• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indonesia

Kita telah melihat bagaimana bentuk implementasi UNGP yang dilakukan oleh beberapa perusahaan dalam bentuk pernyataan komitmen kebijakan hak asasi manusia. Perusahaan-perusahaan tersebut melaksanakan amanah UNGP karena mereka adalah perusahaan asing yang berinvestasi di Indonesia. Di mana negara asal mereka terikat dalam OECD yang mewajibkan melaksanakan UNGP di setiap induk dan anak perusahaan. Atau mendaftarkan diri di UNGC sebagai langkah pembukaan jaringan bisnis internasional.

Implementasi UNGP oleh perusahaan dilakukan dengan sebuah proses yang dikenal dengan Uji Tuntas Hak Asasi Manusia (Human Rights Due Diligence) yang meliputi sebuah proses pengelolaan terus-menerus yang perlu dilakukan sebuah perusahaan yang hati-hati, bijaksana, sesuai dengan keadaannya (termasuk sektor, konteks operasi, ukuran, serta faktor serupa) untuk memenuhi tanggung jawabnya untuk menghormati hak asasi manusia.

78

Elsam dan OECD, Panduan OECD bagi Perusahaan-Perusahaan Multinasional, Edisi 2011, (Jakarta: ELSAM, 2015). h. v.

55

Bagi perusahaan Indonesia yang merupakan anak perusahaan asing, atau yang memiliki kepentingan pasar di Uni Eropa dan USA mau tidak mau harus harus mengintegrasikan UNGP dalam kegiatan perusahaannya, karena wilayah pasar di atas telah memberlakukan UNGP sebagai filter dalam pengadaan barang import. Produk mereka akan tertolak masuk pasar eropa jika tidak memenuhi standar HAM.

Seperti yang terjadi di EU, UNGP telah memainkan peran penting terhadap perdebatan atas CSR. Pengertian CSR di Eropa pada awalnya adalah “A concept whereby companies integrate social and environmental concerns in their business operations and in their interactions with their stakeholders on voluntary bases”, pasca diadopsinya UNGP sebagai resolusi PBB terjadi perubahan signifikan di yang di lakukan European Commission terkait CSR, hingga kemudian definisi CSR berubah menjadi “…the responsibility of enterprises for their impacts on society”.79

Perubahan tersebut memiliki pemaknaan yang berbeda, di mana awalnya CSR hanya sebagai proyek filantropis yang tidak menekankan pemulihan akibat impact

yang terjadi pada masyarakat terdampak. CSR dapat dilakukan kapanpun dan di manapun dengan cara apapun. Berbeda kali ini ketika CSR mendasarkan pada pendekatan HAM yang terdapat dalam UNGP, CSR harus dilakukan dengan menitiktekankan pada pemulihan terhadap pemangku kepentingan terdampak. Saat ini EU mewajibkan negara-negara anggota (state members) untuk membuat Rencana

79

Maddalena Neglia, The Implementation of U.N. Guiding Principles on Business and Human Rights: Some Reflections on European and US Experiences, (Maastricht: The author, 2014). H, 3.

56

Aksi Nasional (NAP/National Action Plan) khusus hak asasi manusia sebagai legalitas kewajiban penghormatan HAM dalam dunia bisnis.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengadopsi UNGP agar efektif di Indonesia adalah dengan membuat Rencana Aksi Nasional Bisnis dan HAM (NAP) sebagaimana amanah UNGP. NAP tersebut dapat dibuat dalam bentuk hukum peraturan presiden mengingat proses pembuatan dasar hukum yang tidak berbelit serta aplikatif. Bentuk peraturan presiden dirasa juga paling ideal karena juga akan turut menjawab kewajiban pemerintah untuk menjamin hak asasi manusia, karena peraturan presiden merupakan peraturan yang dibuat dalam rangka menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan.

Norma yang terdapat dalam peraturan presiden tersebut dapat menjadi dasar lembaga seperti OJK (Otoritas Jasa Keuangan) untuk meningkatkan peraturan mengenai GCG. Berkaca pada sejarah GCG yang merupakan kewajiban dari dunia internasional terhadap Indonesia. GCG yang mengacu pada beberapa peraturan bapepam dan panduan umum GCG yang dikeluarkan oleh Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance mengacu pada OECD dengan dokumen

Guidelines for Multinational Corporations and Principles of Corporate Governance.

Pada tahun 2011 telah terjadi perubahan terhadap dokumen OECD terkait GCG. Perubahan dalam dokumen tersebut antara lain adalah:80

80

Elsam dan OECD, Panduan OECD bagi Perusahaan-Perusahaan Multinasional, Edisi 2011, (Jakarta: ELSAM, 2015). h. v.

57

a. Sebuah bab baru tentang hak-hak asasi manusia, yang sesuai dengan asas- asas panduan tentang bisnis dan hak-hak asasi manusia: Melaksanakan Kerangka Kerja “Melindungi, Menghormati, dan Pemulihan” Perserikatan Bangsa-Bangsa.

b. Sebuah pendekatan yang baru dan menyeluruh terhadap pelaksanaan pemeriksaan menyeluruh (due diligence) dan pengelolaan rantai pasokan (supply chain) yang bertanggung jawab menunjukkan perkembangan penting dibanding dengan pendekatan-pendekatan yang dipakai sebelumnya.

c. Perubahan-perubahan penting di banyak bab-bab khusus, seperti tentang Ketenagakaerjaan dan Hubungan Industrial; Pemberantasan Penyuapan, Permintaan Suap dan Pemerasan, Lingkungan Hidup, Kepentingan Konsumen, Keterbukaan dan Perpajakan.

d. Panduan atas prosedur yang lebih jelas dan diperkuat untuk menguatkan peran NCPs, meningkatkan kinerja mereka dan memajukan fungsi yang serupa.

e. Sebuah agenda implementasi yang proaktif untuk membantu perusahaan- perusahaan memenuhi berbagai tanggung jawab mereka seiring dengan munculnya tantangan-tantangan yang baru.

Perubahan yang ada dalam OECD dengan mengadopsi UNGP dapat menjadi alasan tambahan untuk secepatnya Indonesia memberlakukan prinsip bisnis yang

58

menghormati HAM. Mekanisme tanggung jawab perusahaan untuk menghormati HAM yang dilekatkan dalam tataran GCG khususnnya bagi perusahaan grup akan memudahkan kontrol masyarakat terhadap kinerja perusahaan. Seperti dalam hal publikasi laporan tahunan grup perusahaan yang diwajibkan oleh OJK berdasarkan Peraturan BAPEPAM nomor X.K.1 tentang Keterbukaan Informasi yang Harus Segera diumumkan Kepada Publik. BAPEPAM dapat memasukkan kewajiban perusahaan untuk mengumumkan laporan mengenai dampak hak asasi manusia dan upaya mitigasi dan remedi terhadap dampak potensial dan aktual HAM. Keterbukaan ini akan mempermudah masyarakat dari berbagai pihak untuk melakukan kontrol terhadap perusahaan mengenai bisnis yang menghormati HAM, karena saat ini pemerintah sering lalai dalam melakukan kontrol terhadap perusahaan.

Dalam NAP, dapat dimasukkan tahap-tahap yang dikenal dengan nama Uji Tuntas HAM yang harus dilakukan perusahaan termasuk perusahaan grup dalam melakukan bisnis yang menghormati HAM sebagai berikut:

1. Kebijakan Hak Asasi Manusia “Mengatur Nada”

Salah satu unsur utama HRDD adalah adanya komitmen dan pengembangan pernyataan kebijakan hak asasi manusia. Tahap ini tidak hanya bagaimana menulis sebuah dokumen, melainkan butuh konsultasi dan langkah-langkah perencanaan. Kebijakan hak asasi manusia harus menunjukan ekspresi tentang komitmen untuk menghormati HAM dan memuat instruksi dan pedoman pada

59

pihak yang diharapkan menerapkan kebijakan ini (seluruh pihak terkait aktivitas bisnis perusahaan).

Pokok dari pedoman unsur kebijakan HAM dalam HRDD adalah sebagai berikut:

a. Melibatkan manajemen senior dan mencari persetujuan;

b. Mengidentifikasi dan mengevaluasi kebijakan dan komitmen yang ada; c. Mempertimbangkan untuk melakukan pemetaan resiko hak asasi

manusia;

d. Melibatkan pemangku kepentingan internal dan eksternal dalam proses tersebut;

e. Membuat pernyataan kebijakan mengenai hak asasi manusia.

Hasil dari uji tuntas tahap pertama ini adalah berupa kebijakan tertulis atau pernyataan tentang komitmen terhadap hak asasi manusia.

2. Menilai Dampak “Dari Reaktif Menjadi Proaktif”

Unsur kedua dari HRDD membuat penilian resiko terhadap hak asasi manusia. Unsur tersebut mempertimbangkan akibat-akibat negatif yang mungkin muncul dari kegiatan-kegiatan yang direncanakan dan diusulkan untuk individu dan masyarakat, dan menentukan prioritas tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi resiko-resiko tersebut. Jika penilaian resiko tidak berdasarkan identifikasi yang tepat, maka akan menghasilkan wilayah-wilayah yang seharusnya prioritas dapat menjadi tak tersentuh. Berikut adalah ringkasan tentang pokok panduan mengenai proses menilai dampak:

60

a. Memahami dampak-dampak pada hak asasi manusia; b. Membedakan ragam proses dari penilaian dampak; c. Melakukan pemetaan resiko hak asasi manusia; d. Melibatkan fungsi manajemen resiko yang ada;

e. Mengidentifikasi resiko-resiko terhadap hak asasi manusia;

f. Memprioritaskan tindakan-tindakan untuk mengurangi resiko tersebut;

g. Menggunakan hasil-hasil penilaian dalam operasi bisnis.

3. Integrasi “Tidak Sekedar Bicara”

Ketika harapan dibangun (kebijakan), dan area-area prioritas untuk uji tuntas hak asasi manusia perusahaan diidentifikasi (penilaian dampak), elemen yang berikutnya adalah mulai menyelenggarakan proses untuk bisa menangani secara efektif dan mengurangi resiko-resiko yang ada. Pada intinya hal ini merupakan penerapan hak asasi manusia pada sistem-sistem manajemen, meliputi pelatihan, penilaian kinerja, sistem bonus, kebijakan dari manajemen atas, sistem kontrol dan pengawasan, dan sebagainya.81 Berikut adalah pokok panduan integrasi HAM dalam operasi bisnis perusahaan:

a. Memberikan tanggung jawab untuk hak asasi manusia; b. Mengatur kepemimpinan dari atas;

81

Business & Human Rights Initiative (2010), “How to Do Business with Respect for Human Rights: A Guidance Tool for Companies,” The Hague: Global Compact Network Netherlands. H. 79.

61

c. Melibatkan hak asasi manusia dalam proses perekrutan dan pemberian kerja;

d. Membuat hak asasi manusia menjadi sebuah bagian yang tidak terpisahkan dari budaya perusahaan;

e. Melatih manager dan karyawan utama; f. Membangun insentif dan disinsentif;

g. Membangun kapasitas untuk menanggapi dilema dan kondisi yang tidak bisa diperkirakan;

4. Melacak Kinerja “Mengetahui dan Menunjukan”

Unsur keempat dari uji tuntas hak asasi manusia adalah untuk melacak bagaimana perusahaan memelihara komitmennya dalam menghormati hak asasi manusia. Perusahaan harus melaporkan kinerjanya dan mengambil pelajaran dari laporan tersebut bagi siklus atau proyek bisnis mendatang. Seperti halnya penilaian dampak, proses ini digerakan oleh resiko-resiko aktual dan potensial terbesar perusahaan terkait dengan hak asasi manusia. Hal ini, kemudian akan diarahkan oleh kebijakan hak asasi manusia perusahaan, hasil dari penilaian dampak, dan pelajaran yang didapat dari fase integrasi. Untuk sejumlah perusahaan, melacak kinerja meliputi pengawasan dan audit terhadap pemasok, pelanggan dan rekan-rekan bisnis lainnya.

Pokok utama dari unsur melacak kinerja ini adalah:

62

b. Membuat indikator kinerja utama yang spesifik bagi perusahaan; c. Mempertimbangkan jenis-jenis indikator yang berbeda;

d. Melacak kinerja pemasok dan hubungan-hubungan lainnya;

e. Melakukan verifikasi kinerja dengan menggunakan beragam instrumen;

f. Mempertimbangkan bagaimana melaporkan kinerja;

g. Mempertimbangkan bagaimana memperbaharui kinerja dan uji tuntas hak asasi manusia.

5. Mekanisme Penanganan Keluhan “Peringatan Dini Solusi Efektif”

Ketika ada sesuatu yang salah dan orang-orang terkena dampaknya secara negatif karena apa yang dilakukan oleh perusahaan, hal-hal tersebut harus diperbaiki. Mekanisme untuk memperbaiki situasi-situasi seperti ini bukanlah hal yang baru bagi perusahaan. Perusahaan mungkin menerapkan kebijakan pelapor tindak pidana/pengungkap aib (whistleblower) di seluruh bagian, proses penanganan keluhan, sistem orang kepercayaan, jejaring pendukung bisnis, dan sebagainya. Akan tetapi, hal-hal tersebut kebanyakan untuk pemangku kepentingan internal, sedangkan Ruggie telah menyatakan bahwa semua pemangku kepentingan yang terkena dampak kegiatan-kegiatan perusahaan harus mempunyai akses ke mekanisme penanganan keluhan, karena perusahaan mempunyai peran yang penting untuk dimainkan dalam menyediakan akses ke

63

mekanisme ini, perusahaan bisa melakukan evaluasi ulang terhadap penggunaan mekanisme penanganan keluhan mereka yang ada sekarang.82

Berikut adalah pokok unsur kelima dari HRDD:

a. Mengambil manfaat penuh dari mekanisme penanganan keluhan; b. Membuat analisa kesenjangan tentang mekanisme penanganan

keluhan yang ada;

c. Menyesuaikan mekanisme penanganan keluhan dengan prinsip- prinsip Ruggie;

d. Mempertimbangkan bagaimana berkontribusi pada mekanisme bagi pemangku kepentingan eksternal;

e. Mengintegrasikan mekanisme penanganan keluhan pada manajemen pemangku kepentingan;

f. Memperbaiki efektifitas mekanisme penanganan keluhan.

Uji Tuntas HAM oleh perusahaan yang ada dalam NAP tersebut dapat dijadikan acuan oleh OJK untuk mewajibkan perusahaan grup menempatkan audit HAM tersebut dalam setiap laporan tahunan sehingga masyarakat dan pemegang saham mengetahui perbuatan perusahaan yang menghormati HAM.

Berikutnya hal yang luput dari perhatian para pemrakarsa implementasi UNGP dalam oleh perusahaan Indonesia adalah bahwa semangat ini melibatkan perusahaan

82

Business & Human Rights Initiative (2010), “How to Do Business with Respect for Human

64

yang tolok ukur utama mereka adalah profit, sehingga persoalan HAM menjadi nomor sekian, maka dari itu perlu upaya memasukkan HAM menjadi salah satu tolok ukur perusahaan untuk mengejar profit. Perusahaan sangat bergantung pada pasar, maka perubahan struktur pasar dengan menyisipkan penghormatan HAM dapat menjadi jalan logis perusahaan menghormati HAM.

Perubahan struktur pasar tersebut dapat dilakukan dengan kampanye untuk menyadarkan masyarakat mengenai bahaya perusahaan yang memproduksi suatu barang dengan tidak memperhatikan hak asasi manusia. Produk yang dihasilkan dengan cara tidak fair tentu dapat menekan cost produksi sehingga dapat ditetapkan harga yang murah. Harga murah akan mendongkrak minat konsumen membeli barang tersebut, namun perlu dipahami, bahwa penjatuhan minat pada produk yang tidak menghormati HAM tersebut secara tidak langsung melanggengkan praktik pelanggaran HAM yang dilakukan perusahaan kepada manusia dibelahan bumi lain. Bahkan di daerah lain yang masih satu negara.

Selain itu, ketergantungan akan pembelian produk murah perusahaan pelanggar HAM akan berimbas pada konsumen itu sendiri. Sebagai contoh perusahaan yang bergerak di bidang pulp and paper dan menghasilkan tissue mengambil bahan baku dari hutan Sumatera, Riau, dan Kalimantan. Produk tersebut dijual dengan harga murah karena dilakukan dengan cara pembakaran hutan dan pembalakan liar. Masyarakat yang hanya menjatuhkan indikasi harga murah untuk membeli, tanpa sadar telah berkontribusi pada semakin menyengatnya panas terik matahari di

65

Indonesia. Pelepasan emisi yang dilakukan akibat operasionalisasi perusahaan tersebut menjadi faktor menipisnya lapisan ozon sehingga terjadi pemanasan bumi yang justru merugikan masyarkat.

Jika saja masyarakat diberikan kesadaran mengenai dampak akibat penjualan produk yang melanggar HAM, maka minat konsumen untuk membeli barang dari perusahaan pelanggar HAM akan berkurang. Jika pengurangan tersebut terjadi secara masif, maka mau tidak mau perusahaan akan memberlakukan prinsip bisnis yang menghormati HAM dalam kegiatan operasionalisasinya.

Upaya legal dengan melibatkan OJK dengan memanfaatkan kewajiban GCG untuk memberlakukan prinsip bisnis yang menghormati HAM, serta upaya sosial berupa kampanye penyadaran masyarakat dapat menjadi kombinasi efektif sebagai

66

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Dari pembahasan pada bab-bab di atas, penulis dapat menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. United Nations Guiding Principle on Business and Human Rights (UNGP) merupakan dokumen internasional yang bersifat voluntary binding, sehingga status hukumnya di Indonesia juga bersifat voluntary yakni berlaku secara sukarela. Akibat kekuataan kesukarelaannya, UNGP saat ini masih hanya menjadi sebuah pedoman standar tentang bagaimana bisnis yang menghormati hak asasi manusia. Meskipun keberlakuannya masih sukarela, telah terdapat beberapa perusahaan yang mengintegrasikan amanah UNGP dalam bisnis mereka. Untuk meningkatkan keberlakuan UNGP menjadi

legally binding, maka diperlukan langkah pemerintah untuk menyerap atau mengadopsi amanah yang ada dalam UNGP ke dalam peraturan perundang- undangan di setiap tingkatan. Baik di undang-undang sampai ke peraturan kementerian bahkan peraturan daerah. Dengan diadopsi menjadi hukum nasional, maka keberlakuan UNGP berlaku mengikat dan wajib dijalankan oleh setiap perusahaan di Indonesia.

67

2. Formulasi adopsi UNGP agar berlaku secara legal di Indonesia adalah dengan mengadopsi nya dalam bentuk peraturan presiden. Peraturan presiden adalah bentuk hukum paling baik untuk jangka pendek, karena mekanisme pembuatannya yang tidak memerlukan proses politik yang rumit di DPR. Selanjutnya, dari peraturan presiden tersebut memerintahkan kepada lembaga negara terkait untuk membentuk aturan guna merealisasikan peraturan presiden tersebut. Salah satunya adalah OJK. Mengingat OJK merupakan lembaga yang berwenang di bidang pasar modal dan mengikat seluruh perusahaan group di Indonesia, maka OJK dapat mengacu kepada peraturan presiden tersebut untuk membuat peraturan OJK mengenai bisnis yang menghormati manusia, dengan menyisipkannya menjadi bagian dari aturan GCG. Untuk jangka panjang, UNGP dapat dimasukkan ke dalam beberapa peraturan perundang-undangan. Seperti RUU Pertanahan, RUU CSR, dan berbagai RUU lain yang terkait.

B. Saran

Dalam pembahasan pada bab-bab di atas, penulis memiliki saran sebagai berikut: 1. Pemerintah memrakarsai adopsi terhadap UNGP ke dalam peraturan

perundang-undangan Indonesia dalam bentuk peraturan presiden untuk jangka pendek. Mendorong OJK sebagai pihak yang pertama kali membuat aturan internal untuk mengikat semua perusahaan grup agar terjangkau dari prinsip UNGP. Serta diikuti oleh lembaga lain baik

68

kementerian maupun non kementerian. Untuk jangka panjang, pemerintah dan DPR harus menggunakan pendekatan HAM dalam merevisi dan membuat UU yang terkait bidang bisnis seperti UU Pertanahan, UU Pertambangan, UU CSR, dan lain sebagainya.

2. Tanggung jawab penghormatan HAM oleh dunia bisnis harus dipublikasikan oleh perusahaan grup agar mudah dikontrol masyarakat, sehingga masyarakat juga dapat menilai dan memberi insentif serta disinsentif sosial terhadap perusahaan yang baik dalam penerapan prinsip bisnis dan HAM.

3. Akademisi, aktivis, dan LSM yang bergerak di bidang HAM mendorong agar diskursus tentang bisnis yang menghormati hak asasi manusia semakin meluas agar pemahaman masyarakat terkait tema a quo semakin mapan, sehingga adopsi kebijakan dapat lebih mudah diterima di masyarakat.

69

DAFTAR PUSTAKA Literatur

Almanar, Adila Alin. Tanggung Jawab Perusahaan untuk Menghormati Hak Asasi Manusia. (Jakarta: United Nations Human Rights Office of the High Commissioner ELSAM. 2014

Alston, Philip. A Third Generation of Solidarity Rights: Progressive Development or Obfuscation of International Human Rights Law. Amsterdam: Netherlands International Law. 1982

Ashshofa, Burhan. Metode Penelitian Hukum. Jakarta: PT Rineka Cipta. 2004

Asshiddiqie, Jimly dan Ali Safa’at. Teori Hans Kelsen Tentang Hukum. Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI. 2006. Ballard, Crish. Human Rights and the Mining Sector in Indonesia: A Baseline Study.

Canberra: MMSD. 2001

Bedjaoui, Mohammed. The Difficult Advance of Human Rights Towards Universality, in Universality of Human Rights in a Pluralistic World.

European Community. 1990.

Black, Henry Campbell. Black’s Law Dictionary. New York: Minn West Publishing. 1968

Braithwaite, John. Corporations, Crime, and Accountability. Cambridge: Cambridge University Press. 1993.

Dirdjosisworo, Soedjono. Hukum Perusahaan mengenai Bentuk-Bentuk Perusahaan (Badan Usaha) di Indonesia. Cetakan I. Bandung: CV Mandar Maju. 1997 Djojodirdjo, MA Moegni. Perbuatan Melawan Hukum. Jakarta: Pradnya Pramita.

1979

ELSAM. Terjemahan United Nation Guiding Principle on Business and Human Rights; Framework to Protect, Respect, and Remedy. Jakarta: Elsam. 2012 Elsam dan OECD. Panduan OECD bagi Perusahaan-Perusahaan Multinasional.

Edisi 2011. Jakarta: ELSAM. 2015

Fuady, Munir. Perseroan Terbatas Paradigma Baru. Bandung: PT Citra Aditya Bakti. 2003

Global Compact Network Netherlands. Business & Human Rights Initiative (2010), How to Do Business with Respect for Human Rights: A Guidance Tool for Companies. Amsterdam: The Hague. 2010

70

Harahap, M. Yahya. Hukum Perseroan Terbatas. Jakarta: Sinar Grafika. 2011

Henkin, Louis. The International Bill Of Rights: The Universal Declaration and the Covenants. International Enforcement of Human Rights. 1987.

Human Rights Research Center ASEAN. Business and Human Rights in ASEAN A Baseline Study. Depok: HRRCA. 2011

Ifdhal Kasim. Tanggung Jawab Perusahaan terhadap Pemenuhan Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya. Komnas HAM. 2010

IWGIA European Network On Indigenous Peoples. Business And Human Rights; Interpreting The Un Guiding Principles For Indigenous Peoples. Report 16. 2014

June, Nash and Max Kirsch. Corporate Culture and Social Responsibility: The Case Toxic Wastes in a New England Community. Maryland: University Press of America. 1994

Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance. Pedoman Komisaris Independen dan Pedoman Pembentukan Komite Audit Yang Efektif. Jakarta: Gugus Kerja Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance. 2004

Marzuki, Peter Mahmud. Penelitian Hukum. Jakarta: Kencana. 2010

Mulyana, Asep. Mengintegrasikan HAM ke Dalam Kebijakan dan Praktik Perusahaan. Yogyakarta: FH UGM. 2012

Nasarudin, M. Irsan & Indra Surya. Aspek Hukum Pasar Modal Indonesia. Jakarta: Kencana. 2004

Nasution, Bismar. Hukum Kegiatan Ekonomi (I). Bandung : Books Terrace & Library. 2007

Neglia, Maddalena. The Implementation of U.N. Guiding Principles on Business and Human Rights: Some Reflections on European and US Experiences.

Maastricht: The Author. 2014

Oberg, Marko Divac. The Legal Effect of Resolution of The UN Security Council and General Assembly in The Jurisprudence of The ICJ. 16 Eur.J.Int’l.L. 2006 Oliver, M.S, and E.A Marshall. Company Law; Handbooks, twelfth edition.

Singapore: Pitman Publishing. 1998

Prihandono, Imam. Kerangka Hukum Pengaturan Bisnis dan HAM di Indonesia.

Jakarta: ELSAM. Tidak ada tahun.

Pound, Roscoe. Pengantar Filsafat Hukum. Jakarta: Bhatara. 1996

Rizki, Rudi M. Tanggung Jawab Korporasi Transnasional dalam Pelanggaran Berat HAM. Jakarta: PT Fikahati Aneska. 2012

71

Sastrawidjaja, Man S. dan Rai Mantili. Perseroan Terbatas menurut Tiga Undang- undang. Jilid 1. Bandung: PT Alumni. 2007.

Soekanto, Soerjono. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: Universitas Indonesia Press. 1986

Soekanto, Soerjono dan Marmudji. Pengertian Hukum Normatif Suatu Tindakan Singkat. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. 2004

Sulistyowati. Aspek Hukum dan Realita Bisnis Perusahaan Grup di Indonesia.

Jakarta: Erlangga. 2010

Sukadi, Imam. Jurnal Risalah Hukum: Matinya Hukum dalam Proses Penegakan Hukum di Indonesia. Samarinda: FH Universitas Mulawarman. 2011 Surya, Indra & Ivan Yustiavanda. Hukum Perseroan Terbatas. Jakarta : PT Kencana

Prenada Media Group. 2006

Tjager, I Nyoman. Corporate Governance, Tantangan dan Kesempatan Bagi Komunitas Bisnis Indonesia. Jakarta: Prenhalindo. 2003.

UNHRC. Guiding Principles on Business and Human Rights, Implementing the

United Nations “Protect, Respect, and Remedy” Framework. 2011

Usman, Rachmadi. Dimensi Hukum Perusahaan Perseroan Terbatas. Bandung: PT Alumni. 2004

Vasak, Karel. A 30-Year Struggle: The Sustained Efforts to Give Force of Law to the Universal Declaration of Human Rights. Unesco Courier. 1977

Walker, David M. Oxford Law Dictionary. Oxford: Clarendon Press. 1980

Widjaja, I.G Rai. Hukum Perusahaan Perseroan Terbatas. Jakarta: Megapoin. 2000 Yani, Ahmad dan Gunawan Widjadja, Seri Hukum Bisnis Perusahaan. Jakarta: PT.

Dokumen terkait