• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Lampiran 12 Foto makro ketirusan benda kerja dengan gap 1,0 mm,

Lampiran 13. Foto makro ketirusan benda kerja dengan gap 0,5 mm, tegangan 13 volt dan waktu pemesinan 248 detik

Lampiran 14. Foto makro ketirusan benda kerja dengan gap 0,75 mm, tegangan 13 volt dan waktu pemesinan 248 detik

Lampiran 15. Foto makro ketirusan benda kerja dengan gap 1,0 mm, tegangan 13 volt dan waktu pemesinan 248 detik

Sumardi

Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta, 55183, Indonesia

[email protected]

Abstrak

Electro Chemical Machinining merupakan proses pemesinan yang memanfaatkan prinsip elektrolisis, dimana pada pemesinannya terdapat dua buah logam yaitu anoda (benda kerja) dan katoda (tool) yang direndam dalam suatu wadah yang berisikan cairan elektrolit. Akurasi dari pemesinan ECM dapat dilihat dari nilai MRR, overcut, dan ketirusan yang dipengaruhi oleh tegangan, gap, kosentrasi elektrolit, jenis cairan elektrolit, jenis material benda kerja, dan flow rate elektrolit. Variasi tegangan dan gap sangatlah penting pada proses ECM. Tanpa adanya tegangan dan gap proses pemesinan tidak akan terjadi. Maka dari itu perlu adanya pemilihan variasi nilai tegangan dan gap yang sesuai agar proses pemesinan pada ECM dapat berjalan dengan baik. Mengunakan elektroda tidak terisolasi agar proses pemesinan nya lebih cepat dibanding elektroda terisolasi. Pengujian pemesinan dilakukan dengan membuat lubang diameter 3 mm dengan variasi tegangan dan gap,

pengaruhnya terhadap MRR, overcut, dan ketirusan. Tegangan divariasikan sebesar 7,10,13 volt dan gap divariasikan 0,5, 0,75 ,1 mm. Benda kerja dari bahan stainless steel 304 dengan dimensi 50x40 mm tebal 0,4 mm, dan tool terbuat dari bahan kuningan pejal diameter 3 mm. Dari data yang disajikan didapat nilai MRR terbesar pada gap 0,5 mm dan tegangan 13 volt yaitu 3,30 x 10-4 g/dt, sedangkan nilai MRR terkecil pada gap 1 mm dan tegangan 7 volt yaitu 1,41 x 10-4 g/dt. Nilai overcut

tertinggi yang diperoleh pada pengujian dengan variasi gap 1 mm dan tegangan 13 volt yaitu 1,46 mm, sedangkan nilai overcut

terendah pada gap 1,0 mm dan tegangan 7 volt yaitu 0,45 mm dengan presentase overcut berkisar antara 14,87% sampai dengan 48,69%. Nilai ketirusan tertinggi pada gap 1 mm dan tegangan 13 volt yaitu 21,03o, sedangkan nilai ketirusan terendah pada gap 0.5 mm dan tegangan 7 volt yaitu 0,40o.

Kata Kunci: Electrochemical machining, MRR, overcut, ketirusan, stainlees steel 304

1. Pendahuluan

Electro Chemical Machining (ECM) merupakan salah satu mesin non konvensional yang didasarkan pada proses anodic dissolution dan elektrolisis dengan jenis material benda kerja yang bersifat konduktor. ECM mempunyai kelebihan yaitu bisa melakukan pemesinan dengan jenis material yang keras, tool yang digunakan juga tidak akan aus seperti pada mesin konvensional. Proses tersebut menggunakan prinsip faraday, yaitu jika ada dua logam elektrode direndam dalam larutan elektrolit dan dihubungkan dengan sumber arus DC, maka partikel logam akan terlepas dari anode dan kemudian akan melekat ke cathode. Aliran elektrolit yang cukup kuat akan mencegah partikel logam melekat pada cathode dan akan membuang partikel-partikel tersebut dari area pemesinan [1].

Pada proses ECM ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil pemesinan seperti: beda tegangan (voltage) dimana perbedaan tegangan antara kedua jenis logam tersebut akan menentukan besar-kecilnya arus yang mengalir dalam pemesinan, ukuran diameter pahat, jenis material pahat, jenis cairan elektrolit yang digunakan, jenis material workpiece, dan jarak celah (gap) antara elektroda dan workpiece. Parameter kualitas pemesinan meliputi besarnya nilai toleransi suaian dari dimensi rencana yang akan dibuat (overcut), efek ketirusan, material removal

rate (MRR), serta kualitas tingkat kekasaran permukaan

workpiece setelah di machining [2].

Penelitian lain, menyatakan dari hasil analisis data percobaan pada proses ECM dengan memvariasikan

voltage: 6V, 12V, 24V, 36V, 48V pada kondisi pahat terisolasi dan tanpa isolasi dapat ditarik kesimpulan dengan meningkatnya tegangan, pada penggunaan pahat dengan kondisi tanpa isolasi overcut dan tapering pada lubang yang dihasilkan akan semakin besar tetapi kondisi tersebut berbanding terbalik dengan kondisi terisolasi. Pada penggunaan pahat terisolasi waktu pelubangan yang dihasilkan lebih lama dibandingkan oleh waktu pelubangan yang dihasilkan oleh pahat tanpa isolasi [3].

Overcut didefinisikan sebagai penyimpangan yang menunjukkan bahwa ukuran lubang hasil drilling lebih besar dari ukuran pahat yang digunakan. Pada dasarnya

overcut pada ECM tidak dapat dihilangkan 100%, karena

overcut tetap diperlukan untuk kelangsungan sirkulasi dari cairan elektrolit dan elektroda sebagai pahat tidak boleh bersentuhan dengan benda kerja agar tidak terjadi hubung singkat (short circuit). Namun bila overcut yang dihasilkan terlalu besar maka hal tersebut akan berpengaruh terhadap menurunnya kualitas produk, terutama faktor yang berkaitan dengan ketelitian ukuran maupun geometri produk. Sedangkan ketirusan didefinisikan sebagai sudut yang terbentuk sebagai penyimpangan atau deviasi antara lubang terbesar dan yang terkecil [4].

terisolasi.

2. Metode penelitian

Metodologi penelitian merupakan suatu metode tentang segala kegiatan yang dilakukan dalam suatu penelitian.

A. Benda kerja dan Elektroda

Material yang digunakan sebagai tool sebaiknya bersifat anti-karat, mempunyai konduktivitas termal dan konduktivitas listrik yang baik, serta mudah dilakukan pemesinan sesuai geometri yang dibutuhkan. Aluminium, kuningan, tembaga, karbon, perak, stainless steel, dan monel adalah material yang biasa digunakan sebagai elektroda pada pemesinan ECM. Adapun material tool

elektroda yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuningan pejal berdiameter 3 mm seperti terlihat pada gambar 1.

Benda kerja pada ECM haruslah mampu menghantarkan listrik. Beda potensial yang terkandung dalam unsur benda kerja sangat menentukan terciptanya efisiensi arus dalam pemesinan. Kereaktifan unsur benda kerja juga menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil pemesinan pada benda kerja. Selain itu, benda kerja yang diproses dengan pemesinan ECM adalah benda kerja yang bersifat mampu mendapat perlakuan panas. Adapun material benda kerja yang digunakan dalam penelitian ini adalah stainless steel 304 seperti pada gambar 2.

Gambar 1. Elektroda kuningan tidak terisolasi

Gambar 2. Benda kerja plat stainless steel 304

B. Prosedur Penelitian

Benda kerja di jepit pada penjepit, kemudian tool

ditempelkan tepat pada lubang stiker. Elektrolit diatur dengan kecepatan 3 lpm. Proses pemesinan dimulai dengan mengatur jarak celah (gap) 0.5 mm antara elektroda dan benda kerja. Pemesinan berlangsung selama 248 detik dan elektroda bergerak 0.1 mm ke arah benda

Tegangan listrik 7, 10 dan 13 Volt

Working gap 0,5 mm, 0,75 mm dan 1,0 mm Kecepatan elektrolit 3 LPM

Cairan elektrolit Natrium Chloride (NaCl) Konsentrasi elektrolit 15 % NaCl + 85 % aquades

Tool speed 0,1 mm/60 detik

C. Mesin ECM

Mesin ECM yang digunakan selama penelitian terlihat pada gambar 3.

Gambar 3. Mesin ECM

D. Perhitungan MRR

Material Removal Rate (MRR) adalah jumlah massa material benda kerja yang terkikis per satuan waktu. Secara aktual besarnya MRR dapat dihitung dengan menggunakan persamaan 1 :

MRR =mo−mt

t ……….………. (1)

dimana,

MRR : Material Removal Rate (g/dt)

m0 : Massa benda kerja sebelum pemesinan (gram)

mt : Massa benda kerja setelah pemesinan (gram)

t : Waktu pemesinan (detik)

E. Perhitungan Overcut dan Ketirusan

Overcut didefinisikan sebagai penyimpangan yang menunjukkan bahwa ukuran lubang hasil drilling lebih besar dari ukuran tool yang digunakan. Sedangkan ketirusan didefinisikan sebagai sudut yang terbentuk sebagai penyimpangan atau deviasi antara lubang terbesar dan yang terkecil. Untuk lebih jelasnya overcut dan efek tirus diperlihatkan sesuai skema gambar 4 [4].

Sumbu Y Bak Penyaring Elektroda Stepper Motor Sumbu Z Sumbu X Voltage Regulator PC Area Pemesinan Power Supply Elektrolit Kontroler 2

Gambar 4. Overcut dan efek tirus pada lubang hasil drilling

ECM

Jadi overcut Oc dapat dihitung menggunakan persamaan 2 [4] :

O = d −d ………..…… (2)

Sedangkan ketirusan α dihitung berdasarkan rumus [4]: �= tan− � 2− 0

.h �...……….. (3) dengan,

Oc : overcut, milimeter (mm)

α : ketirusan, derajat (°)

d2 : diameter benda kerja sisi belakang, (mm)

d0 : diameter tool, (mm)

d1 : diameter benda kerja sisi depan, (mm)

h : ketebalan benda kerja, (mm) 3. Hasil dan Pembahasan

A. Hasil Pemesinan ECM

Berikut merupakan benda kerja hasil pemesinan ECM yaitu pembuatan lubang dengan diameter 3 mm dengan variabel yang ditetapkan fraksi massa NaCl 15 % kemudian pemesinan dilakukan dengan memvariasikan jarak celah (gap) antara elektroda dengan benda kerja dan tegangan yang nantinya akan di analisis pengaruhnya terhadap nilai MRR, overcut dan ketirusan. Detail hasil pemesinan seperti terlihat pada gambar 5.

Gambar 5. Benda kerja hasil pemesinan yang telah difoto makro, (a) bagian depan dan (b) bagian belakang

Hasil proses pemesinan ECM dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini dengan ketebalan benda kerja stainless steel 304 yaitu 0,4 mm dan menggunakan tool tidak terisolasi. Proses pemesinan ECM secara detail terdapat di

Pada tabel 2 diatas menjelaskan bahwa proses pemesinan ECM menggunakan elektroda tidak terisolasi membutuhkan waktu 248 detik sampai material berlubang. Kemudian data pada tabel 2 diatas dibuat grafik rata-rata arus tiap tegangan seperti terlihat pada gambar 6.

Gambar 6. Rata-rata arus tiap tegangan

Gambar 6 di atas merupakan grafik rata-rata arus tiap tegangan. Pada grafik rata-rata arus tiap tegangan dapat dilihat dengan bertambahnya tegangan maka arus rata-rata nya akan semakin besar. Hal ini dikarenakan muatan listrik yang meningkat ketika tegangan ditingkatkan. Pada material stainless steel 304 ini arus yang tertingi yaitu pada gap 0,5 mm dengan tegangan 13 volt yaitu sebesar 1,45 ampere, sedangkan arus yang terendah yaitu pada gap 0,75 mm dengan tegangan 7 volt yaitu sebesar 0,75 ampere.

B. Hasil Pengukuran MRR

Setelah pemesinan selesai, maka didapatkan data perhitungan MRR seperti terlihat pada tabel 3 dan ditunjukan oleh gambar 7.

(v) (ampere) (mm) (mm/dt) (s) 21 7 0,6-0,9 0,5 0,1/60 248 Berlubang, flushing dari atas 23 7 0,6-0,8 0,75 0,1/60 248 Berlubang, flushing dari atas 14 7 0,8 1 0,1/60 248 Berlubang, flushing dari atas 15 10 0,8-1,2 0,5 0,1/60 248 Berlubang, flushing dari atas 16 10 0,9-1,2 0,75 0,1/60 248 Berlubang, flushing dari atas 17 10 0,8-1,2 1 0,1/60 248 Berlubang, flushing dari atas 18 13 1,3-1,6 0,5 0,1/60 248 Berlubang, flushing dari atas 19 13 1-1,6 0,75 0,1/60 248 Berlubang, flushing dari atas 20 13 1,2-1,7 1 0,1/60 248 Berlubang, flushing dari atas 0,78 0,98 1,45 0,75 1,05 1,28 0,80 1,03 1,43 0,00 0,20 0,40 0,60 0,80 1,00 1,20 1,40 1,60 7 10 13 A ru s ( A m p ere) Tegangan (Volt) 0,5 mm 0,75 mm 1,0 mm (a) (b) 3

1 0,5 7 1,61 x 10 2 10 2,26 x 10-4 3 13 3,30 x 10-4 4 0,75 7 1,68 x 10-4 5 10 2,10 x 10-4 6 13 2,67 x 10-4 7 1 7 1,41 x 10-4 8 10 2,17 x 10-4 9 13 2,96 x 10-4

Gambar 7. Grafik pengaruh tegangan dan gap terhadap nilai MRR

Dari data yang disajikan tabel 3 dan gambar 7 dapat dilihat pengaruh jarak celah (gap) dan tegangan terhadap nilai MRR. Terlihat pada gambar 7 Semakin besar jarak celah (gap) dan tegangan maka semakin besar MRR yang dihasilkan. Hal ini diduga disebabkan karena semakin besar jarak gap dan tegangannya maka kemampuan

flushing dari elektrolit bertambah dan daya hantar tegangan yang diberikan terhadap benda kerja akan bertambah juga. Dari data yang disajikan didapat nilai MRR terbesar pada pengujian ini diperoleh pada jarak celah (gap) 0,5 mm dan tegangan 13 volt yaitu sebesar 3,30 x 10-4 g/dt, sedangkan nilai MRR yang terkecil diperoleh pada jarak celah (gap) 1 mm dan tegangan 7 volt yaitu sebesar 1,41 x 10-4 g/dt.

C. Hasil Pengukuran Overcut

Pengujian overcut dilakukan untuk mengetahui perbedaan diameter hasil pemesinan dengan diameter tool

pada permukaan benda kerja bagian depan dan bagian belakang. Penggunaan variasi tegangan dan jarak celah (gap) antara elektroda (tool) dengan benda kerja akan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap hasil overcut

benda kerja.

Sebelum menghitung overcut, luas area diameter hasil pemesinan dan diameter tool harus dicari terlebih dahulu menggunakan software ImageJ seperti langkah- langkah yang sudah dijelaskan di bab sebelumnya. Di

Gambar 8. Hasil overcut dengan variasi gap 0,5 mm dan waktu pemesinan 248 detik, (a) bagian depan, (b)

bagian belakang

Terlihat pada gambar 8 merupakan hasil pemesinan ECM yang berhasil (berlubang). Material tanpa ditutupi stiker bagian belakang pada permukaannya terdapat kerak dikarenakan adanya bekas percikan dari elektrolit selama pemesinan. Lubang yang membesar di bagian belakang disebabkan material tersebut tidak diisolasi dengan stiker.

Tabel 4. Perhitungan Overcut

No Gap (mm) Tegangan (Volt) Overcut, Oc (mm) Presentase Overcut (%) 1 0,5 7 0,64 21,36 2 10 1,07 35,65 3 13 1,13 37,63 4 0,75 7 0,84 28,07 5 10 0,89 29,77 6 13 1,26 42,17 7 1 7 0,45 14,87 8 10 1,05 35,06 9 13 1,46 48,69

Gambar 9. Pengaruh variasi tegangan dan gap

terhadap overcut

Dari gambar 9 menjelaskan bahwa ada kecendrungan semakin besar gap maka overcut yang 1,61 2,26 3,30 1,68 2,10 2,67 1,41 2,17 2,96 1,00 1,50 2,00 2,50 3,00 3,50 7 10 13 M RR ( x 10 -4 g /dt ) Tegangan (volt) 0,5 mm 0,75 mm 1,0 mm 0,64 1,07 1,13 0,84 0,89 1,26 0,45 1,05 1,46 0,40 0,60 0,80 1,00 1,20 1,40 1,60 7 10 13 O ver cu t (mm) Tegangan (volt) 0,5 mm 0,75 mm 1,0 mm 4

naik. Pada grafik diatas didapatkan overcut tertinggi pada

gap 1 mm dan tegangan 13 volt yaitu 1,46 mm dan overcut

terendah yaitu 0,45 mm. Dengan presentase overcut

berkisar antara 14,87% sampai dengan 48,69%.

D. Hasil Pengukuran Ketirusan

Pengujian ketirusan dilakukan untuk mengetahui sudut yang terbentuk sebagai penyimpangan atau deviasi antara lubang terbesar dan yang terkecil. Penggunaan variasi gap dan tegangan akan mempengaruhi hasil ketirusan pada pemesinan ECM. Benda kerja yang dipakai adalah stainless steel 304 dengan ketebalan 0,4 mm. Dibawah ini merupakan hasil foto makro material yang telah diolah menggunakan image-j.

Gambar 10.Hasil ketirusan pada tegangan 10 volt dan waktu pemesinan 248 detik dengan variasi(a) gap 0,5 mm,

(b) gap 0,75 mm, dan (c) gap 1,0 mm

Gambar 10 diatas adalah hasil foto makro material yang telah diresin. Foto makro tersebut diolah menggunakan image-J untuk mencari berapa besar panjang ketirusan tersebut.

Gambar 11. Arah ketirusan benda kerja

Jika dilihat arah ketirusan seperti gambar 11, benda kerja sisi belakang lebih besar dibandingkan sisi depan. Hal ini terjadi karena benda kerja yang terisolasi hanya di sisi depan, sehingga arus yang keluar dari tool mengenai benda kerja sisi belakang lebih banyak, yang mengakibatkan diameter benda kerja sisi belakang lebih besar.

Tabel 5. Perhitungan Ketirusan

No Gap (mm) Tegangan (Volt) Ketirusan (°) 1 0,5 7 0,40 2 10 15,08 3 13 18,48 4 0,75 7 7,36 5 10 16,69 6 13 19,61 7 1 7 2,04 8 10 9,80 9 13 21,03

Gambar 12. Pengaruh variasi tegangan dan gap terhadap nilai ketirusan

Dari gambar 12 menjelaskan bahwa perbedaan selisih diameter depan dengan diameter belakang pada masing-masing variasi gap dan tegangan mempengaruhi grafik ketirusan. Semakin besar gap maka arus yang keluar akan menyebar kesamping permukaan material dan menyebabkan hasil pemesinan menjadi tidak rata, sehingga dengan waktu pengujian yang sama akan didapatkan hasil ketirusan yang berbeda-beda. Ketirusan yang terbesar pada tegangan 13 volt dan gap 1,0 mm yaitu 21,03°, sedangkan ketirusan yang terkecil pada tegangan 7 volt dan gap 0,5 mm yaitu 0,40°.

E. Pembahasan

Dari hasil analisa pemesinan yang telah dilakukan dapat disimpulkan yaitu tegangan dan gap berbanding lurus dengan besarnya MRR (Material Removal Rate), semakin besar tegangan dan gap, semakin besar pula nilai MRR yang dihasilkan. Waktu pemesinan pun mempengaruhi nilai MRR, dan overcut, semakin lama waktu pemesinan, lubang yang dihasilkan semakin besar dari lubang yang diinginkan, serta semakin banyak pengurangan massa benda kerja. Semakin besar nilai MRR, semakin besar pula nilai overcut. Hal ini dipengaruhi oleh tegangan yang diatur, arus yang keluar selama proses pemesinan, serta gap yang divariasikan. Seperti pada penelitiannya Wahyudi, (2010) yang menjelaskan hubungan variasi tegangan terhadap overcut,

ketirusan dan MRR. Pada penelitian ini menggunakan cairan elektrolit Kalium Clorida (KCL), tool elektroda tembaga silinder berlubang 12 mm dimana tool terisolasi dan tanpa terisolasi. Pada pahat dengan kondisi tidak terisolasi didapatkan semakin besar tegangan maka

overcut, ketirusan dan waktu pelubangan akan semakin besar, sedangkan pada pahat dengan kondisi terisolasi kondisi tersebut berbanding terbalik.

Pada penelitian ini didapatkan semakin besar variasi tegangan dan gap maka semakin besar MRR dan

overcut. Hal ini diduga disebabkan karena semakin besar jarak gap dan tegangannya maka kemampuan flushing dari elektrolit bertambah dan daya hantar tegangan yang diberikan terhadap benda kerja akan bertambah juga. Sehingga semakin besar variasi tegangan dan gap tersebut

0,40 15,08 7,36 2,04 9,80 0,00 5,00 10,00 15,00 7 10 13 K e ti r us a n ( Tegangan (volt) 5

dikarenakan dengan gap yang tinggi mengakibatkan arus sudah keluar sebelum tool menyentuh benda kerja sehingga benda kerja menghasilkan lubang yang lebih cepat. Waktu pemesinan yang sama tiap percobaan mengakibatkan lubang pada bagian yang tidak tertutupi stiker menjadi lebih melebar sehingga muncullah efek tirus dari permukaan tersebut. Besarnya nilai ketirusan dipengaruhi juga dari hasil selisih lubang pada permukaan bagian depan dengan belakang pada tiap variasi. Pada tiap variasi baik tegangan maupun gap menghasilkan lubang bagian depan belakang yang berbeda-beda selisihnya dikarenakan arus yang keluar dari katoda menyebar ke sisi permukaan yang tidak tertutupi stiker.

Selama proses pemesinan terdapat material yang gagal atau tidak berlubang, hal ini disebabkan oleh beberapa hal diantaranya penentuan waktu pemesinan yang tidak tepat dan pengaturan kecepatan tool turun tiap detiknya. Untuk mengatasi kegagalan tersebut, maka perlu dilakukan beberapa kali percobaan menggunakan waktu pemesinan yang bervariasi dan pengaturan kecepatan tool

turun tiap detik yang bervariasi. Dengan begitu kegagalan selama proses pemesinan dapat diminimalisir.

Berdasarkan hasil pemesinan yang telah dilakukan dengan menggunakan parameter terpilih dapat disimpulkan parameter yang tepat untuk dilakukan pemesinan pada material stainless steel 304 dengan ketebalan 0,4 mm yaitu menggunakan variasi gap 1 mm dan tegangan 7 volt. Variasi tersebut memiliki nilai MRR sebesar 1,41 x 10-4 g/dt dan overcut sebesar 0,45 mm dengan presentase overcut sebesar 14,87%. Data tersebut merupakan hasil pemesinan yang memiliki keakuratan dan kepresisian lebih baik dibandingkan data parameter terpilih lainnya.

4. Kesimpulan

Dari data dan hasil perhitungan yang didapat dari penelitian permesinan ECM untuk benda kerja Stainless Steel 304 menggunakan tool elektroda kuningan pejal diameter 3 mm didapat kesimpulan sebagai berikut. Pengujian hasil pembuatan lubang diameter 3 mm pada material stainless steel 304 tebal 0,4 mm pada variasi gap

dan tegangan dengan waktu pemesinan 248 detik dengan menggunakan ECM adalah sebagai berikut.

1. Semakin besar tegangan dan gap maka cenderung semakin besar nilai MRR benda kerja. Nilai MRR terbesar pada gap 0,5 mm dan tegangan 13 volt yaitu 3,30 x 10-4 g/dt, sedangkan nilai MRR terkecil pada

gap 1 mm dan tegangan 7 volt yaitu 1,41 x 10-4 g/dt. 2. Semakin besar tegangan dan gap semakin tinggi nilai

overcut yang didapatkan. Nilai overcut tertinggi yang diperoleh pada pengujian dengan variasi gap 1 mm dan tegangan 13 volt yaitu 1,46 mm, sedangkan nilai

overcut terendah pada gap 1,0 mm dan tegangan 7 volt yaitu 0,45 mm.

kenaikan ketika tegangan dibesarkan. Nilai ketirusan tertinggi pada gap 1 mm dan tegangan 13 volt yaitu 21,03o, sedangkan nilai ketirusan terendah pada gap 0.5 mm dan tegangan 7 volt yaitu 0,40o.

5. Daftar Pustaka

[1] Tlusty, G. 2000. Manufacturing Processes and Equipment. Prentice-Hall. Inc., New York.

[2] El-Hofy, H. 2005. Advanced Machining Processes. New York: McGraw-Hill.

[3] Wahyudi, 2010. Studi Eksperimental Pengaruh Variasi Voltage Terhadap Overcut Lubang, Efek Ketirusan Dan MRR Pada Proses Elektrochemical Machining (ECM) Dengan Menggunakan Pahat Terisolasi Dan Tanpa Isolasi. Surabaya: Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

[4] Suhardjono, 2014. Studi Eksperimental Variasi Konsentrasi Elektrolit KCl pada Overcut dan Ketirusan Hasil Drilling Proses ECM. Surabaya: Laboratorium Mesin Perkakas Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknologi dan Industri, Institut Teknologi Sepuluh November.

Dokumen terkait