo politik NKRI tahun 2030 mengalami tekanan luar biasa dari dampak kehabisan sumber daya alam dan mineral serta konflik regional dan global di bidang ideologi dan perdagangan. Maka, Pertahanan dan Keamanan, sesuai dengan UUD menjadi tangungjawab setiap wara negara dan pendidikan berperan disini untuk menghadirkan generasi yang patriotik mencintai bangsa dan negaranya dan bukan sebaliknya. Peraga 15 memvisualkan garis besar perubahan strategi ke tiga mazab pemerintahan termasuk tantangan yang akan dihadapi pada tahun 2030 sebagai kalibrasi arah pendidikan.
Bibliography
1: Litbang Kompas, Kerusakan Moral mencemaskan,
2: Aditia Maruli, Radikalisme Sekarang Lebih Terbuka Dibandingkan Jaman Orba, 2011
3: Rasul Arasy, BNPT klaim separuh provinsi di Indonesia adalah kantong penyebaran "ideologi terorisme", Selasa, 26 Juli 2011
4: Inggried Dwi Wedhaswary, Indonesia "Surga" Teroris, 4 April 2011
5: Maria Natalia dan Heru Margianto , Negeri yang Dibajak Radikalisme, 4 Mei 2011
6: Tim Liputan/Sup, Sekolah Tanpa Upacara Bendera, , http://www.indosiar.com/fokus/sekolah-tanpa-upacara-bendera--_90939.html
7: Tim Liputan 6, Delapan Tahun Sekolah Tak Menggelar Upacara Bendera, 25/10/2011,
http://id.berita.yahoo.com/delapan-tahun-sekolah-tak-menggelar-upacara-bendera-212500766.html 8: Edward Aspinall and Gerry van Klinken, The State and Illegality in Indonesia, 2011
9: Mei Indah, Kapitalisme Merusak Pendidikan , 19 juni 2012
10: Edi Iriawan, FOKUSPelaksakaan UAN SMP Sejumlah Kasus Kembali Ditemukan di Sumut, 11: Komunitas Air Mata Guru, Laporan Lengkap Kecurangan UN 2007 ,
12: Benny N Joewono, Ada Gladi Resik Contek Massal di Gadel 2,
13: Indra Akuntono dan Inggried, Kronologi "Nyontek" Massal di SD Pesanggrahan, 14: Edward Aspinall and Gerry van Klinken, The State and Illegality in Indonesia, 2011 15: Badan Nasional Penanggulan Bencana, Data dan Informasi Bencana Indonesia, 2011, http://dibi.bnpb.go.id/DesInventar/dashboard.jsp
16: AA Ariwibowo, Walhi: 359 Bencana Alam di Indonesia, 5 Juni 2009, http://www.antaranews.com/view/?i=1244199032
17: Muchamad Nafi – Tempo News Room , Tiap Tahun, Angka Pengangguran Indonesia Naik, 05 Mei 2004 |
18: Pusat Data dan Informasi Ketenagakerjaan, Badan Penelitian dan Pengembangan Informasi, Angkatan Kerja 2008-2011, 2008-2011, http://pusdatinaker.balitfo.depnakertrans.go.id/?
section=ak&period=2008-08-01#gotoPeriod
19: Latif, Angka Pengangguran Akademik Lebih dari Dua Juta!, Kamis, 18 Februari 2010 | 20: Depsos RI, Rumah Tangga Miskin, 2011, http://kfm.depsos.go.id/mod.php?mod=tabulasi 21: Antaranews, Memprihatinkan Angka Kemiskinan di Indonesia 33 Juta KK, 13 Agustus 2007, http://www.antaranews.com/view/?i=1186971337&c=EKB&s
22: majelis pemberdayaan masyarakat pp muhammadiyah, Kurangnya Akses Ekonomi, Sebabkan Angka Kemiskinan di Indonesia Tinggi, Rabu, 18-05-2011, http://www.muhammadiyah.or.id/news-191-detail-kurangnya-akses-ekonomi-sebabkan-angka-kemiskinan-di-indonesia-tinggi.html
23: The Board of Executive Directors of the World Bank, Making The New Indonesia Work For The Poor, 2006
24: The Board of Executive Directors of the World Bank, Investing In Indonesia's Education at district Level , 2009
25: BPS, Data Strategis BPS, 2011
26: Bunga Pertiwi Adek Putri, Pemda tidak optimal atasi gizi buruk, 19 Oktober 2012 27: Syahrul Karim, 60 Balita di DaerahTerkaya Bergizi Buruk, 22 OKTOBER 2012
28: The Board of Executive Directors of the World Bank, Making The New Indonesia Work For The Poor, 2006
29: Andy Noya, Ancaman Sex Bebas Di Kalangan Remaja, 04 Februari 2011,
http://kickandy.com/theshow/1/1/2026/read/ANCAMAN-SEKS-BEBAS-DI-KALANGAN-REMAJA.html
30: Deden Gunawan, Ngeri... 1 dari 5 Remaja Melakukan Aborsi , Senin, 25/06/2012 09:27 WIB 31: Antono Suryoputro, Nicholas J. Ford, Zahroh Shaluhiyah, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Seksual Remaja Di Jawa Tengah: Implikasinya Terhadap Kebijakan Dan Layanan Kesehatan Seksual Dan Reproduksi, 2006
32: The World Bank, Investing In Indonesia's Education, January 2007 33: World Bank, Investing In Indonesia's Education at district Level , 2009
34: Transparency International, Bribe Payers Index 2011, 2011
35: World Bank , Making The New Indonesia Work For The Poor, 2006 36: , A Human Rights-Based Approach to Education,
37: THE WORLD BANK OFFICE JAKARTA, Investing in Indonesia’sEducation at the DistrictLevel, 2009
38: BPS, Laporan hasil Survey Pandangan masyarakat Terhadap Kehidupan Bernegara , 2011 39: Transparency International, Corruption Perception Index 2012, 2012
40: Foreign Policy, Failed State Index 2011, FEBRUARY 10, 2012
41: Human Development Report Office, Human Development Report, 2011 42: , Human Development Report 2011, 2011
43: Micahel Kidron and Ronald Segal, The New State of The World Atlas, 1987 44: IFPRI, 2011 Global Hunger Index, 2011
45: , The Global Economic Report 2011-2012, 2011
46: GPI, New Dimensions of Peace –Society, Economy, and the Media, 2011 47: GPI, Methodology, Results & Findings , 2011
48: Francesca Levy, Table: The World's Happiest Countries, July 10, 2010,
http://www.forbes.com/2010/07/14/world-happiest-countries-lifestyle-realestate-gallup-table.html 49: Taro Yamane, Statistics An Introductory Analysis, 1973
50: Connie Rahakundini Bakri, Pertahanan Negara Dalam Perspektif Kedaulatan Dan Masa Depan Kekuatan Bangsa, November 6, 2011
51: Connie Rahakundini Bakri, Pertahanan Negara Dan Postur TNI Ideal, 2007 52: , World Oil Production Forecast - Update November 2009, November 23, 2009, http://www.theoildrum.com/node/5979
53: Connie Rahakundini Bakri, China-Indonesia-Asean Cooperation; Challenges on Regional Maritime Security and Strategy, July 6th 2011.
54: , World Crude Oil Consumption by Year, 2011, http://www.indexmundi.com/energy.aspx 55: Connie Rahakundini Bakri, Pertahanan Negara Dalam Perspektif Kedaulatan Dan Masa Depan Kekuatan Bangsa, November 6, 2011
56: The Oil Drum, World Oil Production Forecast - Update November 2009, November 23, 2009, http://www.theoildrum.com/node/3607
57: Julian E. Barnes, AS Kerahkan Kekuatan Militer ke Asia, June 4, 2012, 1:01 PM SGT 58: Tony Cartalucci, Dangerous Crossroads: America Pressures ASEAN Bloc to Contain China, September 04, 2012
59: Connie Rahakundini Bakri, Pertahanan Negara Dalam Perspektif Kedaulatan Dan Masa Depan Kekuatan Bangsa, November 6, 2011
60: Micahel Kidron and Ronald Segal, The New State of The World Atlas, 1987
61: Prof Boediono MEc, Kemajuan Ekonomi RI Bukan karena Inovasi, Rabu 9 Mei 2012 62: Newsweek, Interactive Infographic of the World's Best Countries, 2012,
http://www.thedailybeast.com/newsweek/2010/08/15/interactive-infographic-of-the-worlds-best-countries.html
63: 2001, The Well Being of a nation,
64: Amartya Sen, About Human Development, 2011, http://hdr.undp.org/en/humandev/ 65: Amartya Sen, The Idea of Justice, 2009
66: BPS, Kependudukan : Jumlah Pe3nduduk Indoensia menurut Provinsi 1971-2010, 2011, 67: Muhadjir, Alternatif Kebijakan Pendidikan Menuju Era Negara Industri : Suatu Analisis Makropedagogik, 1986
68: UNDP, Human DevelopmentReport 2011, 2011
69: Andrew Walker, Entrepreneurs face global challenges, 25 May 2011, http://www.bbc.co.uk/news/business-13547505#story_continues_1
70: United Nations System in China, China's Progress Towards theMillennium Development Goals, 2008 Report , 2008
72: United Nations Development Programme, The Real Wealth of Nations:Pathways to Human Development, 2010
73: Tom Healy and Sylvain Côté, The Well Being of a Nation, The Role of Human and Social Capital , 2001
74: Rustika Herlambang, Kisah Orang Terbuang, September 23, 2008 ,
http://rustikaherlambang.wordpress.com/2008/09/23/kisah-orang-orang-terbuang/ 75: AS. Umar Said, Terbuang akibat G-30-S, 29 September 2005,
http://annabelle.aumars.perso.sfr.fr/Terbuang%20akibat%20G30S%20%28Alii%20Chanafiah%20-%20Tom%20Ilyas%29.htm
76: Ari Junaedi, Dari Bandung, Ari Junaedi Ungkap Para Eksil, Minggu, 23 November 2008, http://arijunaedi.blogspot.com/2008/11/dari-bandung-ari-junaedi-ungkap-para.html
77: Chappy Hakim, Berdaulat di Udara : Membangun Citra Penerbangan Nasional, 2010 78: Chappy Hakim, Berdaulat di Udara : Membangun Citra Penerbangan Nasional, 2010 79: Chappy Hakim, Berdaulat di Udara : Membangun Citra Penerbangan Nasional, 2010
80: I-4, Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional [I-4], , http://www.i-4.or.id/web/index.php/media-i4/neswletter
81: Editors: Jack P. Shonkoff and Deborah A. Phillips, From Neurons to Neighborhoods, 2000 82: Prof Boediono MEc, Kemajuan Ekonomi RI Bukan karena Inovasi, Rabu 9 Mei 2012
83: Charles Higgins Kepner and Benjamin Tregoe, New Rational Manager: An Updated Edition for a New World, 1981