• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV: TRANSKRIPSI DAN ANALISIS MUSIKAL NANDONG

4.3 Analisis Struktur Melodis Lagu Nandong

4.3.8 Formula Melodik

Formula melodik yang akan dibahas tulisan ini meliputi bentuk dan frasa. Bentuk adalah gabungan dari beberapa frasa yang terjalin menjadi satu pola melodi. Frasa adalah bagian-bagian kecil dari melodi. William P. Malm mengemukakan bahwa ada beberapa istilah dalam menganalisis bentuk, yaitu:

1. Repetitive adalah bentuk nyanyian dengan melodi pendek yang diulangulang.

2. Iterative adalah bentuk nyanyian yang memakai formula melodi yang kecil dengan kecenderungan pengulangan-pengulangan di dalam keseluruhan nyanyian.

3. Strophic adalah bentuk nyanyian yang diulang tetapi menggunakan teks nyanyian yang baru atau berbeda.

4. Reverting adalah bentuk yang apabila dalam nyanyian terjadi pengulangan pada frasa pertama setelah terjadi penyimpangan-penyimpangan melodi.

5. Progressive adalah bentuk nyanyian yang terus berubah dengan menggunakan materi melodi yang selalu baru.

Berpedoman pada apa yang dikemukakan Malm mengenai bentuk nyanyian, maka penulis menarik kesimpulan bahwa bentuk yang terdapat dalam nandong adalah

bentuk nyanyian dengan kategori strophic. nandong terdiri dari 2 bentuk, yaitu bentuk A dan B. Namun dalam penyajiannya, bentuk A akan diulangi pada bagian akhir. Dengan demikian, nandong memiliki bentuk A-B-A. Bentuk A merupakan bagian nandong yang dinyanyikan pada bagian response. Sedangkan bentuk B merupakan bagian nandong yang dinyanyikan pada bagian call. Nandong merupakan nyanyian yang terdiri dari 9 frasa. 9 frasa tersebut adalah sebagai berikut:

Frasa 1

Frasa 2

Frasa 3

Frasa 4

Frasa 5

Frase 6

Frasa 7

Frasa 8

Frasa 9

BAB V

KAJIAN MAKNA TEKS

5.1 Bentuk Teks Nandong

Nandong sebagai salah satu pertunjukan kultural Etnik Simeulue mengandung unsur-unsur musikal. Di samping itu, nandong juga mengandung teks yang menjadikannya fungsional dalam kebudayaan Etnik Simeulue, khususnya dalam upacara adat perkawinan Etnik Simeulue. Teks nandong memiliki peranan yang sangat penting dalam konteks upacara adat perkawinan Etnik Simeulue. Penyampaian teks nandong membentuk komunikasi lisan diantara penyaji nandong, anak daro, orang tua anak daro, dan para undangan yang hadir. Berbagai komunikasi lisan dalam pertunjukan nandong berdasarkan pada pola-pola budaya Etnik Simeulue.

Dengan demikian, komunikasi dua arah tersebut menciptakan interpretasi para pendengarnya.

Teks nandong berbentuk pantun secara keseluruhan dengan dua bagian utama, yaitu sampiran dan isi. Sampiran dalam teks nandong disampaikan dengan menggunakan kata-kata berupa kata kiasan dan perumpamaan. Sedangkan isi teks nandong disampaikan dengan menggunakan kata-kata berupa kata-kata ungkapan yang memiliki makna. Bagian utama dalam nandong dibawakan secara solo dan berganti-gantian. Selain berbentuk pantun, teks nandong juga memiliki bentuk lain yaitu chorus. Chorus adalah pengulangan satu bagian lagu secara teratur. Bagian chorus selalu dinyanyikan untuk mengawali dan mengakhiri bagian utama teks nandong. Bagian ini disajikan oleh seluruh penyaji nandong secara bersama-sama.

Teks nandong digolongkan sebagai teks yang bersifat logogenik.9 Logogenik berarti teks dalam nandong tercipta secara spontan. Teks nandong diciptakan oleh penyaji nandong dan bertemakan tentang proses kehidupan suatu insan. Teks nandong juga digolongkan sebagai teks yang bersifat melismatik. Melismatik berarti satu suku kata dapat dinyanyikan dengan beberapa nada. Dalam teks nandong ditemukan berbagai suku kata yang diciptakan penyaji dan dinyanyikan dengan beberapa nada. Dalam Bab V ini, penulis mengkaji teks nandong yang disajikan dalam malaulu Etnik Simeulue di Kota Sinabang. Kajian ini menggunakan teori semiotik yang meletakkan lambang sebagai bagian dari komunikasi. Komunikasi dapat terjadi dengan dua arah dan mengandung makna-makna tertentu. Makna digunakan untuk menyampaikan suatu pesan.

5.2 Pantun dan Konteksnya

Salah satu sendi dari sastra lisan Aceh adalah pantun atau pantôn dalam bahasa Aceh. Ketika berbicara tentang pantun, yang terlintas dipikiran seseorang adalah bahwa pantun merupakan rentetan kata yang disusun rapi oleh penyair yang memiliki maksud tertentu dan memiliki kesatuan makna tersendiri serta bersajak akhir ab-ab.

Sebenarnya jika dilihat lebih dalam, pantun tidak hanya sebuah karya sastra lisan Aceh yang untuk sebagian daerah menganggapnya tabu tapi pada kenyataannya ada juga sebagian dari masyarakat Aceh yang masih mengindahkan sebuah karya sastra yang berlebel pantun. Pantun yang memiliki bentuk dan dengan isi yang berciri khas tersendiri mampu membuatnya berbeda dari sastra-sastra lain pada umumnya.

Pantun memiliki banyak jenisnya, salah satunya ialah pantun yang digunakan pada

acara pasta perkawinan yang disebut dengan istilah meutaléh pantôn (dalam bahasa Aceh) yang memiliki arti berbalas pantun (dalam bahasa Indonesia).

Meutaléh pantôn (berbalas pantun) pada acara pesta perkawinan tidak hanya dipandang dari segi sastranya melainkan juga didukung oleh adat dan budaya di suatu daerah yang tersebar di Aceh. Dulu, adat meutaléh pantôn (berbalas pantun) sudah menjadi adat dan tradisi masyarakat Aceh. Tapi, sayangnya dewasa ini adat yang dulu telah mendarah daging sudah tidak lagi diindahkan oleh sebagian masyarakat Aceh.

Hanya beberapa daerah di Aceh yang masih dijumpai adat dan nilai budaya tinggi tentang kegiatan meutaléh pantôn pada acara pesta perkawinan. Hal ini merupakan suatu tradisi yang harus selalu diindahkan dan dilaksanakan demi mencapai kekhidmatan dalam acara pesta perkawinan. Jika ada acara pesta perkawinan, maka daerah yang memiliki adat meutaléh pantôn akan melaksanakan kegiatan berbalas pantun ketika mempelai laki-laki (lintô barô) sampai di rumah mempelai wanita (dara barô). Pantun yang digunakan dalam kegiatan meutaléh pantôn disebut dengan istilah pantôn seumapa.

Orang yang biasa melakukan kegiatan meutaléh pantôn memang merupakan orang yang sudah mahir dalam hal ini. Tapi, bukan berarti orang yang berbalas pantun tersebut pada saat kegiatan meutaléh pantôn membawa teks pantun tersebut, keduanya juga tidak saling sepakat tentang pantun yang akan diajukan dan yang akan dibalas, bahkan mereka pun tidak saling mengenal. Sebaliknya, keduanya mampu bekerja sama untuk menyukseskan kegiatan meutaléh pantôn tersebut.

Pantôn seumapa merupakan pantun yang disampaikan oleh pihak lintô barô dan pihak dara barô pada prosesi perkawinan. Ketika rombongan mempelai lintô barô

sampai di depan rumah mempelai dara barô, pihak dari lintô barô menyapa pihak dara barô sebagai tuan rumah dengan maksud menyatakan bahwa rombongan lintô barô sudah sampai. Lalu, dijawab oleh pihak dara barô, tidak kalah dari pihak mempelai wanita, pihak mempelai laki-laki pun membalas pantun yang diajukan, kegiatan ini terus berlangsung dengan begitu seru dan penuh tantangan yang harus diselesaikan oleh pihak mempelai laki-laki. Sebelum pihak mempelai laki-laki (lintô barô) dinyatakan ”menang” oleh pihak mempelai wanita dalam hal berbalas pantun, mereka tidak dibenarkan masuk ke wilayah rumah mempelai wanita (dara barô).

5.3 Analisis Semiotik Teks Pantun dalam Nandong

Teks nandong merupakan sastra tradisional (sastra lisan) Etnik Simeuluer yang bermuatan nilai-nilai Etnik Simeulue. Isi teks nandong secara khusus merupakan nasihat-nasihatyang disajikan dalam bentuk pantun. Dengan demikian teks nandong bernilai sama dengan karya sastra yang berkaitan erat dengan sistem bahasa masyarakat pendukungnya. Menganalisis teks nandong berarti mencari tahu dan menemukan makna-makna yang muncul dari teks nandong tersebut. Sehubungan dengan penemuan makna-makna tersebut, Alan P. Merriam mengemukakan bahwa musik juga mempengaruhi bahasa di mana keperluan musikal meminta perubahan dalam bentuk-bentuk percakapan yang normal. Ciri-ciri bahasa dalam lagu adalah jenis terjemahan yang istimewa yang mana kadang kala memerlukan pengetahuan bahasa yang istimewa pula (1964:188).

Pantun adalah salah satu seni sastra yang tumbuh dan berkembang di dalam kebudayaan masyarakat Simeulue dan Indonesia pada umumnya. Pantun adalah

karya sastra yang terdiri dari dua penggal, dengan struktur penggal pertama adalah sampiran dan penggal kedua adalah isi. Satu bait pantun dapat terdiri dari dua baris, empat baris, enam baris, dan lainnya. Yang umum adalah pantun empat baris (kuatrin). Pantun ini mengutamaka aspek rima yaitu persamaan bunyi di ujung setiap barisnya. Pantun ini juga digunakan di dalam teks nandong.

Berikut ini adalah lima bait pantun yang disajikan dalam pertunjukan nandong di Sabang.

Tabel : 5.1 Pantun Nandong

Pantun Nandong Arti dalam Bahasa Indonesia

(1) Manabe mungko baladang

(4) Si Sabun marapek biduk Biduk di rapek di bawah rumah Mintak tabik urang nan duduk Sarato nan punyo rumah

Si Sabun merapatkan biduk Biduk dirapatkan di bawah rumah Mohon sembah orang yang duduk Sekalian juga yang punya rumah (5) Naik ka rumah ate tanggo

Tacabik kain di Bali Makan sirih dalam sarano Pesan tabik urang banyanyi

Naik ke rumah atas tangga Tercabik kain di Bali Makan sirih dalam cerana Pesan tabik orang bernyanyi

Secara struktural, pantun nandong di atas adalah masuk ke dalam pantun berkait, yang terjadi pada bait satu, dua, tiga dan empat. Secara konseptual, kaitan antara bait di dalam teks pantun nandong ini adalah sebagai berikut.

Pantun nandong di atas terdiri dari lima bait, yang masing-masing bait terdiri dari empat baris. Dengan demikian jumlah keseluruhan barisnya adalah 20 baris (4 x5 baris). Antara satu bait dengan bait berikutnya terjadi hubungan terutama dalam menggunakan sampirannya.

Makna yang dikandung bait pertama adalah indeks dari setiap kegiatan adat, termasuk adat perkawinan adalah dengan digunakannya seni musik, yang dalam hal ini dilambangkan dengan menyambar maka bergendang, itulah isyarat orang-orang tua. Dalam isi pantun ini, maknanya adalah kebudayaan Simeulue diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dengan perlu menghargai keberadaan orang tua.

Selengkapnya teks pantun baris pertama itu adlaah sebagai berikut.

Manabe mungko baladang Padi di ladang rabah mudo

Manyamba mungko bagandang Itu isarat urang tuo

Sebelum sampai ke isi, yang menarik bait pertama pantun ini menggunakan sampiran yang khas kawasan agraris berladang atau bertani, yaitu yang artinya: Menebas makanya berladang/ Padi di ladang rebah muda. Dalam sampiran ini dijelaskan bahwa jika seorang petani berladang maka ia perlu menebas (baru ke indeks hutan, rumput, dan sejenisnya dengan peralatan pertanian). Kemudian di sampiran kedua tampak jelas bahwa yang dilakukan adalah menanam padi di lading (artinya ladang lahan tanah bukan sawah), padi yang tumbuh tadi rebah ketika masih berusia muda.

Seterusnya makna yang dikandung pada bait kedua pantun nandong ini adalah Padi di ladang rabah mudo

Talatak ate pamatang Itu isarat urang tuo

Samba di mano dilatakkan, yang artinya adalah:

Padi di ladang rebah muda Terletak di atas pematang Itu isyarat orang tua

Sembah di mana diletakkan

Baris satu adalah sampiran yang diambil dari barus dua sampiran bait pantun sebelumnya, yaitu bait satu. Padi di ladang rebah di kala usianya masih muda.

Dilanjutnya dengan baris terletak di atas pematang. Jadi padi yang rebah tersebut diletakkan di atas pematang. Kemudian memperkuat makna bait pertama, maka bait

kedua ini adalah mengisyaratkan orang tua dalam konteks budaya Simeulue haruslah dihormati. Orang tua pula yang menurunkan generasi dan kebudayaan kepada generasi muda. Demikian makna bait kedua ini.

Setersunya, bait kedua pantun tersebut diteruskan ke bait ketiga yang selengkapnya adalah sebagai berikut.

Talatak ate pamatang Si Sabun marapek biduk Samba di mano dilatakkan Minta tabik urang nan duduk Terletak di atas pematang Si Sabun merapatkan biduk Sembah di mana diletakkan Mohon hormat orang yang duduk

Baris pertama teeks pantun ini berasal dari baris kedua teks bait pantun sebelumnya yaitu terletak di atas pematang sebagai indeks tempat meletakkan padi muda yang rebah tadi. Kemudian dilanjutkan kepada baris kedua yakni Si Sabun merapatkan biduk. Teks ini bermakna selepas alam pertanian, maka seterusnya merujuk ke alam nelayan, yakni dengan indeksikal biduk, yang khas sebagai peralatan nelayan mencari ikan atau transportasi ke tengah laut. Kemudian isi pantun ini masih menguatkan tema bait pertama dan kedua. Bahwa teks ini mengajarkan bagi masyarakat Simeulue kemana arah dari sembah hormat, tentu saja hormat kepada semua orang yang duduk, sebelum memulai acara adatnya.

Selanjutnya isi pantun nandong pada bait empat selengkapnya adalah seperti terurai berikut ini.

Si Sabun marapek biduk

Biduk di rapek di bawah rumah Mintak tabik urang nan duduk

Sarato nan punyo rumah, yang artinya:

Si Sabun merapatkan biduk, Biduk dirapatkan di bawah rumah Mohon sembah orang yang duduk Sekalian juga yang punya rumah

Baris pertama pantun ini adalah menandakan daerah nelayan, yaitu Si Sabun merapatkan (melabuhkan) biduknya. Diteruskan dengan penjelasan tempat yaitu dirapatkan di bawah rumah (tentu saja rumah nelayan). Kemudian isi dari pantun ini, adalah melengkapkan bait sebelumnya. Dalam bait ini, selain menghormati dengan cara sembah kepada orang yang duduk, maka perlu pula menghormati tuan rumah yang melakukan upacara tersebut.

Selanjutnya bait terakhir rangkaian pantun ini adalah agak berbeda dengan keempat pantun sebelumnya. Bait ini tidak menggunakan baris kedua pantun sebelumnya, sepertinya ia berdiri sendiri. Selengkapnya bait kelima pantun ini adalah sebagai berikut.

Naik ka rumah ate tanggo Tacabik kain di Bali Makan sirih dalam sarano

Pesan tabik urang banyanyi, artinya:

Naik ke rumah atas tangga Tercabik kain di Bali Makan sirih dalam cerana Pesan tabik orang bernyanyi

Baris pertama bait pantun ini adalh menjelaskan naik ke rumah atas tangga, adalh penjelasan dari rumah adat atau rumah biasa kediaman orang Simeulue adalah rumah berbetuk panggung di atas tanah dan disokong pilar-pilar, sebagai rumah khas kawasan pesisir pantai. Dilanjutkan ke bait kedua yakni tercabik kain di Bali, sebagai indeks, kain yang dikenakan tercabik. Adapun isi pantun kelima ini adalah makan sirih dalam cerana pesan tabik orang bernyanyi. Jadi untuk memulai acara adat dalam kebudayaan Simeulue selalu menggunakan sirih, sebagi mana pula berbagai kebudayaan etnik di Sumatera dan pulau-pulau sekitarnya. Kegiatan bernyanyi (termasuk nandong) adalah bagaian dari upacara adat. Jadi dengan demikian, kelima bait pantun ini menggambarkan penghormatan (sembah) kepada yang duduk (yang hadir) dan tuan rumah penyelenggara upacara. Demikian pula pentingnya regenerasi budaya. Serta penggunaan sirih dan nyanyian (nandong) dalam upacara. Demikian makna-makna yang terkandung dalam pantun ini.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Nandong merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh. Kesenian ini diketahui memiliki nilai-nilai estetika yang tinggi (menurut ukuran seni masyarakat pendukungnya), serta makna yang luas bermanfaat bagi masyarakat Sinabang.

Kesenian nandong merupakan seni bertutur dalam bentuk syair, yang merupakan karangan dalam tradisi lisan, yang mengandung nasehat-nasehat, nasib, dan kasih, yang dilantunkan dengan diiringi alat musik yaitu kedang (gendang khas budaya musik Simeulue). Secara estetika, setiap lirik yang disampaikan mengandung nilai-nilai kearifan lokal, dan merupakan perpaduan irama, melodi, dan teks yang disajikan dengan ekspresi “mendayu-dayu.”

Nandong tidak dapat dikatakan sebagai satu pertunjukan yang utuh tanpa adanya iringan musik, khususnya penggunaan instrumen kedang. Pemusik adat biasanya terdiri dari 6-12 orang. Selain itu, terdapat juga makna sosial yang terkandung di dalam syair-syairnya yang berupa nasehat, petuah, yang menceritakan kehidupan seseorang atau pesan dari leluhur kepada cucunya yang digunakan pada saat malaulu.

6.2 Saran

Penulis menyadari banyak kekurangan dalam proses penyusunan tulisan Etnik Simeulue ini. Salah satunya adalah kurangnya sumber-sumber referensi mengenai Etnik Simeulue yang dapat mendukung tulisan ini. Penulis berharap peneliti-peneliti berikutnya dapat menyempurnakan tulisan ini. Bagi para peneliti berikutnya, penulis menyarankan beberapa hal untuk dipersiapkan dalam penyusunan tulisan ini.

Pertama, kita harus mempunyai pengetahuan umum tentang kebudayaan Etnik Simeulue. Sehingga pada saat menerapkan teknik-teknik penelitian lapangan kita dapat mengetahui dan menyusun konsep pengerjaan selanjutnya secara bertahap dan sistematis, antara lain wawancara, observasi, dan dokumentasi. Selanjutnya, kita juga harus mempunyai kemampuan menjadi sebagai seorang insider. Dengan kata lain, pengetahuan tentang bahasa Jamee dapat mendukung proses penelitian nantinya.

Terakhir, penulis menyarankan agar peneliti berikutnya dapat mengkaji kebudayaan musikal Etnik Simeulue lainnya. Karena dalam ilmu Etnomusikologi tulisan-tulisan yang membahas tentang Etnik Simeulue masih terhitung sedikit jumlahnya. Bagi pemilik kebudayaan Etnik Simeulue, penulis berharap agar bersedia memberikan pengetahuan tentang seluruh kebudayaan musikal yang terdapat dalam Etnik Simeulue. Dengan demikian, seluruh kebudayaan tersebut akan terdokumentasi nantinya. Penulis juga berharap, Etnik Simeulue sebagai pendukung dan pemilik kebudayaan Etnik Simeulue dapat menggenerasikan kebudayaannya dengan tetap menjalankannya sesuai dengan adat-istiadat yang terdapat dalam Etnik Simeulue.

Demikiaan tulisan ini diselesaikan, semoga tulisan ini memberikan manfaat kepada budaya dan pendidikan secara umum dan ilmu Etnomusikologi secara khusus.

DAFTAR PUSTAKA

Blacking, John. 1964. How Musical is Man? Seattle: University of Washington Press.

Danandjaja, James, 1984. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain.

Jakarta: Grafiti Pers.

Goldsworthy, David J. 1979. Melayu Music of North Sumatra: Continuities and Changes. Sydney: Monash University. Disertasi Doktoral.

Goodenough, W.H., 1970. Description and Comparison in Cultural Anthropology.

Chicago: Aldine Publishing Company.

Gough, E.K., 1959. “The Nayars and the Definition of Marriage.” Journal of the Royal Anthropological Institute, pp. 23-34.

Goris Keraf. 1986. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.

Koentjaraningrat. 2002. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: P.T. Rineka Cipta.

Malm,William P., 1977. Music Cultures of the Pacific, Near East, and Asia. New Jersey: Prentice Hall, Englewood Cliffs; serta terJemahannya dalam bahasa Indonesia, William P. Malm, 1993, Kebudayaan Musik Pasiflk, Timur Tengah, dan Asia, dialihbahasakan oleh Muhammad Takari, Medan: Universitas Sumatera Utara Press.

Merriam, Alan P. 1964. The Anthropology of Music. Illinois: North-Western University Press.

Narrol,R., 1965. "Ethnic Unit Classification." Current Anthropology, volume 5 No.

4."

Nasruddin et al., 2011. Kearifan Lokal di Tengah Modernisasi. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan, Badan Pengembangan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.

Nettl, Bruno, 1964. Theory and Method in Ethnomusicology. Indiana: Colier Macmillan.

Nettl, Bruno, 1973. Folk and Traditional of Western Continents, Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall.

O.K. Gusti bin O.K. Zakaria, 2005. Upacara Adat-Istiadat Perkawinan Suku Melayu Pesisir Sumatera Timur. Medan: (Tanpa Penerbit).

O.K. Moehad Sjah, 2012. Adat Perkawinan Masyarakat Melayu Pesisir Sumatera Timur. Medan: Universitas Sumatera Utara Press.

Panuti Sudjiman dan Aart Van Zoest (peny.) 1992. Serba-serbi Semiotik. Jakarta:

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.

Supanggah, R (ed) 1995. Etnomusikologi. Surakarta: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Syarifah Aini, 2013. Tari Inai dalam Konteks Upacara Adat Perkawinan Melayu di Batang Kuis: Deskripsi Gerak, Musik Iringan, dan Fungsi. Medan:

Departemen Etnomusikologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara (Skripsi Sarjana Seni).

Tengku Luckman Sinar, 1994. Adat Perkawinan dan Tata Rias Pengantin Melayu.

Medan: Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Seni Budaya Melayu.

Titon, Jeff Todd. 1984. World of Musics: An Introduction to the Music of the World’s People. New York: Schirner Book A Division of Macmillan, Inc.

LAMPIRAN Dari ujung lalu ka pangka

Ambik sajangka bali padi Biduk di rapek di bawa rumah Mintak tabik urang nan duduk Dari ujung lalu ka pangka Urang mandanga baik ati

Layar – Berlayar Belok ka timu jan salatan Turuik kapulau linggam sari

DAFTAR INFORMAN

Nama : Amir Husin Usia : 60 Tahun

Alamat : Dusun Suka Maju, Kabupaten Simeulue Timur, Sinabang.

Profesi : Seniman Nandong dan juga berkebun

Nama : Karib Usia : 50 Tahun

Alamat : Dusun Suka Karya, Kabupaten Simeulue Timur, Sinabang.

Profesi : Ketua Bidang Kebudayaan di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sinabang

Nama : Satri Usia : 60 Tahun

Alamat : Dusun Suka Karya, Kabupaten Simeulue Timur, Sinabang.

Profesi : Ketua Kesenian Nandong di Simeulue dan juga berkebun

Nama : Samsuirzam Usia : 65 Tahun

Alamat : Dusun Suka Maju, Kabupaten Simeulue Timur, Sinabang Profesi : Ketua Majelis Adat Aceh Sinabang

Nama : Pamin Usia : 63 Tahun

Alamat : Dusun Suka Maju, Kabupaten Simeulue Timur, Sinabang Profesi: Pedagang

Nama : Ratnasari Usia : 37 Tahun

Alamat : Dusun Suka Maju, Kabupaten Simeulue Timur, Sinabang Profesi : Pedagang

Nama : Herianto Usia : 46 Tahun

Alamat : Dusun Suka Karya, Kabupaten Simeulue Timur, Sinabang Profesi: Wiraswasta

Nama : Helmi Usia : 38 Tahun Alamat : Aie Dingin

Profesi : Anggota Majelis Adat Aceh, Sinabang

Dokumen terkait