• Tidak ada hasil yang ditemukan

TRANSKRIPSI DAN ANALISIS MUSIKAL ONANG-ONANG OLEH BAPAK RIDWAN AMAN NASUTION

4.2 Analisis Melodi Onang-onang

4.2.7 Formula Melodik

Formula melodik yang akan dibahas tulisan ini meliputi bentuk dan frasa.

Bentuk adalah gabungan dari beberapa frasa yang terjalin menjadi satu pola melodi. Frasa adalah bagian-bagian kecil dari melodi. William P. Malm mengemukakan bahwa ada beberapa istilah dalam menganalisis bentuk, yaitu:

1. Repetitive adalah bentuk nyanyian dengan melodi pendek yang diulang-ulang.

2. Iterative adalah bentuk nyanyian yang memakai formula melodi yang kecil dengan kecenderungan pengulangan-pengulangan di dalam keseluruhan nyanyian.

3. Strophic adalah bentuk nyanyian yang diulang tetapi menggunakan teks nyanyian yang baru atau berbeda.

4. Reverting adalah bentuk yang apabila dalam nyanyian terjadi pengulangan pada frasa pertama setelah terjadi penyimpangan-penyimpangan melodi.

5. Progressive adalah bentuk nyanyian yang terus berubah dengan menggunakan materi melodi yang selalu baru.

Dengan apa yang sudah dikemukkan malm, maka penulis menarik kesimpulan bahwa bentuk yang terdapat pada nyanyian Onang-onang adalah bentuk nyanyian dengan kategori strophic. Onang-onang terdiri dari 2 bentuk,

bagian akhir. Dengan demikian onang-onang memiliki bentuk A-B-B. Onang-onang merupakan nyanyian yang terdiri dari 6 frasa. 6 frasa tersebut adalah sebagai berikut:

Frasa I

Frasa II

Frasa III

Frasa IV

Frasa V

Frasa IV

4.2.8 Kontur

Kontur adalah garis melodi dalam sebuah nyanyian. Malm membedakan kontur ke dalam beberapa jenis, sebagai berikut:

1. Ascending yaitu garis melodi yang bergerak dengan bentuk naik dari nada yang lebih rendah ke nada yang lebih tinggi.

2. Descending yaitu garis melodi yang bergerak dengan bentuk turun dari nada yang lebih tinggi ke nada yang lebih rendah.

3. Pendulous yaitu garis melodi yang bentuk gerakannya melengkung dari nada yang lebih tinggi ke nada yang lebih rendah, kemudian kembali lagi ke nada yang lebih tinggi atau sebaliknya.

4. Conjuct yaitu garis melodi yang sifatnya bergerak melangkah dari satu nada ke nada yang lain baik naik maupun turun.

5. Terraced yaitu garis melodi yang bergerak berjenjang baik dari nada yang lebih tinggi ke nada yang lebih rendah atau dimulai dari nada yang lebih rendah ke nada yang lebih tinggi.

6. Disjuct yaitu garis melodi yang bergerak melompat dari satu nada ke nada yang lainnya, dan biasanya intervalnya di atas sekonde baik mayor maupun minor.

7. Static yaitu garis melodi yang bentuknya tetap yang jaraknya mempunyai batas-batasan.

Garis kontur yang terdapat pada melodi Onang-onang pada umumnya adalah ascending, descending, conjuct, dan juga static. Untuk lebih jelasnya lihat gambar di bawah ini:

Kontur Ascending

Kontur Descending

Kontur Static

Kontur Conjuct

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan

Indonesia merupakan negeri yang kaya akan kebudayaan. Kebudayaan adalah segala sesuatu yang dapat dipikirkan, dikerjakan, dan diterapkan oleh manusia.

Budaya suatu suku bangsa merupakan suatu penampakan identitas diri dari suku bangsa tersebut. Suatu suku bangsa dapat dikenal oleh dunia apabila suatu suku bangsa tersebut sanggup memperkenalkan identitas dirinya lewat budayanya yang khas (Parlaungan, 1997:4).

Kekayaaan Indonesia ini didukung oleh banyaknya etnik atau suku yang mendiami seluruh wilayah Indonesia mulai dari Sabang sampai Merauke. Masing-masing etnik memiliki ciri khas yang menjadi identitas etnik tersebut. Salah satu dari sekian banyaknya kebudayaan yang ada di Indonesia adalah kebudayaan masyarakat Mandailing yang terletak di Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara. Etnik Mandailing adalah orang yang berasal dari Mandailing secara turun menurun dimanapun ia bertempat tinggal. Mandailing terdapat di Sumatera Utara yang terletak di Mandailing Julu dan Mandailing Natal. Etnik Mandailing memiliki budaya yang diwariskan dari leluhurnya secara turun-temurun. Salah satu bentuk kebudayaan itu adalah kesenian. Mandailing memiliki beberapa repertoar musik, antara lain Gondang Sampuara Batu Magulang, Roba Na Mosok, Udan Potir, Aek Magodang, Mamele Begu, Jolo-jolo Turun, Alap-alap Tondi, Pamulihon, Raja-raja (Raja Nasution, Raja Lubis), Tua Porang, Mandailing, Sarama Babiat, Orja,Lima (Bombat), Sabe-sabe, dan Onang-onang.

Onang-onang merupakan suatu repertoar yang diiringi oleh gondang dua yang bertempo lambat (semacam andung-andung) dan pembawa melodinya

adalah sulim. Onang-onang, yang secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu nasehat dan dapat juga diartikan sebagai penggunaan kosakata tertentu yang bersifat puitis. Onang-onang termasuk dalam bentuk kesenian musik vokal (oral languange) yang memiliki kosakata tersendiri dan berkaitan dengan tujuan penyelenggaraan. Di dalam upacara pernikahan adat Mandailing juga terdapat onang-onang.

Lirik teks onang-onang dalam upacara pernikahan adat Mandailing berisikan cerita riwayat hidup pengantin dari sewaktu masih kanak-kanak sampai tumbuh besar menjadi anak yang baik dan terpelajar hingga duduk di pelaminan.

Beberapa makna teks onang-onang, yaitu sebagai berikut:

1. Meminta terima kasih kepada kedua orang tua karena sudah membesarkan, menyekolahkan dan meresepsikan acara pernikahannya.

2. Meminta maaf kepada kedua orang tua bilamana ada kesalahan yang dilakukan si anak, karena tidak ada manusia yang tidak luput dari kesalahan.

3. Memohon ridho (restu) kepada kedua orang tua kedua belah pihak, karena ridho (restu) kedua orang tua adalah ridho Allah (restu Yang Maha Kuasa). Termasuk juga doa para undangan yang menghadiri pesta pernikahan tersebut.

Bentuk atau pola nyanyian nya adalah strophic atau gaya nyanyian yang diulang dengan teks yang baru atau berbeda. Dapat dikatakan bahwa onang-onang merupakan nyanyian yang mementingkan teks daripada melodi yang disebut dengan logogenic.

5.2 Saran

Penulis menyadari bahwa banyak kekurangan dalam mengerjakan tulisan ini. Maka itu, peneliti selanjutnya yang akan menyempurnakan tulisan ini, baik dari kurang nya sumber referensi maupun yang lainnya.

Bagi para peneliti selanjutnya, penulis berharap agar peneliti berikutnya dapat mengkaji bagian-bagian dari Mandailing yang masih banyak mulai dari ritual, nyanyian, tari-tarian, dan yang lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Walaupun sudah banyak yang mengkaji tentang Mandailing tetapi pasti ada salah satu yang belum terjamah oleh kita sebagai penulis.

Bagi pemilik kebudayaan Mandailing, penulis berharap agar berkenan memberikan informasi dan pengetahuan tentang Mandailing. Agar keberadaan kebudayaan Mandailing tetap ada bagi generasi-generasi berikutnya. Dan penulis juga berharap agar masyarakat Mandailing dapat mempertahankan, menjalankan, dan meningkatkan kebudayaan yang ada di Mandailing agar tidak hilang dimakan oleh waktu.

Demikian tulisan ini diselesaikan oleh penulis, semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membaca agar menjadi pengetahuan dan sumber informasi khususnya dibidang ilmu etnomusikologi.

DAFTAR PUSTAKA

Bakar, Abdul Latiff Abu. 2006. Aplikasi Teori Semiotika dalam Seni Pertunjukan.Etnomusikologi (Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Seni),(53), 45-51. Depdikbud, 2005.Kamusbesarbahasaindonesia.Jakarta balaipustaka.

Departemen pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:

Pusat Bahasa

Koentjaraningrat. 1983. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta:

Gramedia.

Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta

Mardalis. 2006. Metode Penelitian (Suatu Pendekatan Proposal). Jakarta: Bumi Aksara.

Malm. William P. 1977. Music Culture of the Pasific, the Near East, and Asia (terjemahan). Medan. Departemen Etnomusikologi Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara (terjemahan Takari). Nettl, Bruno.1964.Theory and Method of Ethnomusicology. New York: The Free Press.

Merriam, Alan P. 1964. The Anthropology of Music. Illinois: North-Western University Press.

Nettle, Bruno. 1964. Theory and Method Of Ethnomusicology. New York: The Free Press-A Division Old Mc Milan publishing, Co, Inc.

Purba, Anna. 2014. Analisis Musikal dan Tekstual Dampeng Pada Upacara Adat Perkawinan Suku Pesisir di Kota Sibolga. Skripsi Sarjana Departemen Etnomusikologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.

Pane, Mahyar Sofyan. 2014. Gordang Sambilan dalam Upacara Adat Perkawinan Mandailing di Kota Medan: Analisis Ritme dan Fungsi. Skripsi Sarjana Departemen Etnomusikologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.

Manurung, Ardy Widanto. 2015. Kajian Organologis Sarune Mandailing Buatan Bapak Ridwan Aman Nasution di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang. Skripsi Sarjana Departemen Etnomusikologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.

Sugiono,2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung:

Alfabeta

www.ethnomusicology.org

repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/29774/4/Chapter%20II.pdf repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/41364/4/CHapter%20II.pdf

Dokumen terkait