Membongkar ruang lama, memunculkan ruang baru, yang lebih menyenangkan
Beberapa hari menjadi Rektor, saya menjumpai pandangan yang menarik. Banyak mahasiswa antre di loket kecil di dekat pintu belakang gedung Rektorat. Saya bertanya kepada satpam, mahasiswa itu lagi melakukan apa. Karena jawabannya kurang jelas, akhirnya saya masuk ke ruang Bagian Keuangan dan mendapat penjelasan bahwa mereka sedang mencocokkan data pembayaran.
Saya sungguh bingung, bukankah mahasiswa membayar ke bank. Mengapa harus mencocokkan lagi di kampus? Menurut petugas di Bagian Keuangan, setiap awal semester dan khususnya ketika akan yudisium mahasiswa harus mencocokkan pembayaran dengan data di Bagian Keuangan. Untuk itu, mahasiswa harus membawa bukti-bukti pembayaran dari bank. Betapa ruwetnya. Bagaimana kalau bukti pembayaran hilang?
Karena bingung, saya minta Kepala Bagian Keuangan menjelaskan lagi di kantor Rektor. Ternyata data pembayaran di bank (BTN) belum online penuh dengan Unesa. Jadi, Bagian Keuangan Unesa mendapat laporan setelah pembayaran selesai. Data itu yang digunakan untuk mencocokkan bukti pembayaran yang dipegang mahasiswa. Masalah menjadi tambah ruwet karena mahasiswa boleh mengangsur sehingga tidak jelas berapa yang sudah dibayarkan.
Memahami keruwetan itu saya jadi teringat ketika ikut membahas SNMPTN tahun pertama yang masih ditangani Ditjen Dikti. Bank Mandiri yang menerima pembayaran pendaftaran SNMPTN dan secara real time dapat meneruskan data itu kepada Panitia SNMPTN di Dikti. Saya juga teringat kalau menerima atau mengirim uang dari tabungan, dalam beberapa jam sudah mendapat sms, kalau rekening kita berkurang atau bertambah sesuai kiriman.
Mengapa di Unesa tidak dapat seperti itu? Berangkat dari pertanyaan-pertanyaan itu, saya mengundang pimpinan BTN. Seingat saya pada tanggal 9 Juli 2010. Hadir pada saat itu pimpinan BTN yang dipimpin Pak Sigit (moga-moga tidak salah ingat nama beliau). Saya dapat penjelasan tentang kesulitan BTN untuk dapat memberikan data real time. Kata beliau, belum dapat house
to house atau apa istilahnya yang saya sendiri kurang paham.
Setelah pihak BTN menjelaskan, ganti saya bercerita pengalaman SNMPTN. Mengapa Unesa dan BTN tidak bisa? Apa bedanya? Bukankah pembayar SNMPTN jumlahnya jauh lebih banyak dan tersebar di seluruh pelosok Indonesia? Dengan keyakinan itu, saya minta BTN dapat mengatur agar data setiap mahasiswa yang membayar langsung terkirim ke Unesa secara real time. Data itulah yang kita pegang sehingga mahasiswa tidak perlu lapor dengan membawa bukti pembayarannya.
Secara berkelakar saya katakan, “Unesa ingin pekerjaannya lebih ringan dan dengan risiko keliru yang lebih kecil. Kalau BTN belum mampu, ya terpaksa Unesa akan pindah ke bank lain.” Saya katakan, saya yakin ada bank yang bisa melakukan. Bayangkan betapa sulitnya petugas Bagian keuangan mengecek data pembayaran. Belum lagi kalau salah atau bukti pembayaran hilang. Sepertinya pimpinan BTN kaget dengan kata-kata terakhir saya. Namun, masih menjelaskan kesulitan mengembangkan sistemnya. Karena itu, saya mengulangi kalimat saya, kurang lebih, “ tidak apa-apa, BTN mengembangkan sistem dulu. Karena itu, sementara Unesa akan
Unesa. Sms itu ditujukan kepada Kadiknas Jawa Timur, tetapi tampaknya sengaja di-forward ke saya.
Belajar dari peristiwa itu tampaknya perlu dirumuskan mana “wilayah akademik” dan mana “wilayah layanan publik”. Kerancuan pemahaman terhadap keduanya menjadikan kemungkinan kriminalisasi koreksi hasil ujian. Untung proses pengadilan di UM dan Unesa terhenti. Jika itu berlanjut dan kemudian penggugat dimenangkan, saya khawatir guru dan dosen takut untuk memberi nilai rendah kepada siswa/mahasiswa karena khawatir digugat ke pengadilan.
Nah, kalau itu masalahnya menjadi lain. Unesa dan juga LPTK lainnya melaksanakan PLPG,
termasuk ujian akhir berdasarkan Buku Panduan dari BPSDM-PKPMP (Badan Pengembangan SDM Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan) Kemendikbud. Pada panduan itu tidak ada ujian ulang. Akhirnya, disepakati agar Unesa mengusulkan adanya ujian ulang kepada BPSDM-PKPMP. Yang aneh menurut saya, yang diusulkan hanya beberapa orang yang ikut protes dan tidak seluruh peserta yang tidak lulus. Namun, karena itu permintaan para guru, akhirnya dibuat Surat Kesepakatan untuk mengusulkan ujian ulang, dan itu ditandatangi wakil para guru, wakil dari Unesa dan wakil dari PGRI. Tugas Unesa adalah meneruskan usulan tersebut.
Unesa mengirimkan Surat Kesepakatan tersebut ke BPSDM-PKPMP, tetapi tidak pernah mendapat jawaban. Saya pernah mendapatkan jawaban lisan bahwa itu tidak mungkin. Jika Surabaya diizinkan, semua peserta yang tidak lulus ada menuntut hak yang sama. Anehnya beberapa guru mengatakan bahwa BPSDM-PKPMP menyetujui permintaan tersebut dan mendesak agar Unesa segera melaksanakan. Tentu Unesa tidak berani tanpa jawaban tertulis karena dapat dianggap melanggar Buku Pedoman.
Lama tidak terdengar kelanjutannya, tiba-tiba Unesa mendapat Surat Pemberitahuan dari Pengadilan Negeri Surabaya bahwa para guru yang protes tersebut menggugat ke pengadilan dan memberi kuasa kepada pengacara tertentu. Saya menjadi lebih bingung, bagaimana masalah ujian masuk ke pengadilan. Bagaimana kalau kemudian peserta Ujian Nasional yang tidak lulus menggugat ke pengadilan. Bagaimana kalau peserta yang tidak lulus ujian semester di perguruan menggugat ke pengadilan. Bagaimana kalau siswa yang dapat nilai ulangan jelek menggugat ke pengadilan.
Ternyata kejadian serupa juga terjadi di Universitas Negeri Malang (UM) dan bahkan sudah lebih dahulu berlangsung. Konon, pengacaranya juga sama. Dalam hati saya bertanya, bukankah guru-guru itu harus membayar untuk dapat bantuan pengacara? Kasihan sekali, guru-guru harus membayar untuk sesuatu yang saya yakin tidak perlu dilakukan. Jangan-jangan ada yang memprovokasi.
Waktu itu, kebetulan Unesa bersilaturahim dengan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur, sekaligus minta bantuan pendampingan pelelangan pekerjaan. Kami sampaikan masalah itu dan akhirnya Kejati siap mendampingi sebagai pengacara Unesa. Kejati menjelaskan memang salah satu tugas Kejati adalah menjadi pengacara negara sehingga siap mendampingi Unesa.
Namun, gugatan itu tidak sampai berlangsung di persidangan. Waktu sidang pertama diumumkan kalau penggugat mencabut gugatannya dan sidang dihentikan. Kejadian serupa juga terjadi pada gugatan terhadap UM. Jadi, praktis gugatan itu hanya membuang waktu, tenaga dan mungkin uang. Dapat dibayangkan, berapa waktu, tenaga, dan dana yang terbuang untuk memikirkan dan menyiapkan persidangan yang ternyata tidak pernah berlangsung.
Sampai saat ini saya tidak menemukan penjelasan mengapa kasus itu terjadi. Ternyata, protes itu juga terjadi di UPI Bandung dan UNY Yogyakarta, walaupun keduanya tidak sampai menjadi gugatan ke pengadilan. Namun, demonstrasi di Bandung konon sangat besar dan berlangsung kasar. Ada teman yang mengatakan, ada orang-orang yang sedang mencari simpati dari guru dan itu merupakan kesempatan baik. Ada juga teman yang mengatakan itu terkait dengan datangnya tahun politik. Yang jelas, saya pernah mendapat sms dari seorang tokoh yang intinya mengatakan beliau sedang membantu para guru untuk mencari keadilan karena dizalimi oleh
pekerjaan sudah dinilai dua orang dosen sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Sebagai catatan, siapa yang mengoreksi harus dirahasiakan, untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Mengapa demikian? Saya teringat ketika pertama kali pelaksanaan sertifikasi dosen dan saya masih sebagai Direktur Ketenagaan. Saat itu ada peserta yang protes karena tidak lulus. Yang bersangkutan Ketua Jurusan di PTN ternama dan doktor lulusan universitas ternama di luar negeri. Yang bersangkutan dipertemukan dengan Ketua Jurusan Perguruan Tinggi Penilai, untuk melihat berkas portofolio yang sudah dinilai. Dosen penilai portofolio dirahasiakan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Alhamdulillan, setelah melihat portofolio, rubrik penilaian dan hasil penilaiannya, dosen pemprotes tersebut dapat menerima.
Dalam hati saya bertanya-tanya, mengapa guru-guru tersebut protes. Bukankah mereka juga pernah melakukan koreksi terhadap pekerjaan siswanya. Bagaimana kalau suatu saat siswa ganti protes terhadap penilaian ulangan/ujian yang dia peroleh? Untunglah Unesa sudah berpengalaman menghadapi siswa SMA/SMK/MA yang tidak puas terhadap nilai UN dan menanyakan lembar pekerjaan kepada Unesa. Setiap tahun selalu ada dan Unesa melayani dengan menunjukkan lembar jawaban mereka.
Tampaknya, proses guru melihat lembar pekerjaan ujian PLPG tidak berjalan lancar. Saya mendapat informasi, guru-guru ingin melihat secara bersama-sama. Tentu itu tidak diperbolehkan karena tidak sesuai dengan ketentuan di Undang-Undang KIP. Akibatnya, ada beberapa guru yang tidak mau melihat lembar pekerjaannya. Ada yang takut untuk menghadapi Ketua Jurusan secara sendirian. Bahkan, ada yang mengatakan saat melihat lembar jawaban diintimidasi. Sebaliknya, para dosen mengeluh guru tidak menepati kesepakatan jam yang telah ditentukan, sementara dosen juga punya pekerjaan lain. Saya sendiri ragu, bagaimana mungkin dosen mengintimidasi karena tidak memiliki hubungan hierarkial dengan guru peserta sertifikasi. Ketidakpuasan guru terhadap hasil ujian PLPG terus bergulir dan mereka melaporkan kepada Ombusman Perwakilan Jawa Timur. Saya dipanggil untuk datang ke Ombusman, tetapi saya bingung. Ini urusan akademik, bukan urusan pelayanan. Rektor sebagai pimpinan tertinggi di universitas pun tidak dapat mencampuri penilaian dosen. Memberikan kuliah dan menilai hasil ujian mahasiswa adalah wilayah akademik dan bukan wilayah adminsitrasi. Toh saat para guru yang protes sudah melihat soal dengan kisi-kisinya, lembar jawaban hasil kerjanya, rubrik penilaian dan penilaian yang diberikan dosen pemeriksa. Karena itu, saya memutuskan tidak memenuhi panggilan itu. Esoknya, koran memuat berita bahwa Rektor Unesa tidak memenuhi panggilan Ombusman dan akan dipanggil lagi, kalau tidak datang lagi akan dipanggil paksa. Pada panggilan keduapun saya tetap tidak datang karena saya yakin itu masalah akademik dan bukan masalah layanan adminsitrasi. Akhirnya, Ombusman yang datang ke Unesa. Karena saat itu saya ada acara lain, Ombusman ditemui oleh Ibu PR I, Pak Alimufi dan beberapa dosen lain. Saya dapat informasi ternyata Ombusman tidak paham masalah itu dan setelah dijelaskan masalah dianggap selesai karena tidak terkait dengan masalah layanan.
Sepertinya para guru masih belum puas dan menggandeng PGRI Jawa Timur. Akhirnya, perwakilan mereka datang ke Unesa didampingi beberapa pengurus PGRI Jawa Timur. Dalam pertemuan itu, saya menanyakan bukankah mereka sudah melihat sendiri lembar jawaban yang kemudian dibandingkan dengan soal dan rubriknya. Apa lagi yang dipermasalahkan. Ternyata, intinya para guru minta dibantu agar dapat ujian ulang.