IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
20. Foto-foto kegiatan
Kumbung inkubasi Kukupu Termometer bola kering dan bola basah
Baglog sampel Baglog yang terkontaminasi jamur oncom
Tutupan miselium 25% Tutupan miselium 50% Tutupan miselium 75%
Kumbung budidaya Kukupu Tutupan miselium 100%
Pada Dua Kondisi Suhu dan Kelembaban Berbeda. Dibimbing oleh IMPRON.
Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) adalah salah satu jamur yang populer dibudidayakan dengan menggunakan teknologi kontrol iklim mikro yang dilakukan di rumah jamur (kumbung), di dataran tinggi, misalnya di Pandan Sari (437mdpl), maupun di dataran rendah, misal di Kukupu (169mdpl). Berdasarkan pengamatan selama 88 hari di Pandan Sari, diperoleh data suhu rata-rata di kumbung inkubasi terukur sebesar 27.4oC, sedangkan suhu rata- rata di rumah jamur budidaya terukur sebesar 26,7oC. Kelembaban relatif di dalam kumbung inkubasi terhitung sebesar 87% sedangkan kelembaban relatif di dalam kumbung budidaya terhitung sebesar 88%. Berdasarkan pengamatan selama 70 hari di Kukupu, diperoleh data suhu rata-rata di kumbung inkubasi terukur sebesar 28,5oC, sedangkan suhu rata-rata di dalam kumbung budidaya terukur sebesar 27,7oC. Kelembaban relatif di dalam kumbung inkubasi terhitung sebesar 82%, sedangkan di dalam kumbung budidaya terhitung sebesar 86%. Heat unit fase miselium di Pandan Sari terhitung sebesar 974,6 derajat hari, sedangkan heat unit di Kukupu terhitung sebesar 907,0 derajat hari. Heat unit fase pembentukkan tubuh buah di Pandan Sari terhitung sebesar 652,9 derajat hari, sedangkan heat unit di Kukupu terhitung sebesar 494,3derajat hari. Perbedaan nilai heat unit yang cukup tinggi (koefisien variasi 6,9% untuk fase miselium dan 24,3% untuk fase pembentukkan tubuh buah) pada kedua lokasi disebabkan oleh pengamatan yang dilakukan setiap tujuh hari sehingga nilai heat unit kehilangan resolusinya. Suhu rata-rata harian di Kukupu yang lebih tinggi daripada di Pandan Sari yang menyebabkan perkembangan jamur tiram di Kukupu lebih cepat daripada di Pandan Sari. Perkembangan jamur tiram yang lebih cepat di Kukupu mengakibatkan bobot rata-ratanya lebih ringan dibandingkan dengan jamur tiram yang dibudidayakan di Pandan Sari
White oyster mushroom (Pleurotus ostreatus) is one of the popular mushroom that is cultivated by using the micro-climate control technology which is made in the mushroom house (kumbung), in the highlands, such as the one in Pandan Sari (437mdpl), and also like the one in the lowlands such as in Kukupu (169mdpl). Based on the observations that was held for 88 days in Pandan Sari, the average temperature measured in the incubating house was 27.4oC, while the average temperature measured in the cultivation house was 26.7oC. The relative humidity recorded in the incubation house was around 87% while the relative humidity recorded in the cultivation house was around 88%. Based on the 70-days observations in Kukupu, the average temperature measured in incubating house was 28.5°C, while the average temperature measured in the cultivation was 27.7oC. The relative humidity recorded in the incubation house was around 82%, while the relative humidity recorded in the cultivation house was around 86%. The accounted mycelial phase`s heat unit in Pandan Sari were 974.6 degree days, while the accounted heat units in Kukupu were 907.0 degree days. The accounted heat units of fruiting body formation phases in Pandan Sari were 652.9 degree days, while the accounted heat units in Kukupu were 494.3 degree days. The differences of heat unit value is quite high (6.9% coefficient of variation in mycelium phase and 24.3% in fruiting body formation phase) at both locations due to the observations that was held for every seven days so that the measured heat unit lost its resolution. The average daily temperature in Kukupu is higher than in Pandan Sari, this leads to faster development of oyster mushrooms in Kukupu rather than the ones in Pandan Sari. Faster development of oyster mushrooms in Kukupu resulted in lighter average weight than the ones cultivated in Pandan Sari Keywords: heat unit, oyster mushrooms, mushroom house, the mycelium
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Jamur merupakan komoditas pertanian yang sejak lama diminati di berbagai negara. Negara-negara seperti Taiwan, Amerika Serikat, Jepang, Cina dan Perancis dikenal sebagai negara penghasil jamur (Saskiawan dan Sastraatmadja 1992). Teknis budidaya yang tidak terlalu sulit dan kandungan nutrisi yang tinggi pada jamur membuat budidaya jamur menjadi salah satu usaha yang menjanjikan keuntungan (Chazali dan Pratiwi 2009).
Jamur tiram (Pleurotus sp) merupakan spesies jamur yang digemari oleh masyarakat Indonesia. Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) pertama kali dibudidayakan di Indonesia pada tahun 1900 dan jamur tiram kelabu (Pleurotus sajorcaju) pada tahun 1974 (Gunawan 2000). Budidaya jamur tiram umumnya memanfaatkan limbah organik dari sisa-sisa tumbuhan seperti serbuk gergaji, kapas, atau kayu-kayu yang telah lapuk sehingga dapat dikatakan bahwa budidaya jamur tiram merupakan usaha pemanfaatan limbah (Naiola 1993).
Jamur tiram di alam biasanya tumbuh di bawah naungan kanopi dan hidup di batang kayu yang telah lapuk (Wartaka 2006). Lingkungan alami jamur tiram berada di daerah dataran tinggi. Budidaya jamur tiram yang dilakukan secara modern, biasanya dilakukan di dalam rumah jamur/ kumbung. Kumbung dibuat untuk mengendalikan kondisi iklim mikro di dalamnya. Kumbung dapat menjaga suhu dan kelembaban serta melindungi jamur dari radiasi matahari yang dapat menghambat pertumbuhan tubuh buah (Trubus 2010).
Secara fisiologi, pertumbuhan jamur tiram sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim. Perencanaan dan pemilihan lokasi yang memiliki karakteristik iklim mikro yang tepat menjadi penting agar kualitas dan kuantitas produksi jamur tiram terjaga (Parjimo dan Andoko 2007). Pemilihan lokasi budidaya akan berpengaruh terhadap usaha pengendalian iklim mikro di dalam kumbung. Pada awalnya, jamur tiram memang
mikro yang tidak sesuai dengan syarat tumbuh jamur tiram, kumbung yang dibangun harus memiliki bentuk yang dapat memberikan kondisi iklim mikro yang sesuai dengan syarat tumbuh jamur tiram (Trubus 2010). Menurut Suriawiria 2002, penyiraman bagian dalam kumbung secara rutin dan mengaturan sirkulasi udara di dalam kumbung juga dapat mendukung terkendalinya kondisi iklim mikro agar sesuai dengan syarat tumbuh jamur tiram. 1.2 Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk : 1. Menganalisa perbedaan suhu dan
kelembaban di dalam dan di luar kumbung inkubasi dan kumbung budidaya jamur tiram putih.
2. Menghitung jumlah satuan panas (heat unit) pada setiap fase pertumbuhan jamur tiram putih.
3. Menganalisa pengaruh perbedaan suhu dan kelembaban terhadap laju pertumbuhan dan produktsi jamur tiram putih.
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jamur Tiram
2.1.1 Morfologi dan fisiologi jamur tiram
Jamur tidak memiliki klorofil dan bersifat saprofitik atau parasitik. Jamur yang bersifat saprofitik hidup pada sisa makhluk lain yang telah mati, misalnya pada tumpukan sampah, batang kayu, atau serbuk gergaji. Sedangkan jamur yang bersifat parasitik hidup menumpang pada jasad makhluk hidup lain dan biasanya menjadi penyebab penyakit (Suriawiria 2002). Jamur tiram termasuk ke dalam kelas jamur basidiomycetes atau jamur yang memiliki tubuh buah. Berikut ini adalah taksonomi jamur tiram (Parjimo dan Andoko 2007) : Kingdom : Fungi Divisi : Amastigomycota Sub-divisi : Basidiomycotae Kelas : Basidiomycetes Ordo : Agaricales Famili : Agaricaeae Genus : Pleurotus
Gambar 1 Siklus hidup Basidiomycetes (Sumber : wikispaces.psu.edu 2012
).
Parjimo dan Andoko (2007) menyebutkan bahwa batang jamur tiram tidak tepat berada di bawah tudung tetapi agak menyamping. Tubuh buah pada jamur tiram tidak bersifat tunggal tetapi membentuk rumpun dan memiliki banyak percabangan. Saat tubuh buah sudah tua, daging buah akan menjadi liat dan keras.
Gambar 2 Jamur tiram putih (Sumber : dokumentasi pribadi).
2.1.2 Pertumbuhan dan perkembangan jamur tiram
Jamur tiram merupakan jamur tingkat tinggi yang mengalami siklus hidup. Setiap siklus hidup memiliki bentuk yang berbeda. Suriawiria (2002) menjelaskan tahap-tahap siklus hidup jamur tiram adalah sebagai berikut :
2.Miselium
Miselium terbentuk dari spora yang tumbuh pada keadaan lingkungan yang mendukung. Pertumbuhan miselium meliputi dua tahap yaitu miselium primer dan miselium sekunder.
3.Primordial
Primordial adalah fase diantara miselium dan tubuh buah dewasa. Primordial berbentuk seperti bintik- bintik kecil yang muncul dari miselium. Bentuk primordia juga disebut pin head.
4.Tubuh buah dewasa
Tubuh buah dewasa berbentuk seperti payung bulat dan agak mirip cangkang tiram. Tubuh buah dewasa memiliki kemampuan untuk menghasilkan spora.
2.1.3 Kandungan gizi jamur tiram Jamur tiram termasuk komoditas yang tidak menggunakan pupuk dan pestisida anorganik sehingga aman untuk dikonsumsi. Menurut Patil et al. (2010), jamur tiram merupakan sumber protein, mineral (Ca, P, Fe, K, dan Na), vitamin C, dan B kompleks (tiamin, riboflavin, asam folat dan niasin). Nutrisi pada jamur tiram bahkan dianggap setara dengan obat-obatan. Jamur tiram mengandung kalium dan natrium yang membuatnya menjadi makanan ideal bagi
digunakan untuk melawan diabetes. Menurut Chazali dan Pratiwi (2009), jamur tiram memiliki manfaat yang baik bagi tubuh, diantaranya :
1. Jamur tiram mengandung sembilan asam amino esensial yang baik bagi tubuh.
2. Jamur tiram dapat digunakan sebagai suplemen untuk diet karena mengandung lignoselulosa yang baik bagi pencernaan.
3. Jamur tiram baik digunakan sebagai makanan alternatif karena kandungan gizinya tinggi dan rendah kolesterol. 4. Kandungan senyawa pluran dalam
jamur tiram berkhasiat sebagai antitumor dan antioksidan.
2.1.4 Syarat tumbuh
Syarat tumbuh jamur tiram memiliki beberapa parameter yaitu suhu udara, kelembaban relatif, cahaya dan sirkulasi udara. Parameter tersebut memiliki pengaruh yang berbeda terhadap setiap fase atau tingkatan (Widyastuti dan Tjokrokusumo 2008). Kondisi lingkungan bagi pertumbuhan jamur tiram (Pleurotus sp.) berbeda bergantung pada fase yang sedang berlangsung. Pada fase miselium suhu yang dibutuhkan lebih tinggi dibandingkan pada fase primordial dan fase pembentukkan tubuh buah (Parjimo dan Andoko 2007).
Jamur tiram cocok dibudidayakan di dataran tinggi. Lokasi yang bisa digunakan untuk budidaya jamur tiram terletak pada ketinggian 300-1200 mdpl dan yang paling baik adalah pada ketinggian 700 mdpl. Kemiringan lokasi juga tidak melampaui 45o dan dikelilingi kawasan hijau (Widyastuti dan Tjokrokusumo 2008). Namun, dengan teknologi yang tepat, jamur tiram juga dapat tumbuh di dataran rendah (Trubus 2010). 2.2 Pengaruh Kondisi Lingkungan
Terhadap Pertumbuhan Jamur Tiram Kondisi lingkungan merupakan faktor yang penting bagi pertumbuhan jamur tiram. Faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan jamur tiram adalah suhu, kelembaban relatif, intensitas cahaya, dan
lama penyinaran matahari, kemiringan sinar matahari, keadaan awan dan jenis tutupan permukaan.
Pertumbuhan dan perkembangan tanaman membutuhkan suhu yang sesuai berdasarkan kondisi fenologinya. Kecepatan pertumbuhan tanaman meningkat seiring dengan meningkatnya suhu. Namun, kondisi ini bukanlah tanpa batas. Kondisi fenologi tanaman mempunyai batas suhu yang dapat ditoleransi. Saat melewati suhu maksimum yang dapat ditoleransi, pertumbuhan tanaman akan menurun bahkan akan mencapai titik nol (Seeman et al 1979).
Menurut Iqbal et al (2005), fase miselium, jamur tiram yang dibudidayakan pada medium serbuk kayu dapat tumbuh pada suhu 22-28oC. Menurut Susilawati dan Budi Raharjo (2010), untuk mempercepat pertumbuhan miselium, suhu kumbung inkubasi harus dipertahankan sebesar 25- 33oC. Menurut Suriawiria (2002), pada fase primordial dan pembentukkan tubuh buah dibutuhkan suhu 21-27oC.
2.2.2 Kelembaban relatif (RH)
Kelembaban udara adalah banyaknya uap air yang terkandung di atmosfer. Besarnya tergantung dari masuknya uap air ke dalam atmosfer karena adanya penguapan dari air yang ada di lautan, danau, sungai, maupun dari air tanah. Disamping itu juga terjadi penguapan yang berasal dari tumbuhan yaitu proses evapotranspirasi. Sedangkan banyaknya air di dalam udara bergantung pada beberapa faktor, yaitu ketersediaan air, sumber uap, suhu udara, tekanan udara, dan angin (Wirjohamidjojo dan Swarinoto 2007 dalam Swarinoto dan Sugiyono 2011).
Jumlah kandungan uap air di udara diukur menggunakan higrometer atau menggunakan psikrometer. Pengukuran dengan metode psikrometer menggunakan termometer bola basah disamping menggunakan termometer bola kering. Mengukur kelembaban relatif menggunakan psikrometer lebih mudah dilakukan karena tidak memerlukan kalibrasi (McIlveen 1986).
Kebutuhan jamur tiram terhadap kelembaban relatif dipengaruhi oleh fase
yang dominan mendapatkan sumber air dari mediumnya, jamur tiram memperoleh sumber air dari kelembaban relatif udara. Jika kelembaban relatif udara rendah jamur tiram akan menjadi kering dan keriput. Hal ini bisa berdampak langsung pada bobot panen jamur tiram.
Gambar 3 Termometer bola kering dan termometer bola basah (Sumber : dokumentasi pribadi).
Pengendalian kelembaban relatif di dalam kumbung budidaya dilakukan dengan proses penyiraman. Penyiraman dilakukan saat nilai kelembaban relatif mengalami penurunan. Kondisi iklim mikro lingkungan kurang sesuai bisa menyebabkan terjadinya penurunan nilai kelembaban relatif. Jamur tiram yang dibudidayakan di daerah dengan kelembaban relatif rendah memerlukan penyiraman yang lebih sering dibandingkan yang tumbuh di daerah lembab.
2.2.3 Intensitas cahaya
Menurut Widyastuti dan Tjokrokusumo (2008), pertumbuhan miselium jamur tiram akan lebih cepat pada kondisi gelap sehingga kumbung inkubasi dikondisikan memiliki intensitas cahaya yang rendah. Fase primordial dan fase pembentukkan tubuh buah, jamur tiram membutuhkan cahaya sebanyak 60-70%. Cahaya yang dibutuhkan jamur tiram bukanlah cahaya dari sinar matahari langsung. Sinar matahari langsung dapat menyebabkan pertumbuhan jamur tiram melambat bahkan mati.
2.2.4 Sirkulasi udara
dari bilik bambu juga memiliki peranan untuk mengatur sirkulasi udara di dalam kumbung. Sirkulasi udara membantu distribusi suhu dan kelembaban relatif sehingga kondisi lingkungan di dalam kumbung menjadi sesuai dengan syarat tumbuh jamur tiram.
2.3 Kumbung Jamur/ Rumah Jamur Habitat asli jamur tiram adalah hutan di daerah pegunungan yang sejuk. Mengacu pada kondisi habitat aslinya, daerah yang paling ideal untuk budidaya jamur tiram adalah dataran menengah sampai dataran tinggi. Namun, hal tersebut bukan menjadi kendala jika mampu melakukan modifikasi lingkungan. Modifikasi kondisi lingkungan seperti suhu dan kelembaban dilakukan di dalam kumbung jamur/ rumah jamur (Trubus 2010).
Kumbung jamur/ rumah jamur dibangun untuk menjaga kondisi lingkungan di dalamnya. Kumbung jamur dibedakan menjadi dua, yaitu kumbung inkubasi dan kumbung budidaya. Kumbung inkubasi digunakan untuk merangsang pertumbuhan jamur pada fase miselium, sedangkan kumbung budidaya digunakan untuk merangsang pertumbuhan jamur pada fase primordial dan fase pembentukkan tubuh buah (Trubus 2010).
Kumbung inkubasi dibangun untuk mempertahankan suhu agar tetap hangat sedangkan kumbung budidaya dibangun untuk mengendalikan suhu agar tetap rendah dan kelembaban tinggi dengan cara melakukan penyiraman pada lantai dan dindingnya serta melakukan pengaturan sirkulasi udara (Khonga 2003). Menurut Trubus (2010), konstruksi kumbung jamur perlu memperhatikan kondisi iklim mikro di lingkungan sekitarnya. Kumbung jamur yang dibangun di daerah dengan suhu rata-rata harian yang tinggi perlu memiliki ventilasi yang lebih banyak dibandingkan kumbung jamur yang dibangun di daerah dengan suhu rata-rata harian yang lebih rendah. Ventilasi akan mendukung sirkulasi yang baik sehingga suhu dapat dikontrol dengan mudah. 2.4 Heat Unit
Ismal (1981) menjelaskan bahwa metode ini merupakan pendekatan antara agronomi dan klimatologi dengan cara melihat hubungan suhu rata-rata harian dengan suhu dasar tanaman. Suhu dasar adalah suhu minimum yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh dan berkembang. Menurut Saxena dan Rai (1994), dalam Nair (1994), suhu dasar jamur tiram adalah 10oC. Dibawah suhu 10oC, jamur tiram tidak bisa mengalami pertumbuhan dan perkembangan.
III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan tempat penelitian
Penelitian ini dilakukan dua tahap yaitu pada bulan April–Juli 2011 di Desa Pandan Sari Gadog Ciawi, Kabupaten Bogor dan pada bulan September–November 2011 di Desa Kukupu, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor.
3.2 Bahan dan Peralatan 3.2.1 Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah termometer bola kering, termometer bola basah, penggaris, alat tulis, timbangan, kamera digital, Global Positioning System (GPS), seperangkat komputer dengan aplikasi Microsoft office dan MINITAB 14.
3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Bibit F2 jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) yang sudah dikemas di dalam 200 baglog steril.
3.2.3 Rancangan percobaan
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji t dua sampel. Uji t dua sampel digunakan untuk menentukan perbedaan kondisi dua sampel yang dibandingkan. Pada penelitian ini, sampel yang dibandingkan meliputi : suhu dan kelembaban di luar dan di dalam kumbung pada kedua lokasi dan bobot panen.
Pada uji t dua sampel, nilai P-Value digunakan untuk menentukan perbedaan kondisi pada kedua sampel. Perbedaan kondisi yang diuji meliputi : P-Value lebih
3.3 Metoda Penelitian 3.3.1 Pengambilan data
Pengambilan data dilakukan di lapangan dalam dua tahap. Tahap pertama dilakukan di Desa Pandan Sari Gadog, Kabupaten Bogor dan tahap kedua dilakukan di Desa Kukupu, Kota Bogor. Pengambilan dua tahap dilokasi yang berbeda bertujuan untuk memperoleh kondisi suhu dan kelembaban yang sangat berbeda.
Data pertumbuhan jamur tiram yang diukur dilapangan, meliputi: data persentase penutupan miselium, dan bobot panen. Data persentase penutupan miselium diukur setiap tujuh hari selama masa inkubasi dan data bobot panen pertama diukur setelah sampel dipanen pada masa budidaya.
Unsur cuaca yang diukur di lapangan adalah suhu bola kering dan suhu bola basah. Pengukuran suhu bola kering dan suhu bola basah dilakukan setiap pukul 08.00, 12.00, dan 16.00. Pengukuran suhu bola kering dan bola basah dilakukan di luar kumbung dan di dalam kumbung.
3.3.2 Analisa data penelitian
a. Pertumbuhan miselium jamur tiram putih
Pertumbuhan miselium jamur tiram putih diukur menggunakan penggaris. Data hasil pengukuran di konversi ke dalam bentuk persentase. Konversi ke dalam bentuk persentase dilakukan karena ukuran baglog jamur yang berbeda-beda. Persentase tutupan miselium jamur pada baglog diperoleh dengan menggunakan rumus :
mise ium tin i mise iumTin i ba o
Kondisi tutupan miselium yang diamati adalah pada saat kurang dari 25%, 25%, 50%, 75 %, dan 100%. Saat tutupan miselium mencapai 100%, baglog jamur dipindahkan ke kumbung budidaya.
b. Suhu udara
Pengukuran suhu bola kering dan suhu bola basah dilakukan di luar dan di dalam kumbung pada pukul 08.00, 12.00, dan 16.00.
hari tersebut dapat ditentukan rumus suhu rata-rata :
T rata-rata = Tmax + Tmin 2
Berdasarkan kalibrasi, nilai suhu rata-rata harian dapat didekati menggunakan rumus:
T rata-rata = ((2*T8)+T12+T16) 4
Suhu udara di luar dan di dalam kumbung dianalisa menggunakan uji t dua sampel untuk menentukan perbedaannya.
c. Kelembaban relatif
Nilai kelembaban relatif diduga dengan menggunakan data hasil pengukuran suhu udara dan suhu bola basah di lapangan. Menurut Ahrens (2007) Nilai kelembaban relatif diperoleh menggunakan rumus :
RH = {ea/es(TBK)}*100% Dimana : ea = es(TBB)-(0,66*(TBK-TBB)) es(TBK) = 6,1078* EXP(17,139*TBK/ (TBK+237,3)) es(TBB) = 6,1078* EXP(17,139*TBB/ (TBB+237,3)) Keterangan :
es : Tekanan uap air jenuh ea : Tekanan uap air aktual TBK : Suhu bola kering (oC) TBB : Suhu bola basah (oC)
Perbedaan nilai kelembaban di kedua lokasi kemudian dianalisa menggunakan uji t dua sampel.
d. Bobot panen
Bobot panen diukur menggunakan timbangan dengan nilai ketepatan 10 gram. Bobot panen yang ditimbang yaitu pada panen pertama. Data bobot panen pada kedua lokasi kemudian diolah menggunakan uji t dua sampel untuk menentukan perbedaannya. e. Heat unit
dasar jamur tiram yang digunakan adalah 10oC. Persamaan yang digunakan untuk menentukan nilai heat unit adalah :
Heat unit = Tmean – Tbase
Sementara untuk menduga akumulasi heat unit pada tanaman pada setiap fase digunakan rumus :
i
Akumulasi heat unit =
∑
HU n=1 Keterangan :HU : Heat unit tanaman hari ke-i Tmean : Suhu udara rata-rata harian Tbase : Suhu dasar tanaman (10oC)
(Saxena dan Rai 1994 dalam Nair 1994)
n : Hari ke-i i : 1, 2, 3, 4, .. f. Koefisien variasi (CV)
Nilai koefisien variasi yang dicari adalah nilai koefisien variasi lamanya fase pertumbuhan dan heat unit. Koefisien variasi digunakan untuk mencari korelasi antara lamanya fase dengan nilai heat unit. Nilai koefisien variasi dicari menggunakan rumus :
CVHU = (HUPS-HUKP) x 100% HUPS
CVLF = (LFPS-LFKP) x 100% LFPS
Keterangan :
CVHU : Koefisien variasi heat unit
CVLF : Koefisien variasi lama fase
HUPS : Heat unit di Pandan Sari
HUKP : Heat unit di Kukupu
LFPS : Lama fase di Pandan Sari
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Lokasi Penelitian
Pada penelitian ini, karakteristik lokasi penelitian ditinjau berdasarkan dua aspek, yaitu kondisi karakteristik lingkungan dan kondisi karakteristik kumbung jamur tiram.
4.1.1 Karakteristik lingkungan
Lokasi penelitian pertama terletak di Jalan Raya Puncak Gadog, tepatnya di desa Pandan Sari Ciawi Bogor. Secara administrasi termasuk dalam wilayah Kabupaten Bogor. Secara geografis, lokasi penelitian terletak pada 6,650o LS dan 106,862o BT dengan ketinggian 437 mdpl. Desa Pandan Sari terletak di bagian timur Kabupaten Bogor. Desa Pandan Sari merupakan desa pertanian yang didominasi oleh pertanian jamur tiram dan padi. Lokasi ini berada di DAS Ciliwung dan diapit oleh saluran-saluran irigasi.
Lokasi penelitian kedua terletak di Kelurahan Cibadak, tepatnya di desa Kukupu Tanah Sareal Bogor. Secara administrasi termasuk dalam wilayah Kota Bogor. Secara geografis, lokasi penelitian terletak pada koordinat 6,544o LS dan 106,776o BT dengan ketinggian 169 mdpl. Desa Kukupu terletak di bagian utara Kota Bogor dan diapit oleh perumahan Tamansari Persada dan Bukit Cimanggu City.
4.1.2 Karakteristik kumbung jamur tiram
Pada lokasi penelitian di Desa Pandan Sari, kumbung inkubasi berukuran panjang 15 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 8 meter. Dinding kumbung inkubasi tidak ditutupi sehingga terkena paparan kondisi lingkungan